Tampilkan postingan dengan label INFORMASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFORMASI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2014

KTP di Malaysia Cantumkan Kolom Agama

Kartu Tanpa Penduduk (KTP) di Malaysia atau yang dikenal dengan Kad Pengenalan Malaysia (MyKad) mencantumkan agama. Kolom tersebut berada di bawah foto pemilik KTP yang terletak di bagian kanan bawah.

Selain kolom agama, di bawah foto tersebut juga dicantum status kewarganegaraan dan jenis kelamin. Berdampingin dengan jenis kelamin (sebelah kiri), terdapat kolom agama.

Hanya saja pantauan Sayangi.com dari beberapa sumber, termasuk dari situs pemerintah di Malaysia, www.jpn.gov.my, maupun media, seperti abnxcess.com dan themalaysiantimes.com, tidak semua warga Malaysia mencantumkan agama mereka. Sebagian mencantumkan dan sebagian lainnya tidak menyebutkan identitas tersebut.

Selain mencantumkan agama, MyKad warga Malaysia juga dilengkapi dengan sebuah chip. Fungsinya agar IC (Identyty Card) bisa dibaca di setiap instansi pemerintah dan Bank. Selain sebagai kartu identitas, IC Malaysia juga bisa berfungsi sebagai alat pembayaran jalan tol, kereta api, dan parkir mobil.

Keberadaan kolom agama ini seolah membantah pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ahok, sapaan akrabnya menolak mencantumkan identitas tersebut, dengan menyebutkan bahwa di berbagai negara, termasuk di Malaysia, tidak ada tempat khusus identitas agama.

"Seluruh dunia kan begitu (tidak memasukkan kolom agama, red). Di Malaysia KTP-nya juga tidak menuliskan agama. Padahal, negara itu merupakan negara yang agamanya kuat. Cuma di undang-undang kita, kolom agama harus dicantumkan," kata Ahok 13 Desember lalu.

Lalu, apakah Ahok sudah berbohong?

http://www.sayangi.com/politik1/read/13428/ktp-di-malaysia-ternyata-cantumkan-kolom-agama-ahok-pembohong

Kolom Agama di KTP Wajib Diisi

Kolom agama dalam kartu tanda penduduk (KTP) mesti diisi sesuai agama yang dipeluk dan sama sekali tidak boleh dikosongkan, kata mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Selasa (11/11/2014).

Ia mengatakan sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, Indonesia tidak punya hak, apalagi kewajiban, untuk mereduksi identitas agama dan umat beragama.

Kewajiban negara Pancasila, kata dia, justru membimbing dan mengintensifkan pelaksanaan agama oleh umat beragama secara benar, yang rahmatan lil alamin (membawa kebaikan bagi seluruh alam), untuk  mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kemajuan negara. 

"Kalau alasan mengosongi kolom agama adalah HAM, tidak tepat juga. Justru identitas tersebut adalah HAM-nya orang beragama," kata Hasyim. 

Meski demikian, Hasyim menambahkan, apabila ada warga negara yang menginginkan agamanya tidak dicantumkan dalam KTP maka mereka bisa saja melakukannya karena Indonesia merupakan negara demokratis.

"Tapi harus atas permintaan resmi yang bersangkutan, bukan dikosongkan oleh negara," kata Hasyim, Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) .

Hasyim mengungkapkan bahwa dia sudah mendengar isu pengosongan kolom agama dalam KTP sejak menjadi penasihat Tim Transisi.

"Sudah saya ingatkan bahwa ide ini akan membebani pemerintahan Jokowi-JK sebagai pemerintahan yang terkesan pelan-pelan tidak mempedulikan agama," kata Hasyim.

Menurut dia, keinginan pengosongan kolom agama dalam KTP berasal dari kelompok yang sepertinya beragama tapi sesungguhnya tidak beragama. 

"Pemerintahan Jokowi-JK saya harap hati-hati, karena hal-hal seperti ini sesungguhnya tidak berguna bagi bangsa, tidak berguna pula untuk seluruh umat beragama di Indonesia," katanya. (An)

http://www.sayangi.com/politik1/read/28245/hasyim-muzadi-kolom-agama-di-ktp-wajib-diisi-jangan-dikosongkan

Selasa, 18 November 2014

Pengaruh Musik pada Pola Mengemudi

Mendengar musik sambil berkendara tentu menyenangkan. Tak hanya bagi pengemudi, tapi juga bagi penumpang. Sebagai penghibur, perjalanan berlibur pun tak lagi membosankan.
Sementara untuk aliran musik yang ingin diputar memang sangat subjektif. Setiap orang memiliki selera dan ketertarikan dengan jenis musik yang berbeda.

Tetapi tahukah Anda, jenis musik dapat berpengaruh pada pola Anda mengemudi?

Ternyata detak jantung dapat berpengaruh pada beat musik yang didengar. Beberapa studi telah dilakukan dengan memonitor detak jantung seseorang saat mengemudi sambil diberikan berbagai jenis musik yang memiliki tempo yang berbeda. Hasilnya detak jantung akan cenderung kurang stabil dibandingkan dengan pengemudi yang hanya mendengar satu jenis musik saja.

Menurut Dr. Simon Moore, Psikolog dari London University, “Musik yang ideal saat mengemudi adalah musik yang memiliki tempo serupa dengan detak jantung. Yaitu sekitar 60 hingga 80 ketukan per menit. Karena musik dengan ketukan cepat justru akan meningkatkan konsentrasi pengemudi pada musik yang didengar,” kata Moore melalui situs Medical Daily.

Pilihlah jenis musik sesuai mood
Sedangkan pengemudi yang memutar musik bertempo 120 hingga 140 ketuk per menit, yang sebagian besar dimiliki oleh musik berjenis rock, heavy metal, hip hop dan techno berkemungkinan lebih besar memiliki cara berkendara yang lebih agresif. Biasanya secara tidak sadar pengemudi cenderung mempercepat laju kendaraan mengikuti ketukan lagu. Begitu pula dalam bermanuver, yang cenderung dilakukan dengan cepat.
Yang bahayanya lagi, jika Anda memutar musik yang tidak sukai. Hal ini dapat menyebabkan stres dan distraksi yang memberikan pengaruh negatif pada pengemudi. Contoh yang sering terjadi ialah pengemudi menjadi mengantuk.

Kecenderungan mengantuk itu juga bisa ditimbulkan oleh jenis musik slow baik dengan vokalis maupun instrumental. Jadi tak ada salahnya Anda mempersiapkan beragam jenis musik sebelum pergi berlibur. Ketika mood Anda sedang turun, Anda dapat memutar lagu dengan tempo yang tidak cepat. Semisal musik bergenre pop yang berkonsep easy listening yakni lagu dengan lirik yang mudah dicerna otak, meski hal ini tergantung pada preferensi masing-masing individu.

Di sisi lain, hal yang juga perlu Anda perhatikan adalah besarnya volume musik saat berkendara. Memang hal ini tidak berpengaruh pada  meningkatnya kecepatan, tetapi tanpa Anda sadari konsentrasi saat mengemudi akan terpecah.

Terkadang saat berkendara suara-suara di luar  kabin yang memberi isyarat berupa klakson atau sirine harus Anda ketahui. Bayangkan jika Anda memutar musik dengan volume keras, pasti akan menutupi masuknya suara dari luar kabin.

Idealnya pada saat memutar musik Anda menggunakan volume sekitar 30 – 40 persen dari rentang volume yang disediakan head unit. Karena di rentang itu masih dalam tahap wajar untuk didengar, Anda pun masih bisa mendengar suara dari luar kabin.


Sumber : http://tips.autobild.co.id/read/2014/08/07/11153/56/15/Pengaruh-Musik-pada-Pola-Mengemudi

Dampak Buruk Tak Pernah Isi BBM Full Tank

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kian melambung menjadi alasan banyak masyarakat untuk mengisi BBM ‘seperlunya saja.' Tak heran jika angka penunjuk bahan bakar di panel indikator kerap menunjuk pada level seperempat hingga setengah. Apalagi ada sebagian orang yang mempunyai kebiasaan untuk mengisi BBM jika ingin menggunakan mobil saja.

Tanpa disadari, kebiasaan ini memiliki dampak kerugian dari beragam aspek. Seperti rasa dag..dig..dug.. saat menjumpai kemacetan parah, lantaran jumlah bahan bakar yang minim di tangki, hingga faktor keselamatan ber­kendara.

Dengan jumlah bahan bakar minim, kecenderungan pompa bahan bakar tidak terendam saat mobil bermanuver kian besar - meski desain tangki modern kini telah memiliki banyak sekat di dalamnya. Hal ini tentu sangat berbahaya lantaran mesin dapat mati secara tiba-tiba akibat asupan bensin yang terputus.

Belum lagi dengan tumpukan kotoran di dasar tangki. Potensi Anda mengisi bahan bakar di SPBU terpencil yang memiliki kondisi tangki tanam kurang terawat akan menghadirkan kotoran di tangki bahan bakar mobil. Bila terhisap, tentu akan mempercepat usia pakai filter bensin. Bila tak terdeteksi dengan cepat, otomatis kerja fuel pump semakin berat sehingga menurunkan kemampuan menekan bahan bakar ke injector. Konsumsi BBM menjadi kian boros dan fuel pump rentan meng­alami kerusakan.

Kerugian lainnya adalah hadirnya air di dalam tangki akibat proses kondensasi. Ruang yang lebih luas saat bensin minim membuat proses ini lebih mudah terjadi, terutama untuk mobil-mobil yang masih meng­adopsi material besi pada tangki bensinnya. Wajar bila mayoritas produsen mobil kini mulai menunakan material plastik pada tangki bahan bakar untuk mereduksi terjadinya kondensasi.

“Dengan diamnya udara pada suatu ruang, maka akan terjadi kondensasi dan hasil kondensasi berupa uap air tersebut akan terdeposit dalam tangki,” terang . Vice President Corporate Communication PT. Pertamina (Persero), Ali Mundakir.


Tips

- Nyalakan mobil beberapa menit setiap hari untuk memastikan BBM dalam tangki teralirkan ke sistem pembakaran. Hal ini akan memancing tersirkulasinya udara dalam tangki sehingga tak mudah terjadi kondensasi.

- Gunakan BBM non subsidi. Fungsi deterjen dari aditif yang terdapat pada BBM non subsidi akan membuat pembakaran kian sempurna dan kondisi mesin selalu prima sehingga efek buruk dari kondensasi dapat diminimalisir.

- Jika mobil jarang bergerak, pastikan BBM selalu dalam kondisi penuh untuk meminimalisir ruang udara dalam tangki.

- Lakukan kuras tangki jika gejala tercampurnya BBM dengan air mulai terasa. Seperti mesin yang batuk-batuk.

- Cek kompresi mesin secara berkala untuk memastikan mesin memiliki kemampuan kompresi yang ideal. Hasil pembakaran pun akan terjaga dalam status sempurna jika kompresi mesin tetap ideal.

Sumber : http://tips.autobild.co.id/read/2014/10/24/11780/52/15/Dampak-Buruk-Tak-Pernah-Isi-BBM-Full-Tank

Tips Pilih Head Unit Android untuk Mobil

Banyaknya pilihan head unit android aftermarket yang ditawarkan, membuat suatu keuntungan bagi konsumen. Pemilihannya pun harus selektif, agar headunit yang Anda dapatkan sesuai dengan yang di inginkan.
Menyesuaikan dengan Budget
Ketika ingin memiliki head unit android, ada baiknya Anda pun menyesuaikan dengan budget yang anda siapkan. Karena ragamnya harga yang beredar dipasaran memberi keuntungan kepada calon pembeli.

Tentunya dengan harga head unit yang murah bukan berarti, tidak bagus. Parameter Anda pun bisa berpacu pada spesifikasi dari headunit tersebut.

Sesuaikan dengan Kebutuhan
Sangat mubazir ketika kita membeli headunit dengan sejuta fitur, tetapi fitur tersebut tidak Anda gunakan. Sebaiknya pikirkan terlebih dahulu fitur apa saja yang Anda butuhkan di dalam head unit Android.

Tentunya dengan membeli head unit sesuai dengan kebutuhan, Anda pun bisa menekan budget dan bisa mengalokasikan uangnya untuk upgrade  pada bagian audio lainnya.

User friendly
Dikarenakan penempatannya didalam mobil, tentunya head unit ini juga harus user friendly dengan penggunanya. Pilihlah head unit yang memberikan tampilan menunya mudah dimengerti, sehingga ketika Anda mengoprasikannya tidak memecah konsentrasi anda saat berkendara.

Selain itu terdapat fitur mirrorlink pada beberapa head unit android. Fitur ini memindahkan tampilan gadget Anda di head unit android tersebut. Dengan begitu ketika di dalam kendaraan, Anda dapat mengontrol gadget melalui headunit.


Sumber : http://tips.autobild.co.id/read/2014/10/28/11918/56/15/Tips-Pilih-Head-Unit-Android-untuk-Mobil

Senin, 17 November 2014

Strategi Pemasaran dalam mencapai Target Market

Bagaimana mengantisipasi perubahan pola konsumen? Mungkin sudah saatnya perusahaan harus meninjau ulang penampilan produk, atau mengatur kembali mata rantai distribusi, atau mengubah kedua-duanya. Kunci pemasaran terletak pada tiga faktor ini: pengamatan trend secara cermat, antisipasi terhadap setiap perubahan, dan bertindak tepat waktu. Umumnya perusahaan kecil gagal mencapai target pasar oleh karena pemilik dan para manajer tidak jeli atau bahkan tidak sadar akan kelemahan produk barang dan jasa yang dihasilkannya. Taruhlah mereka sempat mengetahui itu, tapi biasanya tidak mendeteksinya secara dini. Sebuah produk segera melemah apabila ia tidak lagi memenuhi selera pasar, atau tidak sanggup mengimbangi preferensi konsumen atau kemauan pelanggan yang berubah.
Pada hematnya, untuk mampu mempertahankan produk barang atau jasa supaya tetap diminati konsumen terletak pada kepekaan menengok ke belakang untuk memandang ke depan. Ujilah apa saja yang sudah dilakukan di waktu-waktu lalu hingga detik ini untuk bisa mengetahui kelemahan dan kekuatan pemasaran. Lihatlah ke depan dan rencanakan perubahan seperlunya untuk menanggulangi kelemahan-kelemahan tadi, dan sebaliknya dari situ bisa lebih mempertajam keunggulan.
Daya jual produk harus selalu diuji setiap periode tertentu untuk mengetahui seberapa besar ia masih menimbulkan kepuasan. Biaya-biaya penjualan harus pula ditelusuri. Walaupun tingkat penjualan menanjak sepanjang tahun yang baru lewat, namun berbahaya bila berasumsi bahwa itu merupakan indikasi tidak adanya unsur-unsur yang melemahkan.
Bila pun terjadi kecenderungan menurun, hati-hati, dan jangan menganggap itu hanya penurunan rutin karena bulan-bulan penjualan sedang sepi. Mungkin saja masa perputaran produk (product life cycle) memang sudah waktunya menukik. Jika demikian perlu segera dipikirkan tindakan inovasi atau perombakan produk baik kualitas, penampilan, harga, desain, ataupun cara-cara pelayanan.
Ujilah produk dengan mencari jawaban atas beberapa pertanyaan di bawah ini:
• Apakah terjadi “penurunan” persentase dalam kenaikan penjualan sekarang ini? (Misalnya, kenaikan hanya 5% dibanding 10% tahun sebelumnya). Apa penyebabnya? Andaikan levelnya sama dengan tahun kemarin, lihat pertumbuhan saingan sebagai barometer. Bisa juga pembaca trend pertumbuhan ekonomi lingkungan; kalau pertumbuhannya lebih besar dari rata-rata sales perusahaan, berarti ada sesuatu yang salah.
• Apakah wilayah pemasaran sekarang sudah jenuh? Jika belum, kapan saatnya menambah volume produk di pasar tadi sebelum mem-perluas ke wilayah pemasaran baru? Apakah biaya pemasaran (termasuk iklan) meningkat? Mengapa? Mengapa pula tingkat keuntungan merosot? Apakah penurunan penjualan disebabkan oleh produk-produk baru yang dilontarkan kompetitor?

Kelemahan Distribusi
Carilah kelemahan di sepanjang mata rantai pemasaran. Periksa semua lapisan penjualan: bila perusahaan menggunakan cara pemasaran langsung dengan menggunakan organisasi penjualan sendiri atau melalui outlet, menggunakan agen, distributor, retailer, atau kombinasi dari semuanya, temukan di mana titik paling kritis di mata rantai itu.
Memang, dalam gejolak peru¬bahan tuntutan konsumen yang selalu bergeser, liku-liku distribusi sewaktu-waktu dapat kehilangan efektivitas yang diakibatkan oleh kebiasaan membeli (konsumen) yang berubah; atau pengembangan cara-cara baru dalam bersaing; atau malah terjadi perubahan selera konsumen. Bila sudah begitu, bisa-bisa mata rantai distribusi yang tadinya kita anggap paling jitu tiba-ti-ba berbalik menjadi jelek. Betul, terkadang sangat sukar untuk mengetahui efektif-tidaknya mata rantai distribusi. Tapi masalah abstrak itu bisa diraba melalui pencaharian jawaban atas pertanyaan seperti ini:
• Siapa pembeli produk?
• Di mana mereka mendapat-kannya?
• Kebiasaan membeli dalam jumlah ?
• Siklus pembelian (mingguan, bulanan)?
• Apakah masyarakat pembeli puas dengan cara penjualan sekarang?
Jawaban atas rangkaian pertanyaan itu bisa diperoleh dari analisa fakta tentang pemesanan-pemesanan ulang produk Anda. Bila menggunakan distributor, mereka juga bisa dimintai informasi. Cara yang cukup efektif ialah penyebaran kartu angket kepada konsumen, atau perlu dipikirkan untuk mengadakan survai lewat jasa perusahaan riset.
Sumber informasi lain yang sering diabaikan ialah asosiasi, terbitan bisnis, sensus ekonomi oleh instansi pemerintah (BPS, misalnya). Data-data yang perlu Anda ketahui: jenjang populasi masyarakat konsumen (pengguna jasa), karakteristik mereka, tingkat penghasilan, preferensi pelanggan, konsentrasi pemasaran selama ini, dan seterusnya. Singkat kata, sebagai pemimpin dan manajer perusahaan, Anda tidak boleh kehilangan mo¬mentum untuk mengikuti trend bisnis, pergeseran penghasilan (daya beli) dan perubahan pola konsumsi.
Bahkan sebuah industri (produsen) besar harus bersikap dinamis dan senantiasa siap melakukan penyesuaian dalam pola distribusi bila sudah diketahui bahwa konsumen telah mengubah kebiasaan membeli. Belakangan ini pola keinginan konsumen makin cenderung berubah. Lihat saja, di bidang pangan: permintaan sudah mengarah pada makanan yang tersedia secara “convenience”, misalnya kentang yang siap digoreng, saus tomat botol, sirup jeruk, instant mie.
Artinya, bahan mentah harus melewati food processor lebih dahulu sebelum dilempar ke pasar. Pergeseran pola itu telah melebar ke berbagai jenis kebutuhan pakaian jadi, perangkat perkantoran, mesin, mobil, dan banyak lagi. Perubahan pola konsumsi ini jangan dianggap sepele. Perubahan pola berbelanja konsumen harus dibarengi dengan perubahan tipe outlet yang digunakan. Contohnya, komoditi yang dulunya hanya laku di pinggir jalan mungkin sudah saatnya untuk diangkat ke pasar swalayan atau supermarket.

Perubahan Lokasi

Manusia memiliki sifat ingin berpindah tempat. Jika tidak karena kehendaknya sendiri, perubahan lingkunganlah yang memaksa dia harus bergeser. Salah besar bila perusahaan tidak mau ambil pusing di tengah ramainya pergeseran tempat itu. Sebuah produsen perabot listrik rumah tangga yang tadinya secara tradisional cukup membutuhkan distributor peralatan pertanian untuk penyebaran produknya ke desa-desa, namun ketika banyak penduduk desa mulai pindah ke kota-kota besar, ia harus mengangkat dealer-dealer baru di kota.
Tidak itu saja. Penduduk kota pun sering berpindah lokasi, karena dibangunnya kompleks eksklusif di daerah satelit, flat untuk masyarakat menengah, perumahan massal untuk lapisan bawah. Semua itu harus mempengaruhi pengambilan keputusan di dalam manajemen pemasaran.

Strategi Bersaing
Amati pesaing-pesaing produk Anda. Barangkali mereka mulai mengubah atau membenahi mata rantai distribusi, umpamanya dengan menambah outlet baru atau melakukan inovasi produk sehingga penjual bersemangat memasarkannya. Produk yang atraktif menimbulkan kebanggaan para penjual. Awasi pula kemungkinan kompetitor meningkatkan pelayanan puma jual (membangun service centre, menawarkan bantuan teknik langsung ke pembeli), menghadiahkan margin keuntungan lebih besar, atau memperpanjang masa bayar (kredit) kepada distributor.
Perlu meninjau kembali kebijaksanaan distribusi apabila pesaing melakukan perombakan cara pemasaran mereka. Tapi hati-hati, yang terbaik untuk mereka belum tentu bagus untuk perusahaan Anda.
Betapa pentingnya jalur distribusi acapkali dilupakan perusahaan. Malah ada yang beranggapan “Mereka hidup dari produk kita. Tanpa barang kita mereka tak jalan.” Padahal yang terjadi justru sebaliknya. “Tanpa penjual, Anda mati.” Saran terbaik, hindari perselisihan dengan para pemasar. Sudah banyak kali terbukti, semakin akrab hubungan perusahaan pemasok dengan jalur distribusinya, kian terangkat grafik penjualannya. Membantu outlet dengan perangkat penjualan seperti buku nota penjualan atau rak peragaan, jangan dianggap suatu pemborosan. Rak-rak display sekaligus berfungsi sebagai media promosi. Tempelkan slogan dan logo perusahaan.

Cari Terowongan Baru
Dalam situasi yang mendesak, cara yang paling tepat untuk menjaga produk Anda tidak jatuh di pasaran ialah dengan mencari terobosan pemasaran baru. Ambil misal, perusahaan penerbitan yang menambah produknya dengan buku-buku bersampul tipis (berkala, kumpulan makalah, petunjuk praktis) sebaiknya jangan dicampur pada jalur distribusi terbitan bersampul keras yang sudah mapan. Carikan jalur baru pada agen majalah, drugstore, atau supermarket.
Tapi masalah bisa muncul begitu Anda mencari mata rantai pemasaran baru. Relasi yang sudah berjalan lama mungkin saja merasa tersinggung. Sulit dihindari pula benturan dengan produk pesaing setiap Anda membina relasi pemasaran baru. Kadang-kadang perusahaan yang frustrasi karena tidak menemukan relasi yang cocok lalu melakukan tindakan bypass dengan memba¬ngun organisasi pemasaran sendiri.
Ini terlalu mahal. Perusahaan sa-ngat besar pun harus hati-hati mempertimbangkan cara itu. Bila penjualannya sedang “in”, memang tidak menjadi masalah. Problem baru muncul di saat perdagangan mengalami masa lesu, di mana omzet penjualannya paling-paling hanya bisa untuk menutupi biaya overhead divisi-divisi pemasarannya.

Selalu Siap
Dalam usaha mempertahankan agar grafik penjualan selalu sesuai target, gunakan data yang lalu dan had ini untuk siap menantang masa depan. Setiap rencana pengambilan keputusan yang melibatkan produk dan mata rantai distribusi, betul-betul memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Kapankah itu? Tergantung situasi. Tapi yang perlu dicamkan para eksekutif dan manajer: cepatnya penemuan teknologi baru dewasa ini telah menyebabkan harapan hidup (life expectancy) banyak produk menjadi semakin singkat. Dibutuhkan ketrampilan tersendiri untuk berantisipasi dengan perubahan-perubahan yang cepat terjadi di sekitar Anda.

Lebih Pada Seninya

An art or a science? Liku-liku pemasaran dan distribusi lebih banyak mengandung unsur seninya ketimbang ilmu. Faktor kemujuran dan ketepatan waktu juga lebih banyak berbicara. Taruhlah Anda seorang yang berbakat, lebih sukses dari manajer terdahulu, menguasai seluk beluk pasar, jarang meleset dalam perkiraan, punya visis tajam mengenai keinginan konsumen, tapi Anda tidak menemukan tenaga-tenaga pelaksana yang bisa mendukung kehebatan Anda, semua itu percuma.
Jangan heran. Dunia distribusi adalah hutan belantara yang tidak indah. la merupakan lahan tersendiri yang sama sekali berbeda dengan proses produksi. Setelah produk keluar dari pintu perusahaan, Anda boleh dikatakan tidak lagi berhubungan de¬ngan atasan atau bawahan di kantor, tetapi langsung dengan masyarakat luar yang pluralistik. Namun bukannya tidak bisa ditelusuri.
Niike D’Amico — seorang pfofesor di bidang pemasaran memberi perangkat untuk mengukur kekuatan distribusi pasar:
• Berapa jumlah pelanggan potensial.
• Kompleksitas produk.
• Anggaran distribusi.
• Pengalaman para penjual, dan tempat penyebaran pro¬duk.
• Dan, terpenting, apa kehendak dan harapan konsu¬men.
• Semakin mahal harga satuan, semakin “rewel” kon¬sumen mengkritik produk itu, dan semakin ia ingin mengetahui sumber asal barang tersebut.
Lalu, bisakah Anda menanamkan kepercayaan pada agen dan distributor? Bahkan penjual kelas satu pun tidak berani menjamin pekerjaan yang terbaik bagi produk Anda. “Mereka akan menjual bila itu memberi keuntungan layak,” katanya. Tapi tidak semata keuntungan. Tugas seorang manajer ialah senantiasa berusaha membangkitkan antusias penjual. Di situ seninya.


Tips Membuka Usaha Sendiri

Apa tantangan paling berat dalam memulai usaha sendiri? Bukan tidak ada modal, bukan tidak ada ide baru. Yang paling sulit adalah mempertahankan endurance berbisnis, tetap bertahan dalam usaha meskipun menghadapi banyak tantangan. Bagaimana cara memulai bisnis sendiri supaya tidak mudah menyerah ? Membuka usaha sendiri membutuhkan waktu, tidak bisa instan. Ada proses yang harus dilalui. Mulai dari memikirkan ide awal, membuka, memperkenalkan dan mempromosikan usaha tersebut. Dalam proses ini, banyak sekali tantangan dan rintangan. Baik dari internal pebisnis sendiri maupun yang datang dari eksternal Tantangan ini tidak jarang menyebabkan pebisnis layu sebelum berkembang. Tidak kuat dan stress melihat usaha yang dibangun lambat tumbuh, penjualan seret, sementara dana dan tenaga sudah banyak dicurahkan.
Akhirnya memilih mundur, menyerah. Ibarat kepompong, usahanya gagal menjadi kupu – kupu yang bisa terbang.Statistik dari beberapa survei enterpreunership menunjukkan bahwa sebagian besar pebisnis yang buka usaha sendiri, gagal pada tahap awal. Saya menduga bahwa kegagalan mempertahankan endurance menjadi penyebab utama banyak pebisnis pemula gugur di masa – masa awal. Namun, bukan berarti bahwa endurance bisnis tidak bisa dilatih atau dibangun. Buktinya, pengusaha yang sekarang sukses, umumnya bisa bertahan dan lolos dari masa – masa paling kelam.
Berikut catatan mengenai bagaimana membangun dan mempertahankan endurance berbisnis, supaya bisa tetap fokus saat buka usaha, meskipun kesulitan dan tantangan datang bertubi.

1. Punya Mimpi Besar.
Mimpi mampu memindahkan gunung, begitu kata salah satu kiasan. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh mimpi,  termasuk dalam berusaha. Makanya, saat memutuskan usaha sendiri, kita sebaiknya punya mimpi atau cita – cita yang jelas dan spesifik yang menjadi raison d etre memulai bisnis sendiri.
Mimpi tersebut sebaiknya sesuatu yang pantas, worthed, untuk dikejar dan diperjuangkan. Jika tidak, mimpi akan mudah dikalahkan atau dinomorduakan oleh tekanan dari kebutuhan dan tuntutan jangka pendek yang biasanya terlihat lebih urgen untuk dipenuhi.
Ketika berondongan kesulitan muncul, mimpi menjadi penyemangat yang menopang kita untuk tidak menyerah, tetapi malahan mencari jalan keluar. Mimpi menjadi benteng terakhir.
Beberapa motivator terkenal menyarankan bahwa mimpi tersebut harus spesik dan jelas. Dituliskan dalam secarik kertas, kemudian diresapi dan diingat setiap waktu. Dengan demikian, cita – cita itu terinternalisasi dalam diri secara kuat dan mengakar.

2. Bekerja berdasarkan Passion
Bekerja karena dorongan cinta atau hobi pasti hasilnya akan berbeda. Ada keinginan kuat memberikan yang terbaik. Kasarnya, tidak dibayar pun, kita mau mengerjakan hal tersebut.
Passion merupakan penyemangat yang manjur saat bisnis sedang susah. Walaupun penjualan sedang merosot, tetapi karena melakukannya bukan karena tuntutan keuntungan,  namun karena memang menyukainya, kita akan terus berkarya memberikan yang terbaik.
Konsistensi berkarya pada ujungnya akan mendatangkan apresiasi. Sebaliknya, jika bisnis dilakukan karena harapan akan kekayaan semata, ketika muncul tantangan atau kesulitan, yang niscaya pasti ada dalam usaha, semangat pantang menyerah mudah luntur. Tidak ada motivasi dari dalam yang menjaga semangat. Umumnya, membangun usaha sendiri membutuhkan waktu. Jarang yang bisa berhasil dalam waktu pendek. Stamina untuk bertahan paling efektif  dalah motivasi yang muncul dari dalam. Itulah passion.

3. Belajar dari Orang Sukses
Banyaklah belajar dari orang – orang yang sudah berhasil. Dari mereka, kita akan paham bahwa jalan memulai usaha itu tidaklah mudah. Ada proses berliku, naik dan turun, terjal, yang mau tidak mau harus dilewati jika ingin berhasil.
Yang sukses pun pernah melewatinya. Mereka berhasil karena bisa bertahan. Coba dulu berhenti ditengah jalan, pasti keberhasilan yang mereka dapatkan sekarang tidak akan pernah terwujud.
Pengalaman orang sukses ini menjadi reminder yang kuat, menjadi pemompa semangat, ketika sedang lelah atau gundah. Kalau para pebisnis sukses saja butuh waktu dan bahkan butuh pengorbanan untuk bisa berhasil, wajar saja kita yang baru memulai usaha menghadapi masalah.
Makanya, hadir di seminar, mendengarkan talkshow di radio atau membaca di tabloid mengenai berbagai sharing kisah sukses adalah hal yang sebaiknya rutin dilakukan. Bukan hanya untuk menimba ilmu, tetapi lebih dari itu, menjadi booster semangat ditengah tantangan memulai usaha sendiri.

4. Pentingnya Support keluarga.
Saat bisnis sedang sulit, biasanya cash flow rumah tangga kena imbasnya. Yang dulunya bisa ke mall setiap minggu, atau berlibur ke setahun dua kali, sekarang harus dikurangi, atau bahkan dihapuskan sama sekali demi berhemat untuk keuangan usaha.
Keluarga yang paling merasakan dampaknya. Dan reaksi keluarga ikut menentukan terus tidaknya usaha tersebut.
Keluarga yang tidak mendukung pasti kerap mengeluh dan tidak mau kompromi. Saya melihat beberapa orang yang akhirnya mundur dari berbisnis karena tekanan dari keluarga, yang ingin tetap mempertahankan gaya hidup, tidak mau prihatin, padahal kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan.
Sebaliknya, keluarga yang mendukung, memberikan semangat dan yang paling penting mau ikut prihatin. Mereka paham bahwa kesulitan sekarang akan mendatangkan kebahagiaan yang lebih besar nantinya.
Makanya, ketika ingin mulai usaha, penting membicarakan dan bicara terbuka kepada keluarga. Menjelaskan bahwa memulai bisnis akan menghadapi masa – masa sulit diawal, tantangan yang tidak mudah, yang membutuhkan dukungan dan pengorbanan dari keluarga.
Kunci sukses memulai usaha sendiri, tidak hanya produk bagus, strategi pemasaran brilian dan business model, tetapi lebih dari itu, butuh kekuatan dan keuletan untuk terus bertahan. Bisnis itu penuh tantangan dan rintangan. Karena ketika pebisnis mundur sebelum sampai tujuan, segala strategi dan rencana yang jitu serta produk yang mumpuni menjadi sia – sia semuanya.
Beberapa tips untuk membuka usahasendiri :

1. Siapkan Mental
Hal pertama yang harus disiapkan adalah mental. Mental pengusaha berbeda dengan karyawan. Karyawan cenderung menghabiskan gaji bulanannya. Sedangkan, pengusaha harus menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Maka, ketika kita sudah memilih untuk membuka usaha, terapkanlah mental sebagai pengusaha.


2. Siapkan Modal
Apapun jenis usahanya, pasti memerlukan modal. Banyak pengusaha yang mengeluhkan modal. Sebenarnya, tak perlu dirisaukan. Dengan modal kecil pun kamu sudah bisa membuka usaha. Besarnya modal tergantung dari besar atau kecilnya usaha yang kamu jalankan.
Banyak usaha yang bisa dimulai dengan modal awal 2-10 juta rupiah. Jika masih kesulitan, ajaklah saudara atau teman untuk berbisnis bersama. Usahakan untuk tidak meminjam ke bank dahulu, sebab di awal usaha, apalagi jika usahanya belum terlalu besar, akan riskan jika sudah terbebani dengan utang.

3. Bidang Usaha
Tentukan bidang usaha yang akan kamu buka. Kamu bisa memilih bidang usaha yang belum pernah ada atau yang sudah banyak. Pada awalnya, orang merasa ragu untuk mulai membuka usaha, baik bidang yang belum pernah ada maupun yang sudah banyak dilakukan.
Membuka usaha di bidang yang belum pernah ada, belum tentu tidak sukses. Coba kamu lihat Aqua. Awalnya, perusahaan itu ragu untuk mengeluarkan produk air minum dalam kemasan botol. Saat pertama kali diperkenalkan, banyak pihak yang merasa produk tersebut tidak akan laku di pasaran. Apalagi belum pernah ada perusahaan yang menjual produk serupa.
Bahkan, banyak yang benar-benar yakin produk itu akan gagal. Mereka berpikir untuk apa membeli air minum yang harganya mahal, kalau bisa memasak sendiri di rumah. Ternyata, produk itu sukses besar. Bahkan banyak perusahaan lain yang mengekor.
Untuk bidang usaha yang sudah pernah ada, buatlah ciri khas atau kelebihan yang tidak dimiliki pengusaha lain. Sebagai contoh adalah butik milik Hughes. Meskipun usaha butik bertebaran di mana-mana, butik milik Hughes bisa sukses. Sebab, butik itu memiliki ciri khusus yaitu hanya menjual pakaian berukuran besar.

4. Lokasi
Lokasi merupakan peran penting dalam membuka usaha. Lokasi yang ramai diyakini akan membuat usahamu cepat dikenal dan menarik banyak peminat. Pilih lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan tempat aktivitas masyarakat, kantor, sekolah, atau kampus.
Namun, terkadang lokasi bisa “menipu”. Banyak bidang usaha yang laris manis dan sukses meskipun berada di tempat yang sepi. Ada juga bidang usaha yang mampu menembus pasar internasional meskipun barangnya diproduksi dari tempat berlokasi di gang sempit.
Karena itu, pikirkan baik-baik mengenai lokasi. Untuk usaha yang baru berdiri, jangan ragu untuk memanfaatkan ruangan yang ada di rumah. Banyak, lho, usaha yang sukses yang berawal dari garasi rumah.

5. Fokus
Fokuslah pada satu bidang usaha terlebih dahulu. Banyak pengusaha yang gagal saat mulai berkembang, karena tidak fokus pada peningkatan bisnis awal, melainkan terlalu banyak ingin mencoba bidang usaha lain.
Sebaiknya, bersabarlah dahulu agar satu bidang bisnis berjalan hingga sukses. Setelah itu, barulah melebarkan sayap ke bidang bisnis yang lain.

6. Cari Pelanggan
Kenalkan bidang usahamu ke luar. Sebarkan informasi barang dagangan atau usaha jasamu ke semua orang, agar bisa mendapatkan klien.
Caranya bisa melalui promosi dari mulut ke mulut. Ceritakan bidang usahamu kepada teman dekat. Lalu, mintalah bantuannya untuk menyebarkan ke teman-temannya. Dengan cara ini akan semakin banyak orang yang tahu tentang usahamu.
Bisa juga dengan cara membuat brosur dan menyebarkan dari rumah ke rumah. Cara ini cukup ampuh, lho. Selain brosur, buatlah plang yang dipasang di depan tempat usaha, serta di tempat-tempat strategis lainnya.
Selain dua cara itu, bisa juga dilakukan pemasangan iklan di internet. Di era cyber ini, banyak orang yang senang berbelanja dengan cara online, atau mencari informasi barang dan jasa yang dibutuhkan, melalui internet.

7. Cara Berbisnis
Sebenarnya, berbisnis itu mudah, kok. Contohnya, barang seharga Rp. 1.000. Tugasmu adalah menjualnya dengan harga lebih dari itu, misalnya Rp. 1.500. Intinya, dari sebuah barang, kamu bisa menjualnya dengan memperoleh keuntungan. Setelah itu, juallah barang tersebut sebanyak-banyaknya. Semakin banyak laku, semakin banyak pula keuntungan yang kamu dapatkan.

8. Pegawai
Pada awal membuka usaha, kamu hanya membutuhkan sedikit pegawai. Selain kamu sendiri yang mengurus usaha tersebut, kamu bisa melibatkan suami atau anggota keluarga yang lain untuk ikut mengelola. Tujuannya agar mereka dapat ikut merasa memiliki usaha tersebut. Setelah usahamu berkembang, kamu bisa mepekerjakan pegawai tambahan.
Tanpa memedulikan ukuran usaha Anda, pada akhirnya Anda akan merekrut karyawan dari luar. Untuk itu, lakukan proses rekrutmen dengan hati-hati, tanpa tergesa-gesa, dan perlakukan hal tersebut sepenting saat Anda memulai usaha. Sangat disayangkan sikap pemilik usaha yang punya visi untuk usahanya, tapi merekrut karyawan yang justru menghalanginya meraih visi tersebut.


9. Perencana Keuangan
Keuangan untuk membuka bidang usaha, tak hanya terpaku pada modal awal. Ketika usaha sudah berjalan, kamu harus pandai mengatur alur keluar masuknya uang. Pisahkan keuangan bisnis dengan keuangan pribadi. Banyak pengusaha yang gagal karena keuangan pribadi dan bisnis, tercampur aduk.

10.Perbudak diri sendiri.  
Jika Anda tidak bersedia bekerja keras, lembur, melupakan keuntungan pribadi dan kesehatan, maka wirausaha bukan untuk Anda. Pada awalnya, Anda pasti tidak akan mampu membayar karyawan, sekalipun karyawan yang murah. Jadi, karyawan Anda, adalah Anda sendiri

11. Risiko
Membangun bisnis, tentu saja ada risikonya. Namun, kalau kamu sudah menyadari risikonya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semakin maju usahamu, nama baikmu semakin dipertaruhkan. Karena itu, sambil menjaga kelangsungan bisnis, kamu juga harus terus menjaga nama baikmu. Sekali saja nama baikmu tercoreng, saat itu juga usaha yang telah kamu rintis, bisa hancur berantakan.

12. Antisipasi Kegagalan
Risiko kegagalan dalam berbisnis, selalu ada. Karena itu kamu dituntut untuk bersikap tegas dan cepat bertindak, terutama bila melihat sesuatu yang tak beres.
Untuk mengantisipasi kegagalan, buatlah aturan mengenai pengambilan keuangan. Pemilik usaha memang berhak mengambil uang dari perusahaan. Tapi, cara pengambilan dan jumlahnya, harus tersistem dengan jelas.
Begitu pula dengan operasional, harus memiliki sistem yang baku. Delegasikan tugas-tugas pada pegawai. Sehingga, apabila kamu berhalangan, bisnis tetap dapat berjalan. Semakin sedikit campur tangan pemilik dalam usahanya, berarti usaha tersebut semakin baik.
Semua tips sudah dikeluarkan. Sekarang, tinggal kamu yang mulai bergerak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

13. Hargai waktu.  
Beri nilai uang pada waktu Anda, misalnya Rp20 ribu perjam. Ini akan membantu saat Anda harus mengambil keputusan: Bila sebuah toko mengenakan biaya Rp10 ribu untuk pengiriman setiap minggu, dan Anda membutuhkan waktu 2 jam untuk pergi ke toko tersebut sendiri, maka bayar terus ongkos kirim dari perusahaan tersebut, karena lebih murah. Ini mungkin bertentangan dengan aturan ke 3, tapi bahkan budak sekalipun juga memiliki nilai ekonomi.

14. Perlakukan vendor dengan baik.  
Perlakukan vendor dan suplier Anda sebaik mungkin, seperti halnya Anda memperlakukan para pelanggan. Mereka bisa saja memberikan diskon berdasarkan besarnya volume pemesanan Anda, atau bahkan demi menjaga hubungan baik, serta berharap ada peningkatan volume di masa mendatang. Hubungan yang baik membuat mereka juga dapat memahami keterlambatan pembayaran, bahkan memberikan pengiriman gratis. 


15. Jadilah yang terbaik.  
Anda tidak boleh setengah-setengah.Setiap hal yang Anda lakukan untuk klien harus lah yangterbaik. Apapun yang Anda buat dan jual, haruslah yang terbaik. Lakukan itu terus menerus, dan kekuatan word of mouth akan menyebar.



Jumat, 14 November 2014

Pandangan Islam terhadap KDRT


baitijannati – Isu penindasan terhadap wanita terus menerus menjadi perbincangan hangat. Salah satunya adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perjuangan penghapusan KDRT nyaring disuarakan organisasi, kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination/CEDAW) melalui Undang-undang No 7 tahun 1984. Juga berdasar Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan yang dilahirkan PBB tanggal 20 Desember 1993 dan telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Bahkan di Indonesia telah disahkan Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang ‘Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga’.
‘Perjuangan’ penghapusan KDRT berangkat dari fakta banyaknya kasus KDRT yang terjadi dengan korban mayoritas perempuan dan anak-anak. Hal ini berdasar sejumlah temuan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan. Di Provinsi Banten misalnya, hingga pertengahan tahun 2004 terdapat 5.426 perempuan yang dilaporkan menjadi korban tindak kekerasan (KTK). 90 persen diantaranya menjadi korban kekerasan karena berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri (Tempo Interaktif, 3/5/04).
Sedangkan data yang terdapat di Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Kepolisian Kota Bandung menunjukkan bahwa selama 2003-2004 terdapat 60 kasus kekerasan fisik terhadap perempuan. Sementara data yang dihimpun oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) Kota Bandung memperlihatkan bahwa periode Mei–Desember 2004 sudah terdapat 36 kasus kekerasan terhadap perempuan. Dengan perincian, 3 kasus perkosaan, 7 kasus kekerasan fisik, 26 kasus kekerasan psikis dan penelantaran ekonomi.
Mengingat korban kekerasan yang kebanyakan berjenis kelamin wanita itulah, para propagandis anti-KDRT beranggapan bahwa KDRT adalah masalah gender, yakni disebabkan adanya ketidak-adilan gender. Adanya subordinasi perempuan telah menempatkan mereka sebagai korban kekerasan oleh pria. Dan, ajaran agama (baca: Islam) dituduh melanggengkan budaya ini. Beberapa syariat Islam dicap sebagai upaya mensubordinasikan posisi wanita, sehingga menjadi pemicu bagi kaum pria untuk memperlakukan wanita semena-mena, yang berujung pada tindak kekerasan.
Menurut para propagandis ini, poligami dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap wanita karena wanita ditempatkan pada posisi ‘nomor dua’. Menurut mereka jilbab juga merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan wanita. Perintah istri untuk taat kepada suami pun dianggap  sebagai pendorong suami untuk berbuat sewenang-wenang dan memenjarakan wanita dalam rumah tangga. Kebolehan memukul istri atau anak dalam rangka mendidik mereka, dituduh sebagai penganiayaan. Ajaran sunat bagi anak perempuan juga dianggap bentuk kekerasan fisik terhadap perempuan. Sebaliknya, bagi kaum feminis, seorang perempuan tidak wajib untuk taat kepada suaminya, wanita tidak boleh dikekang untuk keluar rumah, suami harus membebaskan istrinya bekerja, pelacur dibela karena dianggap sebagai korban eksploitasi seksual, dll.
Para propagandis beranggapan, untuk menghapuskan KDRT maka perempuan harus disejajarkan dengan pria. Relasi suami-istri dalam kehidupan rumah tangga haruslah seimbang, di mana istri memiliki kewenangan yang tidak harus bersandar kepada suami. Dari sinilah maka arah perjuangan penghapusan KDRT adalah untuk memperjuangkan hak-hak wanita menuju gender equality.
Kekerasan = Kriminalitas
Kekerasan terhadap wanita adalah bentuk kriminalitas (jarimah). Pengertian kriminalitas (jarimah) dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam dan termasuk kategori kejahatan. Sementara kejahatan dalam Islam adalah perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara’, bukan yang lain. Sehingga apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap wanita harus distandarkan pada hukum syara’.
Disinilah kekeliruan mendasar dari kelompok Feminis, yang menganggap kejahatan diukur berdasarkan kepada gender (jenis kelamin) korban atau pelakunya, bukan pada hukum syara’. Mereka membela pelacur, karena dianggap sebagai korban. Sebaliknya mereka menuduh poligami sebagai bentuk kekerasan terhadap wanita, dengan anggapan wanita telah menjadi korbannya.
Padahal, kejahatan bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Pasalnya, kejahatan bisa menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Pelakunya juga bisa laki-laki dan bisa pula perempuan. Dengan demikian Islam pun menjatuhkan sanksi tanpa melihat apakah korbannya laki-laki atau perempuan. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau perempuan, tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah SWT atau tidak.
Kekerasan juga bukan disebabkan sistem patriarki atau karena adanya subordinasi kaum perempuan, karena laki-laki maupun perempuan mempunyai peluang yang sama sebagai korban. Kalaupun data yang tersedia lebih banyak menyebutkan wanita sebagai korban, itu semata-mata karena data laki-laki sebagai korban kekerasan tidak tersedia. Dengan begitu kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki atau perempuan. Gagasan anti-KDRT dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap hak-hak wanita pada akhirnya justru bias gender.

Lebih dari itu, kekerasan atau kejahatan sendiri dipicu oleh dua hal:

Pertama, faktor individu. Tidak adanya ketakwaan pada individu-individu, lemahnya pemahaman terhadap relasi suami-istri dalam rumah tangga, dan karakteristik individu yang temperamental adalah pemicu bagi seseorang untuk melanggar hukum syara’, termasuk melakukan tindakan KDRT.

Kedua, faktor sistemik. Kekerasan yang terjadi saat ini sudah menggejala menjadi penyakit sosial di masyarakat, baik di lingkungan domestik maupun publik. Kekerasan yang terjadi bersifat struktural yang disebabkan oleh berlakunya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan masyarakat, mengabaikan nilai-nilai ruhiyah dan menafikkan perlindungan atas eksistensi manusia. Tak lain dan tak bukan ialah sistem kapitalisme-sekular yang memisahkan agama dan kehidupan.

Penerapan sistem itu telah meluluh-lantakkan sendi-sendi kehidupan asasi manusia. Dari sisi ekonomi misalnya, sistem kapitalisme mengabaikan kesejahteraan seluruh umat manusia. Sistem ekonomi kapitalistik menitikberatkan pertumbuhan dan bukan pemerataan. Pembangunan negara yang diongkosi utang luar negeri, dan merajalelanya perilaku kolusi dan korupsi pada semua lini pemerintahan, telah meremukkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Tak kurang 70% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Himpitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan kejahatan, termasuk munculnya KDRT. Banyak kasus KDRT menimpa keluarga miskin, dipicu ketidakpuasan dalam hal ekonomi.
Dari sisi hukum, ketiadaan sanksi yang tegas dan membuat jera pelaku telah melanggengkan kekerasan atau kejahatan di masyarakat. Seperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan, pelaku perzinaan yang malah dibiarkan, dll. Dari sisi sosial-budaya, gaya hidup hedonistik yang melahirkan perilaku permisif, kebebasan berperilaku dan seks bebas, telah menumbuh-suburkan perilaku penyimpangan seksual seperti homoseksual, lesbianisme dan hubungan seks disertai kekerasan.
Dari sisi pendidikan, menggejalanya kebodohan telah memicu ketidak-pahaman sebagian masyarakat mengenai dampak-dampak kekerasan dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku santun. Ini akibat rendahnya kesadaran pemerintah dalam penanganan pendidikan, sehingga kapitalisasai pendidikan hanya berpihak pada orang-orang berduit saja. Lahirlah kebodohan secara sistematis pada masyarakat. dan kemerosotan pemikiran masyarakat, sehingga perilakupun berada pada derajat sangat rendah.
Untuk persoalan sistemik ini, dibutuhkan penerapan hukum yang menyeluruh oleh negara. Kalau tidak akan terjadi ketimpangan. Sebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran, kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki. Sebab, tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. Kekerasaan dalam rumah tangga, kalau hanya dilihat dari istri harus mengabdi kepada suami, pastilah timpang. Padahal dalam Islam, suami diwajibkan berbuat baik kepada istri. Kekerasaan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan sanksi diyat. Disinilah letak penting tegaknya hukum yang tegas dan menyeluruh.
Perlu pula diingat, kejahatan bukan sesuatu yang fitri (ada dengan sendirinya) pada diri manusia. Kejahatan bukan pula profesi yang diusahakan oleh manusia,  juga bukan penyakit yang menimpa manusia. Tapi kejahatan adalah setiap hal yang melanggar peraturan Allah SWT, siapapun pelakunya, baik laki-laki maupun wanita.

Sanski Pelaku Jarimah
Kekerasan terjadi baik di lingkungan keluarga maupun di luar rumah tangga. Dan semua bentuk kriminalitas, baik di lingkup domestik maupun publik akan mendapatkan sanksi sesuai jenis kriminalitasnya, baik pelakunya laki-laki maupun perempuan. Semisal bagi orang yang menuduh wanita berzina tanpa bukti, pelakunya dihukum oleh Islam. Perkara ini termasuk dalam hukum qodzaf, dimana pelakunya bisa dihukum 80 kali cambukan  (Qs. an-Nûr [24]: 4).
Pelacuran merupakan tindakan kriminalitas, dimana wanita yang melakukannya akan diberikan sanksi hukum, demikian juga lelakinya yang pezina. Islam tidak memandang apakah korban atau pelakunya laki-laki atau perempuan. Pelacuran, bagaimanapun tetap perbuatan tercela, tidak perduli laki-laki atau perempuan.
Sebaliknya, poligami bukanlah bentuk kekerasan terhadap wanita karena tidak dilarang oleh syariat Islam. Tapi menyakiti wanita dengan memukulnya sampai terluka, adalah merupakan kekerasan terhadap wanita, baik dia monogami atau poligami. Karena memukul wanita sampai dirinya terluka adalah perbuatan melanggar aturan Allah SWT.
Berdasarkan syariat Islam ada beberapa bentuk kekerasan atau kejahatan yang menimpa wanita dimana pelakunya harus diberikan sanksi yang tegas. Namun sekali lagi perlu ditegaskan kejahatan ini bisa saja menimpa laki-laki, pelakunya juga bisa laki-laki atau perempuan. 
Berikut ini beberapa perilaku jarimah dan sanksinya menurut Islam terhadap pelaku:

1. Qadzaf, yakni melempar tuduhan. Misalnya menuduh wanita baik-baik  berzina tanpa bisa memberikan bukti yang bisa diterima oleh syariat Islam. Sanksi hukumnya adalah 80 kali cambukan. Hal ini berdasarkan firman Alah SWT: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat saksi, maka deralah 80 kali.” (Qs. an-Nûr [24]: 4-5).

2. Membunuh, yakni ‘menghilangkan’ nyawa seseorang. Dalam hal ini sanksi bagi pelakunya adalah qishos (hukuman mati). Firman Allah SWT: “Diwajibkan atas kamu qishos berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Qs. al-Baqarah [2]: 179).

3. Mensodomi, yakni menggauli wanita pada duburnya. Haram hukumnya sehingga pelaku wajib dikenai sanksi. Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak akan melihat seorang laki-laki yang mendatangi laki-laki (homoseksual) dan mendatangi istrinya pada duburnya.” Sanksi hukumnya adalah ta’zir, berupa hukuman yang diserahkan bentuknya kepada pengadilan yang berfungsi untuk mencegah hal yang sama terjadi.

4. Penyerangan terhadap anggota tubuh. Sanksi hukumnya adalah kewajiban membayar diyat (100 ekor unta), tergantung organ tubuh yang disakiti. Penyerang terhadap lidah dikenakan sanksi 100 ekor unta, 1 biji mata 1/2 diyat (50 ekor unta), satu kaki 1/2 diyat, luka yang sampai selaput batok kepala 1/3 diyat, luka dalam 1/3 diyat, luka sampai ke tulang dan mematahkannya 15 ekor unta, setiap jari kaki dan tangan 10 ekor unta, pada gigi 5 ekor unta, luka sampai ke tulang hingga kelihatan 5 ekor unta (lihat Nidzam al-’Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki).

5. Perbuatan-perbuatan cabul seperti berusaha melakukan zina dengan perempuan (namun belum sampai melakukannya) dikenakan sanksi penjara 3 tahun, ditambah jilid dan pengusiran. Kalau wanita itu adalah orang yang berada dalam kendalinya, seperti pembantu rumah tangga, maka diberikan sanksi yang maksimal

6. Penghinaan. Jika ada dua orang saling menghina sementara keduanya tidak memiliki bukti tentang faktanya, maka keduanya akan dikenakan sanksi penjara sampai 4 tahun (lihat Nidzam al-’Uqubat, Syaikh Dr. Abdurrahman al-Maliki).

Jarimah vs Ta’dib
Dalam konteks rumah tangga, bentuk-bentuk kekerasan memang seringkali terjadi, baik yang menimpa istri, anak-anak, pembantu rumah tangga, kerabat ataupun suami. Misal ada suami yang memukuli istri dengan berbagai sebab, ibu yang memukul anaknya karena tidak menuruti perintah orang tua, atau pembantu rumah tangga yang dianiaya majikan karena tidak beres menyelesaikan tugasnya. Semua bentuk kekerasan dalam rumah tangga itu pada dasarnya harus dikenai sanksi karena merupakan bentuk kriminalitas (jarimah).
Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada Allah Swt. Hal ini sesuai firman Allah Swt yang artinya: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs. at-Tahrim [66]: 6). Dalam mendidik istri dan anak-anak ini, bisa jadi terpaksa dilakukan dengan “pukulan”. Nah, “pukulan” dalam konteks pendidikan atau ta’dib ini dibolehkan dengan batasan-batasan dan kaidah tertentu yang jelas.
Kaidah itu antara lain: pukulan yang diberikan bukan pukulan yang menyakitkan, apalagi sampai mematikan; pukulan hanya diberikan jika tidak ada cara lain (atau semua cara sudah ditempuh) untuk memberi hukuman/pengertian; tidak baleh memukul ketika dalam keadaan marah sekali (karena dikhawatirkan akan membahayakan); tidak memukul pada bagian-bagian tubuh vital semisal wajah, kepala dan dada; tidak boleh memukul lebih dari tiga kali pukulan (kecuali sangat terpaksa dan tidak melebihi sepuluh kali pukulan); tidak boleh memukul anak di bawah usia 10 tahun; jika kesalahan baru pertama kali dilakukan, maka diberi kesempatan bertobat dan minta maaf atas perbuatannya, dll.
Dengan demikian jika ada seorang ayah yang memukul anaknya (dengan tidak menyakitkan) karena si anak sudah berusia 10 tahun lebih namun belum mengerjakan shalat, tidak bisa dikatakan ayah tersebut telah menganiaya anaknya. Toh sekali lagi, pukulan yang dilakukan bukanlah pukulan yang menyakitkan, namun dalam rangka mendidik.
Demikian pula istri yang tidak taat kepada suami atau nusyuz, misal tidak mau melayani suami padahal tidak ada uzur (sakit atau haid), maka tidak bisa disalahkan jika suami memperingatkannya dengan “pukulan” yang tidak menyakitkan. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah, maka bila suami melarangnya ke luar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini bukan berarti suami telah menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat pada syariat.
Semua itu dikarenakan istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara’. Rasulullah Saw menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” [HR. Ahmad 1/191, di-shahih-kan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ No 660, 661).
Namun di sisi lain, selain kewajiban taat pada suami, wanita boleh menuntut hak-haknya seperti nafkah, kasih sayang, perlakuan yang baik dan sebagainya. Seperti firman Allah SWT: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Qs. al-Baqarah [2]: 228).
Relasi Suami-Istri dalam Rumah Tangga
Kehidupan rumah tangga adalah dalam konteks menegakkan syariat Islam, menuju ridho Allah Swt. Suami dan istri harus saling melengkapi dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang harmonis menuju derajat takwa. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah [9]: 71).
Sejalan dengan itu dibutuhkan relasi yang jelas antara suami dan istri, dan tidak bisa disamaratakan tugas dan wewenangnya. Suami berhak menuntut hak-haknya, seperti dilayani istri dengan baik. Sebaliknya, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya, memberikan nafkah yang layak dan memperlakukan mereka dengan cara yang makruf.
Allah SWT berfirman dalam Qs. an-Nisâ’ [4]: 19: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menghalangi mereka kawin dan menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 19).
Nash ini merupakan seruan kepada para suami agar mereka mempergauli isteri-isteri mereka secara ma’ruf. Menurut ath-Thabari, ma’ruf adalah menunaikan hak-hak mereka.  Beberapa mufassir menyatakan bahwa ma’ruf adalah bersikap adil dalam giliran dan nafkah; memperbagus ucapan dan perbuatan.  Ayat ini juga memerintahkan menjaga keutuhan keluarga. Jika ada sesuatu yang tidak disukai pada diri isterinya, selain zina dan nusyuz, suami diminta bersabar dan tidak terburu-buru menceraikannya. Sebab, bisa jadi pada perkara yang tidak disukai, terdapat sisi-sisi kebaikan.
Jika masing-masing, baik suami maupun istri menyadari perannya dan melaksanakan hak dan kewajiban sesuai syariat Islam, niscaya tidak dibutuhkan kekerasan dalam menyelaraskan perjalanan biduk rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat terhindarkan karena biduk rumah tangga dibangun dengan pondasi syariat Islam, dikemudikan dengan kasih sayang dan diarahkan oleh peta iman. Wallahu’alam bi shawab.

Written by :  Asri Supatmiati
https://baitijannati.wordpress.com/2007/02/02/pandangan-islam-terhadap-kekerasan-dalam-rumah-tangga/