Selasa, 02 Desember 2014

Wisata Jawa Timur Bab I



Jawa Timur

Jawa TimurJawa Timur termasuk daerah paling padat di Pulau Jawa. Provinsi ini memiliki pesona wisata yang unik sehingga akan memikat Anda untuk mengunjunginya. Jawa Timur sangat kaya akan berbagai tempat alternatif liburan Anda. Daya tarik atau tujuan wisata yang ada di antaranya: wisata alam, wisata pantai, wisata gunung, wisata belanja, wisata pendidikan, wisata seni, wisata budaya, wisata bahari, wisata petualangan, wisata sejarah, wisata kerajinan, wisata lingkungan, wisata agro, wisata udara, wisata konvensi, wisata ziarah wali songo, dan juga wisata rohani.

Sebaiknya Anda mengunjungi Kota Malang untuk melihat-lihat balai kota, alun-alun, dan candi Singosari. Kota Batu  memiliki kegiatan wisata petik apel dan juga temapt rekreasi keluarga, Jatim Park. Di  Kabupaten Malang  Anda dapat menikmati air terjun atau pantainya yang indah. Kawah Ijen dapat dikunjungi dari tiga daerah, yakni Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Jember. Berwisata bahari di Lamongan dan Telaga Sarangan di Magetan,  serta masih banyak lagi tempat wisata lainnya akan membuat Jatim begitu mengesankan sebagai tujuan wisata keluarga atau petualangan. Bagi pecinta wisata belanja, ada juga objek wisata Intako, yakni tempat industri tas dan koper dan kerajinan dari kulit khas Tanggulangin di Sidoarjo.

Jangan lewatkan untuk menikmati pesona alam Taman Nasional Bromo-Semeru saat liburan Anda. Taman Nasional ini terletak di antara kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang. Inilah icon wisata Jawa Timur yang dihuni oleh suku Tengger dan  setiap tahun diselenggarakan upacara Kasodo. Jangan katakan Anda pernah ke Jawa Timur bila tidak menapakkan kaki di pegunungan yang terindah ini. Rasakan dinginnya udara yang bersih dan segar berselimutkan awan yang indah. Taman Nasional Bromo-Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, berada pada ketinggian 2392 m dari permukaan laut.

Sebuah pulau di bagian timur Jawa, yaitu Madura, patut  Anda kunjungi yang terkenal dengan budaya karapan sapi (lomba pacu sapi), yang biasanya digelar bulan Agustus dan September setiap tahunnya.

Sejarah

Kejayaan kerajaan di Jawa Tengah menurun sejak abad ke-10. Perannya kemudian digantikan  oleh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur. Kerajaan ini menguasai seluruh kepulauan Indonesia, Semenanjung Melayu, dan sebagian wilayah Filipina selama ratusan tahun. Sukses membina hubungan dagang dengan Cina, Kamboja, Siam, Burma, dan Vietnam, selama masa pemerintahan Raja Airlangga, masyarakat Jawa Timur dan Bali berhasil menciptakan hubungan dagang dengan pulau-pulau di Nusantara dan mengembangkan kebudayaan dan kesenian bercorak Hindu hingga puncaknya dari karya sastra hingga corak candi yang indah.

Gunung Bromo: Matahari Terbit, Lautan Pasir, Berkuda, dan Secangkir Minuman Hangat 


Jangan katakan Anda pernah ke Jawa Timur bila belum menapakkan kaki di gunung api yang indah ini. Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki keunikan dengan pasir laut seluas 5.250 hektar di ketinggian 2392 m dpl. Anda dapat berkuda dan mendaki Gunung Bromo melalui tangga dan melihat Matahari terbit. Lihatlah bagaimana pesona Matahari yang menawan saat terbit dan terbenamnya akan menjadi pengalaman pribadi yang mendalam saat Anda melihatnya secara langsung.

Gunung Bromo berasal dari kata Brahma (salah seorang Dewa agama Hindu). Bromo merupakan gunung api yang masih aktif dan terkenal sebagai icon wisata Jawa Timur. Gunung ini tidak sebesar gunung api lainnya di Indonesia tetapi memiliki pemandangannya yang spektakuler dan dramatis. Keindahannya yang luar biasa membuat wisatawan yang mengunjunginya akan berdecak kagum.


Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m, wisatawan dari seluruh dunia datang untuk melihat sunrise Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan dan yang akan Anda dengar hanya suara jepretan kamera wisatawan saat menangkap momen yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Saat sunrise sangat luar biasa dimana Anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang naik ke langit.   

Menikmati hamparan lautan pasir luasmenyaksikan kemegahan Gunung Semeru yang menjulang menggapai langit, serta menatap indahnya Matahari beranjak keluar dari peraduannya atau sebaliknya menikmati temaram senja dari punggung bukit Bromo adalah pengalaman yang takan terlupakan saat menyambangi Bromo.

Gunung Bromo dihuni oleh masyarakat suku Tengger yang meyakini bahwa Gunung Bromo merupakan tempat dimana seorang pangeran mengorbankan hidup untuk keluarganya. Masyarakat di sini melakukan festival Yadnya Kasada atau Kasodo setahun sekali dengan mempersembahkan sayuran, ayam, dan uang yang dibuang ke dalam kawah gunung berapi untuk dipersembahkan kepada dewa.

Menyaksikan matahari terbit yang spektakuler dari Gunung Bromo merupakan puncak dari wisata di Bromo.

Datanglah pada bulan Kasada/ke-sepuluh (biasanya bulan September-November) dan saksikan festival Kasada tahunan dimana suku Tengger datang ke Bromo melemparkan sesajen yang terdiri dari sayuran, ayam, dan uang ke dalam kawah gunung berapi.

Berkuda di atas lautan pasir yang hanya dimiliki taman nasional ini merupakan pengalaman tak berbanding. Lautan pasir ini begitu luas dan dengan ketinggian 2.392 meter, keunikan alam ini hanya ada di Indonesia. Lautan pasir ini terlihat mengagumkan saat matahari menyapukan sinarnya yang kejinggaan di pagi hari, terlihat jelas dari Cemorolawang, salah satu pintu masuk kawasan taman nasional ini.


Para pendaki Gunung Semeru, selalunya melakukan detour ke beberapa danau dingin yang selalu berkabut, yaitu Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo. Hal ini merupakan sebuah pengalihan fokus perjalanan yang mengesankan. 
Kawah Ijen: Keindahan Alam di antara Penambang Belerang Tradisional 
Kawah Ijen: Menyaksikan Api Biru dan Penambang Belerang Tradisional
Inilah salah satu pesona keindahan alam Indonesia yang luar biasa dan telah memukau banyak wisatawan dari berbagai negara. Di sinilah dapat Anda lihat danau kawah luas yang menakjubkan bersama api berwarna biru dari belerangnya saat malam hari. Selain menjadi tujuan wisata naik gunung, Kawah ijen juga merupakan tempat penambangan belerang tradisional yang hilir-mudik di arena bekas letusan kawah yang sebenarnya masih aktif.
Gunung Ijen sendiri berada di kawasan Wisata Kawah Ijen dan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang Kabupaten Bondowoso. Gunung ini berada 2.368 meter di atas permukaan laut dimana puncaknya merupakan rentetan gunung api di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru dan Merapi. Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional. Ijen memiliki sumber sublimat belerang yang seakan tidak pernah habis  dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia dan penjernih gula.  
Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera.
Pemandangan Kawah Ijen begitu menakjubkan ketika disinari Matahari pagi dengan memancarkan kemilau hijau toska. Sinaran yang juga menerpa dari balik Gunung Merapi, saudara kembar Gunung Ijen jangan sampai Anda lewatkan untuk diabadikan oleh kamera. Air kawahnya tenang berwarna hijau kebiruan namun Anda tidak diperkenankan menuruninya karena air kawah bervolume sekira 200 juta meter kubik itu panasnya mencapai 200 derajat celcius. Derajat keasaman kawah tersebut sangat tinggi mendekati nol sehingga bisa melarutkan pakaian bahkan tubuh manusia dengan cepat.
Dini hari pukul 01.00, saat Matahari belum membiaskan pijarnya menguak keindahan danau kawah ini ada keajaiban lain yang dihadirkan Ijen. Di bawah kawahnya berpijar api biru (blue fire) dari cairan belerang yang mengalir tanpa henti untuk dikeringkan oleh angin kemudian menjadi batu dan dicacah para penambang. Bongkahan belerang tersebut kemudian ditempatkan pada dua keranjang kayu dan dipakul menuruni gunung sejauh 3 km. Bukan beban yang ringan sebab berat keranjang pikul tersebut bisa mencapai 100 kg.
Kawah Ijen: Menyaksikan Api Biru dan Penambang Belerang Tradisional
Di tenggara kawah terdapat lapangan solfatara yang merupakan dinding danau Kawah Ijen. Di bagian barat terdapat Dam Kawah Ijen yang merupakan hulu dari Kali Banyupait. Lapangan solfatara Gunung Kawah Ijen selalu melepaskan gas vulkanik dengan konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas yang kadang menyengat. Dam Kawah Ijen merupakan bagian dari objek wisata menarik tetapi tidak selalu dikunjungi oleh wisatawan dikarenakan jalan untuk menuju ke sana cukup sulit dan sering rusak karena longsor. Dam Kawah Ijen adalah bangunan beton yang dibangun sejak zaman Belanda dan dimaksudkan untuk mengatur level air danau agar tidak menyebabkan banjir air asam. Tetapi bendungan ini sekarang tidak berfungsi karena air tidak pernah mencapai pintu air akibat terjadinya rembesan air danau di bawah dam.

Saat pagi hari, ketika Matahari mulai menyinari kawasan Kawah Ijen, pemandangan indah dapat Anda nikmati. Kawah Ijen yang berwarna hijau kebiruan berpendar oleh cahaya Matahari yang berwarna keemasan memantul di bawah kawah. Saat yang paling tepat untuk menyaksikan keindahan Ijen pada dini hari antara pukul 02.00 hingga 04.00. Saat itu Anda dapat menyaksikan bagaimana pijaran api biru (blue fire) dari bawah kawah.
Apabila Anda ingin turun ke bawah kawah untuk melihat api biru maka wajib disertai pemandu. Kenakan masker dan kaca mata pelindung itu karena selain bau belerang yang sangat menyegat, asap belerang dari aktivitas para penambang akan dengan mudah menyerang dan membaut pedih mata.
Kawah Ijen dari atas Gunung Ijen terlihat sangat indah. Kawah ini merupakan danau besar berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang sangat memesona. Selain itu, udara dingin dengan suhu 10 derajat celcius, bahkan bisa mencapai suhu 2 derajat celcius, ini jelas akan menambah sensasi tersendiri bagi Anda. Berbagai tanaman yang hanya ada di dataran tinggi juga dapat Anda temukan, seperti bunga edelweis dan cemara gunung.
Jalan tanah menanjak dengan ketinggian 2.700 di atas permukaan laut akan Anda lalui dengan berjalan kaki. Perjalanan menuju ke Kawah Ijen akan membuat Anda menghargai kehidupan ini. Para penambang belerang dengan tekun mengangkut belerang dengan beban luar biasa berat apalagi kalau harus diangkut melalui dinding kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3 km. Berkenalanlah dengan mereka, sapa dan Menyaksikan Penambang Belerang
Kawah Ijen: Menyaksikan Api Biru dan Penambang Belerang Tradisional
Salah satu yang akan Anda saksikan langsung di Kawah Ijen adalah adanya penambang belerang tradisional. Penambang belerang tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar  kawah sejajar dengan permukaan danau. Mereka dengan berani mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang. Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar Kawah Ijen sejauh 3 km. Di tempat tersebut asap cukup tebal namun mereka dengan peralatan penutup hidung sekadarnya tetap mencari lelehan belerang. Sebuah pertaruhan nyawa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Lelehan belerang diperoleh dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah. Setelah membeku belerang tersebut akan membeku berwarna kuning. Bekuan belerang inilah yang akan diambil oleh pekerja tambang. Sebelumnya belerang dipotong dengan linggis kemudian langsung diangkut menggunakan keranjang. Setelah belerang dipotong, penambang akan memikulnya melalui jalan setapak. Beban yang dipikul cukup berat antara 80 hingga 100 kg. Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil menyusuri jalan setapak di tebing kaldera menuruni gunung sejauh 3 kilometer.  Dalam sehari mereka hanya dibolehkan 2 kali naik-turun kawah. Semua penambang akan berkumpul di bangunan bundar kuno peninggalan Belanda yang dikenal dengan “Pengairan Kawah Ijen” yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Di sini penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang berat muatan dan nilainya.
Di pos pengumpulan belerang Anda dapat melihat dan merasakan ritual harian penambang belerang. Beberapa dari mereka rehat di keteduhan meregang otot, beberapa yang punya karung mengemas bongkah-bongkah hasil tambangannya. Truk terakhir datang membawa serta pengurus  koperasi. Pengurus mengabsen penambang satu per satu yang dipanggil maju mengangkat pikulannya ke atas penimbang. Angka yang ditunjuk oleh penimbang lalu diubah ke dalam Rupiah yang dibayar sore itu juga. Penghasilan yang diterima seorang penambang belerang dalam sehari tidak sebanding dengan ancaman yang dekat dengan nyawa mereka. Satu orang penambang biasanya hanya mampu membawa satu kali angkut setiap harinya  mengingat beratnya pekerjaan dan jalan yang dilalui.
Jangan sungkan, baurkan diri Anda bersama penambang belerang di Kawah Ijen. Meski hidup terasa berat dan keras, mereka tetap ramah dan bercanda, bahkan akan memberi jawaban atas setiap keingintahuan Anda.  

