Jumat, 21 November 2014

Wisata Sumatera Barat Bab III

Lembah Harau : Lembah Indah dan Surga Pecinta Panjat Tebing

Perjalanan 1,5 jam dari Bukittinggi ke arah barat tidak akan sia-sia karena Anda akan disuguhkan suasana alam pegunungan dihiasi jejeran air terjun indah setinggi ± 100 meter. Belum lagi tempatnya dilalui empat buah sungai yang jernih siap memanjakan mata Anda.
Lembah Harau merupakan lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada ± 138 km dari Padang ± dan 47 km dari Bukittinggi atau sekitar ± 18 km dari Kota Payakumbuh dan ±2 km dari Pusat Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Tempat ini dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter.
Transportasi umum siap mengantarkan Anda yang datang melalui Bukittinggi. Menyewa minivan atau sepeda motor akan memastikan waktu berkunjung Anda di dataran tinggi Minangkabau lebih tepat.
..inilah salah satu lembah terindah di Indonesia
Harau diyakini berasal dari kata ‘parau’, istilah lokal yang artinya suara serak. Dulu, penduduk yang tinggal di atas Bukit Jambu sering menghadapi banjir dan longsor sehingga menimbulkan kegaduhan dan kepanikan. Penduduknya sering berteriak histeris dan akhirnya menimbulkan suara parau. Dengan ciri suara penduduknya banyak yang parau didengar maka daerah tersebut dinamakan ‘orau’ dan kemudian berubah nama menjadi ‘Arau’ hingga akhirnya penyebutan lebih sering menjadi ‘harau’.
Melakukan perjalanan sejauh 44 kilometer kearah Pekanbaru dan Riau maka Anda akan berhenti di Lembah Harau dengan tebing batu granit curam setinggi 80 -300 meter. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus berwarna kemerah-merahan tegak mengelilingi lembah begitu menawan untuk Anda pandang dan sempurna dalam rekaman foto.
Lembah Harau memiliki iklim tropis dan tanah yang subur, juga keindahan pemandangan alam yang menawan. Lembah Harau dijuluki Lembah Yosemite di Indonesia karena memiliki keindahan seperti Taman Nasional Yosemite yang terletak di Sierra Nevada California dan telah terkenal ke seluruh dunia.

Di Lembah Harau ini terdapat air terjun bernama Bunta Waterfall atau secara lokal disebut Sarasah Bunta. Air terjun ini mengalirkan air tawar segar dari dataran tinggi dengan tiga air terjun lainnya di lembah ini. Sarasah Bunta ini mempunyai air terjun yang berunta-unta indah apabila terpancar sinar matahari seperti bidadari yang sedang mandi sehingga dinamakan Sarasah Bunta.
Air terjun Sarasah Bunta pertama kali dibuka tanggal 14 Agustus 1926 oleh Asisten Residen Lima Puluh Kota F. Rinner bersama Tuanku Laras Datuk Kuning Nan Hitam dan Asisten Demang Datuk Kodoh Nan Hitam. Prasasti penanda ini mengisyaratkan keindahan air terjun Sarasah  Bunta.
Di Sarasah Aie Luluih, airnya mengalir melewati dinding batu dan dibawahnya mempunyai kolam tempat mandi alami yang asri. Ada kepercayaan mandi atau membasuh muka di sini dapat mengobati jerawat dan muka akan terlihat cantik dan awet muda.
Di Sarasah Murai, sering pada siangnya burung murai mandi sambil memadu kasih sehingga masyarakat menamakan ‘Sarasah Murai ‘. Ada kepercayaan di tempat ini untuk berdoa dan mandi agar lekas mendapat jodoh.
Lembah Harau sebenarnya merupakan cagar alam seluas 669 hektar. Hasil survey tim geologi asal Jerman tahun 1980 menemukan jenis batuan yang ditemukan di daerah ini identik dengan yang ditemukan di dasar laut berupa batuan breksi dan konglomerat. Legenda masyarakat Sarasah Aka Barayunjuga menceritakan bahwa di sekitar Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah laut.
Lembah Harau ini terdiri dari tiga kawasan yaitu Resort Aka Barayu, Resort Sarasah Bunta, dan Resort Rimbo Piobang. Resort Aka Barayun memiliki keindahan air terjun dan kolam renang ditambah nuansa alam yang asri. Selain itu juga berpotensi untuk pengembangan olah raga panjat tebing karena memiliki bukit batu yang terjal dan mampu memantulkan suara (echo). Disini juga terdapat fasiltas penginapan berupa homestay lengkap dengan fasilitasnya.
..di sinilah penggemar olah raga panjat tebing seperti menemukan surganya..
Dinding curam bukan hanya menjadi daya tarik bagi fotografer tetapi pemanjat tebing pun tertarik memanjat dinding di lembah ini dimana terdapat 300 lokasi panjat tebing. Di sisi lain, pagar tebing cadas yang curam telah menciptakan relief cantik sekaligus menantang terutama Anda yang menyukai olahraga panjat tebing.
Kecuraman tebing di tempat ini mencapai 90 derajat dengan ketinggian yang mencapai 150 hingga 200 meter. Tak salah rasanya jika Lembah Harau menjadi surga bagi pecinta panjat tebing. Para pemanjat menjuluki lembah ini sebagai Yosemite-nya Indonesia.

Pariaman
Dengan berkendara lebih dari 1 jam dari Kota Padang atau berjarak sekitar 56 km ke arah utara maka akan Anda temukan kota kecil bernama Pariaman. Kota ini merupakan daerah pesisir dengan garis pantai yang indah sepanjang 7 mil. Pariaman yang berarti 'wilayah aman' dikenal juga saat ini sebagai tempat perayaan  Ashura di Indonesia dengan nama Festival Tabuik.


Festival Tabuik adalah untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad saw yakni Hasandan Husein. Hasan wafat diracun sedangkan Husein memimpin pasukan Muslim untuk bertempur melawan Dinasti Bani Umayah dalam Perang Karbala. Pertempuran tersebut menewaskan Husein secara mengenaskan dan sebagian umat Muslim meyakini bahwa jenazah Husein di masukkan ke dalam peti jenazah (tabuik) kemudian dibawa ke langit menggunakan Bouraq. Peristiwa syahidnyaHusein ini kemudian dikenal sebagai hari Ashura atau Muharram.

Waktu terbaik untuk berkujung ke Pariaman dan menyaksikan Festival Tabuik adalah sepuluh hari pertama bulan Muharam (bulan pertama kalender Islam). Anda dapat menyaksikan acara Tabuik tersebut mulai dari persiapannya hingga prosesinya selama 10 hari pertama bulan Muharram.


Kota pelabuhan Pariaman beberapa abad lalu telah disinggahi pedagang-pedagang dari Nusantara maupun mancanegara. Saat itu orang Minangkabau di pedalaman Sumatra Barat memproduksi emas, kertas, madu, kemiri, serta hasil bumi lokal untuk dijual di pelabuhan. Awal abad ke-17, Sultan Aceh datang untuk mengusai tempat dan berikutnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang menguasainya. Masyarakat Pariaman yang hidup menderita dalam penjajahan kemudian melakukan pemberontakan selama hampir satu abad untuk memaksa penjajah meninggalkan tempat yang indah ini.

Sejarah Pariaman sudah dimulai jauh sebelum kedatangan VOC. Catatan Tome Pires (1446-1524), yaitu pelaut Portugis dari Kerajaan Portugis di Asia mencatat adanya lalu lintas perdagangan antara India dan Pariaman, juga antara Tiku dan Barus. Pires juga mencatat perdagangan kuda di antara orang Batak dengan orang Sunda.

Tahun 1527, dua kapal dagang Prancis membawa, Jean dan Raoul Parmentier mengunjungi Pariaman dan berlabuh di Tiku serta Indrapura. Akan tetapi kedatangan mereka tidak meninggalkan catatan signifikan di wilayah ini. Tanggal 21 November 1600, untuk pertama kalinya, Belanda datang ke Pariaman dan Tiku di bawah pimpinan Paulus Van Cardeen yang berlayar ke arah selatan dari Aceh dan Pasaman. Cornelisde Houtman, salah satu pelaut Belanda juga pernah mengunjungi Pariaman kemudian pindah keselatan yaitu Sunda Kelapa atau Jakarta sekarang.

Tahun 1686, catatan W. Marsden menyebut bahwa orang Pryaman atau orang Pariaman telah melakukan kontak dengan Kerajaan Inggris. Saat itu, dipimpin Raffles, orang-orang India dalam kesatuan tentara Sepoy dari British Raj, dibawa ke kota pelabuhan tersebut. Orang-orang Sepoy dari India inilah yang kemudian memperkenalkan tradisi Muharram kepada penduduk setempat dengan nama Tabuik. Meskipun kontak tersebut tidak terlalu intensif tetapi telah meninggalkan jejak yang kemudian berkembang menjadi salah satu warisan budaya bernama Tabuik.

Kata tabuik diambil dari Bahasa Indonesia yaitu ‘tabut’. Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1831. Pariaman memiliki peran besar dalam perkembangan tradisi ini karena menjadi salah satu tempat di dunia di mana peringatan kematian Hasanbin Ali dan Ali bin Husein diperingati. Acara Tabuik di Pariaman seperti juga peringatan Ta’ziyeh di Iran untuk memperingati kematian Imam Hussein

Selain sebagainama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda memiliki bersayap dan tubuh tegap berkepala manusia.

Pada hari kesepuluh Muharram, Masyarakat Pariaman secara tradisional akan berkumpul untuk melihat usungan jenazah melambangkan peti mati Husein. Secara visual, prosesi ini sangat mirip tradisi pembakaran jenazah di Bali, hanya saja di Pariaman,tabuik tidak dibakar pada akhirnya dengan api. Pada akhir acara, Tabuik akan dibawa ke pantai selanjutnya dilarung ke laut. Kepercayaan pelarungan Tabuik ke laut adalah untuk membuang kesialan. Di samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke langit membawa segala jenis arakannya. 

Pasumpahan: Menemukan Pulau Tropis nan Indah Dekat Kota Padang 
Sebuah pulau tidak berpenghuni dengan luas yang tidak seberapa siap menyuguhkan bingkisan pulau tropis nan indah di Sumatera Barat. Pulau Pasumpahan adalah tujuannya, temukan lokasinya di perairan Kecamatan Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Kota Padang di pantai barat Pulau Sumatera menyuguhkan garis pantai sepanjang 84 kilometer dengan 19 pulau indah untuk disambangi di sekitarannya.


Pulau Pasumpahan adalah pulau cantik yang mudah diakses dari Kota Padang. Pulau ini dipercaya warga sekitar merupakan jelmaan Malin Kundang yang disumpah (dikutuk) ibunya menjadi batu. Penduduk meyakini bahwa Malin Kundang dikutuk menjadi batu di pulau ini karena terkait nama ‘pasumpahan’.

Pulau Pasumpahan yang seluas 5 hektar memiliki hamparan pasir putih dengan air laut yang bening. Menariknya, permukaan laut pulau ini seperti terbagi tiga. Warna bening di pinggir, hijau di depannya, dan membiru pada bagian yang lebih ke tengah. Tingkat kedalaman perairan laut di sekitar pulau adalah penyebab perbedaan warna tersebut.

Sekitaran perairan pulau ini diperkaya beragamnya habitat laut termasuk diantaranya red lionfish (Pterois volitans), penyu, teripang, serta sotong (Sepia sp).

Selain pulau tropis dengan hamparan pasir putih, pulau ini memiliki daya tarik utama berupa ekosistem bawah laut yang indah. Terumbu karangnya mencukupi untuk dinikmati dengan menyelam atau snorkeling. Ada berbagai jenis ikan karang dan utamanya adalah sekira 21 jenis ikan kepe-kepe yang didominasi oleh Chaetodon trifascialis.

Dermaga di pulau ini memiliki tiang dari batang kayu kelapa. Landasannya terbuat dari balok kusam. Meski tidaklah sebegitu kokoh karena termakan usia, di sekitarannya berkumpul ikan-ikan kecil. Tidak jauh dari dermaga, terdapat hamparan kecil hutan mangrove.

Anda bisa berenang mengelilingi Pulau Pasumpahan di beberapa bagian.  Apabila Anda berhasrat mengelilingi pulau ini dengan berenang maka memungkinkan karena arusnya cukup tenang. Perlu waktu selama 2 jam untuk mengelilingi pulau ini dari sisi timur menuju utaranya.

Apabila Anda ingin berkeliling untuk menemukan titik menyelam maka bisa menyambangi Pulau Gosong, Pulau Ular, Pulau Sirandah, dan Pulan Pandan. 

Pulau Nyang Nyang : Memburu Ratusan Ombak di Mentawai 
Pulau Nyang-Nyang adalah satu dari gugusan Kepulauan Mentawai. Keberadaanya telah dikenal hingga ke mancanegara sebagai surganya bagi peselancar. Mereka menyebut-nyebut bahwa ombak di Mentawai sebagai terbaik ketiga di dunia setelah Hawaii dan Tahiti. Pulau Nyang-Nyang dengan panorama alamnya yang eksotis berada tepat di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Keindahan Pulau Nyang-Nyang telah menawan hati penyambangnya, terutama peselancar yang gemar menaklukkan ombak dengan sebuah papan. Hamparan pasir putih membingkai tepian pulau ini dilengkapi hutan hijau dan barisan pohon kelapa. Langit biru di atasnya menjadi pemadangan tropis yang menyejukkan mata. Udara yang masih segar dan angin yang meniup lembut sungguh menyejukkan bagi mereka yang mendamba ketenangan alam yang menawan. Belum lagi, air laut yang jernih disempurnakan suara debur ombak saling bergulungan. Inilah suguhan alam yang akan membuat Anda betah berlama-lama menikmatinya.

Terdapat banyak titik berselancar di Kepulauan Mentawai, yaitu sekira 400 titik, termasuk di Pulau Nyang-Nyang. Pada musim ombak, biasanya pertengahan tahun (Juni-Agustus), ombak di sekitar Pulau Nyang-Nyang dapat mencapai ketinggian 4 meter. Beberapa ombak menantang di pulau kecil ini diantaranya adalah Nifusi, Bank Vaults, Pit Stop, E Bay, dan Beng-Beng.

Perihal penamaan ombak ini, biasanya dinamai peselancar yang berhasil menaklukan ombak tersebut. Biasanya peselancar mengadakan lomba sesama mereka untuk memenangkan tantangan menaklukan ombak-ombak besar dan tinggi.

Dinamakan Bank Vaults karena ombaknya bersifat mengunci seperti halnya ruang penyimpanan uang di bank. Pit Stop adalah lokasi berselancar pertama yang akan dijejak wisatawan dari Desa Muara Siberut setibanya di Pulau Nyang-Nyang. E Bay mengacu pada nama emerald (zamrud) atau dapat juga mengacu pada huruf E, bentuk titik ini jika dilihat dari atas. Ombak Beng-Beng mendapatkan namanya dari karakteristik air di sekitar lokasi yang berwarna kecoklatan seperti halnya warna makanan ringan bermerk sama. Beng-beng termasuk jenis ombak yang hanya b


oleh dijajal peselancar berpengalaman sebab ombaknya besar dan bebatuan karang di titik tersebut patut diwaspadai.

Lokasi berselancar di Kepulauan Mentawai, termasuk di Pulau Nyang-Nyang, disebut-sebut sebagai salah satu lokasi selancar terbaik di dunia. Surga para peselancar ini konon baru ‘ditemukan’tahun 1990-an. Sebelumnya, tidak ada yang berselancar di kawasan cantik ini. Akan tetapi, sekarang Pulau Nyang-Nyang adalah pulau impian  peselancar lokal maupun mancanegara. Bahkan, Pulau Nyang-Nyang lebih sering dikunjungi wisatawan mancanegara yang telah mendengar pesona dan kedahsyatan ombak menantang. Sejumlah peselancar terbaik nasional dan dunia seperti Rizal Tanjung, Kelly Slater dan Andy Irons sering terlihat datang ke Kepulauan Mentawai untuk menantang dan mengasah keahlian sambil menjadi lawan tanding bagi peselancar lokal.
 

Pulau Sipora : Menantang Empat Ombak Kelas Dunia di Mentawai 
Pulau Sipora merupakan pulau terkecil namun yang paling strategis dan memadai di kawasan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Dibandingkan 4 pulau besar lainnya di Mentawai, posisi Pulau Sipora tepat berada di tengah-tengah antara Kepulauan Pagai dan Pulau Siberut. Di pulau ini pula terletak ibu kota kabupaten Kepulauan Mentawai, yaitu Tua Pejat.

Dengan area seluas sekira 845 km², Pulau Sipora diperkirakan memiliki 10-15% hutan hujan yang masih alami. Sebagian besar penduduk Sipora memiliki mata pencaharian sebagai petani atau nelayan.

Pulau Sipora menjadi daya tarik wisata sebab di sekitarnya terdapat beberapa tempat wisata berselancar yang memukau. Waktu paling baik untuk mengunjungi Pulau Sipora demi selancar adalah bulan April hingga Oktober. Meski begitu, Anda tetap dapat menikmati gulungan ombak yang menantang di Pulau Sipora hampir sepanjang tahun.

Titik berselancar kelas dunia, Hollow Trees dan Lance’s Left berada di bagian ujung selatan pulau ini. Sejumlah titik berselancar yang tersohor lainnya berada di barat laut Pulau Sipora, yaitu di antaranya Telescopes, Iceland, and Scarecrows.

Hollow Trees juga dikenal sebagai HT atau Lance’s Right. Ombak yang berbentuk silinder (dikenal dengan right tube) ini selama 10 tahun terakhir kerap muncul di majalah-majalah dan video-video berselancar dunia. Saat ombak jenis ini datang tidak terlalu besar, akan ada 3 zona take off yang menantang Anda untuk dapat melakukan manuver selancar. Saat ombak yang lebih besar datang, bagian atas ombak yang pecah (peak) akan terhubung dengan barrel secara terus-menerus yang akan membuat peselancar dengan keterampilan rata-rata ternganga.

Berhati-hatilah dengan yang dinamakan The Surgeon Table di titik selancar ini; ombak ini seolah-olah memang ada untuk mengangkat para peselancar hingga berada dipuncak ombak seolah-olah sebagai sebuah piala atau trophy. Hollow Trees tidak dianjurkan untuk peselancar pemula karena tantangan ombaknya hadir bagi mereka dengan keterampilan yang memadai dan ahli.

Lance’s Left adalah jenis ombak yang kuat dan paling konsisten di Pulau Sipora dan sekitarnya. Memiliki karakteristik ombak dengan dua barrel yang berbeda dan sejumlah zona take-off, Lance’s Left (jika didukung kondisi yang sempurna) dapat menjadi salah satu ombak yang paling indah di planet ini. Banyak orang menyebut dan membandingkan Lance’s Left sebagai ombak Money Trees dari G-Land versi Mentawai. Pergerakan ombak di permukaan laut akibat dari perbedaan tekanan udara dan angin (swell) yang lebih besar mampu menciptakan zona take-off vertikal dan barrel yang sempurna. Saat ombaknya tidak terlalu besar, Lance’s Left cocok untuk peselancar dengan kemampuan menengah.

Di barat laut Pulau Sipora, terdapat 2 jenis ombak terkenal lainnya. Telescopes adalah jenis ombak yang sangat panjang, semi hollow (ombak bergulung dengan lubang di bagian tengah), dan nyaris sempurna untuk selancar. Banyak peselancar yang telah berselancar Telescopes mengakui bahwa ombak ini adalah  salah satu ombak terbaik di Indonesia. Telescopes yang tidak terlalu besar menantang Anda dengan jenis ombak berbentuk silinder yang cocok untuk peselancar tingkat menengah. Lokasi ombak Telescopes berada paling dekat dengan pusat pemukiman masyarakat di Tuapejat (ibu kota kabupaten), yaitu sekira 5 km arah Barat.

Scarecrows adalah jenis ombak dengan zona take off kiri yang membentuk dinding gelombang disambung dengan barrel yang bergulung cepat. Cocok bagi peselancar tingkat menengah.

Tidak ada komentar: