Jumat, 21 November 2014

Wisata RIAU



Sejauh-jauh khayalan, pernahkan Anda membayangkan dapat berselancar (surfing) di sungai? Kebanyakan orang mungkin akan meremehkan khayalan dan menganggap Anda mengada-ada. Akan tetapi, kenyataannya berselancar di sungai sungguh bukan sekedar mimpi di siang bolong. Sungai yang satu ini memang jelas berbeda dan spesial karena bahkan tidak semua laut berombak dapat dijadikan tempat berselancar.

Riau berada di bagian Timur Pulau Sumatra dan merupakan rumah bagi bangsa Melayu. Karya sastra Melayu pertama yaitu Bustanul Katibin ditulis oleh Raja Ali Haji (1850-1851 M) dan diterbitkan di Riau tahun 1857. Buku ini merupakan kitab kompilasi juru tulis bagi kanak-kanak yang mendeskripsikan tata cara penulisan bahasa Melayu dengan ejaan Arab-Melayu (Jawi).
Dari wilayah Riau inilah lahir dasar bagi Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar utama masyarakat Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada Zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara.
Provinsi Riau secara geografis, geoekonomi dan geopolitik terletak pada jalur yang sangat strategis karena terletak pada jalur perdagangan Regional dan Internasional. Ibu kota Riau sejak tahun 1959 adalah Pekanbaru dimana sebelumnya berada di Tanjung Pinang yang terletak di Pulau Bintan.
Provinsi Riau sebelum dimekarkan menjadi 2  provinsi mempunyai luas 235.306 Kilometer persegi atau 71,33 persen merupakan daerah lautan dan hanya 94.561,61 Kilometer persegi atau 28,67 persen daerah daratan. Setelah terjadi pemekaranan wilayah dengan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau pada 1 Juli 2004 menjadi provinsi ke 32 di Indonesia maka Provinsi Riau yang dulunya terdiri dari 16 Kabupaten/Kota sekarang hanya tinggal 11 Kabupaten/Kota.
Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru menunjukkan optimum pada 27,6° Celcius dalam interval 23,4-33,4° Celcius.
Riau memiliki banyak objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Sebut saja Pulau Jemur yang merupakan gugusan pulau-pulau yang indah terletak 45 mil dari Bagansiapiapi. Anda dapat juga menjelajahi alam bebas di Taman Nasional bukit Tiga Puluh dengan kekayaan dan keunikan ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah yang merupakan peralihan hutan rawa dan hutan pegunungan.
Ada juga objek wisata Bono, terletak di Desa Teluk Meranti, sebuah lokasi dengan fenomena air laut yang mengalir masuk dan bertemu dengan air Sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari. Hal yang menarik turis ke objek wisata ini adalah kegiatan berenang, memancing, naik sampan, dan wisata bahari lainnya yang mengesankan.
Pantai Rupat Utara Tanjung Medang menawarkan Anda pesona harmoni alam pesisir dengan pasir putih dan bersih, kejernihan air laut, dan deburan ombak yang berukuran sedang, sebuah tempat sempurna untuk berwisata bahari. Ada juga Air terjun Aek Mertua yang sering disebut air terjun tangga seribu karena memilki air terjun yang bertingkat-tingkat, sungguh mengagumkan untuk dinikmati.
Objek wisata bahari di Kabupaten Siak yang memiliki panorama indah menawan. Di sekitar danau masih ditemukan hutan yang masih asli. Kondisi danau maupun hutan di sekitar danau berstatus Suaka Marga Satwa luasnya mencapai 2.500 hektar. Di sini masih terdapat berbagai aneka jenis satwa dan tumbuhan langka. Sumber daya hayati yang terdapat di danau ini seperti pinang merah, ikan arwana dan ikan Balido yang dilindungi. Keanekaragaman jenis satwa liar di Suaka Marga Satwa danau Pulau Besar dan danau Bawah merupakan kekayaan tersendiri sebagai objek wisata di Riau Daratan.
Bila Anda tertarik dengan wisata budaya dan wisata sejarah dipastikan tersedia hal menarik di Riau. Seperti Upacara Bakar Tongkang telah menjadi wisata nasional bahkan internasional. Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi, Perahu Baganduang, Ritual Petang Megang, Masjid An-Nur di Pekanbaru, Masjid Raya Senapelan, Gedung Juang 45 Riau, Istana Siak Sri Indrapura, Candi Muara Takus, dan Benteng Tujuh Lapis.
Ada oleh-oleh yang tepat untuk Anda bawa pulang selepas mengunjungi Riau yaitu kerajinan daerahnya. Salah satu bentuk kerajinan daerah Riau adalah anyaman yang beraneka ragam erat hubungannya dengan kebutuhan hidup manusia. Kerajinan anyaman dibuat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah dan daun Rumbia. Hasil anyaman ini berupa; bakul, sumpit, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai, pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah berupa tenunan yang sangat terkenal yaitu tenunan Siak. Tenunan siak ini mempunyai motif yang khas, sehingga nilai jualnya juga cukup tinggi. Tenunan ini biasanya dikerjakan dengan peralatan tradisional. Bila Anda ingin wisata belanja maka dapat mengunjungi Pasar Bawah, Pasar tradisional  dan pasar terapung di Tembilahan.
Bila Anda tertarik dengan wisata minat khusus maka dapat mengunjungi Balai Adat Melayu Riau dan Balai Adat Melayu Indragri Hulu, desa wisata Buluh Cina, atau Tugu Tepak Sirih di Dumai.
Pastikan Anda mengunjungi objek wisata lainnya di Riau mulai kota dari Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Rokan Hulu, dan Rokon Hilir. 

Sungai Kampar: Dahsyatnya Gelombang Tujuh Hantu di Riau 
Sungai unik dan fenomenal sebab hadirnya gelombang (tidal bore) dahsyat yang dapat ditunggangi para peselancar handal adalah ada nyata di Sungai Kampar. Lokasinya dapat Anda temukan di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Gelombang (arus pasang air laut) yang menjadikan Sungai Kampar kini kian popular dan menjadi spesial adalah Gelombang Bono.
Sungai Kampar: Dahsyatnya Gelombang Tujuh Hantu di RiauBono adalah fenomena alam yang terjadi akibat bertemunya arus pasang air laut dengan arus pasang air sungai. Fenomena ini hanya terjadi pada waktu tertentu, yaitu yaitu saat  bulan purnama atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai bulan besar. Bulan purnama terjadi setiap tanggal 10-20 dalam perhitungan bulan Melayu (Arab) atau pada kisaran bulan Agustus-Desember. Pada saat bulan  kecil (musim pasang mati), Bono nyaris tidak ada.
Terbentuknya gelombang Bono didukung kondisi alam dimana terdapat penyempitan pertemuan arus sebab adanya sebuah pulau muda yang membelah bagian muara Sungai Kampar. Kemunculan Bono biasanya ditandai terdengarnya suara gemuruh seperti guntur diiringi hembusan angin yang kencang, disusul terbentuknya  gelombang dan ombak besar bergulung-gulung.
Bono berkecepatan tinggi hingga mencapai 40 km/jam, bergerak dari arah muara menuju hulu sungai atau diawali dari Pulau Muda sampai dengan Teluk Binjai di Sungai Kampar. Ketinggian gelombangnya bisa mencapai 4-6 m saat musim pasang tinggi.
Bono dikenal juga dengan sebutan gelombang tujuh hantu (Seven Ghosts). Hal tersebut dikarenakan gelombang yang dihasilkan bisa mencapai tujuh lapis gelombang berurutan dan bahkan dapat menciptakan kubah (barrel), tak ubahnya gelombang di laut. Uniknya lagi, gelombang ini bahkan bergulung-gulung dalam durasi waktu yang jauh lama (bisa hingga 2 jam) apabila dibandingkan dengan gelombang di lautan biasanya memanjakan peselancar hanya dalam bilangan menit saja. Karena kehebatannya, gelombang Bono tidak disarankan untuk peselancar pemula.
Bono pertama kali ditemukan beberapa peselancar internasional yang berasal dari Perancis dan Brazil yang langsung menjajal kedahsyatan Bono. Sejak saat itu, Bono mulai dilirik lebih banyak peselancar nasional dan internasional.
Keberadaan gelombang Bono adalah objek wisata yang terbilang baru dan masih terus dikembangkan Pemerintah Riau. Kelangkaan dan keunikan sebuah destinasi wisata seperti ini sudah pasti berpotensi menarik wisatawan lebih banyak dibanding destinasi atau objek wisata umumnya, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama peselancar.
Pada 9-14 Februari 2013, Bono akan menjadi sorotan dunia dan akan tercatat dalam Guinness World Records. Hal tersebut dikarenakan Sungai Kampar menjadi lokasi pemecahan rekor berselancar terlama dan terpanjang kelas dunia dalam menunggangi gelombang Bono. 

Istana Siak : Istana Matahari Timur yang Menawan 
Sebuah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau telah meninggalkan jejak yang cantik di muka bumi. Itulah Istana Siak yang berada di Kabupaten Siak, Riau. Istana ini dibangun saat kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889.
Di Istana Siak Anda dapat melihat beragam koleksi warisan kerajaan berupa kursi singgasana yang bersepuh emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan, tombak, payung kerajaan, patung perunggu Ratu Wihemina, serta alat musik komet yang hanya ada dua di dunia. Saat ini beberapa koleksi benda antik dari Istana Siak Sri Indrapura disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Istana Siak memiliki perpaduan arsitektur  Melayu-Arab-Eropa. Dijuluki sebagai Istana Matahari Timur dan bernama asli Assiyaratul Hasyimiah. Pada dinding istananya dihiasi keramik yang didatangkan dari Prancis. Bangunan istana ini berlantai dua, dimana di lantai bawah terbagi menjadi 6 ruangan sidang, ruang tamu kehormatan, ruang tamu untuk laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, dan ruang sidang kerajaan sekaligus ruang pesta. Sementara lantai atas meliputi 9 ruangan untuk Sultan dan ruang untuk tamu kerajaan.
Istana ini kini sekarang difungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, dan toko oleh penduduk. Istana Siak dan ratusan benda pusaka di dalamnya dikelola Yayasan Amanah Sultan Syarif Kasim dimana pengurusnya masih keturunan Sultan Siak.
Kerajaan Siak sendiri merupakan kerajaan yang berdiri lebih dari dua abad, yaitu tahun 1723 hingga 1946. Kerajaan Siak awalnya adalah pecahan dari Kerajaan Melayu yaitu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dan Sultan Suleiman yang dibantu oleh Bugis. Sultan Abdul Jalil akhirnya tersingkir dan berpindah tempat yaitu ke Johor, Bintan, Bengkalis, hingga akhirnya ke pedalaman Sungai Siak, di Buantan sekitar 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang. Kerajaan Siak berkali-kali berpindah ibu kota yaitu di Buantan, Mempura, Senapelan, Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi atau Siak Sri Indrapura.
Temukan beragam kisah dan ilmu penuh makna dari istana ini. Anda akan diajak berwisata ke rangkuman sejarah, budaya, dan wawasan ilmiah yang mengagumkan.
Jam buka Istana Siak adalah Senin-Kamis dan Sabtu, pukul 09.00-16.00 WIB. Pada Jumat tutup pukul 09.00-11.00 dan buka kembali pukul 13.45-16.00 WIB. Tiket masuk  untuk dewasa Rp3.000,00 dan anak-anak Rp2.000,00. 

Candi Muara Takus 
Terletak 122 km dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, kompleks candi Muara Takus (atau Candi Muara Takus) dibangun di dekat sungai Kampar Kanan. Muara Takus memiliki bangunan bata terbesar di Sumatera ditemukan di hutan terpencil.

Candi utama Mahligai adalah sebuah stupa tinggi yang diapit oleh beberapa reruntuhan batu bata tempat suci lainnya. Bentuk tinggi candi ini berbeda dari stupa Budha berbentuk lonceng yang ditemukan di Jawa. Candi ini terbuat dari batu sungai, batu bata pasir, tanah dan dipugar pada tahun 1980.

Kompleks ini dikelilingi oleh dinding 74m x 74 m, dengan benteng tanah ukuran 1,5 km x 15 km yang mengelilingi, membentang ke tepi sungai Kampar Kanan. Di dalam dinding ditemukan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka. Dalam kompleks ini juga ditemukan gundukan yang diyakini menjadi tempat untuk kremasi.
                     
Candi Budha ini tetap menimbulkan teka-teki bagi arkeolog mengenai kapan candi ini benar-benar dibangun,  mereka memperkirakan dibangun pada abad ke 2, 4 , 7 atau 9.
Namun demikian, diketahui bahwa selama abad ke-10, kerajaan Sriwijaya yang terletak di selatan di dekat Palembang merupakan pusat pembelajaran yang berkembang untuk ajaran Budha, di mana peziarah Cina mengatakan bahwa harus belajar di Sumatera terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke India.
Batu bata Muara Takus dikatakan dibuat di desa Ponkai di atas kompleks candi, di mana penduduk membawa batu bata, mengoper kepada satu sama lain dalam antrian panjang sepanjang jalan menuju kompleks. Ini berarti bahwa candi dibangun bersama-sama oleh penduduk.

Kompleks Muara Takus adalah kompleks candi yang hanya ditemukan di Riau, bukti bahwa Buddhisme telah menyebar di sini selama abad-abad pertama. 


Taman Nasional Tesso Nilo : Paru-Paru Bumi di Sumatera 
Berada di Provinsi Riau, Tesso Nilo merupakan hutan hujan dataran rendah terluas di Pulau Sumatera. Dengan luas area mencapai 83.068 hektar, kawasannya membentang sepanjang 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Palalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Sengingi, dan Kampar. Rencananya Tesso Nilo akan diperluas lagi hingga 100.000 hektar dan berfungsi sebagai paru-paru dunia.


Riau memiliki area hutan yang luas tetapi karena kebakaran dalam skala besar dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit maka kini hampir dua pertiga dari hutan primer di Riau telah rusak. Oleh karena itulah, pemerintah telah menetapkannya kawasan hutan sebagai taman nasional untuk mencegah kerusakan hutan lebih luas lagi.


Para ahli biologi menegaskan bahwa Tesso Nilo adalah rumah bagi spesies tanaman vaskular tropis yang berlimpah, melebihi jumlah yang ditemukan di wilayah Hutan Amazon. Tesso Nilo juga merupakan habitat bagi gajah sumatera yang terancam punah, harimau sumatera, dan tapir. Selain itu, ada pula babi hutan, rusa, beruang dan satwa liar lainnya.


Pada 2012, tercatat ada sekira 150 gajah di Tesso Nilo. Di samping itu, WWF menemukan jejak 50 harimau sumatera. Sayangnya, karena lokasi taman nasional yang dekat dengan pemukiman penduduk, gajah liar mengancam pemukiman penduduk. Pembalakan liar dan kebakaran hutan juga dianggap salah satu penyebab serangan ajah tersebut kepada manusia.
 


Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan : Berpetualang di Salah Satu Paru-Paru Bumi
Suaka margasatwa ini terhampar di kawasan seluas total 1.332.169 ha dan dihuni berbagai jenis flora dan fauna khas hutan dataran rendah. Wilayahnya dihiasi koridor pepohonan mangrove yang dilalui Sungai Kampar sehingga menjadikannya begitu spesial di antara hutan-hutan lain yang tersebar di Pulau Sumatera.

Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan merupakan kawasan konservasi yang berlokasi di Kecamatan Kerumutan dan secara administratif melebar melintasi dua kabupaten yaitu Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Batas hutan ini adalah Sungai Indragiri, Sungai Kampar, Pantai Timur Sumatera dan Jalan Lintas Timur Sumatera.

Hutan dataran rendah ini memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda sehingga dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu: Kawasan Inti (kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan) seluas 93.223 ha, Kawasan Lindung Gambut (kawasan perluasan potensial) seluas 52.213 ha, dan Kawasan Bukan Inti (Intervensi) berupa tempat penyelamatan ekosistem hutan rawa gambut seluas 1.176.734 ha.

Kawasan yang terdiri dari 75% rawa gambut dan 25% rawa kering tersebut sudah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu jaringan cagar biosfer dunia tahun 2009 di Jeju, Korea. UNESCO tentunya bukan tanpa alasan menjadikan Hutan Suaka Marga Satwa Kurumutan sebagai salah cagar biosfer di dunia, karena menurut beberapa penelitian hutan ini terbukti sebagai jantung dan paru-paru pernapasan Bumi juga sebagai pengendali perubahan iklim Bumi dan penyedia karbon bumi.

Meskipun kawasan hutan ini dimanfatkan sebagai lahan industri kehutanan, perkebunan, perladangan namun hutan Kerumutan tetap menyimpan keistimewaannya. Selain pemandangan hutan gambutnya, daya tarik utama hutan ini adalah kekayaan flora dan fauna di dalamnya dan salah satunya adalah keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis).

Selain itu, ada juga fauna penting lainya, yaitu: harimau dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus malayanus), burung enggang (Buceros rhinoceros), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kuntul putih (Egretta intermedia), ikan arwana (Schleropages formosus), owa (Hylobutes Moloch), itik liar (Cairina scutulata), dan buaya sinyulong. Kerumutan juga menjadi tempat singgah berbagai burung yang bermigrasi sehingga ditetapkan juga sebagai wilayah kawasan Importan Bird Area (IBA) dan  Endangered Bird Area (EBA).

Sedangkan flora endemik di bagian hutan rawa gambut dan rawa kering di antara adalah: kantung semar (Nephentes Spp), meranti (Shorea sp), punak (Tetrameristaglabra miq), perupuk (Solenuspermun javanicus), nipah (Nypa fruction), rengas (Gluta rengas), pandan (Pandanus sp) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain penduduk pendatang dari bagian lain Sumatera, Melayu Pesisir dan Jawa, kawasan di sekitar hutan ini juga dihuni masyarakat asli (indigenouse people) suku Duanu dan suku Petalangan. Menurut data pemerintah setempat jumlah penduduk di kawasan Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan sekitar 27.025 jiwa.

Kantor Pariwisata


Jl. Jend. Sudirman No. 200, Pekanbaru
Tlp. (62-761) 31452, 40356
Fax. (62-761) 40356

Wisata Sumatera Barat Bab III

Lembah Harau : Lembah Indah dan Surga Pecinta Panjat Tebing

Perjalanan 1,5 jam dari Bukittinggi ke arah barat tidak akan sia-sia karena Anda akan disuguhkan suasana alam pegunungan dihiasi jejeran air terjun indah setinggi ± 100 meter. Belum lagi tempatnya dilalui empat buah sungai yang jernih siap memanjakan mata Anda.
Lembah Harau merupakan lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada ± 138 km dari Padang ± dan 47 km dari Bukittinggi atau sekitar ± 18 km dari Kota Payakumbuh dan ±2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Tempat ini dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter.
Transportasi umum siap mengantarkan Anda yang datang melalui Bukittinggi. Menyewa minivan atau sepeda motor akan memastikan waktu berkunjung Anda di dataran tinggi Minangkabau lebih tepat.
..inilah salah satu lembah terindah di Indonesia
Harau diyakini berasal dari kata ‘parau’, istilah lokal yang artinya suara serak. Dulu, penduduk yang tinggal di atas Bukit Jambu sering menghadapi banjir dan longsor sehingga menimbulkan kegaduhan dan kepanikan. Penduduknya sering berteriak histeris dan akhirnya menimbulkan suara parau. Dengan ciri suara penduduknya banyak yang parau didengar maka daerah tersebut dinamakan ‘orau’ dan kemudian berubah nama menjadi ‘Arau’ hingga akhirnya penyebutan lebih sering menjadi ‘harau’.
Melakukan perjalanan sejauh 44 kilometer kearah Pekanbaru dan Riau maka Anda akan berhenti di Lembah Harau dengan tebing batu granit curam setinggi 80 -300 meter. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus berwarna kemerah-merahan tegak mengelilingi lembah begitu menawan untuk Anda pandang dan sempurna dalam rekaman foto.
Lembah Harau memiliki iklim tropis dan tanah yang subur, juga keindahan pemandangan alam yang menawan. Lembah Harau dijuluki Lembah Yosemite di Indonesia karena memiliki keindahan seperti Taman Nasional Yosemite yang terletak di Sierra Nevada California dan telah terkenal ke seluruh dunia.

Di Lembah Harau ini terdapat air terjun bernama Bunta Waterfall atau secara lokal disebut Sarasah Bunta. Air terjun ini mengalirkan air tawar segar dari dataran tinggi dengan tiga air terjun lainnya di lembah ini. Sarasah Bunta ini mempunyai air terjun yang berunta-unta indah apabila terpancar sinar matahari seperti bidadari yang sedang mandi sehingga dinamakan Sarasah Bunta.
Air terjun Sarasah Bunta pertama kali dibuka tanggal 14 Agustus 1926 oleh Asisten Residen Lima Puluh Kota F. Rinner bersama Tuanku Laras Datuk Kuning Nan Hitam dan Asisten Demang Datuk Kodoh Nan Hitam. Prasasti penanda ini mengisyaratkan keindahan air terjun Sarasah  Bunta.
Di Sarasah Aie Luluih, airnya mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri. Ada kepercayaan mandi atau membasuh muka di sini dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda.
Di Sarasah Murai, sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih sehingga masyarakat menamakan ‘Sarasah Murai ‘. Ada kepercayaan di tempat ini untuk berdoa dan mandi agar lekas mendapat jodoh.
Lembah Harau sebenarnya merupakan cagar alam seluas 669 hektar. Hasil survey tim geologi asal Jerman tahun 1980 menemukan jenis batuan yang ditemukan di daerah ini identik dengan yang ditemukan di dasar laut berupa batuan breksi dan konglomerat. Legenda masyarakat Sarasah Aka Barayunjuga menceritakan bahwa di sekitar Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah laut.
Lembah Harau ini terdiri dari tiga kawasan yaitu Resort Aka Barayu, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang. Resort Aka Barayun memiliki keindahan air terjun dan kolam renang ditambah nuansa alam yang asri. Selain itu juga berpotensi untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan mampu memantulkan suara (echo). Disini juga terdapat fasiltas penginapan berupa homestay lengkap dengan fasilitasnya.
..di sinilah penggemar olah raga panjat tebing seperti menemukan surganya..
Dinding curam bukan hanya menjadi daya tarik bagi fotografer tetapi pemanjat tebing pun tertarik memanjat dinding di lembah ini dimana terdapat 300 lokasi panjat tebing. Di sisi lain, pagar tebing cadas yang curam telah menciptakan relief cantik sekaligus menantang terutama Anda yang menyukai olahraga panjat tebing.
Kecuraman tebing di tempat ini mencapai 90 derajat dengan ketinggian yang mencapai 150 hingga 200 meter. Tak salah rasanya jika Lembah Harau menjadi surga bagi pecinta panjat tebing. Para pemanjat menjuluki lembah ini sebagai Yosemite-nya Indonesia.

Pariaman
Dengan berkendara lebih dari 1 jam dari Kota Padang atau berjarak sekitar 56 km ke arah utara maka akan Anda temukan kota kecil bernama Pariaman. Kota ini merupakan daerah pesisir dengan garis pantai yang indah sepanjang 7 mil. Pariaman yang berarti 'wilayah aman' dikenal juga saat ini sebagai tempat perayaan  Ashura di Indonesia dengan nama Festival Tabuik.


Festival Tabuik adalah untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad saw yakni Hasandan Husein. Hasan wafat diracun sedangkan Husein memimpin pasukan Muslim untuk bertempur melawan Dinasti Bani Umayah dalam Perang Karbala. Pertempuran tersebut menewaskan Husein secara mengenaskan dan sebagian umat Muslim meyakini bahwa jenazah Husein di masukkan ke dalam peti jenazah (tabuik) kemudian dibawa ke langit menggunakan Bouraq. Peristiwa syahidnyaHusein ini kemudian dikenal sebagai hari Ashura atau Muharram.

Waktu terbaik untuk berkujung ke Pariaman dan menyaksikan Festival Tabuik adalah sepuluh hari pertama bulan Muharam (bulan pertama kalender Islam). Anda dapat menyaksikan acara Tabuik tersebut mulai dari persiapannya hingga prosesinya selama 10 hari pertama bulan Muharram.


Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17, Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangan mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku di bawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelisde Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah keselatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Kata tabuik diambil dari Bahasa Indonesia yaitu ‘tabut’. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1831. Pariaman memiliki peran besar dalam perkembangan tradisi ini karena menjadi salah satu tempat di dunia di mana peringatan kematian Hasanbin Ali dan Ali bin Husein diperingati. Acara Tabuik di Pariaman seperti juga peringatan Ta’ziyeh di Iran untuk memperingati kematian Imam Hussein

Selain sebagainama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda memiliki bersayap dan tubuh tegap berkepala manusia.

Pada hari kesepuluh Muharram, Masyarakat Pariaman secara tradisional akan berkumpul untuk melihat usungan jenazah melambangkan peti mati Husein. Secara visual, prosesi ini sangat mirip tradisi pembakaran jenazah di Bali, hanya saja di Pariaman,tabuik tidak dibakar pada akhirnya dengan api. Pada akhir acara, Tabuik akan dibawa ke pantai selanjutnya dilarung ke laut. Kepercayaan pelarungan Tabuik ke laut adalah untuk membuang kesialan. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit membawa segala jenis arakannya. 

Pasumpahan: Menemukan Pulau Tropis nan Indah Dekat Kota Padang 
Sebuah pulau tidak berpenghuni dengan luas yang tidak seberapa siap menyuguhkan bingkisan pulau tropis nan indah di Sumatera Barat. Pulau Pasumpahan adalah tujuannya, temukan lokasinya di perairan Kecamatan Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Kota Padang di pantai barat Pulau Sumatera menyuguhkan garis pantai sepanjang 84 kilometer dengan 19 pulau indah untuk disambangi di sekitarannya.


Pulau Pasumpahan adalah pulau cantik yang mudah diakses dari Kota Padang. Pulau ini dipercaya warga sekitar merupakan jelmaan Malin Kundang yang disumpah (dikutuk) ibunya menjadi batu. Penduduk meyakini bahwa Malin Kundang dikutuk menjadi batu di pulau ini karena terkait nama ‘pasumpahan’.

Pulau Pasumpahan yang seluas 5 hektar memiliki hamparan pasir putih dengan air laut yang bening. Menariknya, permukaan laut pulau ini seperti terbagi tiga. Warna bening di pinggir, hijau di depannya, dan membiru pada bagian yang lebih ke tengah. Tingkat kedalaman perairan laut di sekitar pulau adalah penyebab perbedaan warna tersebut.

Sekitaran perairan pulau ini diperkaya beragamnya habitat laut termasuk diantaranya red lionfish (Pterois volitans), penyu, teripang, serta sotong (Sepia sp).

Selain pulau tropis dengan hamparan pasir putih, pulau ini memiliki daya tarik utama berupa ekosistem bawah laut yang indah. Terumbu karangnya mencukupi untuk dinikmati dengan menyelam atau snorkeling. Ada berbagai jenis ikan karang dan utamanya adalah sekira 21 jenis ikan kepe-kepe yang didominasi oleh Chaetodon trifascialis.

Dermaga di pulau ini memiliki tiang dari batang kayu kelapa. Landasannya terbuat dari balok kusam. Meski tidaklah sebegitu kokoh karena termakan usia, di sekitarannya berkumpul ikan-ikan kecil. Tidak jauh dari dermaga, terdapat hamparan kecil hutan mangrove.

Anda bisa berenang mengelilingi Pulau Pasumpahan di beberapa bagian.  Apabila Anda berhasrat mengelilingi pulau ini dengan berenang maka memungkinkan karena arusnya cukup tenang. Perlu waktu selama 2 jam untuk mengelilingi pulau ini dari sisi timur menuju utaranya.

Apabila Anda ingin berkeliling untuk menemukan titik menyelam maka bisa menyambangi Pulau Gosong, Pulau Ular, Pulau Sirandah, dan Pulan Pandan. 

Pulau Nyang Nyang : Memburu Ratusan Ombak di Mentawai 
Pulau Nyang-Nyang adalah satu dari gugusan Kepulauan Mentawai. Keberadaanya telah dikenal hingga ke mancanegara sebagai surganya bagi peselancar. Mereka menyebut-nyebut bahwa ombak di Mentawai sebagai terbaik ketiga di dunia setelah Hawaii dan Tahiti. Pulau Nyang-Nyang dengan panorama alamnya yang eksotis berada tepat di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Keindahan Pulau Nyang-Nyang telah menawan hati penyambangnya, terutama peselancar yang gemar menaklukkan ombak dengan sebuah papan. Hamparan pasir putih membingkai tepian pulau ini dilengkapi hutan hijau dan barisan pohon kelapa. Langit biru di atasnya menjadi pemadangan tropis yang menyejukkan mata. Udara yang masih segar dan angin yang meniup lembut sungguh menyejukkan bagi mereka yang mendamba ketenangan alam yang menawan. Belum lagi, air laut yang jernih disempurnakan suara debur ombak saling bergulungan. Inilah suguhan alam yang akan membuat Anda betah berlama-lama menikmatinya.

Terdapat banyak titik berselancar di Kepulauan Mentawai, yaitu sekira 400 titik, termasuk di Pulau Nyang-Nyang. Pada musim ombak, biasanya pertengahan tahun (Juni-Agustus), ombak di sekitar Pulau Nyang-Nyang dapat mencapai ketinggian 4 meter. Beberapa ombak menantang di pulau kecil ini diantaranya adalah Nifusi, Bank Vaults, Pit Stop, E Bay, dan Beng-Beng.

Perihal penamaan ombak ini, biasanya dinamai peselancar yang berhasil menaklukan ombak tersebut. Biasanya peselancar mengadakan lomba sesama mereka untuk memenangkan tantangan menaklukan ombak-ombak besar dan tinggi.

Dinamakan Bank Vaults karena ombaknya bersifat mengunci seperti halnya ruang penyimpanan uang di bank. Pit Stop adalah lokasi berselancar pertama yang akan dijejak wisatawan dari Desa Muara Siberut setibanya di Pulau Nyang-Nyang. E Bay mengacu pada nama emerald (zamrud) atau dapat juga mengacu pada huruf E, bentuk titik ini jika dilihat dari atas. Ombak Beng-Beng mendapatkan namanya dari karakteristik air di sekitar lokasi yang berwarna kecoklatan seperti halnya warna makanan ringan bermerk sama. Beng-beng termasuk jenis ombak yang hanya b


oleh dijajal peselancar berpengalaman sebab ombaknya besar dan bebatuan karang di titik tersebut patut diwaspadai.

Lokasi berselancar di Kepulauan Mentawai, termasuk di Pulau Nyang-Nyang, disebut-sebut sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di dunia. Surga para peselancar ini konon baru ‘ditemukan’tahun 1990-an. Sebelumnya, tidak ada yang berselancar di kawasan cantik ini. Akan tetapi, sekarang Pulau Nyang-Nyang adalah pulau impian  peselancar lokal maupun mancanegara. Bahkan, Pulau Nyang-Nyang lebih sering dikunjungi wisatawan mancanegara yang telah mendengar pesona dan kedahsyatan ombak menantang. Sejumlah peselancar terbaik nasional dan dunia seperti Rizal Tanjung, Kelly Slater dan Andy Irons sering terlihat datang ke Kepulauan Mentawai untuk menantang dan mengasah keahlian sambil menjadi lawan tanding bagi peselancar lokal.
 

Pulau Sipora : Menantang Empat Ombak Kelas Dunia di Mentawai 
Pulau Sipora merupakan pulau terkecil namun yang paling strategis dan memadai di kawasan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Dibandingkan 4 pulau besar lainnya di Mentawai, posisi Pulau Sipora tepat berada di tengah-tengah antara Kepulauan Pagai dan Pulau Siberut. Di pulau ini pula terletak ibu kota kabupaten Kepulauan Mentawai, yaitu Tua Pejat.

Dengan area seluas sekira 845 km², Pulau Sipora diperkirakan memiliki 10-15% hutan hujan yang masih alami. Sebagian besar penduduk Sipora memiliki mata pencaharian sebagai petani atau nelayan.

Pulau Sipora menjadi daya tarik wisata sebab di sekitarnya terdapat beberapa tempat wisata berselancar yang memukau. Waktu paling baik untuk mengunjungi Pulau Sipora demi selancar adalah bulan April hingga Oktober. Meski begitu, Anda tetap dapat menikmati gulungan ombak yang menantang di Pulau Sipora hampir sepanjang tahun.

Titik berselancar kelas dunia, Hollow Trees dan Lance’s Left berada di bagian ujung selatan pulau ini. Sejumlah titik berselancar yang tersohor lainnya berada di barat laut Pulau Sipora, yaitu di antaranya Telescopes, Iceland, and Scarecrows.

Hollow Trees juga dikenal sebagai HT atau Lance’s Right. Ombak yang berbentuk silinder (dikenal dengan right tube) ini selama 10 tahun terakhir kerap muncul di majalah-majalah dan video-video berselancar dunia. Saat ombak jenis ini datang tidak terlalu besar, akan ada 3 zona take off yang menantang Anda untuk dapat melakukan manuver selancar. Saat ombak yang lebih besar datang, bagian atas ombak yang pecah (peak) akan terhubung dengan barrel secara terus-menerus yang akan membuat peselancar dengan keterampilan rata-rata ternganga.

Berhati-hatilah dengan yang dinamakan The Surgeon Table di titik selancar ini; ombak ini seolah-olah memang ada untuk mengangkat para peselancar hingga berada dipuncak ombak seolah-olah sebagai sebuah piala atau trophy. Hollow Trees tidak dianjurkan untuk peselancar pemula karena tantangan ombaknya hadir bagi mereka dengan keterampilan yang memadai dan ahli.

Lance’s Left adalah jenis ombak yang kuat dan paling konsisten di Pulau Sipora dan sekitarnya. Memiliki karakteristik ombak dengan dua barrel yang berbeda dan sejumlah zona take-off, Lance’s Left (jika didukung kondisi yang sempurna) dapat menjadi salah satu ombak yang paling indah di planet ini. Banyak orang menyebut dan membandingkan Lance’s Left sebagai ombak Money Trees dari G-Land versi Mentawai. Pergerakan ombak di permukaan laut akibat dari perbedaan tekanan udara dan angin (swell) yang lebih besar mampu menciptakan zona take-off vertikal dan barrel yang sempurna. Saat ombaknya tidak terlalu besar, Lance’s Left cocok untuk peselancar dengan kemampuan menengah.

Di barat laut Pulau Sipora, terdapat 2 jenis ombak terkenal lainnya. Telescopes adalah jenis ombak yang sangat panjang, semi hollow (ombak bergulung dengan lubang di bagian tengah), dan nyaris sempurna untuk selancar. Banyak peselancar yang telah berselancar Telescopes mengakui bahwa ombak ini adalah  salah satu ombak terbaik di Indonesia. Telescopes yang tidak terlalu besar menantang Anda dengan jenis ombak berbentuk silinder yang cocok untuk peselancar tingkat menengah. Lokasi ombak Telescopes berada paling dekat dengan pusat pemukiman masyarakat di Tuapejat (ibu kota kabupaten), yaitu sekira 5 km arah Barat.

Scarecrows adalah jenis ombak dengan zona take off kiri yang membentuk dinding gelombang disambung dengan barrel yang bergulung cepat. Cocok bagi peselancar tingkat menengah.

Wisata Sumatera Barat Bab II

Bunker Jepang 

Bunker Jepang yang terletak di kota Bukittinggi dibangun oleh orang Indonesia melalui kerja paksa dibawah tekanan tentara Jepang yang menduduki Indonesia dari 1942 sampai 1945. Bunker bawah tanah ini memiliki panjang 1.470 meter dan berjarak 40 meter di bawah Ngarai Sianok. Terdapat 21 terowongan di dalam bunker yang digunakan untuk menyimpan amunisi, tempat tinggal, ruang pertemuan, ruang tahanan, ruang makan, dapur, ruang sidang, ruang penyiksaan, ruang mata-mata, ruang penyergapan, dan pintu gerbang untuk melarikan diri. Menjelajahi kompleks terowongan dan gua adalah petualangan yang nyata.
Anda dapat melihat bagaimana tempat ini menjadi benteng pertahanan yang kuat. Terowongan ini berdiameter tiga meter  dan mempunyai dinding yang begitu tebal sehingga suara diluar sana tidak dapat terdengar. Terowongan ini termasuk luas, hampir dua hektar, dan memiliki enam pintu. Satu pintu terletak di Taman Panorama sementara yang lain di jalan menuju Ngarai Sianok.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok memiliki dua dinding yang hampir vertikal dan saling berhadapan. Tingginya sekitar 100 sampai 200 meter dan panjangnya sekitar 15 km. Dinding ini membentuk ngarai dimana Anda bisa melihat ladang padi yang luas dan sungai. Ngarai ini dipisahkan oleh Bukittinggi dan Gunung Singgalang.

Keindahan Ngarai Sianok dapat dilihat dari Taman Panorama di Bukittinggi atau Anda bisa juga pergi langsung ke Ngarai, yang merupakan area pemukiman dan ladang padi. Untuk menikmati pemandangan dari taman, para pengunjung bisa membayar biaya masuk sebesar Rp. 5.000 per orang. Selain keindahan ngarai, pengunjung juga bisa mengunjungi bunker Jepang yang berada di dasar ngarai. Ngarai Sianok adalah tempat terindah di Sumatra Barat, apalagi pada saat matahari terbit dan tenggelam. 

Desa Madobak, Ugai dan Matotonan

Desa Madobak, Ugai dan Matotonan sebenarnya tidak didesain untuk destinasi wisata, tapi budaya tradisional dan hidup mereka sangat lestari dan unik, membuat desa ini menarik perhatian wisatawan. Terletak di hulu sungai Siberut Selatan. Untuk mencapai desa ini Anda mulai dari Muara Siberut, Anda harus mengambil rute Purou-Muntei-Rokdok-Madobak-Ugai-Butui-Matotonan. Setiap desa memiliki keunikan budaya masing-masing.
Madobak, contohnya sangat terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk yang dingin. Air terjun ini memiliki dua tingkatan dengan tinggi 70 meter. Setiap desa juga terkenal dengan rumah tradisionalnya, secara lokal dikenal dengan Uma, dan upacara tradisionalnya yang dipentaskan oleh Sikerei atau Shaman.
Upacara tradisional ini biasanya dipentaskan selama pesta pernikahan dan memasuki rumah baru, tujuanya untuk mengusir roh-roh jahat. Shaman di ketiga desa ini masih setia mengenakan celana dalam dan ikat kepala (Luat) yang terbuat dari manik-manik berwarna-warni. Beberapa penduduk lokal masih memiliki tato tradisional Mentawai yang terbuat dari tebu dan pewarna arang kelapa. Tato ini dibuat dengan menggunakan paku dan jarum dan dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Menurut penduduk lokal, proses membuat tato ini sangat menyakitkan.
Anda tidak boleh melewatkan budaya tradisional mentawai yang unik ini! 

Taman Nasional Kerinci Seblat 
Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah area konservasi alam. Taman seluas 1.368.000 Ha (hasil tata batas) ini terletak di empat provinsi, yaitu: Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumtera Selatan.   Taman nasional ini merupakan penyatuan dari beberapa cagar alam, yaitu Inderapura dan Bukit Tapan, serta Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu Embun dan Gedang Seblat. Kawasan tersebut berfungsi  sebagai hidro-orologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya.
Flora yang dilindungi di TNKS termasuk Kantung Semar (Nephents Ampularia), Bunga Anggrek dan diantaranya tumbuhan-tumbuhan tropikal. Fauna yang dilindungi termasuk Macan, Beruang, Rusa dan jenis-jenis primata dan burung.
Endemik primata yang dilindungi di TNKS termasuk Simpai, Ungkou, Siamang (Symphanlangus Syndactylus), monyet dan monyet berhidung panjang. Berbagai jenis burung termasuk Rangkong, Tohtor dan burung Kuau serta Elang. Kebanyakan adalah fauna yang langka.
 
TNKS adalah tujuan wisata yang spesial. Ini berarti TNKS adalah tempat yang tepat untuk pencinta alam yang suka menjelajah di dalam hutan. Trekking ke pusat-pusat resor harus dipandu oleh petugas yang berpengalaman. Jika Anda ingin bermalam, Anda bisa ditemani oleh penduduk lokal untuk membawa tenda dan perlengkapan memasak Anda.

TNKS adalah area yang sulit karena kemiringannya yang 90 derajat, berlumpur dan terdapat sungai kecil berbatu. 

Pantai Air Manis: Melihat Legenda Batu Malin Kundang
Pantai Air Manis berkaitan erat dengan legenda Malin Kundang di Sumatera Barat. Malin Kundang adalah karakter dalam dongeng yang berubah menjadi batu, bersama-sama dengan kapalnya, setelah durhaka kepada ibunya. Di tepi pantai, terdapat batu Malin Kundang dan beberapa perlengkapan kapalnya, yang juga berubah menjadi batu. Berdasarkan cerita, Malin Kundang dikutuk oleh ibunya karena menolak untuk mengakui ibunya setelah bepergian ke daerah lain dan menjadi kaya.
Pantai Air Manis adalah tempat wisata favorit bagi wisatawan lokal dan asing karena memiliki gelombang yang rendah dan pemandangan indah Gunung Padang. Ada juga sebuah pulau kecil bernama Pisang Kecil. Dari pagi hingga sore, Anda bisa berjalan kaki ke pulau yang memiliki luas satu hektar ini melalui air dangkal. Di sore hari, air pasang mulai naik dan Anda harus menggunakan perahu untuk kembali. Di sebelah kanannya, ada pulau lain yang disebut Pisang Besar. Penduduk lokal di pulau ini sebagian besar petani dan nelayan. 

Jam Gadang

Jam Gadang merupakan ikon Bukittinggi. Dalam bahasa Indonesia, Jam Gadang berarti jam besar dan memang besar! Tingginya 26 meter dibangun pada tahun 1826 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota, Rook Maker. Atapnya telah berubah tiga kali mencerminkan perubahan dalam sejarah kota itu sendiri. Pada masa Belanda, atapnya bulat dengan patung ayam jantan di atasnya. Saat ini atapnya  mencerminkan arsitektur rumah tradisional Minangkabau.

Satu hal yang unik dari jam ini adalah angka romawi IV di dalam jam, karena ditulis dengan 'IIII'. Jam Gadang terletak di dalam taman seluas 100 meter. Dekat jam adalah Pasar Atas, yang merupakan pusat perdagangan di Bukittinggi. 

Bukittinggi: Kota Sejuk dengan Panorama Alam Memukau 
Bukittinggi adalah nama sebuah kota yang terletak di bagian utara Provinsi Sumatera Barat. Dua kata yang terhimpun jadi satu, mempunyai makna identik dengan letaknya pada ketinggian perbukitan. Terletak di tengah Pulau Sumatra dengan fisik berbukit dan berlembah, serta berhawa sejuk dan nyaman.
Kota Bukittinggi akan memukau hati Anda, dengan ketinggian 904-941 meter di atas permukaan laut menjadikan udara bukit tinggi jadi terasa sangatlah sejuk. Suhunya mencapai sekitar 16-23 drajat celcius. kontur tanah di kota ini berbukit-bukit, ada sekitar ada 27 bukit yang terdapat dalam wilayah kota Bukittinggi, Apabila perjalanan menggunakan mobil maka tak akan terasa bosan.
Bukittinggi merupakan pusat kebudayaan Sumatra Barat, terletak di dataran tinggi sebelah utara Padang di bukit Agam. Berbeda dengan Padang yang merupakan pusat roda pemerintahan dan perdagangan modern maka Bukittinggi adalah kota yang tenang dihiasi oleh panorama alam yang sungguh tiada duanya. Lembahnya yang sangat terkenal adalah Ngarai Sianok dengan kedalaman 100 M dan kemiringan antara 800 – 900 adalah salah satu daya tarik kota Bukittinggi dijadikan sebagai kota wisata. Keagungan Gunung Merapi, Gunung Singgalan dan, Gunung Sago pun ikut menghiasi moleknya kota Jam Gadang ini.
Kota Bukittinggi memiliki nama lain yaitu Tri Arga yang artinya tiga pegunungan agung yang memberikan keberuntungan. Bukittinggi memiliki udara yang sejuk menyegarkan karena ketinggian daerahnya lebih dari 900 m di atas permukaan laut. Walau di Bukittinggi sering hujan, hal tersebut tidak mencegah para wisatawan untuk datang ke kota yang banyak disebut orang sebagai kota paling ramah di pulau Sumatra.
Banyak wisatawan yang datang untuk mengunjungi Ngarai Sianok yang mengagumkan, jurang batu besar diselimuti pepohonan yang tumbuh di atasnya dan pegunungan sekitar secara dramatis menjadikan ngarai ini pemandangan yang sangat memikat hati.
Tempat ini merupakan tempat yang cocok jika anda menginginkan petualangan yang lebih menantang. Bandingkan dengan tempat lain di Sumatra, Bukittinggi hanya menerima sedikit pengunjung yang menjadikan kota sebagai markas pendakian yang dekat atau melakukan tur kebudayaan ke dataran tinggi Minagkabau. Masyarakat Bukittinggi dihuni ribuan masyarakat multietnik. Mereka hidup bersahaja dan berdampingan dalam harmoni kerukunan hidup.

Terletak di barat daya Bukittinggi, Ngarai Sianok yang mengagumkan merupakan keajaiban geografis yang unik. Jika ingin merasakan suasana yang mencekam, kunjungi Ngarai Sianok pada dini hari. Saat kegelapan di waktu subuh merayap melewati puncak Gunung Singgalang, selimut kabut membawa kita melihat Ngarai Sianok dengan kedalaman100 meter. Sungai yang berkelok-kelok melalui sawah lenyap bagai kabut. Ngarai Sianok merupakan bagian dari retakan bukit teknonik. Ngarai Sianok memiliki dinding yang curam dan dasar jurang yang datar. Para photographer akan sibuk mengambil gambar dari pemandangan ngarai yang spektakuler ini. Pemandangan ngarai terbaik yang bisa kita lihat adalah melalui Taman Panorama yang merupakan tempat yang terkenal bagi penduduk setempat untuk berjalan-jalan di sore hari.
Landmark yang paling tersohor di kota Bukittinggi adalah Jam Gadang. Dari sana kita dapat melihat pemandangan pasar yang ramai dan merupakan tempat terbaik untuk berbelanja oleh-oleh khas Sumatra Barat.
Dapatkan pengetahuan tentang kebudayaan Minang dengan menghadiri pertunjukan tari di museum terbuka yang diselenggarakan setiap hari Minggu dan hari libur nasional serta pertunjukan tari pada malam hari di Sliguri. Selain itu, Anda juga dapat menonton pertunjukan bullfight di Padang lawas (6 km Selatan Bukittinggi) setiap hari Selasa pukul 5 sore. 
Napak tilas ke kota bekas penjajahan Belanda dengan melihat keruntuhan Fort de Kock, benteng Belanda yang dibangun tahun 1825. Karena banyak benteng yang sudah rusak, ada menara yang merupakan tempat yang sempurna jika ingin melihat matahari terbenam dan melihat pemandangan Gunung Merapi yang sesekali mengeluarkan asap.   
Bagi Anda yang enerjik, tidak ada salahnya untuk mendaki Kota Gadang, desa kecil pandai perak beberapa kilometer dari Bukittinggi. Di sini Anda akan menemukan berbagai macam barang-barang perak yang murah, mulai dari barang perhiasan dari benang mas yang sangat halus sampai jepitan dengan motif bunga. Jika tidak ingin berjalan kaki, Anda dapat menaiki opelet dari terminal bus Aur Kunung. Beberapa tur agensi di Bukittinggipun ada yang menyediakan perjalanan ke Kota Gadang.
Jika Anda memiliki banyak waktu, sebaiknya Anda mengunjungi Museum Rumah Gadang, rumah keluarga besar Minangkabau tradisional yang dibangun pada abad ke-19. Dari Bukittinggi, Anda juga dapat mengunjungi cagar alam Harau, Kerajaan Pagaruyung Minangkabau, Danau Maninjau, Danau Singkarak dan Ngarai Sianok. 

Danau Maninjau yang Menyegarkan 
Danau Maninjau yang indah di Sumatra Barat adalah salah satu yang terhening di Indonesia. Dengan seluas 100 m², danau ini merupakan kejaiban alam yang luar biasa dan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan menikmati suasana hidup yang tenang. Datanglah ke danau kuno ini untuk melarikan diri Anda dari kesibukan dan keramaian kota. Danau Maninjau mempunyai pemandangan yang sangat indah bertengger di perbukitan setinggi 461 meter di atas permukaan laut.

Untuk sampai ke danau ini, Anda harus mengambil jalan curam menurun dari Bukittinggi. Perjalanan akan berliku-liku dengan tikungan tajam. Perjalanan ke danau ini jelas akan memukau Anda dengan pemandangan luar biasa ke arah danau biru berkilauan dan bukit-bukit sekitarnya.

Danau ini lebih dari sekedar landmark indah tetapi  juga merupakan warisan budaya masyarakat setempat. Legenda Bujang Sembilan mewarnai kisah danau ini. Menurut cerita rakyat setempat, salah seorang pria dalam kisah itu mati dengan cara terjun ke kawah kemudian kawah meluas dan membentuk sebuah danau.

Dengan mengagumi pemandangan dan kedamaiannya, kunjungan ke Danau Maninjau akan membuat pikiran Anda disegarkan. Jika Anda mencari pemandangan yang fantastis maka resort Maninjau bertengger di puncak bukit  menawarkan beberapa pemandangan terbaik danau ini.

Desa Maninjau terletak di dekat danau dan tempat ini terkenal sebagai tanah kelahiran Buya HAMKA. Seorang novelis  terkenal di Indonesia yang menulis buku fenomenal berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk". Tokoh lain yang lahir di sini adalah Rangkayo Rasuna Said, yaitu salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya telah diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Ibu Kota DKI Jakarta. 

Danau Singkarak 
Sebuah gambar lukis panorama alam dari tahun 1905 menampilkan keindahan Danau Singkarak. Bukan dari tangan seorang pelukis melainkan oleh seorang peneliti yang saat itu sedang berada Hindia Belanda. Adalah Ernst Haeckel, naturalis  asal Jerman yang terkesima dengan indahnya panorama danau nan cantik ini sehingga ia pun seakan tak tahan untuk menuangkannya pada sebuah gambar lukis.

Danau Singkarak adalah sebuah danau kawah yang sangat besar di dalam pemandangan alam vulkanik yang dramatis. Tersebar di dua kabupaten, Solok dan Tanah Datar, danau besar dengan luas 1.000 hektar. Danau terluas di Sumatera dan danau terbesar kedua di pulau tersebut, setelah Danau Toba.
Sebuah dunia yang tenang, pemandangan menakjubkan dan spektakuler menanti di sini. Di sini Anda dapat merangkul keindahan alam Indonesia yang sangat terkenal. Keindahan Danau Singkarak sudah tersebar sejak 1905 saat seorang naturalis bernama Ernst Haeckel mengenalkannya dalam sebuah buku biology. Ernst Haeckel terkesima dengan indahnya panorama danau nan cantik ini sehingga ia pun seakan tak tahan untuk menuangkannya pada sebuah gambar lukis.
Danau Singkarak terkenal dengan ikan Bilih nya yang merupakan spesies ikan yang hanya hidup di danau ini saja. Ikan ini sangat unik karena tidak dapat bertahan hidup di mana saja, bahkan di dalam akuarium  kecuali di Danau Singkarak.
Di Danau Singkarak hidup lebih dari 19 jenis ikan dan yang istimewanya adalah ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). Ikan tersebut sulit dibudidayakan di luar Singkarak dan bila dipaksakan pun rasanya akan berbeda, bahkan sekalipun dengan dibudidayakan dalam jala terapung yang ada di Danau Singkarak. Olahan ikan bilih biasanya digoreng kering atau dicocol dengan sambal hijau. Pastikan Anda membeli oleh-oleh ikan bilih yang telah digoreng kering dalam bungkusan untuk dibawa pulang. 

Danau Kembar: Keindahan Alam Berselimut Nuansa Mistis 
Kabupaten Solok merupakan wilayah yang memiliki danau-danau indah. Daerah hijau dan subur ini berada pada ketinggian 400-1.700 mdpl dan memiliki empat buah danau, yaitu Danau Singkarak, Danau Talang, Danau Diateh (Diatas), dan Danau Dibawah. Dua danau terakhir disebut sebagai Danau Kembar karena hampir sama luasnya dan letaknya berdekatan.
Danau Kembar terletak di Kabupaten Solok, tepatnya di daerah Bungo Tanjung, Alahan Panjang. Lokasi danau ini sangat strategis dan terletak di atas ketinggian sehingga suhu udaranya sangat dingin. Pegunungannya yang dibalut kabut dan aktivitas petani kol, kentang, cabe, dan aneka sayuran lainnya menjadi menjadi pemandangan tersendiri yang khas.
Alahan Panjang memiliki udara yang cukup dingin bahkan saat siang hari sekalipun. Anda akan melihat pemandangan yang biasa di sini dimana masyarakatnya mengenakan kain sarung.
Dari kota Padang, Danau Kembar berjarak sekitar 65 km melewati jalan tanjakan dan tikungan. 15 km perjalanan meninggalkan pusat kota Padang maka Anda akan disuguhi pemandangan perbukitan, hutan, dan jurang yang curam. Begitu sampai di Lubuk Selasih, sekitar 35 km dari pusat kota Padang, Anda berbeloklah ke kanan untuk menuju arah Solok Selatan untuk menikmati suguhan aroma daun teh segar di antara hamparan perkebunannya yang membentang luas.
..Dari puncak bukit Anda akan melihat kilatan ikan berenang di Danau Dibawah.
Danau Diatas dan Danau DiBawah sering disebut juga sebagai Danau Kembar. Meskipun disebut kembar, keduanya sungguh berbeda baik luas, bentuk, maupun ketinggiannya. Uniknya danau yang letaknya lebih tinggi itu disebut Danau Di bawah. Keduanya berada saling berdampingan di jajaran Bukit Barisan. Jarak di antara keduanya hanya sekitar 300 meter sehingga disebutlah Danau Kembar.
Anda yang hobi memancing bisa menyalurkannya di sini. Anda juga bisa melihat Gunung Api Talang yang masih aktif. Kawasan Danau Kembar juga memiliki agroturis yang luas dan khas, seperti perkebunan teh, markisa, dan sayur-mayur. Di kawasan ini juga tersedia wisata outbond, tracking, olah raga air, dan kegiatan rekreasi lainnya. Sepulang menikmati panorama Danau Kembar, Anda dapat membeli beraneka ragam jenis bunga di sekitar danau.

Keperawanan alam dan keaslian budaya masih kental di daerah ini.  Bila Anda datang dari arah Solok maka bisa langsung menuju Danau Dibawah dari Terminal Bareh Solok. Jalannya memang sedikit sempit namun pemandangannya sangat mengagumkan. Hutan pinus, perkebunan teh dan lembah akan Anda lewati. Sekitar 3 jam perjalanan, Anda akan sampai ke danau pertama, yaitu Danau Diatas.Danau Diatas adalah danau yang lebih besar dibanding satunya. Terdapat sebuah dermaga kayu kecil di sana. Tempat ini menyajikan pemandangan danau yang alami dengan air yang bening. Pohon-pohon pinus yang tumbuh di tepian membuatnya seakan dijaga pagar alami.
Setelah menikmati Danau Diatas, Anda bisa menuju arah Timur untuk menjumpai Danau Dibawah. Danau Dibawah berjarak kira-kira 1 km di tempat yang terletak lebih tinggi. Danau tersebut dinamakan Danau Dibawah karena ketika melihatnya, danau tersebut terletak di bawah Anda. Anda harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat danau ini. Kontur Alahan Panjang yang berbukit-bukit, membuatnya seperti mangkuk hijau raksasa. Panorama yang disajikan di sini tak kalah indahnya sambil menikmati buah markisa yang banyak dijual di sepanjang jalan.
Danau Kembar merupakan danau vulkanik besar yang terletak tidak berjauhan dan hampir berdampingan karena dipisahkan oleh sebuah bukit yang menjulang di antara keduanya. Keindahan kedua danau ini bisa Anda saksikan dari puncak bukit tersebut. Apabila Anda perhatikan dari atas bukit tersebut maka terlihat posisinya yang lebih dibawah adalah Danau Diatas dan sebaliknya Danau Dibawah jauh lebih di atas ketimbang kembarannya. Akan tetapi bila diukur maka Danau Diatas lebih tinggi posisinya.
Ikan-ikan di Danau Dibawah jarang ditangkap sehingga ukurannya besar dan jumlahnya cukup banyak. Dari puncak bukit Anda akan melihat kilatan dari ikan berenang di Danau Dibawah.
Danau Kembar memiliki nuansa magis ditambah budaya masyarakat setempat yang terkenal kental dengan ilmu mistisnya. Bahkan ilmu mistis masyarakat Danau Kembar  sudah terkenal di Kabupaten Solok. Banyak yang datang ke daerah ini untuk belajar ilmu kebatinan atau belajar silat yaitu silek pakieh rabun atau silek luncue.

Wisata Sumatera Barat Bab I



Sumatera Barat berada di bagian barat tengah pulau Sumatera, memiliki dataran rendah di pantai barat, serta dataran tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan yang membentang dari barat laut ke tenggara. Garis pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia sepanjang 375 km. Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia dan beberapa puluh kilometer lepas pantai Sumatera Barat termasuk dalam provinsi ini.
Sumatera Barat merupakan tempat yang tepat untuk Anda berpetualang hingga ke daerah pedalaman, mulai dari alam bebas, satwa liar, pulau, pantai, hingga hutan hujan tropis. Itu karena inilah salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber keanekaragaman hayati dan keindahan alam.

Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan dilindungi. Berbagai spesies langka masih dapat dijumpai, misalnya Rafflesia arnoldi, harimau Sumatera, siamang, tapir, rusa, beruang, dan berbagai jenis kupu-kupu dan burung. Hutan-hutannya dihuni hewan seperti gajah, harimau, macan tutul dan badak.

Di Sumatera Barat juga ada dua Taman Nasional, yaitu Taman Nasional Siberut  terletak di Pulau Siberut dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman Nasional yang disebutkan terakhir wilayahnya terbentang dari empat propinsi, yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan. Selain dua Taman Nasional tersebut masih ada beberapa cagar alam, seperti; Cagar Alam Rimbo Panti, Cagar Alam Lembah Anai, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Lembah Harau, Taman Raya Bung Hatta, dan Cagar Alam Beringin Sakti.  

Wisata alam di Sumatera Barat yang memiliki daya tarik tinggi seperti Ngarai Sianok di Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Singkarak, air terjun di Lembah Anai, Ambun Pagi, pantai Carolina, pantai Bumpus, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS); dan gunung berapi di Singgalam.

Di Sumatera Barat juga banyak ditemukan peninggalan zaman prasejarah di Kabupaten 50 Koto, di daerah Solok Selatan dan daerah Taram. Sisa-sisa peninggalan tradisi barn besar ini berwujud dalam berbagai bentuk seperti: bentuk barn dakon, barn besar berukir, barn besar berlubang, barn rundell, kubur barn, dan barn altar, namun bentuk yang paling dominan adalah bentuk menhir. Peninggalan zaman prasejarah lainnya yang juga ditemukan adalah gua-gua alam yang dijadikan sebagai tempat hunian.

Sementara itu wisata budaya yang dapat Anda nikmati antara lain kebudayaan minang di Padang Panjang, Jam Gadang, Istana Pagaruyung, dan wisata sejarah yang antara lain berupa gua Jepang di Agam dan Istana Kerajaan Pagarujung di Batusangkar.

Mayoritas penduduknya adalah suku Minangkabau. Awalnya berasal dari dua suku utama, yaitu Koto Piliang yang didirikan Datuak Katumanggungan dan Bodi Chaniago dirikan Datuak Parpatiah nan Sabatang. Kemudian dua suku itu berkembang pesat menjadi beberapa suku baru seperti; Tanjuang, Chaniago, Koto, Piliang, Guci, Simabur, Sikumbang, Jambak, dan Malayu. Ada pula suku Batak Mandailing, seperti marga Lubis dan Nasution tinggal di daerah Pasaman, dan suku Mentawai di Kepulauan Mentawai.   

Masyarakat Sumatera Barat menganut sistem matrilineal yang menempatkan ibu sebagai kepala keluarga. Wanita yang memiliki harta dan pria yang meninggalkan rumah untuk mencari uang. Pria suku Minang dianggap sukses jika dia pergi mengembara. Selain itu, restoran Padang dapat kita temukan di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Orang Minang terkenal ramah dan bijak, mereka berbicara dalam bahasa Minang dengan gaya bahasa yang puitis.

Masyarakat Minangkabau memeluk agama Islam sejak berabad-abad yang lalu dan mayoritas penduduknya hingga hari ini adalah Muslim. Namun, beberapa hukum adatnya lebih diprioritaskan dibandingkan dengan hukum Islam. Orang Minang menyukai makanan pedas dan berbumbu. 

Taman Raya Bung Hatta
Bagi penggemar tumbuh-tumbuhan, Taman Raya Bung Hatta adalah keindahan yang alami, penuh dengan tanaman langka dan bunga-bunga eksotis. Di masa lalu dikenal sebagai Setya Mulya Botanic Garden, kebun raya ini adalah rumah bagi berbagai jenis tanaman tropis yang unik dan spesies endemik Sumatra.  Berjalan-jalan di sekitar taman dan Anda akan melihat tanaman yang mungkin tidak Anda temukan di tempat lain di bumi.
 
Daya tarik utama dari taman ini adalah bunga raksasa, Raflesia Arnoldi, bunga terbesar di dunia. Dinamai Raflesia Arnoldi sesuai dengan Letnan Gubernur Pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles yang pernah tinggal di Bengkulu dalam waktu yang lama, dan ahli botani Joseph Arnold yang pertama kali menemukan bunga di lereng pegunungan Bukit Barisan.

Bunga ini adalah suatu keajaiban yang langka. memerlukan waktu hingga 10 bulan untuk berkembang dan hanya mekar selama sekitar 15 hari. Ketika mekar secara penuh, memiliki diameter satu meter. Tanaman ini tidak  memiliki akar, batang tetapi terdiri dari benang seperti tumbuhan pada tanaman merambat. Bunga-bunga ini biasanya mekar antara bulan Juli dan September. Bunga ini terkenal bukan hanya ukuran besarnya, tapi karena baunya yang busuk. 

Kepulauan Mentawai : Surganya Peselancar dan Budaya Masyarakat Neolitikum


Kepulauan Mentawai adalah bagian dari Provinsi Sumatera Barat dimana sejak tahun 1999 ditetapkan menjadi sebuah kabupaten. Posisi Kepulauan Mentawai yang ada di tengah Samudera Hindia membuatnya dikelilingi alam laut yang mengagumkan dan sempurna untuk wisata bahari. Mentawai telah tersohor menjadi salah satu tujuan wisata berpetualang, wisata budaya, dan wisata bahari terutama surfing yang diminati peselancar dalam dan luar negeri.

Kepulauan Mentawai sendiri merupakan rangkaian pulau non-vulkanik dimana gugusan kepulauannya merupakan puncak dari suatu punggung pegunungan bawah laut. Ada empat pulau yang membentuk Kepulauan Mentawai yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Lokasi pulau-pulau tersebut berada di lepas pantai Provinsi Sumatera Barat yang memanjang dan dikelilingi Samudera Hindia.

Pulau Siberut adalah pulau terbesar di kepulauan ini dan satu-satunya yang memiliki pelayaran regular dengan Kota Padang di Sumatera Barat. Pusat pemerintahan kabupatennya sendiri berada di Tuapejat, yaitu sebelah utara Pulau Sipora.

Surfing atau selancar telah menjadi ikon wisata Kepulauan Mentawai, bahkan tidak jarang digelar kompetisi surfing bertaraf internasional di sini.  Sedikitnya tersebar 400 titik surfing di Kepulauan Mentawai. Ombaknya beraggam dan menantang, bahkan beberapa gulungan ombaknya termasuk dalam kategori extreme yang dicari peselancar dari berbagai penjuru dunia.

Kepulauan Mentawai juga menawarkan atraksi trekking menempuh pedalaman hutan tropis yang masih asli, menikmati gaya hidup masyarakat adat yang tinggal damai di dalamnya. Mentawai adalah sebuah daerah yang belum terjamah banyak oleh tangan manusia dan infrastruktur modern.

Saat Anda mengunjungi Mentawai maka akan disuguhi nuansa peradaban kuno zaman neolitikum dimana suku-suku di kepulauan ini tidak mengenal pengerjaan logam dan bercocok tanam, bahkan tidak juga teknik menenun kain. Jadi, Anda akan melihat perbedaan kebudayaan dengan masyarakat Minangkabau di bagian darat Sumatera Barat.

Mayoritas penghuni kepulauan ini adalah suku Mentawai yang berasal dari Pulau Siberut dengan jumlah sekira 30.000 jiwa. Setiap keluarga di Kepulauan Mentawai terdiri dari 5-15 orang yang tinggal di dalam desa maupun di ladang dekat hutan yang mereka garap. Rumah tradisional khas Mentawai sendiri dikenal dengan sebutan uma.

Kepulauan Mentawai sudah ada sejak lima ratus ribu tahun yang lalu namun tidak terdapat petunjuk atau bukti kapan orang pertama tiba di kepulauan ini. Sebagian besar penduduknya kini masih menganut kepercayaan animisme dan sisanya penganut Kristen dan Islam. Awalnya penduduk setempat meyakini paham Sabulungan yaitu paham yang mempercayai segala sesuatu mulai dari manusia sampai kera, batu dan cuaca yang mempunyai roh yang terpisah dan berkeliaran semaunya. Upacara tradisional oleh Sikerei atau Shaman biasanya dipentaskan selama pesta pernikahan dan saat memasuki rumah baru dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat.

Suku Mentawai yang menjadi penghuni asli kepulauan yang indah ini. Apabila diamati ada kemiripan dengan suku Nias atau suku Enggano dengan budaya Proto-Melayu. Suku tersebut dikenal sebagai peramu dan ketika pertama kali dipelajari antropolog mereka belum mengenal cara bercocok tanam.

Suku Mentawai memiliki tradisi khas bertato di sekujur tubuh dimana terkait peran dan status sosial penggunanya. Tato tersebut terbuat dari tebu dan pewarna arang kelapa yang dilukiskan dengan menggunakan paku dan jarum serta dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Proses tato tradisional Mentawai dikenal sangat menyakitkan.

Kepulauan Mentawai menjadi salah satu tujuan wisata petualangan, budaya dan bahari. Di kepulauan ini juga tedapat beberapa desa budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi, seperti Desa Madobak, Desa Ugai, dan Desa Matotonan. Untuk mencapai tiga desa ini maka Anda perlu melalui jalur sungai dan jalan setapak dengan rute Muara Siberut-Rokdok-Madobak-Ugai-Matotonan dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam.
Kunjungi Desa Madobak dimana di sini terkenal dengan air terjun Kulu Kubuk dengan dua tingkatan setinggi 70 meter. Selain mengunjungi air terjun Kulu Kubuk di Desa Madobak atau area  perbatasan Taman Nasional Siberut di Desa Matotonan, Anda dapat berinteraksi dengan kehidupan keseharian masyarakat lokal dan berpartisipasi dalam upacara tradisional mereka.

Anda juga bisa berkunjung ke Danau Rua Oinan yang terletak di tengah hutan di Dusun Saumanganyak. Danau ini berbentuk muara dikelilingi pohon besar.

Bagi Anda yang gemar berselancar maka Kepulauan Mentawai adalah tempat sempurna untuk menantang adrenalin. Di kepulauan ini terdapat beberapa titik selancar dengan ombaknya yang besar dan tinggi, seperti di Desa Bosua yang memilki gulungan ombak mencapai 3 meter. Anda dapat menempuhnya sekira 4 jam dengan speedboat dari Kabupaten Tuapejat. Meskipun pantainya berkarang namun gulungan ombaknya sempurna dan telah terkenal di kalangan peselancar dunia.

Pilihan lokasi lain untuk berselancar adalah Pulau Nyang Nyang di Desa Katurei. Peselancar dari berbagai negara menyebut ombak di sini merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 4 meter. Pulau Karamajat masih di Desa Katurei juga memiliki ombak panjang dan tinggi yaitu mencapai 2 hingga 4 meter. Di desa ini juga tersedia penginapan terapung. Ombak di Pulau Koroniki, Awera, Teluk Sibigeu, Teluk Sinakak juga patut untuk dijajal.

Apabila Anda lebih memilih tempat yang ombaknya tidak terlalu besar maka bisa mengunjungi Pulau Siruso. Pulau ini cocok untuk rekreasi keluarga dengan pasir putih dan air laut jernih. Anda sekeluarga juga bisa berenang dan bermain pasir di tepi pantainya.

Pantai Bulasat bisa menjadi alternatif lain, selain memiliki pasir putih, juga sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama hari libur keagamaan. Untuk menuju pantai ini, Anda bisa menggunakan kendaraan bermotor dan dimanjakan pemandangan alam hijau indah atau di pinggir jalan bisa berhenti untuk membeli durian dan kelapa muda.


Kantor Pariwisata

Sumatera Barat : Jl. Khatib Sulaiman 7 Padang, Telp. (62-751) 7055711, 446282, Fax. 7055183
Pulau Mentawai : Jl. Raya Tuapejat km 4, Telp. (62-759) 320042