Candi Singosari 
Tidak banyak sisa-sisa Kerajaan Singosari yang pernah berkuasa abad 13 di Jawa Timur. Hanya ada sebuah candi yang belum selesai dibangun dan dua patung raksasa yang berdiri menjaga di depan istana sebagai jejak yang tersisa dari salah satu kerajaan besar di Nusantara ini.

Candi Singosari disebut masyarakat setempat sebagai Candi Cungkup, awalnya sempat dinamakan juga candi Renggo, Candi Menara, dan Candi Cella. Untuk sebutan yang terakhir karena candi ini memiliki celah sebanyak 4 buah di bagian tubuh candi. Hingga kini nama yang lebih dikenal adalah Candi Singosari karena letaknya di Singosari.

Banyak yang menganggap bahwa Candi Singosari adalah makam Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Singosari. Akan tetapi pendapat ini diragukan banyak ahli, lebih dimungkinkan Candi Singosari merupakan tempat pemujaan Dewa Siwa karena sistem mandala yang berkonsep candi Hindu dan sekaligus sebagai media pengubah dari  air biasa menjadi air suci (amerta).

Candi Singosari awalnya disebut dalam sebuah laporan kepurbakalaan tahun 1803 oleh Nicolaus Engelhard, seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa. Ia melaporkan tentang reruntuhan candi di daerah dataran tandus di Malang. Tahun 1901 Komisi Arkeologi Belanda melakukan pennelitian ulang dan penggalian. Berikutnya 1934 Departemen Survey Arkeologi Hindia Belanda Timur merestorasi bangunan ini hingga selesainya tahun 1937. Anda dapat melihat goresan tanda penyelesaian pemugaran ini pada batu kaki candi di sudut barat daya. Saat ini banyak arca-arca dari reruntuhan Candi Singosari disimpan di Museum Leiden Belanda.

Ada informasi yang mencukupi dapat diketahui tentang Singosari dari teks Jawa kuno abad ke-14 yaitu “Pararaton” atau kitab raja. Candi Singosari yang dibangun tahun 1304 ini umumnya dihiasi dari bawah hingga atasnya. Bila Anda perhatikan hiasan tersebut tidak seluruhnya terselesaikan sehingga ada dugaan candi ini dalam proses pembangunan yang belum selesai kemudian ditinggalkan. Dimungkinkan akibat adanya peperangan yaitu serangan Kerajaan Gelang-Gelang pimpinan Jayakatwang tahun 1292 hingga menghancurkan Kerajaan Singosari, sering disebut juga masa kehancuran Singosari atau pralaya.

Kerajaan Singosari didirikan tahun 1222 oleh seorang rakyat biasa bernama Ken Arok, yang berhasil menikahi putri cantik Ken Dedes dari Janggala setelah membunuh suaminya. Ken Arok kemudian menyerang Kediri dan berhasil menyatukan dua wilayah terbelah yang pernah dipisahkan oleh Raja Airlangga tahun 1049 sebagai warisan untuk kedua putranya.

Singosari kemudian berhasil mengembangkan pertanian yang subur di sepanjang aliran sungai Brantas, serta perdagangan laut yang menguntungkan di sepanjang Laut Jawa. Pada 1275 dan 1291 Raja Singosari yaitu Kertanegara menyerang kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian mengontrol perdagangan laut di laut Jawa dan Sumatera.

Dalam masa kejayaannya, Singosari begitu kuat, bahkan Kaisar Mongol Kubilai Khan yang perkasa menganggap penting mengirim armada dan utusan khusus ke kerajaan Singosari untuk menuntut Raja Kertanegara secara pribadi  untuk memberikan loyalitas kepada Mongol. Sebagai jawabannya, ternyata Raja Kertanegara memotong telinga salah satu utusan tersebut sebagai pesan kepada Kubilai Khan bahwa Singosari tidak akan tunduk.

Kemudian Kertanegara dibunuh oleh salah seorang raja bawahannya yaitu Jayakatwang tahun 1293. Ketika armada perang dikirim oleh Kubilai Khan tiba di Jawa, mereka tidak mengetahui bahwa rupanya Raja Kertanegara sudah tiada. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, berhasil membujuk armada Kublai Khan untuk membunuh Jayakatwang, tetapi kemudian justru berbalik mengusir armada Mongol dari Jawa.

Raden Wijaya selanjutnya mendirikan kerajaan Majapahit tahun 1294 di utara Singosari yaitu di Porong. Maka berlangsunglah sebuah masa keemasan bagi sebuah kerajaan bernama Majapahit yang kekuasaannya mencakup Indonesia saat ini dan bahkan hingga ke Malaysia dan Thailand.

Sisa-sisa candi Singosari yang belum selesai dibangun itu dapat Anda lihat di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan bangunan yang menghadap ke barat. Di halaman depan terdapat kumpulan patung, sementara di bawah terdapat dua patung besar wali yang dikenal sebagai Dwarapala.

Candi Singosari  terdiri dari 4 bagian utama.
  1. Bagian bawah berupa persegi empat yang dinamakan batur candi atau teras.
  2. Kaki candi yang tinggi sekaligus sebagai ruangan tempat arca.
  3. Tubuh candi yang langsing dengan empat relung di masing-masing sisinya.
  4. Atap atau puncak yang menjulang makin mengecil di puncaknya.
Dalam  agama Hindu, kaki candi (bhurloka) merupakan gambaran dari kaki gunung atau alam manusia, badan candi (bwahloka) sebagai lereng gunung atau alam langit, dan atap candi (swahloka) sebagai puncak gunung atau alam khayangan-surgawi. Puncaknya ini berbentuk limas dengan atap pejal berbentuk kubus, begitu pula keempat puncak lain yang mengelilinginya sudah runtuh. Apa yang akan Anda saksikan saat ini adalah sebuah candi yang terkesan ramping menjulang bagian atasnya dan gamuk di bagian bawahnya.

 Candi Singosari merupakan tiruan Gunung Meru yang berpuncak di Kaliasa dan dikelilingi empat puncak yaitu Gunung Mandara, Gunung Gandhamana, Gunung Vipula, dan Gunung Supasrsya. Anehnya di Jawa antara Gunung Meru dan Gunung Mandara tidaklah dibedakan, Gunung Meru itu gunung Mandara dan Gunung Mandara ya Gunung Meru.

 Candi Singosari juga merupakan simbolisasi konsep Samodramanthana yaitu pengadukan lautan susu dengan menggunakan Gunung Mandara sebagai antan hingga keluarlah air suci atau amerta. Selain itu Candi Singosari juga merupakan simbolisasi dari Lingga dan Yoni dimana  terlihat dari terasnya yang memilki cerat pada sisi yoni dan candinya sebagai lingga.

Awalnya sejak 1803-1939 Candi Singosari merupakan komplek percandian yang luas dengan 7 buah reruntuhan candi hingga terakhir yang selamat hanya 1 yaitu Candi Singosari ini. Saat Anda mengunjungi sisi halaman candi maka akan nampak sisa-sisa reruntuhan dan arca yang sebenarnya itu salah satu dari 7 reruntuhan candi sebelumnya. Saat ini di Candi Singosari dirawat dan dijaga oleh 3 orang staf dari Suaka Purbakala Jawa Timur yang diambil dari penduduk setempat.

Candi lain yang dibangun selama era Singosari adalah Candi Jago dibangun tahun 1268 di desa Tumpang, 6 km selatan kota Singosari sekarang. Candi ini didedikasikan untuk raja Singosari ke 4 Visnusardahana, sedangkan Candi Kidal, 11 km di sepanjang jalan yang sama, dibangun tahun 1260 dihiasi yang burung Garuda.  Candi Kidal didedikasikan untuk raja Singosari ke 2, Anusapati. Sebuah patung asli dari raja Kertanegara masih berdiri di pusat kota Surabaya, yang dikenal sebagai Joko Dolog, atau Anak laki-laki Gemuk.

Candi Jawi yang indah, dengan latar belakang gunung Penanggungan dibangun pada masa pemerintahan Singosari. Hal ini diyakini sebagai candi pemakaman dari kelima raja terakhir. Dibangun abad ke-13 dan didedikasikan untuk dewa dewa Hindu Siwa dengan Sang Buddha. Candi Jawi terletak 40 km. selatan Surabaya, Prigen di jalan ke Tretes.

Pantai Grajagan : Keindahan Pantainya Nelayan 
Sebuah pantai indah di selatan Banyuwangi, berderet bersama Pantai Plengkung, Pulau Merah, dan Pesanggaran. Meski tidak seterkenal Plengkung dan Pulau Merah, namun Pantai Grajagan sejak lima tahun terakhir mulai dilirik peselancar dunia.
Grajagan terletak sekitar 52 km ke arah selatan dari Kota Banyuwangi. Posisi pantainya strategis menjadi pintu gerbang menuju ke Pantai Plengkung. Grajagan berada di

kawasan seluas 314 hektar di hutan KPH Banyuwangi Selatan, terletak di desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi.
Pantainya luas diselimuti oleh pasir hitam, memiliki gua dan bukit yang sangat indah. Ketika Anda berada di sana maka akan melihat hamparan pantai dan bukit yang menjulang tinggi di tepi pantai. Menikmati suasana pantai dengan deburan ombak laut lepas dari atas shelter dan 3 gua peninggalan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.
Anda juga dapat menyaksikan langsung aktifitas nelayan di pagi hari saat berangkat mencari ikan dan menurunkan ikan hasil tangkapannya. Belilah beberapa jenis ikan laut hasil tangkapan nelayan atau mengapa tidak memancingnya secara langsung.

Grajagan kira-kira 53 km ke arah selatan dari Banyuwangi. Ombak Pantai Grajagan tidak kalah menarik dari ombak Pantai Plengkung, Alas Purwo, juga di Banyuwangi Selatan. Bedanya, ombak Grajagan cenderung pecah sebelum ke pantai.
Grajagan adalah kawasan pantai dengan panorama keindahan gunung dan hutannya. Pasir pantainya yang berwarna hitam tak kalah eksotis dibandingkan pasir putih di Plengkung.
Gua pertahanan zaman Jepang juga dapat Anda kunjungi di tempat wisata ini. Disekitar Pantai Grajagan banyak terdapat gua buatan di tempat tinggi sehingga Anda dapat mengawasi seluruh kawasan pantai. Pantai Grajagan bersebrangan dengan kawasan pantai Cungur. Karena perairanya bebas dari pengaruh ombak Laut Selatan, selain menikmati panorama sambil mandi matahari, di balik Pantai Cungur terdapat Segoro Anak untuk kegiatan ski air, berperahu, dan kano.
Untuk Anda yang ingin belajar berselancar di Pantai Grajagan Anda dapat mendatangi Made Supartha. Lelaki yang berusia sekitar 40 tahun ini membuka kursus berselancar. Supartha merupakan satu-satunya pelatih selancar di Grajagan. Sebuah keahlian berselancar diperolehnya setelah berkelana di Bali bertahun-tahun. Kemudian ia pulang ke Grajagan kampung halamannya untuk menjadi anggota tim penyelamat pengunjung pantai hingga akhirnya membuka tempat kursus selancar.
Ia adalah seeorang yang benar-benar ingin mengembangkan olahraga selancar di Grajagan. Papan selancar disewakan satu harinya Rp25.000,00 - Rp30.000,00. Biasanya, para siswa kursus dan berlatih selancar pada hari libur sejak pagi hari. Setelah lancar, mereka baru dibolehkan turun ke laut. Untuk bisa mahir berselancar diperlukan waktu minimal empat bulan. Jika ingin lebih mahir lagi maka tentunya Anda akan diarahkan untuk datang ke Pantai Kuta di Bali.
Dari Grajagan menuju ke Pantai Plengkung dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan menyusuri pantai menggunakan perahu sewa, perjalanan itu ternyata hampir sama bila Anda menggunakan mobil dengan melewati jalan darat hanya Jalan Makadam menuju ke Taman Nasional Alas Purwo kurang bagus kondisinya. Perjalanan menarik dari Grajagan ke Alas Purwo menggunakan perahu sewa, utamanya menuju ke pantai Ngagelan yang merupakan tempat penangkaran penyu belimbing, abu-abu dan hijau. Tiap malam petugas disini selalu mencari telur penyu untuk ditetaskan, wisatawan yang sudah sampai di Ngagelan ini bisa melepas langsung penyu yang sudah siap dan waktunya dilepas ke laut lepas setiap saat.

Taman Nasional Baluran: Eksotisme Alam Bebas di Timur Pulau Jawa 
Taman Nasional Baluran
Inilah hamparan savana terluas di Pulau Jawa, membuat Anda yang berkunjung ke sini serasa berada di Afrika. Di Baluran tersaji sungguhan alam menakjubkan ketika ratusan rusa berlarian menuju kubangan air, merak jantan melebarkan ekornya untuk menarik perhatian sang betina, puluhan kerbau besar yang gagah, belasan elang mencari makan, hingga lutung dan makaka yang bergelantungan. Belum lagi pepohonan khas Baluran yang mirip pohon pinang dan berbuah sekali seumur hidup sebanyak 1 ton untuk kemudian mati. Pohon pilang yang berbatang putih dan rimbun, bila Anda mengamatinya secara seksama maka mirip pohon di film “Avatar” serta pohon bekol yang rindang mirip beringin dengan nuansa magis.

Tidak besar biaya yang harus Anda keluarkan untuk tiket masuknya, yaitu hanya Rp6.000,00 per mobil dan Rp 2.500,00 per orang. Kegiatan yang dapat dilakukan Baluran adalah penelitian, pengamatan dan atraksi satwa, serta wisata bahari di Pantai Bama. Sementara itu, fasilitas yang tersedia berupa kantor pengurus, pondok kerja, pesanggarahan, shelter, jalan trail, menara pandang, dan lainnya.

Taman Nasional Baluran
Kawasan Taman Nasional Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Batas wilayah sebelah utara adalah Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, sebelah selatan Sungai Bajulmati, dan sebelah barat Sungai Klokoran. Temperatur udaranya 27°- 34° C, curah hujan 900 - 1.600 mm/tahun, ketinggian tempat 0 - 1.247 mdpl, letak geografis 7°29’ - 7°55’ LS, 114°17’ - 114°28’ BT, serta luasnya mencapai 25.000 ha. Di tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi.

Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 % tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran. Tanahnya yang berwarna hitam dari jenis tanah aluvial dan vulkanik meliputi luas setengah luas daratan rendah yang ditumbuhi rumput savana. Daerah tersebut merupakan daerah yang sangat subur dan kaya sumber makanan bagi berbagai jenis satwa pemakan rumput.

Iklim di Taman Nasional Baluran bertipe Monsoon yang dipengaruhi angin timur yang kering. Curah hujan berkisar antara 900-1.600 mm/tahun dan suhu udara antara 27°-30° C dengan bulan kering per tahun rata-rata 9 bulan. Antara bulan Agustus hingga Desember bertiup angin cukup kencang dari arah Selatan. Musim hujan terjadi pada November-April, sedangkan musim kemarau pada April-Oktober dengan curah hujan tertinggi pada bulan Desember-Januari. Secara faktual, perkiraan tersebut sering berubah sesuai dengan kondisi global yang mempengaruhi.

Pada musim kemarau air tanah di permukaan tanah menjadi sangat terbatas dan persediaan air di beberapa mata air tersebut menjadi berkurang. Saat musim hujan, tanah yang hitam sedikit sekali dapat ditembus air sehingga air mengalir di permukaan tanah, membentuk banyak kubangan terutama di sebelah selatan daerah yang menghubungkan Talpat dengan Bama.

Bila Anda datang saat musim penghujan maka tumbuhan dan air sangat berlimpah sehingga penghuni taman seperti banteng dan kerbau Liar memilih masuk ke pedalaman taman dari pada bertatap muka dengan pengunjung. Akan tetapi, beberapa kelompok rusa, merak, ayam hutan dan beburungan lainnya bisa Anda lihat hilir mudik.

Tumbuhan yang ada di Taman Nasional Baluran ini sebanyak 444 jenis, diantaranya terdapat tumbuhan asli dan khas yaitu widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), mimba (Azadirachta indica), dan pilang (Acacia leucophloea). Widoro bukol, mimba, dan pilang merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dalam kondisi sangat kering namun masih kelihatan hijau walaupun tumbuhan lainnya sudah layu dan mengering. Tumbuhan yang lain juga ada seperti kemiri (Aleurites moluccana), gebang (Corypha utan), api-api (Avicennia sp), asam (Tamarindus indica), gadung (Dioscorea hispida), kendal (Cordia obliqua), manting (Syzygium polyanthum), dan kepuh (Sterculia foetida).

Terdapat 26 jenis mamalia di antaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis rusa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus). Satwa banteng merupakan maskot khas dari Taman Nasional Baluran. Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung di antaranya termasuk yang langka seperti layang-layang api (Hirundo rustica), ayam hutan merah (Gallus gallus), kangkareng (Anthracoceros convecus), rangkong (Buceros rhinoceros), tuwuk atau tuwur asia (Eudynamys scolopacea), burung merak (Pavo muticus), dan bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus).

Terdapat 155 jenis burung langka antara lain Walet ekor jarum (Hirundapus caudutus), Banteng (Bos javanicus), Ajag (Cuon alpinus), Kijang (Muntiacus muntjak), Burung merak (Pavo muticus), Ayam hutan (Gallus sp.), Macan tutul (Felis pardus), Kucing bakau (Felis viverrina) dan lain-lain. 

Taman Nasional Alas Purwo: Hutan Tua Di Ujung Timur Pulau Jawa 
Alas Purwo
“Jangan tinggalkan apapun kecuali telapak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali foto. Alam itu pasrah kepadamu”.
Itu tulisan yang terpampang di salah satu pintu masuk ke Taman Nasional Alas Purwo. Sebuah pesan kuat bagi siapapun agar turut menjaga kelestarian hutan yang berusia sangat tua di ujung timur Pulau Jawa. Hutan lebat terhampar seluas 43.420 hektar yang keberadaannya terus dijaga dan dilindungi dari tangan-tangan keji perusak alam.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan hutan tropis alami dan termasuk yang tertua di Pulau Jawa. Taman nasional ini merupakan hutan hujan paling alami di Indonesia, bahkan mungkin di Asia. Di Taman Nasional Alas Purwo, Anda dapat melihat banteng jawa, burung merak, babi hutan, rusa, serigala hutan, ular pyton, dan hewan lainnya termasuk macan tutul dan  harimau jawa.
Pepohonan menjulang tinggi berdiameter besar dengan umur ratusan tahun. Pohon tersebut berdiameter rata-rata 30 cm dan tinggi 10-15 meter. Tanaman yang berhasil diidentifikasikan di Alas Purwoada sekitar 580 jenis. Anda akan menikmati indahnya hutan sawo kecik (manilkarakauki), bumbu manggong, dan pohon lainnya termasuk nyamplung (calophyllum inophyllum), ketapang (terminalia cattapa), serta kepuh (stercullia foetida).
Menyusuri jalanan hutannya Alas Purwo maka Anda akan disambut suara kicau burung trucak bali, trucak hijau, hingga merak dan rusa (cervus timorensis) yang dengan mudahnya terlihat mengendap di antara pepohonan. Sesekali Anda mungkin menemui beberapa kijang (muntiachus muncjak) bertanduk gagah, kera ekor panjang, lutung, ayam hutan, burung kangkareng (antracoceros coronatus), rangkong, cekakak jawa abu-abu (macaca fascicularisl), ayam hutan (ghalus ghalus), rangkong (buceros undulatus), dan bisa juga banyak burung merak (pavomuticus).
Anda dapat memuaskan kegemaran berpetualang menembus hutan, mengamati satwa di Sadengan atau berkunjung ke gua-gua yang sejak zaman dahulu sudah sering dijadikan tempat bersemedi.  Gua-gua di wilayah ini di antaranya adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan. Ada pula Gua Macan yang dianggap memiliki nuansa mistis tinggi. Menurut cerita masyarakat setempat, di tempat tersebut Bung Karno pernah bertapa. Gua-gua tersebut dapat dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km dengan berjalan kaki.
Taman Nasional Alas Purwo benar-benar hutan tua, tempat yang dapat menginspirasi cerita-cerita kuno komik dan film silat. Sejatinya memang dahulu hutan ini menjadi tempat orang tertentu menguatkan kesaktian ilmu kanuragan atau bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari kemewahan kehidupan duniawi.
Selain Gua meditasi, ada juga Situs Kawitan dan pura Hindu yang juga berumur tua. Uniknya tempat peribadatan ini berada di tengah hutan Taman Nasional Alas Purwo. Pura tersebut bernama Pura Luhur Giri Salaka dan masih banyak dikunjungi pemeluk Hindu pada hari suci Pager Wesi setiap 210 hari.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Alas Purwo mayoritas berasal dari Mataraman Kuno yang berbudaya Jawa Tradisional. Oleh karena itu, tradisi kejawen masih lestari di sini seperti bertapa atau bersemedi yang masih sering dilakukan masyarakatnya. Pada hari-hari tertentu seperti malam 1 Suro, bulan purnama, atau bulan mati, masyarakat Hindu Bali dan ahli kebatinan Jawa sengaja datang ke taman nasional ini untuk meditasi atau melaksanakan upacara keagamaan.

Di Pancur ada sungai yang mengalir ke laut dari pantai yang agak terjal sepanjang tahun. Pancur menjadi pintu masuk petualangan Anda menuju gua-gua dan areal berselancar di Pantai Plengkung (G-Land). Di sini juga terdapat masjid, penginapan, dan warung-warung makan.

Taman Nasional Alas Purwo
Di Pantai Trianggulasi yang berpasir putih bersih dapat Anda lihat tempat bertelurnya empat jenis penyu, yaitu penyu belimbing, penyu sisik, penyu abu-abu, dan penyu hijau. Waktu yang tepat untuk kegiatan ini adalah pada April-November.

Di Ngagelan  juga menjadi tempat penetasan dan penangkaran penyu. Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam jenis penyu terdapat di Indonesia, empat diantaranya adalah penyu belimbing, penyu sisik, penyu abu-abu, dan penyu hijau. Pantai Ngagelan dapat Anda capai sekira 3 km dari Rawabendo melalui Jalan Makadam.

Di Tanjung Sembulungan Anda dapat menikmati panorama pegunungan dan hutan yang berbatasan dengan Pantai Muncar. Selain juga terdapat tebing-tebing karang yang eksotik. Di Makam Gandrung sering dijadikan lokasi selamatan nelayan Muncar. Biasanya setiap 15 Suro dilakukan upacara petik laut dengan melarung aneka jenis sesaji.

Di Cunggur merupakan daerah burung migran asal Australia di musim dingin menuju Asia untuk mencari makan.

Di Kayu Aking terdapat pantai berpasir putih seluas 12 km sepanjang bibir pantainya. Letaknya berbatasan langsung dengan Selat Bali.

Di Bedul ada Segoro Anakan sebagai kawasan wisata bahari dan identik sebagai hutan mangrove termasuk yang terbesar se-Asia. Wilayah tersebut juga menjadi tempat breeding area dan nesting area beberapa jenis burung air seperti bangau tong tong, pecuk ular, trinil, raja udang, dan pelikan trinil. Selain itu, Bedul juga menjadi salah satu tempat yang digunakan masyarakat sekitar untuk mencari kerang, udang, kepiting, dan ikan dengan alat-alat tradisional. Hal tersebut justru menjadi daya tarik untuk Anda amati sembari berkeliling dengan perahu kayu yang unik yaitu “gondang ganding”.

Setelah mengunjungi Bedul, sebaiknya Anda kembali lagi ke Rowobendo, lalu putar ke arah Sadengan. Sadengan berada tak jauh dari pintu masuk Rawabendo, atau 3 km Jalan Makadam melalui pepohonan jati yang berusia tua. Di Sadengan ada tempat penggembalaan buatan seluas 80 hektar yang dilengkapi menara pandang untuk menikmati atraksi beragam hewan di rerumputan luas. Dari situ, Anda dapat lihat aneka satwa liar seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan, dan burung merak.

Wisata D.I Yogyakarta

Yogyakarta atau kadang di ditulis Jogjakarta telah dikenal dengan julukan “Keindahan Asia yang Tiada Akhir”. Banyak yang mengatakan bahwa hanya sekali mengunjugi Yogyakarta tidaklah cukup.
Sejumlah hal yang bisa Anda rasakan di Jogja akan menjadi luar biasa. Anda dapat mulai dari keindahan alamnya, kekayaan seni dan tradisi dan warisan budaya, hingga berwisata kuliner. Inilah sebabnya mengapa Jogja menjadi tujuan wisata paling sering dikunjungi kedua di Indonesia setelah Bali.
Ada sekitar 70.000 industri kerajinan dan fasilitas lain seperti akomodasi dan transportasi. Sejumlah restoran, agen perjalanan, dan sarana pendukung pariwisata yang layak, dan polisi pariwisata yang di kenal sebagai Bhayangkara Wisata.
Kondisi geografis Jogjakarta yang sangat mendukung, cuaca yang bersahabat memastikan Anda dapat merencanakan perjalanan dengan baik. Pemandangan yang indah sepanjang jalan membuat perjalanan Anda ke setiap tujuan menjadi berarti dan berkesan.
Terdapat sekitar 31 tempat wisata budaya dan 19 wisata alam yang indah untuk Anda jelajahi. Datanglah untuk memastikan bahwa Anda tidak melewatkan waktu megunjungi kemegahan candi Borobudur dan Prambanan serta melihat langsung kerajinan perak di Kotagede.
Selain itu Anda juga dapat mengunjungi Gua Selarong, Pantai Pandansimo, Gunung Gajah, atau Benteng Vredeburg. Untuk mengatahui sejarah kesultanan maka datanglah ke Keraton Yogyakarta dan Tamansari.
Perjalanan ke Jogja tidak akan lengkap tanpa merasakan Jalan Malioboro sebuah surga belanja. Deretan toko dan outlet menjual beragam cenderamata yang bisa Anda bawa pulang. Di sini Anda dapat mencoba kemampuan tawar-menawar dengan penjual.

Sejarah

Jogjakarta membentang dari lereng Gunung Merapi di utara hingga  ke pantai Samudera Hindia di selatan. Di sinilah berada Kerajaan Besar di Jawa yaitu Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat.

Jogjakarta (Jogja) bermula tahun 1755, ketika Mataram dibagi menjadi dua yaitu ke Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta (Solo). Pangeran Mangkubumi membangun Keraton Yogyakarta dan menciptakan salah satu negara Jawa yang paling kuat yang pernah ada. 

Kantor Pariwisata
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta
Jl. Suroto No. 11 Kotabaru Yogyakarta  kodepos 55224
Email: pariwisata@jogjakota.go.id
Telp. 0274-588025
Website : http://pariwisata.jogjakota.go.id/

Keraton Yogyakarta: Cermin Kosmologi dan Arsitektur Jawa yang Kental


Keraton Yogyakarta adalah sebuah kompleks besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan kosmologi Jawa. Inilah contoh arsitektur tradisional Jawa yang tidak ada bandingannya. Dirancang dan dibangun secara bertahap hingga selesai tahun 1790.

Paviliun Kompleks Keraton Yogyakarta dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang kompleks.

Keraton ini dibangun menghadap langsung ke arah utara Gunung Merapi. Di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia yang diyakini sebagai tempat tinggal Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan dan dianggap sebagai permaisuri mistis sultan. Jalan Malioboro awalnya digunakan sebagai rute upacara dan membentuk sebuah garis lurus yang ditarik dari istana ke Gunung Merapi. 
Sebuah alun-alun menghadap istana dengan pohon beringin besar di tengahnya, sementara di belakang istana juga terdapat alun-alun serupa. Ketika sultan meninggal, maka akan diadakan arak-arakan mulai dari gerbang selatan menuju makam para raja di Imogiri.

Istana ini dirancang lebih dari sekedar tempat tinggal kerajaan tetapi juga untuk menjadi titik pusat dari kegiatan sultan. Saat ini, Keraton adalah bagian dari sejarah hidup dan tradisi masyarakat Jawa. Digunakan  selain sebagai rumah sultan juga untuk acara kebudayaan dan upacara penting Keraton Yogya.

Sultan Hamengkubuwono X tetap menjadi penguasa dan pemilik gelar Sultan Yogya meskipun Yogya telah menjadi salah satu provinsi yang istimewa dalam Republik Indonesia. Sultan Yogya juga sekaligus merupakan gubernur provinsi Yogyakarta. Hingga kini sultan masih dianggap sebagai kepala budaya di Yogyakarta dan sangat dicintai oleh rakyatnya.

Meski dengan modernisasi yang dialami Yogyakarta namun Keraton Yogya tetap dihormati masyarakatnya yang mendalami mistisisme dan ilmu filsafat. Sore hari setelah keraton tertutup bagi pengunjung, para wanita dengan kostum tradisional Jawa terlihat sedang menyiram air dan bunga di pilar-pilar keraton dan menyalakan dupa untuk "membersihkan" keraton dari roh jahat.


Di sini Anda dapat berjalan-jalan di sekitar istana dan menelusuri setiap detail kecil di kompleks kerajaan. Saat Anda memasuki istana maka Anda akan menapakkan kaki ke tempat yang sejuk dan tenang, tempat yang jauh dari terlepas dari panas, keramaian, dan hirup pikuk dunia luar. Menikmati suasana damai sambil berjalan-jalan di sekitar istana.

Di pintu masuk utama, Anda akan melihat sebuah penghalang besar atau baturana yang dirancang untuk mencegah roh jahat masuk. Hal ini diyakini bahwa roh jahat sulit untuk berbelok ke sudut dan lebih memilih untuk berjalan lurus.

Saat Anda pertama kali mendekati istana maka berjalan melalui sebuah paviliun atau pagelaran tempat kementerian sultan dan pasukannya berkumpul. Saat ini ruangan ini digunakan untuk pertunjukan musik dan teater pada acara-acara khusus seperti ulang tahun sultan.

Di belakang paviliun pertama terdapat Siti Hinggil atau 'Tanah yang dipertinggi’ untuk  penobatan raja. Anda dapat membayangkan langsung bagaimana kehidupan seorang calon sultan saat berdiri di sini dengan cemas menunggu untuk dinobatkan.

Sebagian besar paviliun atau "pendopo" adalah bangunan dengan ruang udara terbuka sampingnya, dihiasi oleh pilar-pilar berukir hiasan indah.


Salah satu bangunan yang paling mengesankan di sini adalah Bangsal Kencono adalah 'paviliun bertahtakan emas'. Bangunan megah ini merupakan contoh kesenian Jawa yang mencerminkan keragaman agama dan budaya daerah. Atap paviliun yang dihiasi dengan pola Hindu merah, dengan kelopak teratai Budha berwarna emas di dasarnya, sedangkan pilar didekorasi dengan kaligrafi Arab hijau dan emas mengutip ayat dari Quran.

Pada sisi selatan dan timur halaman terdapat serangkaian kamar serba guna. Salah satu kamar-kamar ini digunakan untuk mempersiapkan teh untuk sultan setiap hari. Jika Anda beruntung mungkin Anda dapat melihat prosesi pagi hari saat para pelayan wanita setengah baya berjalan membawa teh di bawah payung kerajaan.
Paviliun lain digunakan sebagai pengadilan, di mana persidangan diselenggarakan.

Di mana-mana Anda akan melihat laki-laki dan perempuan mengenakan kostum tradisional sedang berjalan-jalan dan duduk yang merupakan rombongan pengadilan dan penjaga. Anda tidak akan menemukan penjaga militer di sini, karena Keraton diyakini dilindungi oleh kekuatan makhluk halus.

Sebelum Anda pergi, lihatlah kereta kerajaan yang dipajang di kandang Rotowijayan. Hiasan indah pada kereta ini adalah hadiah dari Belanda. Beberapa kereta memiliki fungsi khusus seperti Kyai Rotopraloyo sebagai kereta khusus untuk membawa peti mati sultan ke pemakaman kerajaan.

Akses masuk ke rumah untuk Sultan dan keluarganya adalah melalui pintu masuk yang terpisah, jauh dari pintu gerbang pengunjung. 

Parangtritis : Tempat Mistis dan Pemandangan Laut yang Spektakuler: Tempat Mistis dan Pemandangan Laut yang Spektakuler

Melarikan diri dari kesibuan kota dengan berkunjung ke pantai Parangtritis yang mistis dimana tebing batu yang menjulang tinggi berdiri dramatis di tepi pantai. Pantai ini dipenuhi pasir vulkanik hitam yang berkilauan di bawah sinar matahari. Jaraknya yang hanya sekitar 28 km dari Yogya, menjadikan perjalanan dan kunjungan ke pantai ini bisa di lakukan hanya dalam sehari. Mendengarkan gemuruh ombak, merasakan air laut menyentuh kaki Anda dan merasakan udara pantai yang sejuk membelai kulit Anda merupakan pengalaman yang luar bisa. Di sini Anda juga bisa melihat beberapa bukit yang hijau subur.
Dengan ombaknya yang lumayan besar dan air lautnya yang asin akan membuat Anda merasa segar kembali. Pada malam hari, cahaya bintang di atas pantai yang berwarna hitam keperakan memberikan kesan yang mistis, dan tidak akan sulit untuk memahami mengapa kesan mistis ini menyeruak di hati Anda, karena ada banyak mitos lokal tentang daerah ini. Seluruh daerah ini dipenuhi dengan pantai, gua, danau, jalan dan kuburan, berdiam dengan cerita mistis mereka masing-masing.
Apa yang membuat Parangtritis terlihat indah adalah karena pantai ini bukan hanya merupakan tempat liburan yang mempesona, namun juga merupakan tempat suci atau kramat. Menurut legenda, ketika Anda berkunjung ke sini Anda sedang memasuki kediaman Kanjeng Ratu Kidul, Ratu dari Pantai Selatan yang dikenal dengan pakaianya yang berwarna hijau. Untuk alasan ini, Anda dilarang untuk memakai pakaian berwarna hijau ketika berada di kawasan pantai ini karena Ratu Pantai Selatan akan murka.

Penduduk di sini terus menghormati kekuatan dari Ratu Pantai Selatan. Setiap tahunnya di Parangkusumo, 1 km di barat Parangtritis, Sultan Yogya membuat upacara persembahan kepada Ratu, yang diyakini sebagai permaisuri Sultan yang mistis. Orang Jawa lainnya juga dapat memberikan persembahan ketika mereka meminta bantuan, bimbingan atau berkah dari ratu pantai selatan ini.  

Goa Jomblang: Menikmati ‘Cahaya Surgawi’ dari sebuah Goa Istimewa di Yogyakarta 
 Selain warisan budaya yang kaya dan lestari, Yogyakarta juga dikelilingi alam nan indah. Mulai dari Gunung Merapi hingga Pantai Parangtritis yang menawarkan nuansa mistik.Tidak terkecuali  juga untuk kawasan batu karst Sewu yang membentang dari Kabupaen Gombong di Jawa Tengah hingga ke Kabupaten Pacitan di Jawa Timur. Anda dapat menemukan sebuah gua yang menawarkan petualangan istimewa.

Tempat yang dimaksud adalah Goa Jomblang yang terletak di Desa Jetis Wetan, Kecataman Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Tepatnya berada sekira 50 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, atau 10 kilometer dari Wonosari, ibukota Kabupaten Gunung Kidul. Meskipun belum familiar di telinga wisatawan umum namun pecinta alam dan backpackers sudah mengenalinya. Pada 2011, Goa Jomblang diperkenalkan ke dunia lewat tayangan CBS TV reality game show, The Amazing Race.

Goa Jomblang sebenarnya adalah salah satu dari ratusan goa yang ditemukan di Gunung Kidul. Jomblang adalah goa vertikal yang dibentuk oleh proses geologi ketika tanah dan semua vegetasi di atasnya runtuh ribuan tahun yang lalu. Goa Jomblang memiliki mulut goa dengan diameter 50 meter yang sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk. Goa vertikal secara lokal disebut sebagai Luweng, itulah sebabnya mengapa goa ini dikenal sebagai Luweng Jomblang.

Untuk menyisir ke dalam Goa Jomblang, Anda harus memiliki kemampuan caving yang memadai dan siap sedia dengan alat seperti Rope Technique Tunggal (SRT) yaitu tali yang digunakan untuk naik turun gua secara vertikal. Akan tetapi, bukan berarti pemula tidak bisa menikmatinya.Ada banyak penjelajah goa profesional yang dapat membimbing Anda untuk mencapai dasar goa.

Tersedia 4 trek berbeda dengan ketinggian bervariasi. Pertama adalah VIP trek yang memiliki 15 meter rute jalan kaki di atas lereng curam dan 20 meter rute SRT. VIP trek dikenal sebagai rute paling umum dan paling mudah. Tiga trek lainnya memberikan tantangan lebih sulit karena pengunjung harus menuruni garis SRT dengan ketinggian 80 meter untuk trek A, 60 meter untuk trek B dan 40 meter untuk trek C.

Ini akan menjadi petualangan yang tidak terlupakan ketika kaki Anda telah menapak ke dasar goa. Meskipun sangat dalam, sinar Matahari masih dapat menyusup. Anda pun dapat menemukan pepohonan rimbun, lumut, tanamah pakis dan semak-semak yang menjadi interior alam dari goa. Disebut juga hutan alam karena flora di sini tidak pernah berhenti tumbuh sehingga membentuk ekologi yang unik.

Sekira 500 meter dari dasar goa terdapat lorong alami yang mengubungkan Goa Jomblang dengan Goa Grubug. Anda akan disambut dengan stalagmit hijau kecokelatan. Sinar Matahari yang menembus kegelapan menciptakan tontonan menakjubkan yang sulit Anda temukan di tempat lain. Cahaya itulah yang menerangi stalaktit dan stalagmit sehingga lantai gua begitu cantik. Bahkan sebagian orang menyebutnya dengan ‘Cahaya Surgawi’.

Di utara stalagmit terdapat sungai. Saat musim kemarau, Anda bisa menjelajahinya dengan perahu karet. Sungai ini mengubungkan dasar Gua Grubug dengan beberapa gua lain di kawasan pegunungan karst. Akan tetapi, selama musim hujan, debit air meningkat tajam dan signifikan sehingga perahu tidak dianjurkan untuk beroperasi.

Wisata Jawa Tengah Bab III

Pulau Tengah: Keindahan Pulau Kecil nan Indah di Karimunjawa

Ada satu lagi pulau yang perlu Anda sambangi ketika berkunjung ke Karimunjawa, namanya Pulau Tengah. Pulau ini ukurannya tidak terlalu luas, hanya sekira 4 hektar saja, meskipun ukurannya kecil namun keindahannya sangatlah memukau baik apa yang ada di darat maupun di bawah perairannya.

Pulau Tengah merupakan salah satu dari sekian pulau yang tehampar di Karimunjawa. Jarak Pulau Tengah dari pulau utama yaitu Karimunjawa adalah  1,5 jam perjalanan dengan kapal motor. Pulau Tengah tepat berada di tengah-tengah laut sehingga bisa jadi itu yang menjadi asal mula pulau ini diberi nama Pulau Tengah. Di pulau ini sudah dibangun dermaga kecil dari kayu sehingga kapal-kapal kecil atau kapal nelayan dapat bersandar.

Keindahan Pulau Tengah sudah dikenal para pecinta pantai, terutama mereka yang pernah berkunjung ke Karimunjawa. Ketika berada di atas kapal dari kejauhan Pulau Tengah nampak indah apalagi begitu Anda tiba di pulaunya maka decak kagum pun terlontar. Keindahan alam dan kekayaan biota lautnya di pulau ini patut untuk dinyatakan sebagai keindahan yang tersembunyi.

Suhu tertinggi di pulau ini 30°C dan terendah sekitar 27°C. Pasir, terumbu karang, dan batu karang merupakan komposisi yang membentuk pulau ini selain pohon kelapa dan cemara laut yang tumbuh subur hampir seluruh daratanya. Kondisi airnya begitu jernih sehingga memungkinkan Anda untuk menyaksikan terumbu karang dari atas kapal. Terumbu karang seperti table coral dan brain coral dapat terlihat di kedalaman 3-10 meter dengan kondisi sangat baik.

Di bawah laut Pulau Tengah ada berbagai faunan laut yang indah seperti gerombolan ikan ekor kuning atau fusilier (Caesionidae) yang berwarna biru, kuning, dan perak. Ada juga ikan snapper, fusiliers dan sweetlips di kedalaman 5-20 meter. Ikan karang seperti butterfly, cardinal, angel, grouper, damselfish, anthias, batfish, wrasse, parrot, surgeon, trigger, box, puffer, dan porcupine di kedalaman 3-17 M. Ikan Dasar seperti flounder, gobies, moray, flathead, blennies, dan scorpion berada di kedalaman 3-20 meter. Biota lain termasuk gurita, udang dan kepiting juga ikut menghuni perairan pulau ini, mereka biasanya dapat ditemukan di kedalaman antara 5-20 meter. Ada juga moluska,  ular laut, penyu, pari,  hiu dan lumba-lumba di kedalaman 5-20  meter. 

Kondisi perairan di sekitar pulau ini cocok bagi penyelam pemula karena tidak terlalu dalam. Kedalaman menyelam maksimum di perairan ini adalah 20 meter. Lokasi menyelam hampir tersebar di setiap sudut pulau. Bagi Anda yang baru pertama kali menyelam, ketika mulai menggunakan peralatan menyelam di atas kapal, perasaan takut, gugup dan senang bergabung menjadi satu menciptakan sensasi pengalaman yang tidak terlupakan. Ketika Anda sudah berada di dalam air dan mulai mengayunkan kaki dan tangan untuk berenang dan siap menjemput berbagai keindahan di dasar laut Pulau Tengah. Jangan heran jika beberapa jenis ikan seolah-olah berhenti untuk menyapa Anda atau ingin mengajak bermain. Anda juga bisa menyaksikan seekor ikan yang nampak malu-malu keluar dari terumbu karang.  Ketika Anda berenang lebih dalam, berbagai bentuk terumbu karang siap memanjakan mata. Mungkin ketika Anda melihat keindahan terumbu karang tersebut, Anda bertanya-tanya bagaimana terumbu karang bisa tercipta seindah itu. Berbagai keindahan tersebut berpadu menjadi satu harmonisasi yang sulit untuk dilupakan.

Selesai menyelam dan snorkeling ataupun berenang, Anda bisa bersantai di atas hammock yang terayun pelan sambil menikmati hebusan angin sepoi-sepoi menyentuh kulit dan menerpa rambut. Anda juga bisa berbaring di atas hamparan pasir sambil menikmati birunya langit di atas Pulau Tengah.

 Berjarak tidak terlalu jauh dari Pulau Tengah, terdapat sebuah gosong atau yang biasa dikenal dengan Gosong Tengah. Gosong Tengah ini berbentuk dataran pasir putih yang seolah-olah timbul secara alami dari dalam laut. Dataran pasir putih ini memiliki lebar sekitar 3 meter dan panjang tidak sampai 100 meter. Anda bisa berjalan Gosong Tengah ini sambil menyaksikan ikan pari berenang dengan cepat seolah-oleh menggoda Anda. Perairan sekitarnya tidak memiliki ombak jadi sangat cocok untuk aktifitas berenang. Anda juga bisa memancing dan menikmati hasil pancingan Anda langsung di tepi pantai.

Candi Pawon : Candi Tempat Menyimpan Senjata Raja
Sementara sebagian besar candi dibangun sebagai tempat pemujaan atau pun makam maka Candi Pawon ternyata memiliki fungsi yang lain yaitu dibangun sebagai tempat penyimpanan senjata. Senjata tersebut dikenal dengan nama vajranala, yaitu senjata Raja Indera dalam mitologi India yang konon bentuknya serupa halilintar. Candi Pawon yang keberadaannya disebut-sebut di dalam prasasti Karang Tengah (824 M) berlokasi di Desa Brojonalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon yang kokoh 

disebut-sebut sebagai bagian dari Candi Borobudur sebab reliefnya dipercaya sebagai permulaan relief Candi Borobudur.
Perihal nama candi ini, terdapat banyak penafsiran menyangkut asal-usulnya. J.G. de Casparis, menafsirkan nama Pawon berasal dari bahasa Jawa, yaitu 'awu' yang berarti abu. Kata tersebut kemudian mendapat awalan 'pa' dan akhiran 'an' yang menunjuk pada suatu tempat, yaitu perabuan. Sementara itu, dalam bahasa Jawa percakapan, kata 'pawon' mempunyai arti dapur. Candi Pawon juga memiliki nama lain, yaitu Candi Bajranalan, nama tersebut diduga berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu 'vajra' yang berarti halilintar dan kata 'anala' yang artinya api.

Bangunan suci Buddha ini berjarak tepat 1.750 m dari Candi Borobudur yang super megah itu dan 1.150 m dari Candi Mendut. Lokasinya berada tepat di antara kedua candi itu. Kemiripan motif pahatan atau relief pada ketiga candi tersebut dan letaknya yang berada pada satu poros garis lurus menjadi dasar asumsi bahwa jelas ada keterkaitan yang kuat di antara ketiganya. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Candi Pawon merupakan upa angga (bagian dari) Candi Borobudur. Penelitian secara lengkap pada reliefnya menunjukkan bahwa relief pada Candi Pawon merupakan permulaan relief dari Candi Borobudur.

Berbahan batu gunung api, Candi Pawon merupakan monumen Buddha yang dibangun dengan menggabungkan seni arsitektur Hindu Jawa kuno dan India. Candi yang pernah dipugar tahun 1903 dan selesai pada 1904 ini memiliki fitur teras dan tangga yang terbilang lebar. Anda akan disuguhi beragam hiasan stupa dengan relief pada dinding bagian luarnya berupa pohon hayati (kalpataru) yang diapit dengan pundi-pundi dan kinara-kinari. Kinari adalah sebentuk makhluk setengah manusia setengah burung dimana ia berkepala manusia tapi berbadan burung.

Sumur Jalatunda : Sumur Tua Raksasa di Dataran Tinggi Dieng : Sumur Tua Raksasa di Dataran Tinggi Dieng
"Dalamnya sumur bisa dikira, dalamnya hati siapa yang bisa mengira."
Suara lantang seorang bapak separuh baya menutup kisah tentang Sumur Jalatunda yang ia ceritakan pada sekelompok anak kecil. Ada dua versi cerita asal muasal Sumur Jalatunda yang ia bagi kepada anak-anak tersebut. Sekelumit sejarah tentang Sumur Jalatundayang berada di kawasan paling Barat di kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng ini, memang menarik untuk diketahui. Tepatnya, sumur ini berada di Desa Wisata Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Versi cerita dimaksud adalah asal muasal Sumur Jalatunda versi ilmiah dan mitos. Berdasar dugaan ilmiah, sumur berwarna hijau pekat berdiameter sekira 90 meter ini adalah sebuah kepundan yang terbentuk akibat letusan gunung api jutaan tahun lalu. Kawah atau kepundan tersebut kemudian terisi air dan terbentuklah menyerupai sebuah sumur—sumur raksasa berkedalaman ratusan meter. Nama Jalatunda sendiri adalah berarti sumur yang besar atau luas dalam bahasa Jawa. Konon, fenomena terisinya kawah yang sejenis dengan proses terbentuknya Jalatunda hanya hanya ada dua saja di dunia. Kawah sejenis Jalatunda yang lain dapat ditemukan di Meksiko.

Selain menyebutkan asal usul secara ilmiah, sang Bapak juga menceritakan mitos seputar sumur raksasa berwarna hijau ini dengan gaya mendongeng yang menarik. Alkisah jaman dulu kala ada seorang putri cantik jelita yang gemar mengenakan pakaian serba putih, namun berperangai jahat. Putri cantik ini sering meminta tumbal kepada masyarakat sekitar untuk dikorbankan dan ditenggelamkan di sumur ini. Kisah lain yang juga mewarnai misteri sumur raksasa ini adalah bahwa konon di dalam sumur ini, terdapatsebuah pintu gerbang atau jalur penghubung ke kediaman ular setengah dewa.

Benar atau tidaknya kisah tersebut di atas, tidak ada yang tahu secara pasti. Hal pasti adalah bahwa untuk menikmati pesona Sumur Jalatunda, Anda harus terlebih dulu meniti sekira 257 anak tangga. Setibanya di tangga terakhir, tampak beberapa tumpuk batu kerikil yang terhampar beralaskan karung beras. Selain mitos yang sudah diceritakan sebelumnya, batu kerikil ini menambah keunikan dan daya tarik lain bagi para wisatawan. Dipercaya bahwa mereka yang mampu melempar batu kerikil ke sumur sejauh jarak tertentu akan mendapatkan keberuntungan dan terkabul niat serta keinginannya.

Adapun target lemparan antara perempuan dan laki-laki berbeda jauhnya. Bagi perempuan, cukup dengan melempar batu kerikil ke tengah sumur, maka ia dapat dikatakan berhasil. Sementara bagi lelaki, target lemparannya lebih jauh lagi, yaitu hingga ke seberang sumur yang ditandai dengan rimbun pohon bunga berwarna ungu, yang tumbuh di sela-sela batuan di sisi seberang sumur.

Perihal perlu diperhatikan juga adalah bahwa batu yang digunakan untuk melempar keberuntungan haruslah batu yang dibeli dari anak-anak Dieng di lokasi sumur ini, yaitu batu kerikil beralas karung ala kadarnya di ujung anak tangga yang tadi diceritakan. Batu tersebut dapat Anda beli seharga Rp500,00,-. Jadi, jangan berpikir untuk membawa batu sendiri dari tempat lain. Meski hal seperti ini dapat saja merupakan strategi wisata, tetap saja banyak orang yang tidak ingin menyiakan kesempatan selagi berkunjung ke sumur tersebut dan menguji keberuntungan mereka.

Melihat ke arah sumur dari atas, seolah mudah saja untuk melempar batu ke tengah sumur atau bahkan ke sisi seberang tetapi begitu batu dilempar, batu seolah lenyap di antara rimbun pepohonan sisi terdekat sumur dan bukannya ke tengah apalagi ke sisi seberang.

Menurut warga sekitar yang biasa menjadi pemandu, beberapa orang telah membuktikan kebenaran mitos tersebut. Salah seorang yang berhasil melempar ke titik yang ditargetkan mengaku keinginannya terwujud dan dengan sengaja datang kembali ke Dieng untuk menceritakan dan berbagi kebahagiaan.

Candi Arjuna: Warisan Sejarah Hindu di atas Bukit 

Di sinilah eksotisme sejarah berusia ribuan tahun telah berharmoni bersama keindahan dan sejuknya udara pegunungan. Kompleks Candi Arjuna adalah candi bercorak Hindu peninggalan abad ke-7 yang teguh menantang dinginnya cuaca di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Mengunjungi Kompleks Candi Arjuna di ketinggian sekira 2.093 m dpl, mungkin dapat jadi pilihan wisata  budaya dan wisata alam sekaligus.
Hawa dingin pegunungan sudah akan terasa menggigit kulit setibanya di pintu masuk kawasan Kompleks Candi Arjuna bahkan pukul 9 pagi. Terlebih lagi, hujan baru saja selesai mengguyur tanah tempat bersemayamnya para dewa tersebut. Tak ayal, gugusan pegunungan dan bukit-bukit yang gagah sebagai latar belakang candi pun tertutup kabut. Semakin siang, kabut kian surut dan hilang menampilkan pemandangan utuh gunung yang nampak hijau di kejauhan. Seolah tak terpengaruh segala perubahan cuaca dan musim selama ribuan tahun lamanya, beberapa candi yang berada dalam satu kompleks itu tetap kokoh  berdiri.

Dibangun pada 809 M, Kompleks Candi Arjuna merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa dan tempat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini didasarkan keberadaan Lingga dan Yoni di dalam candi utama. Selain itu, ditemukan pula beberapa arca, seperti Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya yang kini tersimpan di Museum Kailasa.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 candi yaitu, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa. Secara arsitektur, Candi Arjuna mirip dengan candi di India selatan dan diduga mendapat pengaruh dari budaya India. Candi-candi yang terbuat dari batuan andesit tersebut tidak memiliki banyak relief pada dindingnya. Hanya ada relief ketiga Dewa Trimurti yaitu Siwa, Wisnu, dan Brahma yang dipahatkan di Candi Srikandi dan bukannya di candi utama.

Kompleks Candi Arjuna ini ditemukan pertama kali tahun 1814 oleh seorang tentara Inggris, yaitu van Kinsbergen. Saat ditemukan, candi-candi tersebut terendam air rawa-rawa, berbeda dari kebanyakan candi lain yang biasanya terendam tanah. Proses pengeringan air rawa baru dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Rumput hijau seperti karpet tampak tumbuh subur di pelataran candi, membingkai kerikil yang memenuhi pelataran terdekat dengan candi.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang memberi nama candi-candi tersebut. Akan tetapi, hal yang pasti adalah bahwa nama-nama candi tersebut diberi nama sesuai tokoh pewayangan. Candi Arjuna adalah candi utamanya yang berhadapan dengan Candi Semar dengan bentuk memanjang beratap limasan. Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra berjejer ke samping sebelah kirinya.

Dalam kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng terdapat 19 candi tetapi hanya delapan yang masih utuh berdiri.

Kelima candi yang berada berdekatan di Kompleks Candi Arjuna memiliki perbedaan bentuk satu dengan yang lainnya. Candi Arjuna, sebagai candi utama, merupakan sebuah candi yang berdenah dasar persegi dengan luas ukuran sekitar 6 m². Atap Candi Arjuna berbentuk serupa kerucut, semakin ke atas semakin mengecil. Di dalamnya, terdapat yoni berbentuk meja yang bagian tengahnya berlubang dan dapat menampung tetesan air dari langit atap candi. Apabila lubang penampung ini penuh, air akan dialirkan ke bagian lingga dan diteruskan ke bagian depan luar candi.

Candi Semar yang berhadapan dengan Arjuna adalah sebuah candi berukuran 3,5 m x 7 m. Berbeda dengan Candi Arjuna yang atap bangunannya tinggi, Candi Semar lebih pendek dan atapnya berbentuk limasan. Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa memiliki bentuk dasar seperti kubus dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda satu dan lainnya.

Mengabadikan situs kuno bersejarah ini dari berbagai sisi adalah hal yang layaknya tidak dilewatkan. Anda dapat berfoto dan bahkan memasuki ruang di bagian dalam candi untuk menyaksikan dari dekat mahakarya warisan leluhur yang masih utuh meski terus-menerus disepuh zaman.

Tak jauh dari pelataran tempat berdirinya kelima candi, tepatnya di area terluar, tampak pula beberapa tumpukan batu yang juga menarik untuk diabadikan dan diamati.

Pantai Nampu: Keelokan Pesisir Selatan Jawa dari Wonogiri 
Jalanan turun-naik tak habis-habisnya dilewati hampir satu jam. Jantung agak berdebar karena kanan kiri jalan berupa jurang, walaupun ada sawah dan bebatuan karst yang terkadang menghiasi pemandangan. Mobil terus melaju menuju bukit yang ada di depan mata. Akan tetapi tujuan utama bukanlah bukit itu, melainkan sebuah tempat di baliknya.

Wonogiri bukanlah kabupaten yang terletak tepat di selatan Jawa. Banyak orang tidak percaya bahwa ada secuil garis pantai yang dimilikinya, karena wilayah pesisir biasanya bernaung di Yogyakarta maupun Pacitan. Pantai Nampu, inilah tempat indah di balik bukit itu sekaligus satu dari sedikit pantai yang ada di Wonoiri. Meskipun bukanlah pantai yang panjang namun pantai ini mampu menghipnotis Anda berada sepanjang hari untuk menikmatinya.

 

Pantai Nampu terletak di Desa Dringo, Kelurahan Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Perjalanan panjang akan terbayar impas setelah menapakan kaki di pantai ini. Sebelum benar-benar menyentuhnya, Anda harus terlebih dahulu menuruni puluhan anak tangga yang dipenuhi oleh para pedagang.

Tidak kalah menawan dengan Pantai Padang-Padang di Bali, Pantai Nampu juga dihiasi bukit-bukit tinggi yang hijau. Di pinggir laut terdapat batu besar yang menghempaskan air apabila diterpa ombak besar. Hal lain yang menjadi ciri khasnya adalah kumpulan pasir berwarna cokelat muda yang sangat bersih dan dalam, mata kaki Anda bisa tenggelam di sana.

Karena letaknya sangat jauh dari pusat kota, pantai ini masih tergolong sepi sehingga masih sangat asri dan memiliki air laut yang jernih. Tapi jika berkunjung pada hari raya, Anda akan berpapasan dengan pengunjung dari berbagai kota. Jangan mengharapkan sunset yang spektakuler karena Matahari tetap bersembunyi di balik bukit-bukit. Selain itu, Pantai Nampu juga bukanlah lokasi berenang yang ramah karena bebatuan dan karang berkumpul di bibir pantai. Belum lagi ombak di sini tergolong cukup tinggi.

Apabila air surut, karang-karang akan terlihat jelas mempercantik lansekap. Jika mendekat, Anda pun bisa melihat ikan-ikan kecil di balik karang tersebut. Ada fenomena unik yang terjadi beberapa kali dalam setahun di pantai ini, saat pasang airnya akan naik mendekati bukit, menenggelamkan Pantai Nampu untuk sementara.

Wisata Jawa Tengah Bab II

Candi Sukuh: Keunikan Candi Hindu Terakhir dari Masa Majapahit 

 Candi ini dijuluki sebagai The Last Temple karena hingga saat ini perkirakan sebagai candi terakhir yang dibangun sebelum kerajaan Hindu Majapahit di Jawa Tengah memudar perannya. Anda akan temukan candi ini di ketinggian 1.186 mdpl, berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar. Candi ini berjarak sekitar 20 km dari kota Karanganyar dan 36 km dari Surakarta.

Candi Sukuh merupakan salah satu candi paling menarik di Asia Tenggara. Uniknya karena di candi ini terdapat beberapa ornamen erotis simbol sex manusia. Beberapa patung dan arca menggambarkan lingga sebagai perwujudan kemaluan pria dan yoni sebagai perwujudan kemaluan wanita.

Bangunannya pun berbeda dari kebanyakan candi di Indonesia karena candi ini mirip piramid Suku Maya di Mexico atau Inca di Peru. Jika candi-candi lain  di Jawa Tengah


dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru maka Candi Sukuh memiliki tampilan sederhana berbentuk trapesium. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan berupa batuan jenis andesit.

Candi Sukuh adalah candi agama Hindu yang dibangun akhir abad ke-15 M. Candi ini berbeda arsitekturnya dari umumnya candi Hindu di Jawa Tengah. Arsitektur Candi Sukuh tidak mengikuti ketentuan kitab pedoman pembuatan bangunan suci Hindu “Wastu Widya”. Menurut ketentuan kitab tersebut, sebuah candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang paling suci terletak di tengah. Adanya penyimpangan tersebut diduga karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hindu di Jawa dan menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat dari zaman Megalitikum. Pengaruh zaman prasejarah terlihat dari bentuk bangunan Candi Sukuh yang merupakan teras berundak. Bentuk semacam itu mirip dengan bangunan punden berundak yang merupakan ciri khas bangunan suci pada masa pra-Hindu. Ciri khas lain bangunan suci dari masa pra-Hindu adalah tempat paling suci terletak di bagian paling tinggi dan paling belakang.

Teori lain tentang candi ini menyebutkan merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab “Adiparwa”, yaitu kitab pertama Mahabharata. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri dan dipergunakan untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta yang bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang meminumnya.

Candi Sukuh diperkirakan dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang akibat ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Dugaan tersebut didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala dan Garudheya, serta pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di candinya.

Arkeolog Belanda W.F. Stutterheim pada tahun 1930 menjelaskan kemungkinan pemahat Candi Sukuh adalah bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Candi dibuat seakan tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Hal ini terlihat dari relief yang masih kasar dan sederhana.  Ada dugaan ini disebabkan karena keadaan politik kala itu menjelang keruntuhannya Majapahit yang terdesak pengaruh Islam dari Demak. Oleh karena itu, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. Akan tetapi, meski demikian candi ini menyimpan keunikan yang berharga sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Candi Sukuh ditemukan kembali oleh Residen Johnson yang merupakan bawahan  Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Ia ditugasi gubernur jenderal ini untuk menghimpun data untuk penyusunan buku “History of Java” tahun 1815.
Berikutnya tahun 1842, Van der Vlis, seorang peneliti Belanda melakukan riset dan memugar candi ini. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam bukunya “Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto”. Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans tahun 1864-1867 dan dilaporkan dalam bukunya “Hindoe Oudheiden van Java”. Tahun 1889, Verbeek mengadakan inventarisasi terhadap Candi Sukuh, dilanjutkan penelitian Knebel dan WF. Stutterheim tahun 1910. Pemugaran Candi Sukuh dilakukan oleh Dinas Purbakala tahun 1917. Pada akhir tahun 1970-an. Candi Sukuh mengalami pemugaran kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Di kawasan Candi Sukuh Anda tidak hanya sekedar berjalan-jalan di lereng gunung yang sejuk sambil menikmati candi terakhir yang dibangun dari masa Majapahit ini. Anda juga dapat berkeliling menapaki jejak cerita dari masa lalu sambil coba menguak misteri sejarahnya karena ini akan menjadi salah satu pengalaman wisata yang mengasyikkan. Berbagai misteri dan pertanyaan masih menyelimuti Candi Sukuh.

Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan dan keunikan sekaligus. Anda akan mendapatkan pengalaman lain yang berbeda dibandingkan saat mengunjungi candi-candi lainnya di Jawa Tengah seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan.

Candi Sukuh berada di areal sekitar 5.500 m². Candi ini terdiri dari terdiri atas tiga teras bersusun mirip piramida Maya di Meksiko atau Inca di Peru. Saat Anda memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar maka akan melihat bentuk arsitektur khas yang tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Pada gapura pertama terdapat sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi ‘gapura buta abara wong’, artinya ‘gapura sang raksasa memangsa manusia’. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1, jika dibalik maka didapatkan angka tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Menuju ke teras kedua, Anda akan melewati gerbang kedua yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Hanya tersisa dinding gapura yang tingginya hanya sebatas tangga naik dan tidak beratap. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala namun kondisinya sudah rusak dan bentuknya tidak jelas. Pada gapura kedua terdapat sebuah candrasangkala yang dalam bahasa Jawa yang berbunyi “gajah wiku anahut buntut”, artinya “gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Di teras ketiga, gapura ketiga kondisinya sama dengan gapura kedua yang sudah tidak utuh lagi. Terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar dibuat untuk mengetes keperawanan gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
 

Karimunjawa : Keindahan Pantai Berpadu Wisata Religi 
Anda yang cinta pantai maka wajib merasakan jernihnya air laut, langit biru, awan putih, dan hawa segar Karimunjawa. Semuanya akan menjadi milik Anda selama berada di Kepulauan yang lokasinya sekitar 45 mil laut atau sekitar 83 kilometer di barat laut kota Jepara. Setelahnya bersiaplah untuk enggan pulang karena kedamaian tempat ini memberi kesan tersendiri dan sulit digantikan tempat lain. Telah banyak wisatawan datang kembali ke pulau yang indah ini karena ketagihan.
 Karimunjawa adalah gugusan pulau yang sangat indah dengan hamparan pasir putih menawan, meliputi 27 pulau dalam 1 kecamatan dan terbagi dalam 3 desa. Luas tempat indah ini adalah 107.225 ha, sebagian besar wilayahnya berupa lautan (100.105 ha) sementara sisanya adalah daratan seluas 7.120 ha.
Ada bentangan pantai berpasir putih di sini dengan beragam fauna yang menakjubkan, juga hutan mangrove dan hutan tropis dataran rendah yang menyajikan pemandangan menyejukan mata.
Karimunjawa dijuluki Perawan Jawa, sebuah inisial yang merujuk pada perairannya begitu bening sehingga sebuah koin yang jatuh ke dalamnya akan dengan mudah Anda temukan karena kejernihannya.
Taman nasional laut ini beriklim tropis dipengaruhi angin laut yang bertiup sepanjang hari. Suhu rata-ratanya sekitar 26-30 derajat Celcius. Karimunjawa memiliki kekayaan ekosistem flora dan fauna mulai dari terumbu karang, hutan mangrove (Padang Lamun), hutan pantai, hingga hutan dataran rendah. Anda dapat ber-tracking menyusuri sejuknya hutan mangrove seluas 10,5 hektar dengan jalur tracking sepanjang 2 km yang menyuguhkan aneka macam jenis pohon mangrove langka sekaligus Anda ikut menanam dan melestarikan mangrove di sana.
Di bawah air Karimunjawa ada fauna akuatik yang terdiri atas 242 jenis ikan hias dan 133 genera akuatik.  Selain alam air, Anda juga dapat menemukan bervariasi fauna seperti rusa dan kera ekor panjang di daratnya. Karimunjawa juga menjadi rumah fauna langka yaitu elang laut dada putih di Pulau Burung dan Pulau Geleang. Hewan langka lainnya adalah dua jenis penyu, yaitu penyu sisik dan penyu hijau.
Karimunjawa dalam cerita rakyat setempat terkait Legenda Nyamplungan dan sosok Sunan Nyamplung (Syech Amir Hasan) yang merupakan putera Sunan Muria. Sedari kecil, Amir Hasan hidup dimanja sehingga cenderung nakal saat dewasa. Karena wataknya yang nakal kemudian Sunan Muria menitipkan puteranya kepada Sunan Kudus dengan harapan menjadi lebih baik. Amir Hasan memang berubah baik tetapi setelah berkumpul kembali dengan keluarganya, perilaku Amir Hasan kembali seperti semula. Akhirnya Sunan Muria memerintahkan puteranya itu untuk mengamalkan ilmu agama di pulau yang terlihat kremun-kremun (artinya tidak jelas) bila dilihat dari Gunung Muria. Amir Hasan tidak boleh kembali ke Pulau Jawa sebelum tugasnya selesai. Ia pergi ditemani 2 orang abdi dengan berbekal 2 buah biji nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut dan sebuah mustaka masjid (Anda dapat menemukannya di kompleks makam Sunan Nyamplungan). Amir Hasan menanam 2 buah biji nyamplung yang kemudian tumbuh menjadi pohon nyamplung (Temukan lokasinya yang sekarang menjadi Dukuh Nyamplung.
Penduduk Karimunjawa adalah multietnis meliputi suku Jawa, Bugis Makassar, dan Madura. Masyarakat Jawa tinggal di Dukuh Karimun, Dukuh Legon Lele, Dukuh Nyamplungan, dan Dukuh Mrican. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan industri rumah tangga membuat batu bata merah dan minyak kelapa.  Masyarakat Bugis Makassar tinggal di Pulau Kemujan, Dukuh Batu Lawang, Dukuh Legon Gede, dan Dukuh Tlogo. Orang Bugis ini berprofesi sebagai nelayan.  Sementara masyarakat Madura selain berprofesi sebagai nelayan juga memiliki keterampilan membuat ikan kering.

Hampir seluruh bagian pantai di kepulauan Karimunjawa memiliki pasir putih dengan garis pantai yang panjang. Ini jelas lokasi sempurna untuk mandi sinar Matahari atau menyaksikan keindahan terbit atau terbenamnya Sang Surya di tepi horizon.
Di sini tema wisata Anda pastinya wisata bahari yang menawarkan berbagai kegiatan wisata dan olahraga air.  Setidaknya cobalah meminta bantuan atau petunjuk pemandu wisata Anda untuk mencicipi salah satu kegiatan seperti menyelam, snorkeling, memancing, berenang, berjemur, atau menjelajahi lautnya yang jernih.
Di Karimunjawa Anda dapat menikmati panorama alam pantai berpasir putih dengan cakrawala biru membentang. Jangan lewatkan juga terjun ke bawah airnya untuk memandangi terumbu karang, rumput laut, dan beragam biota laut.
Apabila Anda ingin berenang maka cobalah di sebelah timur dan selatan pulau ini, bagian selatan, bagian barat pulau Tengah, juga barat pulau Menjangan Kecil, atau sekitar Pulau Parang, Pulau Kembar, dan Pulau Kumbang.
Untuk Anda yang hobi memancing maka dapat melakukannya di sekitar pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, ada juga di Pulau Menyawakan, Pulau Kemujan, Pulau Parang,  Pulau Tengah, sekitar Pulau Kembar, dan sebelah barat Pulau Bengkoang.
Tempat terbaik untuk menyelam dapat Anda lakukan di sebelah utara dan barat pulau Karimunjawa, sebelah selatan dan barat pulau Geleang, sebelah timur pulau Menjangan Besar, sekitar pulau Menjangan Kecil, sebelah barat pulau Bengkoang, sebelah barat pulau parang, sebelah timur pulau Kembar, sekitar pulau Katang, sebelah utara dan timur pulau Krakal Kecil, dan sebelah barat pulau Kumbang.
Anda yang hobi snorkeling dapat menjajalnya di pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, sebelah barat pulau Bengkoang, sebelah utara dan timur pulau Krakal Kecil, atau di sekitar pulau Kembar.

Apabila Anda tidak dapat berenang dan hanya ingin menjelajah laut maka tersedia kapal yang dilengkapi dengan kaca pada bagian bawahnya (glass bottom boat) untuk menyaksikan keindahan bawah laut Karimunjawa. Hal serupa dapat dinikmati yaitu melihat akuarium air laut di pulau Menjangan Besar. Di sini  terdapat fasilitas akuarium air laut dimana Anda dapat menikmati keindahan ikan hias termasuk ikan hiu dan ikan lainnya.
Anda juga dapat melakukan wisata selam bangkai kapal (wreck dive) di Pulau Kemojan. Akan terasa suasana sunyi bercampur misteri dari pilar besi kapal yang berkarat. Bangkai kapal ini selain menyuguhkan tantangan juga memberi Anda pengetahuan sejarah. Kapal tersebut adalah pengangkut batu bara milik pemerintah Hindia Belanda yang karam 60 tahun silam karena sang nahkoda menyangka Kepulauan Karimunjawa adalah pesisir pantai. Dasar pantai di Karimunjawa relatif rendah sehingga membuat kapal tersebut kandas dan akhirnya karam.
Selain alam yang indah, penduduk Karimunjawa yang multietnik akan menarik untuk dijadikan objek interaksi sosial Anda. Ada berbagai keunikan budaya dan tradisi penduduknya termasuk wisata budaya dan ziarah. Legenda Nyamplungan telah membuat kawasan ini menarik untuk dikunjungi peziarah yang ingin mendatangi makam Sunan Nyamplungan dan peninggalannya. Saat yang tepat adalah saat perayaan Khoul Sunan Nyamplungan pada 1 Suro.
Temukan juga berbagai atraksi budaya di sini seperti pencak silat, rebana, gamelan jawa, dan reog (kuda lumping). Ada juga atraksi rutin masyarakat setempat seperti pelepasan penyu dan upacara pelepasan perahu.  

Pulau Cemara Besar: Keindahan Pulau dan Perairan Dangkal di Karimunjawa
Ketika Anda membayangkan Karimunjawa sebenarnya bukan hanya pulau ini saja yang indah untuk dinikmati. Tahukah Anda bahwa di sekitar Karimunjawa terdapat pulau yang begitu memesona mata dan menyejukkan hati. Pulau tersebut bernama Pulau Cemara Besar dan berada di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Provinsi Jawa Tenggah. Jaraknya sekira satu jam dari Pulau Karimunjawa.

Bagi Anda pecinta pantai maka Pulau Cemara Besar bisa menjadi pilihan tepat untuk melarikan diri dari kepenatan sehari-hari atau ibarat obat penghilang stress. Pulau ini dinaungi langit biru membentang, beralaskan pasir putih dengan pepohonan cemara lebat berwarna hijau, serta dikelilingi jernihnya air laut berwarna biru muda yang saling berpadu menjadi sebuah harmoniasi alam nan memukau. Di kejauhan juga nampak perahu nelayan nampak cantik berlayar seperti gambar dalam sebuah lukisan.

Dinamakan Pulau Cemara Besar karena di pulau sekira 3,5 hektar ini banyak ditumbuhi pohon cemara. Pemandangan pohonan cemara nampak indah dari kejauhan, terlihat kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Karena perairan di sekitar pulau ini dangkal sehingga perahu nelayan tidak memungkinkan untuk mencapai daratannya, jadi Anda harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke daratan.

Perairan di sekitar pulau ini memiliki beraneka ragam biota laut yang patut untuk dilihat. Beragam jenis ikan berenang di air yang bening bahkan Anda bisa menyaksikannya langsung dari atas kapal. Terumbu karang di sini sangat beragam, diantaranya adalah table coral yang bentuknya seperti jamur raksasa, brain coral, staghorn coral, dan terumbu karang berukuran kecil dengan warna-warni yang indah. Tidak hanya itu saja, alga hijau juga menjadi penghuni perairan tropis ini.

Ketika kaki Anda berjalan di atas hamparan pasir putih maka berikutnya mata Anda akan disuguhi berbagai keindahan di pulau ini yang mungkin tidak bisa dibayar dengan apapun. Suara kicauan burung sayu-sayu juga akan terdengar merdunya membuai Anda.

Menyelam dan snorkeling menjadi kegiatan utama dan paling digemari di pulau tidak berpenghuni ini. Perlengkapan snorkeling dapat diperoleh di Pulau Karimunjawa. Sebelum melakukan kegiatan menyelam biasanya Anda akan diberikan arahan untuk keselamatan.

Beberapa titik menyelam dan snorkeling tersebar hampir di seluruh sudut pulau. Menyaksikan kekayaan biota laut di sekitar perairan pulau ini menjadi pengalaman tersendiri yang berkesan. Berbagai jenis ikan dengan variasi ukuran dan warna berseliweran seperti sibuk mencari mangsa. Koleksi terumbu karang di perairan sekitar pulau ini akan membuat Anda takjud dan betah untuk berlama-lama. Anda akan melihat beberapa jenis terumbu karang seperti table coral yang berbentuk seperti jamur raksasa, brain coral yang berbentuk bulat dan berwarna kuning mirip otak, serta staghorn coral yang mirip seperti cabang pohon yang mengering. 

Pulau Cemara Besar yang hampir seluruh daratannya ditumbuhi pohon cemara laut memiliki pasir berwarna putih dan batu karang di setiap sudutnya. Berkelana di lebatnya pepohonan cemara menjadi pilihan aktivitas menarik. Karena pulau ini tidak begitu luas maka Anda bisa mencoba untuk mengelilingi pulau, siapa tahu Anda menemukan hal-hal menarik lainnya di pulau ini. Anda juga bisa bersantai sambil berjemur di atas pasir yang berkilau diterpa sinar Matahari.

Pesisir pulau ini termasuk dangkal sehingga Anda yang lebih memilih aktivitas berenang bisa mencobanya. Anda juga dapat meminta nelayan setempat untuk mengantarkan ke pulau-pulau di sekitar seperti Pulau Menjangan Besar, Pulau Cemara Kecil dan Pulau Merica. Semua pulau ini memiliki pesonanya sendiri yang patut untuk disambangi. 

Candi Mendut: Mengunjungi Candi Bertuah dan Lebih Tua dari Candi Borobudur 
Candi ini memang tidak sebesar dan semegah Candi Borobudur tetapi Candi Mendut jelas berumur lebih tua dan dianggap bertuah oleh sebagian orang. Berlokasi di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, candi bercorak Buddha ini dibangun oleh Raja Indra dari wangsa Syailendra dan lokasinya berada di posisi paling timur garis lurus utara ke selatan dari tiga rangkaian percandian di kawasan Mungkid, yaitu Borobudur, Pawon, dan Mendut. Candi yang berada di pinggir jalan ini memang mengisahkan beberapa relief cerita personifikasi hewan dengan pesan moral tertentu. Anda perlu menyimaknya secara langsung di candi ini!
Berbeda dengan candi-candi di Jawa bahkan di Indonesia yang menghadap ke arah Matahari terbit maka pintu masuk Candi Mendut menghadap ke arah barat laut. Hiasan yang terdapat pada Candi Mendut cukup unik yaitu terukir berselang-seling berupa makhluk-makhluk kahyangan, yaitu dewata Gandarwa dan Apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan Jataka.
 Sampai saat ini para ahli belum dapat memastikan kapan waktu persis pendirian Candi Mendut (catatan sementara pada tahun 824 Masehi). Candi ini awalnya diketemukan seorang arkeolog Belanda bernama J.G. de Casparis tahun 1836. Berikutnya pada 1897 hingga 1904 dilakukan perbaikan pada bagian kaki dan tubuh candi. Tahun 1908 hingga 1925 kembali diperbaiki oleh Theodoor van Erp hingga puncak candi ini dapat disusun kembali bersama sejumlah stupa.
Bangunan candi ini terbuat dari batu andesit dengan luas keseluruhan 13,7x13,7 dan menjulang setinggi 26,4 meter dengan stupa kecil sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. Akan tetapi, puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya. Atap candinya sendiri terdiri dari tiga kubus yang disusun mengkerucut mirip atap candi-candi di Dieng dan Gedongsanga. 
Candi Mendut mempunyai banyak ragam hias atau relief yang masih jelas terlihat, mulai dari kaki, tubuh, hingga atapnya. Relief bagian belakang candi merupakan relief terbesar pada candi ini yang menggambarkan Buddha Avalokitesvara.
Prasasti Kayumwungan yang ditemukan di Karangtengah memberikan sedikit informasi bahwa Candi Mendut ini dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Bangunan suci tersebut diberi nama Venunava atau yang artinya hutan bambu.
Beberapa relief lainnya mengandung cerita moral dengan tokoh-tokoh binatang sebagai pemerannya seperti cerita "Brahmana dan Kepiting", "Angsa dan Kura-kura", "Dua Burung Betet yang Berbeda", dan "Dharmabuddhi dan Dustabuddhi". Dalam relief "Brahmana dan Kepeting", menceritakan kisah seorang brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting dan kemudian kepiting itu membalas budi dengan menyelamatkan brahmana dari gangguan gagak dan ular. Dalam relief "Angsa dan Kura-kura", menceritakan seekor kura-kura yang diterbangkan dua ekor angsa ke danau. Karena emosi dalam menangapi ejekan orang maka kura-kura melepaskan gigitannya sehingga jatuh ke tanah dan akhirnya mati. Dalam relief "Dua Burung Betet yang Berbeda", menceritakan dua burung betet yang sangat berbeda karakter karena yang satu dibesarkan oleh seorang brahmana dan satunya lagi oleh seorang penyamun. Dalam relief "Dharmabuddhi dan Dustabuddhi", menceritakan dua orang sahabat yang berbeda tabiat, yaitu Dustabuddhi dan Dharmabuddhi. Dustabuddhi menuduh Dharmabuddhi melakukan perbuatan tercela namun akhirnya Dustabudhi yang jahat dijatuhi hukuman.
Candi Mendut disebut juga candi bertuah, karena banyak pasangan yang belum dikaruniai anak datang ke sini memohon kepada Dewi Kesuburan. Hal ini dikaitkan dengan adanya relief Hariti. Di Candi Mendut, Hariti digambarkan sedang duduk sambil memangku anak dan di sekelilingnya beberapa anak sedang bermain. Menurut cerita, Hariti adalah raksasa yang gemar memakan anak kecil tetapi kemudian bertemu Sang Buddha dan ia pun bertobat serta berubah manjadi pelindung anak-anak. Berikutnya bahkan Hariti dikenal sebagai Dewi Kesuburan.
 Saat ini selain menjadi tujuan wisata, Candi Mendut juga dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei saat pada malam bulan purnama. Candi ini banyak dikunjungi para peziarah dari Indonesia dan bahkan mancanegara. Kesehariannya candi ini terbuka untuk pengunjung pada Senin - Minggu, pukul 07:00 - 18:00 WIB.
Saat Anda memasuki kawasan candi yang dipagari ini maka akan melihat kaki candi yang dihiasi sebuah relief kahyangan  yang menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dikelilingi bunga dan daun-daunan yang distilir. Ada juga relief seekor kera sedang duduk di atas punggung buaya yang dihiasi bunga-bunga di sekitarnya. Apabila diperhatikan lebih dekat pada dinding candi ini di sebelah luarnya terdapat relief Dewi Tara yang sedang duduk bersemedi di bawah pohon kalpataru dan relief Sang Budha yang sedang berdiri di antara pilar-pilar dan berlindung di bawah payung. Di sudut selatan candi ini, tepat di halaman sampingnya bongkahan reruntuhan candi ini yang sedang diidentifikasi untuk direkonstruksi.
Pintu masuk candi ini dihiasi relief kalpataru, sebuah pohon pengharapan dengan enam unsurnya yang meliputi hewan pengapit, jambangan bunga, untaian manik-manik, payung, dan burung. Apabila Anda memasuki dalam ruangan candi maka akan melihat relief Hariti, yaitu raksasa yang sering memangsa anak kecil tetapi telah disadarkan kebaikan dari Resi Gautama (Buddha) sehingga menjadi raksasa yang baik bahkan berikutnya Hariti sering mendapat sebutan sebagai Dewi Kesuburan.
Perhatikan juga dinding bagian selatan dimana akan Anda temukan relief Yaksa Atavaka, yaitu mirip Hariti tetapi raksasa ini suka memakan orang. Dalam ceritnaya ia juga disadarkan menjadi pengikut Budha dan menjadi raksasa yang baik. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. Selain itu, relief Yaksa Atavaka di candi ini digambarkan sedang duduk di atas singgasana dan di bawahnya terdapat pundi-pundi berisi uang dikelilingi anak-anak. Berikutnya Yaksa ini sering disebut dengan Kuvera atau Dewa Kekayaan.
Apabila Anda mengarahkan perhatian pada sayap tangga candi maka akan ditemukan relief unik berupa kura-kura yang sedang diterbangkan oleh dua ekor angsa dengan menggunakan tongkat yang dicengkram pada bagian ujungnya dan kura-kura menggigit bagian tengah tongkat tersebut. Diceritakan dalam runut gambarnya bahwa saat terbang banyak orang yang melihat mencemoohnya sehingga kura-kura pun melepaskan gigitannya lalu jatuh ke tanah dan mati. Ada cerita menarik lainnya dari relief yang terukir di sayap tangga yaitu kisah seorang Brahmana yang menyelamatkan seekor ketam dari gangguan burung dan ular.
Di bagian dalam bangunan candi sendiri terdapat ruangan yang berisi altar dengan tiga arca Buddha yang masih dalam kondisi baik. Ketiga arca tersebut adalah Bodhisattva Vajravani, Budha Sakyamuni dalam posisi duduk bersila dengan tangan memutar roda dharma, dan Bodhisattva Avalokitesvara dalam posisi sedang memegang bunga teratai yang diletakkan di atas telapak tangannya. Di depan arca-arca tersebut dipasang pagar besi untuk menghindari interaksi pengunjung secara langsung.
Di Candi Mendut sering dilakukan ritual meditasi dengan cara mendengarkan alunan musik serta nyanyian. Pesertanya tidak harus beragama Buddha, siapa pun dipersilakan mengikuti ritual ini yang rutin digelar setiap malam pukul 19.00 - 20.00 WIB.
Candi Mendut juga rutin dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei (pada malam bulan purnama). Biasanya para biksu melakukan persembahyangan penyucian air berkah di depan altar Candi Mendut. Air berkah tersebut dibawa dengan 70 kendi dari Umbul Jumprit Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, dan diangkut menggunakan mobil hias hingga tiba di pelataran Candi Mendut. Air berkah itu merupakan simbol ketenteraman kehidupan manusia dan dianggap pemeluk Buddha memiliki banyak berkah. Mereka akan membawa pulang air tersebut ke rumah masing-masing setelah selesai menjalani rangkaian perayaan Trisuci Waisak. Selain air berkah, para biksu dan umat juga membawa api dharma dari sumber api alam dari Gunung Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Telaga Warna Dieng: Keindahan Fenomena Alam di Dataran Tinggi Dieng 

Dataran tinggi Dieng memiliki sejuta keindahan yang memukau. Kawasan ini selain dihiasi hijaunya pepohonan dan candi bercorak Hindu yang indah, juga berdiam sebuah bingkisan alam nan indah bernama Telaga Warna Dieng. Berlokasi di Kecamatan Kejajar Wonosobo, telaga ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk mencapainya dari Wonosobo Anda dapat berkendara sekira 25 km.
Harmonisasi alam dengan udara yang sejuk dan bersih membuat suasana Telaga Warna Dieng begitu memikat. Anda juga akan merasakan suasana mistis yang hening disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang melingkupinya. Tidaklah lengkap menyambangi Dieng tanpa melihat langsung keindahan Telaga Warna Dieng. Selain itu dari sini Anda dapat melanjutkan mengunjungi Telaga Pengilon, Goa Sumur, Goa Semar, Goa Jaran, dan Kawah Sikendang ini.

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).

Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini.
Anda dapat menyusuri tepian telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya. Lokasi paling tepat untuk menikmati keindahan telaga ini selain berada tepat di hadapannya adalah Anda juga bisa mendaki ke puncak bukit yang memagari telaga. Kondisi menuju bukit ini cukup sempit dan licin dan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Di sini, di antara rimbunnya pepohonan, Anda bisa menyaksikan keindahan telaga berwarna-warni ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga. Dieng Plateau Theater menyediakan informasi lengkap mengenai kejadian alam di sekitar Dieng, jadi sempatkan untuk menyambanginya.

Tidak jauh dari bukit itu terdapat telaga cantik lainnya yatiu Telaga Pengilon. Telaga ini dapat digunakan untuk bercermin karena airnya yang jernih. Penduduk setempat menyebutkan bahwa danau ini bisa mengetahui isi hati manusia. Anda mungkin penasaran, mengapa tidak mencoba datang dan lihat rupa wajah Anda di air telaga ini.

Di sekitar Telaga Warna Dieng tedapat beberapa gua yang juga patut untuk dikunjungi seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua ini terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.  Gua-gua di sekitar kawasan ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi.