Jumat, 21 November 2014

Wisata RIAU



Sejauh-jauh khayalan, pernahkan Anda membayangkan dapat berselancar (surfing) di sungai? Kebanyakan orang mungkin akan meremehkan khayalan dan menganggap Anda mengada-ada. Akan tetapi, kenyataannya berselancar di sungai sungguh bukan sekedar mimpi di siang bolong. Sungai yang satu ini memang jelas berbeda dan spesial karena bahkan tidak semua laut berombak dapat dijadikan tempat berselancar.

Riau berada di bagian Timur Pulau Sumatra dan merupakan rumah bagi bangsa Melayu. Karya sastra Melayu pertama yaitu Bustanul Katibin ditulis oleh Raja Ali Haji (1850-1851 M) dan diterbitkan di Riau tahun 1857. Buku ini merupakan kitab kompilasi juru tulis bagi kanak-kanak yang mendeskripsikan tata cara penulisan bahasa Melayu dengan ejaan Arab-Melayu (Jawi).
Dari wilayah Riau inilah lahir dasar bagi Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu Riau sebagai bahasa pengantar utama masyarakat Riau mempunyai sejarah yang cukup panjang, karena pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada Zaman Kerajaan Sriwijaya, Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa internasional Lingua franca di kepulauan Nusantara, atau sekurang-kurangnya sebagai bahasa perdagangan di Kepulauan Nusantara.
Provinsi Riau secara geografis, geoekonomi dan geopolitik terletak pada jalur yang sangat strategis karena terletak pada jalur perdagangan Regional dan Internasional. Ibu kota Riau sejak tahun 1959 adalah Pekanbaru dimana sebelumnya berada di Tanjung Pinang yang terletak di Pulau Bintan.
Provinsi Riau sebelum dimekarkan menjadi 2  provinsi mempunyai luas 235.306 Kilometer persegi atau 71,33 persen merupakan daerah lautan dan hanya 94.561,61 Kilometer persegi atau 28,67 persen daerah daratan. Setelah terjadi pemekaranan wilayah dengan terbentuknya Provinsi Kepulauan Riau pada 1 Juli 2004 menjadi provinsi ke 32 di Indonesia maka Provinsi Riau yang dulunya terdiri dari 16 Kabupaten/Kota sekarang hanya tinggal 11 Kabupaten/Kota.
Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau serta musim hujan. Rata-rata hujan per tahun sekitar 160 hari. Suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru menunjukkan optimum pada 27,6° Celcius dalam interval 23,4-33,4° Celcius.
Riau memiliki banyak objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Sebut saja Pulau Jemur yang merupakan gugusan pulau-pulau yang indah terletak 45 mil dari Bagansiapiapi. Anda dapat juga menjelajahi alam bebas di Taman Nasional bukit Tiga Puluh dengan kekayaan dan keunikan ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah yang merupakan peralihan hutan rawa dan hutan pegunungan.
Ada juga objek wisata Bono, terletak di Desa Teluk Meranti, sebuah lokasi dengan fenomena air laut yang mengalir masuk dan bertemu dengan air Sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari. Hal yang menarik turis ke objek wisata ini adalah kegiatan berenang, memancing, naik sampan, dan wisata bahari lainnya yang mengesankan.
Pantai Rupat Utara Tanjung Medang menawarkan Anda pesona harmoni alam pesisir dengan pasir putih dan bersih, kejernihan air laut, dan deburan ombak yang berukuran sedang, sebuah tempat sempurna untuk berwisata bahari. Ada juga Air terjun Aek Mertua yang sering disebut air terjun tangga seribu karena memilki air terjun yang bertingkat-tingkat, sungguh mengagumkan untuk dinikmati.
Objek wisata bahari di Kabupaten Siak yang memiliki panorama indah menawan. Di sekitar danau masih ditemukan hutan yang masih asli. Kondisi danau maupun hutan di sekitar danau berstatus Suaka Marga Satwa luasnya mencapai 2.500 hektar. Di sini masih terdapat berbagai aneka jenis satwa dan tumbuhan langka. Sumber daya hayati yang terdapat di danau ini seperti pinang merah, ikan arwana dan ikan Balido yang dilindungi. Keanekaragaman jenis satwa liar di Suaka Marga Satwa danau Pulau Besar dan danau Bawah merupakan kekayaan tersendiri sebagai objek wisata di Riau Daratan.
Bila Anda tertarik dengan wisata budaya dan wisata sejarah dipastikan tersedia hal menarik di Riau. Seperti Upacara Bakar Tongkang telah menjadi wisata nasional bahkan internasional. Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi, Perahu Baganduang, Ritual Petang Megang, Masjid An-Nur di Pekanbaru, Masjid Raya Senapelan, Gedung Juang 45 Riau, Istana Siak Sri Indrapura, Candi Muara Takus, dan Benteng Tujuh Lapis.
Ada oleh-oleh yang tepat untuk Anda bawa pulang selepas mengunjungi Riau yaitu kerajinan daerahnya. Salah satu bentuk kerajinan daerah Riau adalah anyaman yang beraneka ragam erat hubungannya dengan kebutuhan hidup manusia. Kerajinan anyaman dibuat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah dan daun Rumbia. Hasil anyaman ini berupa; bakul, sumpit, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai, pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah berupa tenunan yang sangat terkenal yaitu tenunan Siak. Tenunan siak ini mempunyai motif yang khas, sehingga nilai jualnya juga cukup tinggi. Tenunan ini biasanya dikerjakan dengan peralatan tradisional. Bila Anda ingin wisata belanja maka dapat mengunjungi Pasar Bawah, Pasar tradisional  dan pasar terapung di Tembilahan.
Bila Anda tertarik dengan wisata minat khusus maka dapat mengunjungi Balai Adat Melayu Riau dan Balai Adat Melayu Indragri Hulu, desa wisata Buluh Cina, atau Tugu Tepak Sirih di Dumai.
Pastikan Anda mengunjungi objek wisata lainnya di Riau mulai kota dari Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Rokan Hulu, dan Rokon Hilir. 

Sungai Kampar: Dahsyatnya Gelombang Tujuh Hantu di Riau 
Sungai unik dan fenomenal sebab hadirnya gelombang (tidal bore) dahsyat yang dapat ditunggangi para peselancar handal adalah ada nyata di Sungai Kampar. Lokasinya dapat Anda temukan di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Gelombang (arus pasang air laut) yang menjadikan Sungai Kampar kini kian popular dan menjadi spesial adalah Gelombang Bono.
Sungai Kampar: Dahsyatnya Gelombang Tujuh Hantu di RiauBono adalah fenomena alam yang terjadi akibat bertemunya arus pasang air laut dengan arus pasang air sungai. Fenomena ini hanya terjadi pada waktu tertentu, yaitu yaitu saat  bulan purnama atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai bulan besar. Bulan purnama terjadi setiap tanggal 10-20 dalam perhitungan bulan Melayu (Arab) atau pada kisaran bulan Agustus-Desember. Pada saat bulan  kecil (musim pasang mati), Bono nyaris tidak ada.
Terbentuknya gelombang Bono didukung kondisi alam dimana terdapat penyempitan pertemuan arus sebab adanya sebuah pulau muda yang membelah bagian muara Sungai Kampar. Kemunculan Bono biasanya ditandai terdengarnya suara gemuruh seperti guntur diiringi hembusan angin yang kencang, disusul terbentuknya  gelombang dan ombak besar bergulung-gulung.
Bono berkecepatan tinggi hingga mencapai 40 km/jam, bergerak dari arah muara menuju hulu sungai atau diawali dari Pulau Muda sampai dengan Teluk Binjai di Sungai Kampar. Ketinggian gelombangnya bisa mencapai 4-6 m saat musim pasang tinggi.
Bono dikenal juga dengan sebutan gelombang tujuh hantu (Seven Ghosts). Hal tersebut dikarenakan gelombang yang dihasilkan bisa mencapai tujuh lapis gelombang berurutan dan bahkan dapat menciptakan kubah (barrel), tak ubahnya gelombang di laut. Uniknya lagi, gelombang ini bahkan bergulung-gulung dalam durasi waktu yang jauh lama (bisa hingga 2 jam) apabila dibandingkan dengan gelombang di lautan biasanya memanjakan peselancar hanya dalam bilangan menit saja. Karena kehebatannya, gelombang Bono tidak disarankan untuk peselancar pemula.
Bono pertama kali ditemukan beberapa peselancar internasional yang berasal dari Perancis dan Brazil yang langsung menjajal kedahsyatan Bono. Sejak saat itu, Bono mulai dilirik lebih banyak peselancar nasional dan internasional.
Keberadaan gelombang Bono adalah objek wisata yang terbilang baru dan masih terus dikembangkan Pemerintah Riau. Kelangkaan dan keunikan sebuah destinasi wisata seperti ini sudah pasti berpotensi menarik wisatawan lebih banyak dibanding destinasi atau objek wisata umumnya, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, terutama peselancar.
Pada 9-14 Februari 2013, Bono akan menjadi sorotan dunia dan akan tercatat dalam Guinness World Records. Hal tersebut dikarenakan Sungai Kampar menjadi lokasi pemecahan rekor berselancar terlama dan terpanjang kelas dunia dalam menunggangi gelombang Bono. 

Istana Siak : Istana Matahari Timur yang Menawan 
Sebuah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau telah meninggalkan jejak yang cantik di muka bumi. Itulah Istana Siak yang berada di Kabupaten Siak, Riau. Istana ini dibangun saat kepemimpinan Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889.
Di Istana Siak Anda dapat melihat beragam koleksi warisan kerajaan berupa kursi singgasana yang bersepuh emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan, tombak, payung kerajaan, patung perunggu Ratu Wihemina, serta alat musik komet yang hanya ada dua di dunia. Saat ini beberapa koleksi benda antik dari Istana Siak Sri Indrapura disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Istana Siak memiliki perpaduan arsitektur  Melayu-Arab-Eropa. Dijuluki sebagai Istana Matahari Timur dan bernama asli Assiyaratul Hasyimiah. Pada dinding istananya dihiasi keramik yang didatangkan dari Prancis. Bangunan istana ini berlantai dua, dimana di lantai bawah terbagi menjadi 6 ruangan sidang, ruang tamu kehormatan, ruang tamu untuk laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, dan ruang sidang kerajaan sekaligus ruang pesta. Sementara lantai atas meliputi 9 ruangan untuk Sultan dan ruang untuk tamu kerajaan.
Istana ini kini sekarang difungsikan sebagai perkantoran, rumah tinggal, penginapan, dan toko oleh penduduk. Istana Siak dan ratusan benda pusaka di dalamnya dikelola Yayasan Amanah Sultan Syarif Kasim dimana pengurusnya masih keturunan Sultan Siak.
Kerajaan Siak sendiri merupakan kerajaan yang berdiri lebih dari dua abad, yaitu tahun 1723 hingga 1946. Kerajaan Siak awalnya adalah pecahan dari Kerajaan Melayu yaitu antara Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (Raja Kecil) dan Sultan Suleiman yang dibantu oleh Bugis. Sultan Abdul Jalil akhirnya tersingkir dan berpindah tempat yaitu ke Johor, Bintan, Bengkalis, hingga akhirnya ke pedalaman Sungai Siak, di Buantan sekitar 10 km di hilir kota Siak Sri Indrapura sekarang. Kerajaan Siak berkali-kali berpindah ibu kota yaitu di Buantan, Mempura, Senapelan, Mempura, dan terakhir di Kota Tinggi atau Siak Sri Indrapura.
Temukan beragam kisah dan ilmu penuh makna dari istana ini. Anda akan diajak berwisata ke rangkuman sejarah, budaya, dan wawasan ilmiah yang mengagumkan.
Jam buka Istana Siak adalah Senin-Kamis dan Sabtu, pukul 09.00-16.00 WIB. Pada Jumat tutup pukul 09.00-11.00 dan buka kembali pukul 13.45-16.00 WIB. Tiket masuk  untuk dewasa Rp3.000,00 dan anak-anak Rp2.000,00. 

Candi Muara Takus 
Terletak 122 km dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, kompleks candi Muara Takus (atau Candi Muara Takus) dibangun di dekat sungai Kampar Kanan. Muara Takus memiliki bangunan bata terbesar di Sumatera ditemukan di hutan terpencil.

Candi utama Mahligai adalah sebuah stupa tinggi yang diapit oleh beberapa reruntuhan batu bata tempat suci lainnya. Bentuk tinggi candi ini berbeda dari stupa Budha berbentuk lonceng yang ditemukan di Jawa. Candi ini terbuat dari batu sungai, batu bata pasir, tanah dan dipugar pada tahun 1980.

Kompleks ini dikelilingi oleh dinding 74m x 74 m, dengan benteng tanah ukuran 1,5 km x 15 km yang mengelilingi, membentang ke tepi sungai Kampar Kanan. Di dalam dinding ditemukan Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka. Dalam kompleks ini juga ditemukan gundukan yang diyakini menjadi tempat untuk kremasi.
                     
Candi Budha ini tetap menimbulkan teka-teki bagi arkeolog mengenai kapan candi ini benar-benar dibangun,  mereka memperkirakan dibangun pada abad ke 2, 4 , 7 atau 9.
Namun demikian, diketahui bahwa selama abad ke-10, kerajaan Sriwijaya yang terletak di selatan di dekat Palembang merupakan pusat pembelajaran yang berkembang untuk ajaran Budha, di mana peziarah Cina mengatakan bahwa harus belajar di Sumatera terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke India.
Batu bata Muara Takus dikatakan dibuat di desa Ponkai di atas kompleks candi, di mana penduduk membawa batu bata, mengoper kepada satu sama lain dalam antrian panjang sepanjang jalan menuju kompleks. Ini berarti bahwa candi dibangun bersama-sama oleh penduduk.

Kompleks Muara Takus adalah kompleks candi yang hanya ditemukan di Riau, bukti bahwa Buddhisme telah menyebar di sini selama abad-abad pertama. 


Taman Nasional Tesso Nilo : Paru-Paru Bumi di Sumatera 
Berada di Provinsi Riau, Tesso Nilo merupakan hutan hujan dataran rendah terluas di Pulau Sumatera. Dengan luas area mencapai 83.068 hektar, kawasannya membentang sepanjang 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Palalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Sengingi, dan Kampar. Rencananya Tesso Nilo akan diperluas lagi hingga 100.000 hektar dan berfungsi sebagai paru-paru dunia.


Riau memiliki area hutan yang luas tetapi karena kebakaran dalam skala besar dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit maka kini hampir dua pertiga dari hutan primer di Riau telah rusak. Oleh karena itulah, pemerintah telah menetapkannya kawasan hutan sebagai taman nasional untuk mencegah kerusakan hutan lebih luas lagi.


Para ahli biologi menegaskan bahwa Tesso Nilo adalah rumah bagi spesies tanaman vaskular tropis yang berlimpah, melebihi jumlah yang ditemukan di wilayah Hutan Amazon. Tesso Nilo juga merupakan habitat bagi gajah sumatera yang terancam punah, harimau sumatera, dan tapir. Selain itu, ada pula babi hutan, rusa, beruang dan satwa liar lainnya.


Pada 2012, tercatat ada sekira 150 gajah di Tesso Nilo. Di samping itu, WWF menemukan jejak 50 harimau sumatera. Sayangnya, karena lokasi taman nasional yang dekat dengan pemukiman penduduk, gajah liar mengancam pemukiman penduduk. Pembalakan liar dan kebakaran hutan juga dianggap salah satu penyebab serangan ajah tersebut kepada manusia.
 


Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan : Berpetualang di Salah Satu Paru-Paru Bumi
Suaka margasatwa ini terhampar di kawasan seluas total 1.332.169 ha dan dihuni berbagai jenis flora dan fauna khas hutan dataran rendah. Wilayahnya dihiasi koridor pepohonan mangrove yang dilalui Sungai Kampar sehingga menjadikannya begitu spesial di antara hutan-hutan lain yang tersebar di Pulau Sumatera.

Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan merupakan kawasan konservasi yang berlokasi di Kecamatan Kerumutan dan secara administratif melebar melintasi dua kabupaten yaitu Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Batas hutan ini adalah Sungai Indragiri, Sungai Kampar, Pantai Timur Sumatera dan Jalan Lintas Timur Sumatera.

Hutan dataran rendah ini memiliki kondisi lahan yang berbeda-beda sehingga dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu: Kawasan Inti (kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan) seluas 93.223 ha, Kawasan Lindung Gambut (kawasan perluasan potensial) seluas 52.213 ha, dan Kawasan Bukan Inti (Intervensi) berupa tempat penyelamatan ekosistem hutan rawa gambut seluas 1.176.734 ha.

Kawasan yang terdiri dari 75% rawa gambut dan 25% rawa kering tersebut sudah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu jaringan cagar biosfer dunia tahun 2009 di Jeju, Korea. UNESCO tentunya bukan tanpa alasan menjadikan Hutan Suaka Marga Satwa Kurumutan sebagai salah cagar biosfer di dunia, karena menurut beberapa penelitian hutan ini terbukti sebagai jantung dan paru-paru pernapasan Bumi juga sebagai pengendali perubahan iklim Bumi dan penyedia karbon bumi.

Meskipun kawasan hutan ini dimanfatkan sebagai lahan industri kehutanan, perkebunan, perladangan namun hutan Kerumutan tetap menyimpan keistimewaannya. Selain pemandangan hutan gambutnya, daya tarik utama hutan ini adalah kekayaan flora dan fauna di dalamnya dan salah satunya adalah keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrensis).

Selain itu, ada juga fauna penting lainya, yaitu: harimau dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus malayanus), burung enggang (Buceros rhinoceros), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kuntul putih (Egretta intermedia), ikan arwana (Schleropages formosus), owa (Hylobutes Moloch), itik liar (Cairina scutulata), dan buaya sinyulong. Kerumutan juga menjadi tempat singgah berbagai burung yang bermigrasi sehingga ditetapkan juga sebagai wilayah kawasan Importan Bird Area (IBA) dan  Endangered Bird Area (EBA).

Sedangkan flora endemik di bagian hutan rawa gambut dan rawa kering di antara adalah: kantung semar (Nephentes Spp), meranti (Shorea sp), punak (Tetrameristaglabra miq), perupuk (Solenuspermun javanicus), nipah (Nypa fruction), rengas (Gluta rengas), pandan (Pandanus sp) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Selain penduduk pendatang dari bagian lain Sumatera, Melayu Pesisir dan Jawa, kawasan di sekitar hutan ini juga dihuni masyarakat asli (indigenouse people) suku Duanu dan suku Petalangan. Menurut data pemerintah setempat jumlah penduduk di kawasan Hutan Suaka Marga Satwa Kerumutan sekitar 27.025 jiwa.

Kantor Pariwisata


Jl. Jend. Sudirman No. 200, Pekanbaru
Tlp. (62-761) 31452, 40356
Fax. (62-761) 40356

Tidak ada komentar: