Jumat, 21 November 2014

Wisata Sumatera Utara Bab V

Pulau Nias: Jejak Budaya Mengagumkan Di Samudera Hindia dan Surganya Peselancar Dunia

Berkunjung ke Pulau Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, waktu seakan berhenti dipagari budaya megalit yang masih lestari. Di tengah Samudera Hindia yang luas itu, pulau ini menjadi rumah bagi budaya zaman batu kuno yang mengagumkan untuk disambangi.
Pulau Nias terletak di Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera. Pulau indah dan mengagumkan ini dikelilingi sekira 27 pulau-pulau kecil dimana baru 11 pulau di antaranya yang sudah berpenghuni termasuk Pulau Nias, Pulau Simeuleu, Pulau Mentawai dan Pulau Enggano. Lokasi persis Pulau Nias berada sekira 125 km dari pantai barat Sumatera.

Memiliki luas sekira 5.000 km², Pulau Nias merupakan yang terbesar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Gunungsitoli  adalah ibu kota Nias dimana di sini tersedia fasilitas bagi Anda yang ingin menjelajahi kemegahan alam dan budaya Nias. Di kota ini pula ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias.

Pulau sepanjang 130 km dengan lebar 45 km ini seolah terasing keberadaannya. Hanya sedikit kapal dagang berlabuh di pulau ini karena memang dilarang. Pihak berwenang akan segera memerintahkan kapal dagang yang mendekat untuk membelok ke pelabuhan di Padang atau ke Pelabuhan di Bengkulu. Oleh karena itu, berkunjung ke Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti dengan budaya dan tradisi masih bertahan lestari.

Penduduk Pulau Nias tersebar di sekira 650 desa tetapi banyak dari desa-desa tersebut termasuk sulit dapat dijangkau melalui darat karena medannya yang berat. Upaya pembangunan infrastruktur di kawasan ini harus berhadapan dengan bentuk permukaan tanah yang labil. Jalanan yang baru dibangun biasanya hanya akan berumur pendek karena tanah selalu melesak ke bawah.

Pulau Nias dihuni masyarakat yang hidup mandiri sejak berabad-abad yang lalu. Kebudayaan mereka yang masih terjaga keasliannya dari pengaruh luar telah memikat wisatawan manapun yang menyambanginya. Dalam bahasa setempat, orang Nias menamakan diri mereka sebagai "Ono Niha",  kata ono artinya anak atau keturunan, sementara kata niha memiliki arti manusia. Pulau Nias kadang disebut juga sebagai Tanö Niha , dimana kata tanö bermakna tanah.

Nias terkenal di dunia dengan budaya batu dan selancarnya. Salah satu yang tersohor dari atraksi budaya batu ini adalah lompat batu, yaitu pemuda lokal setempat melompati sebuah dinding batu setinggi 2 meter. Sebagai lokasi selancar dunia, Pulau Nias sebanding dengan Hawaii dengan kepemilikan ombak besar yang memikat penghobinya. Pulau Nias juga sempat menjadi tuan rumah Indonesian Open Surfing Championship yang berlokasi di Pantai Lagundri.
Fahombe atau tradisi lompat batu di Pulau Nias lahir dari kebiasaan berperang antardesa masyarakat Pulau Nias. Tradisi tersebut dahulu dikhususkan sebagai persiapan perang dimana setiap desa biasanya membentengi diri dengan pagar bambu setinggi dua meter sehingga para pria desa dilatih untuk bisa melompati pagar tersebut melalui latihan melompati batu. Ini juga sekaligus sebagai sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki di Pulau Nias.
Nias merupakan tanah kuno. Tidak ada yang tahu persis sudah berapa lama masyarakat aslinya hidup di sini. Menurut legenda setempat, kehidupan di Pulau Nias berasal dari Sungai Gomo dimana menjadi mula keturunan 6 dewa dan peradaban manusia. Oleh karena itu, masyarkat Nias menyebut diri mereka ono niha atau ‘anak masyarakat’. Persebaran masyarakat dimulai dari Nias Tengah kemudian berpindah ke Utara dan Selatan dengan mengembangkan bahasa, adat istiadat dan seninya masing-masing. Diperkirakan manusia di Pulau Nias saudah ada sejak 30.000 tahun lampau.
Secara tradisional, desa-desa di Pulau Nias dipimpin kepala desa yang memimpin dewan sesepuh. Di Nias masih banyak terdapat desa-desa adat dimana yang menonjol dari desa-desa adat itu adalah penataan arsitekurnya, baik lanskap maupun bangunannya. Dulunya setiap desa di pimpin oleh seorang raja. Masyarakat Nias menganut sistem hierarki dengan kasta tertinggi yang ditempati bangsawan, diikuti masyarakat biasa. Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada. Suku Nias mengenal sistem kasta (12 tingkatan Kasta) dimana tingkatan kasta tertinggi adalah balugu. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi dalam pesta selama berhari-hari.

Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat yang diwarisi dari budaya pejuang perang. Oleh karena itu, masyarakat dan budaya Nias sampai saat ini mampu bertahan dari serbuan budaya asing. Budaya pejuang Nias telah berlangsung selama berabad-abad ketika desa-desa di sini mendeklarasikan perang satu sama lain. Dahulu peperangan antardesa atau antar suku berlangsung karena terprovokasi oleh rasa dendam atau masalah perbudakan.

Selain lekat dengan budaya pejuang, masyarakat Nias juga sekaligus masyarakat petani. Mereka menanam ubi, jagung dan talas untuk memenui kebutuhan hidupnya. Hewan babi selain menjadi hewan ternak juga menunjukan status seseorang karena semakin banyak seseorang memiliki babi maka semakin tinggi pula kedudukannya dalam masyarakat desa.

Pulau Nias bukan tanpa catatan sejarah karena sesungguhnya pulau mengagumkan ini pernah masuk catatan pedagang China, Portugis dan Arab. Dahulu Pulau Nias dikenal sebagai asal diperolehnya para budak yang kemudian diperjualbelikan oleh Kerajaan Aceh, pedagang Portugis, dan pedagang Belanda. Bahkan, hingga abad ke-19 Nias masih dikenal dunia luar sebagai lokasi perdagangan budak.

Pemerintah Hindia Belanda menguasai Pulai Nias tahun 1825. Meskipun sebenarnya sebelum itu pulau ini telah berhubungan dengan dunia luar tetapi kebudayaan tradisional tetap utuh secara menakjubkan.

Kebudayaan masyarakat Nias yang nampak misterius justru akan menarik untuk Anda kenali. Beragam jejak budaya megalitikum kuno dan arsitektur tradisional di pulau ini telah memikat banyak peneliti budaya sekaligus menjadi daya tarik pariwisata.

Persiapkan diri Anda untuk terkesima saat berkunjung ke Bawomatauo dengan melihat pertunjukan lompat batu. Atraksi ini telah menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Pulau Nias. Beranikah diri Anda untuk mencoba sendiri melompati batu dengan setinggi 2 meter. Menakjubkan bukan! Lompat batu sendiri awalnya adalah latihan perang kuno bagi para pemuda lokal di Pulau Nias.

Di Desa Bawatomataluo dan Desa Hilisimae ada juga pertunjukan tari perang tradisional dimana para penarinya mengenakan kostum tradisional dengan bulu burung berwarna cerah yang diikatkan di kepala mereka. Kedua desa ini dapat dikatakan sebagai desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan.

Cobalah berjalan-jalan di desa-desa sekitar Pulau Nias untuk melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad. Rumah ini tahan gempa dan dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar itu dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring sehingga menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit dari rumah penduduk akan membuat Anda merasa takjub. Kunjungi Desa Hilisimaetano di Selatan Nias dimana memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.

Ada alasan mengapa para peselancar mancanegara menyebut Nias sebagai  ‘surga selancar di Bumi’. Hal itu karena ombak di tempat ini begitu spektakuler dibonusi pantai berpasir indah berwarna merah keputihan. Peselancar yang sudah berpengalaman akan berkerumun untuk bertarung memecah ombak besar di Pantai Lagundri. Di sini pemandangan pantainya juga begitu menakjubkan. Matahari terbenam pelan-pelan seolah jatuh ke dalam laut dengan warna merah kekuningan yang memukau.

Pilihan lain di Pulau Bawa dan Pulau Aru yang dapat diakses melalui 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri atau menyewa perahu dari Nias maka Anda dapat berselancar sepusanya di pulau ini.

Mengapa tidak Anda mencoba merasakan seperti seorang arkeolog untuk menyelidiki tempat-tempat dari zaman prasejarah atau zaman batu. Mengamati detail kecil tentang prasejarah Nias karena Nias dianggap sebagai rumahnya kebudayaan magalitikum tertua di Indonesia. Di sini ada banyak rumah adat dengan ukiran batu tua. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.

Di dataran tinggi sekitar Gomo berdiam contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses karena harus melewati hutan atau menumpang kendaraan setempat namun akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang mengesankan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada 14 titik situs batu megalit di sini dan 4 situs di antaranya telah dipugar pemerintah. Arca-arca batu berusia ratusan tahun tersebut bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk.

Di Gunungsitoli ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias. Pastor Johannes M. Hammerle, seorang warga asal Jerman sudah menetap di sini selama 36 tahun bertindak selaku direktur museum. Ia telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya Nias dari desa-desa di pedalaman. Di museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah adat asli Nias atau disebut omo hada. 

Pantai Lagundri dan Pantai Sorake: Salah Satu dari 10 Lokasi Surfing Terbaik di Dunia 

Sejak 1993, pantai ini terkuak kesempurnaanya untuk surfing oleh para penunggang papan selancar dunia. Mereka memacu adrenalin di lautan biru berselimutkan gulungan ombak dan bermandikan Matahari Tropis yang sanggup melenakan siapa pun. Tepat disebelah kanan teluknya, peselancar dunia itu  berlomba-lomba memburu angin yang membingkiskan untuk mereka lipatan ombak panjang dari arah selatan dan terus memukau lagi ketika bulan purnama pun tiba.
 Pantai Lagundri dan Pantai Sorake bukan hanya memiliki lanskap panorama yang indah tetapi juga tersohor sebagai lokasi selancar (surfing) bertaraf internasional. Ketenaran kedua pantai tersebut kini disandingkan dengan deburan ombak menantang di Hawaii. Jarak antara Pantai Lagundri dan Pantai Sorake hanya 2 km, berlokasi sekira 12 km dari Telukdalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.
Penggila olahraga selancar dari mancanegara beduyun-duyun berkumpul di pantai ini pada April hingga September setiap tahunnya. Mereka akan menjajal lipatan gelombang yang tingginya mampu mencapai 7 hingga 10 meter dengan lima tingkatan. Beberapa di antaranya sangat diidamkan peselancar proffesional. Selain itu, panjang daya dorong ombak di kawasan ini nyatanya bisa mencapai 200 meter. Akan lebih menarik dan menantang ombaknya saat tiba bulan purnama!
Salah satu yang membuat ombak di Lagundri ini ideal bagi selancar adalah karena lokasinya berhadapan dengan Samudera Indonesia dan juga merupakan tempat bertemunya teluk sehingga ombak akan mengalir  besar.
Pantai Lagundri sudah beberapa kali menjadi lokasi lomba selancar baik nasional maupun internasional. Nias Open adalah salah satu kejuaraan yang rutin  diselenggarakan dimana ratusan peselancar mancanegara terutama dari Australia begitu mendominasi lautannya.


Selain airnya yang jernih dan pasir putih bersih, di pantai ini terbilang sepi terutama bila bukan musim lomba selancar. Oleh karena itu, kawasan ini ideal bagi Anda yang tidak menyukai keramaian dan ingin menikmati suasana pantai.
Apabila Anda belum berminat dengan olahraga selancar maka menyaksikan peselancar beraksi akan sangat mengasyikan. Biasanya lomba surfing digelar antara Juni hingga Juli dimana lokasi ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.
Warga lokal setempat terutama anak mudanya dapat menjadi pemandu dan pelatih apabila Anda ingin belajar selancar.  Mereka akan menjelaskan kepada Anda termasuk untuk memahami jenis ombak di kawasan ini.
Waktu terbaik untuk berselancar bagi pemula adalah pagi hari. Itu karena pagi hari ombaknya belum terlalu tinggi sehingga Anda tidak perlu mengayuh terlalu kuat untuk mendorong badan ke tengah laut. Apabila Anda ingin mencari ombak besar maka melautlah saat siang atau menjelang sore mengingat saat itu angin sudah makin kencang dan ombak pun semakin besar.
Umumnya kebanyakan wisatawan yang datang ke sini menghabiskan waktu mereka di laut. Mereka dengan sabar menantikan anginnya yang besar untuk membingkiskan gulungan ombak yang tinggi dan panjang.
Bermain ombak di sini tidak cukup sehari jadi pastinya Anda perlu bermalam di dekat pantai. Jangan takut bosan saat malam hari karena Anda dapat berjalan-jalan di tepi pantai atau bercengrama dengan penduduk setempat.
Langit di Pulau Nias menyuguhi ribuan kerlip bintang saat malam. Habiskan malam Anda dengan memandangi bintang sambil mendengar debur ombak dari kejauhan. 

Museum Pusaka Nias: Wahana Kemegahan Budaya Nias
Museum Pusaka Nias merupakan satu-satunya wahana penyimpan kemegahan budaya Nias. Berlokasi di Jalan Yos Sudarso No. 134-A Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara, museum seluas 2 hektar tersebut dapat dikatakan juga pusat rekreasi di Kota Gunungsitoli. Saat hari libur pengunjungnya bisa mencapai 1500 orang.

Saat mengunjungi museum ini maka secara bersamaan Anda dapat juga menyambangi obyek wisata tepi pantai yang tidak jauh dari museum. Dapat pula melihat koleksi binatang langka dan tanaman khas Nias, atau menginap di rumah adat Nias yang memang dapat disewa di tempat ini.

Museum Pusaka Nias menyimpan sekira 6.500 koleksi benda bersejarah masyarakat Pulau Nias. Di sini Anda dapat melihat langsung beragam koleksi berharga budaya Nias, diantaranya adalah: alat rumah tangga, alat musik tradisional, perhiasan, dan patung-patung. Benda-benda koleksi yang dipamerkan tersebut dilengkapi keterangan (Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) untuk mengetahui sejarah, makna, dan fungsinya. Perawatan benda koleksi museum ini terbilang baik dan beberapa koleksi menggunakan obat pengawet khusus agar tidak lekas rusak.

Museum Pusaka Nias yang dibangun Yayasan Pusaka Nias tahun 1995 tidak lepas dari jasa seorang pastor bernama Johannes M. Hammerle. Ia merupakan warga asal Jerman yang sudah menetap di Nias selama 40 tahun dan sekarang masih menjabat  sebagai direktur museum. Pastor Johannes telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya Nias dari desa-desa di pedalaman pulau tersebut.
 
Museum Pusaka Nias juga telah bekerja sama dengan International Labor Organization (ILO) untuk melakukan rehabilitasi rumah-rumah adat yang tersebar di desa-desa adat se-Pulau Nias. Beberapa di antaranya seperti di Kecamatan Gunungsitoli Barat (Kota Gunungsitoli), Kecamatan Hiliserangkai (Kabupaten Nias), Kecamatan Lahomi (Kabupaten Nias Barat) dan di Kabupaten Nias Utara dan Nias Selatan.

Saat mengunjungi museum ini, pengunjung harus membayar tiket masuk Rp2.500,- (dewasa) dan Rp1.000,- (anak-anak), dan Rp20.000 (wisatawan mancanegara). Tarif tersebut sudah termasuk parkir kendaraan.

Di museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah adat asli Nias atau disebut omo hada.

Di sini tersimpan pula replika rumah adat Nias dan kerajinan tangan khas Nias seperti bola nafo  dengan berbagai motif. Salah satu yang unik adalah bola nafo berukuran raksasa sebesar 3 meter x 3 meter dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai tepak sirih terbesar di Indonesia.

Museum ini memiliki beberapa paviliun sesuai fungsinya masing-masing, yaitu: Paviliun I menyimpan beragam artefak mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat hingga sisi religius. Artefak tersebut menampilkan dimensi kehidupan Masyarakat Nias yang agung, terhormat,  dan tegas. Paviliun II berisi peninggalan alat kehidupan seperti perhiasan, alat dapur, serta peralatan perjamuan yang terbuat dari kayu, batu dan keramik. Di sini tersimpan pula ragam bentuk peti jenazah dan peralatan yang dipakai dalam ritual religi kuno. Di Paviliun III menyimpan alat keseharian suku-suku di Pulau Nias mulai dari tempat tinggal, peralatan dan teknologi rumah tangga, kesenian, pertanian, pertukangan, hingga peralatan berburu. Di Paviliun IV, Anda dapat melihat serangkaian batu pilihan yang dianggap hidup dan bisa berbicara pada generasi saat ini tentang leluhurnya. Di Paviliun V menjadi ruang pameran temporer, ceramah, audio-visual, atau pun untuk ruang diskusi pendidikan.

Museum Pusaka Nias juga memiliki perpustakaan dengan ratusan koleksi buku tentang kebudayaan Nias. Perpustakaan ini sering dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum bahkan dari luar Nias untuk mengenal dan mendalami masyarakat Nias dan budayanya.

Ada hal menarik lainnya di museum ini yaitu memelihara ratusan ekor binatang khas Pulau Nias dimana keberadaannya mulai berkurang akibat perburuan. Hewan-hewan tersebut dipelihara dalam kandang-kandang terpisah. Beberapa diantaranya adalah nago (kijang), laosi (kancil), dan magiaodanõ (sejenis beo), buaya, kera, musang, kura-kura, landak, burung bangau, serta beberapa jenis burung. Binatang tersebut sebagian besar merupakan sumbangan masyarakat Nias.

  Selain hewan, di museum ini ada juga beragam tanaman khas Nias yang kini mulai sulit untuk dijumpai. Beberapa diantaranya adalah pohon fosi, dimana dalam kepercayaan kuno masyarakat Nias, fosi adalah pohon yang dapat memberikan suatu tanda, misalnya dahannya patah itu artinya ada bangsawan yang meninggal. Ada juga sinasa yaitu sejenis pandan yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tikar. 

Teluk Dalam : Sejarah, Tradisi dan Selancar di Nias Selatan 
Pemandangan alam nan indah, tradisi dan sejarah yang layak  ditelusuri ada semua di kota ini. Ya, di Teluk Dalam, perpaduan tersebut bergabung menjadi satu dalam sebuah harmoni hidup di kota yang terkenal dengan tradisi lompat batu-nya. Kota Teluk Dalam menjadi pintu masuk bagi peselancar dunia datang ber-ramai-ramai pada musim tertentu untuk menjajal indah dan ganasnya gulungan ombak di perairan kota ini.

Teluk Dalam yang merupakan surga bagi peselancar adalah Ibu Kota Kabupaten Nias Selatan, kota yang juga berfungsi sebagai  kecamatan di Nias Selatan, Sumatera Utara. Apabila Anda melihat di peta maka sangat mudah untuk menemukan posisi kota ini karena letaknya yang berada persisi di ujung selatan Pulau Nias, berbatasan dengan Kecamatan Amandraya dan Kecamatan Lahusa.

Menurut sejarahnya nama Teluk Dalam diambil dari nama sebuah teluk yang berada di bagian selatan Pulau Nias. Berikutnya nama tersebut dijadikan nama kota. Dalam tata bahasa Nias Selatan nama Teluk Dalam juga dikenal dengan nama Luahaziwara-wara yang berarti tempat pertemuan seluruh penduduk Kecamatan Teluk Dalam atau dalam tata masyarakat Jawa dikenal dengan pendopo.

Penduduk Teluk Dalam mayoritas adalah Kristiani dan sisanya adalah Muslim. Mayoritas mata pencaharian mereka adalah Petani dengan padi, kelapa, karet, kokoa dan buah-buahan sebagai tanaman utama. Lainnya berkerja sebagai nelayan penangkap ikan, udang dan kepiting adalah tangkapan utama setiap harinya dan sisanya adalah pedagang.

Nenek moyang masyarakat Teluk Dalam dipercaya berasal dari Gomo, sebuah daerah yang berada dibagian tengah Pulau Nias. Sistem pembagian negeri atau yang dikenal dengan Ori terbilang unik. Pembagian Ori di kota ini dibedakan berdasarkan kedekatan wilayah, asal usul keturunan, persamaan marga, kesamaan logat dan pembuatan kampung baru yang berasal dari kampung asal. Pembagian Ori ini sudah ada sejak berdirinya peradaban di Pulau Nias. Sampai saat ini terdapat  empat Ori di Teluk Dalam antara lain: Ori Maenamolo, Ori Ono Lalu, Ori Mazino dan Ori Toene asi.

Jika Anda sangat tertarik dengan kehidupan masyarakat tradisional Nias maka kota ini cocok bagi Anda. Desa-desa di Teluk Dalam masih lekat dan kental dengan tradisi dan arsitektur Nias yang unik. Sebut saja Desa Bawomataluo yang berjarak sekitar 15 km dari Teluk Dalam. Desa yang berada di atas bukit dengan ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Rumah-rumah di desa ini masih memiliki arsitektur rumah adat Nias yang dikenal dengan Omo Nifolasara sudah berusia ratusan tahun. Uniknya rumah-rumah di desa ini dibangun saling berhadapan sehingga menyisakan halaman luas yang digunakan sebagai tempat pertunjukan seni tradisi Teluk Dalam seperti Lompat Batu (Hombo Batu) dan Tari Perang. Desa tradisional lain yang patut untuk dikunjungi adalah Desa Hilinawalo Fau, Onohondro dan Hilinawalo Mazino

Di Teluk Dalam juga terdapat peninggalan Megalitik yang berada di Desa Orahili, Kecamatan Gomo. Batu batu berukuran besar tersebut berada di perbukitan dekat dengan Sungai Gomo. Menurut sejarah perbukitan dan batu-batu megalitik tersebut merupakan sebuah perkampungan yang berasal dari Zaman Batu Muda (Neolithicum) sekitar 1000 – 1500 M.

Teluk Dalam juga dikenal dengan pantai-pantainya yang indah. Ombak di pantai-pantai tersebut sudah banyak dikenal oleh peselancar dunia, sebut saja Pantai Lagundri dan Pantai Sorake. Ombak di kedua pantai ini merupakan primadona peselancar dunia. Gulungan ombak kedua pantai ini memiliki ketinggiaan sempurna.

Teluk Dalam merupakan sebuah kota yang terkenal dengan wisata alam, seni tradisi dan sejarahnya. Berikut ini beberapa destinasi yang patut untuk Anda kunjungi di Teluk Dalam.

Desa Bawomataluo yang berjarak sekitar 15 km dari Teluk Dalam merupakan desa tradisional di atas bukit. Desa ini merupakan desa tradisional yang paling terkenal dan sering dikunjungi wisatawan. Arsitekur bangunan rumah tradisional Nias atau yang dikenal dengan Omo Nifolasara masih terpelihara dengan baik di desa ini. Rumah berukuran besar ini menjadi salah satu rumah tradisional dari kayu yang masih bertahan di Indonesia. Setiap rumah dibagun saling berhadapan dengan ketinggian dan bentuk yang hampir sama. Rumah-rumah di desa ini diperkirakan sudah berumur ratusan tahun dan merupakan warisan nenek moyang penduduk desa tersebut. Setiap minggunya di desa ini terdapat pertunjukan Lompat Batu dan Tari Fataele yang merupakan tari perang khas Nias Selatan. Segala keunikan yang ada di desa ini bahkan sudah mengantarkan desa ini masuk dalam tentative list untuk warisan dunia di Unesco. Desa ini juga merupakan desa yang paling mudah untuk diakses dibandingkan dengan desa-desa tradisional lainnya di Teluk Dalam dan untuk mencapai desa ini, wisatawan harus menaiki anak tangga berjumlah 88.

Pantai Saroke terletak di mulut Teluk Lagundari dan berhadapan lansung dengan Samudera Indonesia. Pantai ini merupakan surga bagi para peselancar dunia. Pada musim-musim tertentu, pantai ini ramai dikunjungi oleh mereka yang sangat menyukai bermain di atas papan sambil meluncur di atas kencang dan tingginya ombak Pantai Saroke. Gulungan serta tinggi ombak di pantai ini disebut-sebut paling sempurna kedua setelah ombak yang ada di Hawaii. Hal ini mungkin tidak perlu diragukan karena tinggi ombak di pantai ini mencapai 15 meter dan memiliki lima tingkatan ombak yang sulit ditemukan di pantai lain. Kepopuleran ombak di pantai ini dan pamandangan sekitranya yang memesona telah mengantar pantai ini ke pada mata dunia, terhitung sudah beberapa kali diadakan lomba selancar internasional di pantai ini. Di sepanjang pantai ini juga terdapat homestay yang siap mengakomodasi pengunjung.

Pantai Lagundri merupakan pantai berpasir putih berjarak sekitar 13 km di selatan Kota Teluk Dalam. Pantai ini bersebelahan langsung dengan Pantai Sorake. Selain Pantai Sorake, pantai ini juga merupakan destinasi favorit peselancar dunia walaupun ombaknya tidak setinggi dan seindah ombak di Pantai Sorake. Pantai ini juga cocok utuk kegiatan menyelam karena di pantai ini kaya akan ikan hias. Berjalan-jalan di pesisir pantai sambil menikmati indahnya pemandangan batu karang yang menghiasi pesisir sambil merupakan kegiatan yang menyegarkan. Karena ombaknya yang tidak terlalu tinggi, kegiatan berenang lebih cocok dilakukan di pantai ini, berjemur di atas halusnya pasir putih sambil bermandikan sinar Matahari dan menikmati semilir angin laut membelai kulit Anda merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Ketika Anda berangkat dari Teluk Dalam untuk menuju Pantai Saroke dan Lagundri, singgahlah di Genasi Hill dan Hilisataro. Genasi Hill memiliki panorama laut yang luar biasa memesona, pemandangan perbukitan menawarkan landscape laut yang luas membentuk sebuah cakrawala dikejauhan. Biasanya mereka yang menggunakan kendaraan akan menghentikan kendaraanya untuk menikmati panorama langka ini sambil besantai menikmati secangkir the dan kopi yang ditawarkan oleh warung atau kedai yang ada dipinggir jalan.

Ketika Anda selesai bersantai menikmati keindahan Genasi Hill, bergegaslah menuju Hilisataro. Hilisataro merupakan pantai berpasir landai. Ketika Anda mulai memasuki kawasan pantai ini, disepanjang jalan, Anda akan disungguhkan pemandangan pepohonan kelapa, pisang dan cocoa berbaris manis ditepi jalan, seolah-olah sedang menyambut kedatangan Anda. Walaupun ombakya tidak terlalu keras namun masih bisa dijajal oleh peselancar pemula. Biasanya para peselancar pemula berlatih disini sebelum dapat berselancar ke Sorake. Di sini Anda juga bisa melakukan kegiatan berenang.

Temukan peninggalan Megalitik di Desa Orahili, Kecamatan Gomo. Ada batu berukuran besar berada di perbukitan dekat dengan Sungai Gomo. Menurut sejarah perbukitan dan batu-batu megalitik tersebut merupakan sebuah perkampungan yang berasal dari Zaman Batu Muda (Neolithicum) sekitar 1000 – 1500 M yang dikelilingi oleh bukit-bukit hijau. Peninggalan Megalitik di desa ini terdiri dari berbagai macam bentuk di antaranya adalah: Batu Tegak, Batu Datar, Meja Batu, Batu Tegak Segi Empat Pipih, Batu Tegak Segi Empat Balok, Batu Bulat Berlumpang Dua dan Patung Manusia. Tidak hanya itu saja juga terdapat sekumpulan menhir, dolmen, sakrofagus, dan hasil-hasil kebudayaan Megalitik lainnya. 

Pulau Mursala: Mereguk Keindahan Air Terjun nan Memukau di Tapanuli Tengah 
Kapal cepat berlayar mengarungi Teluk Tapanuli menuju salah satu pulau di dekatnya. Hutan lebat membungkus pulau tersebut, mengisyaratkan pulau yang cukup besar itu seakan terisolasi dan tidak berpenghuni. Bersiaplah mereguk pengalaman istimewa menyaksikan salah satu keindahan dan kealamian alam Tapanuli Tengah karena di sini ada air terjun yang langsung jatuh ke laut.
Inilah Pulau Mursala atau sering juga disebut sebagai Mansalaar Island. Pulau dengan luas 8000 ha tersebut dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Selain menikmati panorama alam, kehidupan penduduk setempat juga menarik untuk diselami. Pesona Pulau Mursala pernah diangkat ke film layar lebar “King Kong” tahun 1933 dan film nasional berjudul "Mursala" pada 2013.
Keunikan air terjun di sini adalah air dari ketinggian 35 m itu langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Air terjun di Pulau Mursala memang berada pada bagian pulau yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Air mengalir dari sungai hanya sepanjang 700 meter (terpendek di Indonesia) kemudian mengaliri batuan granit kemerahan di tebing pulau. Berikutnya, air tercurah jatuh dalam volume yang besar ke permukaan laut dengan bunyi keras, apalagi saat musim penghujan.
Secara administratif, Pulau Mursala bernaung di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di sebelah Barat Daya Kota Sibolga. Jika menelaah keberadaannya di dalam peta, Pulau Mursala terletak di antara Kota Sibolga dan Pulau Nias.
Nama “Mursala” tidak lahir begitu saja, ada serangkaian cerita yang bergulir di belakangnya. Pada abad VII, banyak bangsa Arab datang ke Pantai Barus untuk singgah dan melakukan pertukaran komoditi. Sebelum memasuki Barus, mereka kerap melakukan ibadah di ujung sebuah pulau besar. Kebiasaan ini berlangsung lama, sehingga nelayan setempat menamai pulau tersebut dengan rangkaian dari kata Mur dan shalat, yaitu “Mursala”. Mur merupakan sebutan lain untuk orang Arab.
Sekeliling pulau ini dihiasi oleh belasan pulau kecil yang mayoritas tak berpenduduk, diantaranya adalah: Pulau Pulau Puti, Pulau Silabu Na Godang, Pulau Kalimantung, Pulau Silabu Na Menek, dan Pulau Jambe. Hadirnya pulau-pulau kecil itu mendukung Pulau Mursala menjadi destinasi yang apik. Selain kaya ikan hias dan terumbu karang, Anda juga dapat mengunjungi laguna yang menyatu antara Pulau Silabu Na Godang dan Pulau Kalimantung.
Disamping itu, Pulau Silabu Na Menek juga akan menyita perhatian lewat tanaman bonsai yang tumbuh di atas bebatuan curam. Begitu banyak yang bisa dinikmati di Pulau Mursala, namun primadona yang harus Anda jumpai adalah Air Terjun Mursala tentunya.

Di sekitar Pulau Mursala terdapat beberapa titik yang cocok untuk kegiatan menyelam dan snorkeling, salah satunya adalah Teluk Labuah Hunik. Jika ingin berenang dengan pemandangan bawah laut yang menarik, raihlah daerah sekitar Pulau Jambe yang memiliki perairan dangkal dan ikan laut yang cantik.
Bagi yang gemar memancing, di sinilah surganya. Para petualang pun bisa membawa peralatan kemah dan membangun tenda di pesisir pulau ini. Rasakan tenangnya bermalam di pinggir pantai sambil ditemani suara desiran ombak.
Di pulau ini ada beberapa tempat menarik untuk disambangi, seperti Batu Garuda, berupa batu yang menjorok berbentuk burung di ketinggian 70 m di pantai curam Pulau Silabu Na Menek, gugusan komposisi batu curam di sekitar Pulau Silabu-labu Na Godang, dan Bonsai Pinang Merah alam di atas bebatuan curam sekitar Pulau Silabu Na Menek. Ada pula laguna dengan hamparan pantai pasir putih yang menyatu antara Pulau Silabulabu Na Godang dengan Pulau Kalimantung Na Menek, serta hamparan pantai pasir putih di Pulau Puti yang berdekatan dengan Pulau Mursala. 

Wisata Sumatera Utara Bab IV

Museum ini berlokasi di Jalan Pagar Batu No. 88 Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, atau tepatnya di Komplek TB Silalahi Center, Desa Soposurung, Balige. Balige sendiri merupakan sebuah kecamatan sekaligus ibu kota dari Kabupaten Toba Samosir.  Komplek TB Silalahi Center  berada di pinggiran Danau Toba sehingga menyuguhkan panorama yang memikat. 
Museum ini menjadi sebuah wahana budaya dimana Anda dapat menikmati sekira 1.000 koleksi artefak budaya Batak dan peninggalan sejarah dari 6 puak Batak, yaitu: Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola, dan Mandailing. Keenam puak Batak tersebut secara sosial-kultural memiliki peran penting dalam memecahkan berbagai masalah yang terjadi di wilayah desanya. Di sini Anda juga dapat menyusuri catatan hidup Letjen (Purn). Dr. TB Silalahi. 
Museum Batak Balige didirikan pada 7 Agustus 2006 dan diresmikan pada 17 April 2008 oleh Letjen (Purn). Dr. TB Silalahi. Pembukaan resminya dilakukan pada 18 Januari 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 
Komplek TB Silalahi Center sendiri memiliki tanah seluas 5 hektar dan bersebelahan dengan Kantor Bupati. Gedung 3 lantai dengan interiornya berkonsep modern yang dibalut ukiran gorga khas Batak. Museum ini juga menyuguhkan khazanah kekayaan alam Sumatera Utara dengan hamparan Danau Toba dan lanskap Balige yang jelas terlihat ketika Anda naik ke lantai 2 dan 3 gedung ini. 
Museum Batak Balige merupakan upaya pelestarian dan pemanfaatan koleksi kekayaan budaya dan sejarah etnik Nusantara. Banyak artefak dan naskah kuno Batak tersimpan di perpustakaan dan museum di Eropa terutama Belanda, Jerman dan Inggris. Akan tetapi, sekarang terus diupayakan agar dapat kembali ke tanah Batak dan dinikmati oleh generasinya. 
Museum Batak Balige bersama lima museum lainnya di Indonesia menjadi bagian dari program Revitalisasi Museum 2010-2014 menjadi salah satu Program Unggulan yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 2010-2014. Museum lainnya tersebut adalah: Museum Provinsi Nusa Tenggara Barat, Museum Provinsi Kalimantan Barat, Museum Provinsi Sumatera Utara, Museum Provinsi Jambi, dan Museum Provinsi Jawa Timur. 
TB Silalahi Center sebagai pengelola Museum Batak Balige merupakan organisasi non-profit yang bertujuan memelihara, mengembangkan, serta melakukan penelitian kebudayaan Batak. Yayasan ini juga bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan pertanian. 
Untuk masuk ke museum ini pengunjung harus membeli tiket dulu di loket yang tersedia yaitu seharga Rp10.000,- per orangnya. Untuk anak-anak harga tiketnya Rp5.000,-.
Perhatikan gapura berhiaskan artefak kuno suku Batak yang indah menyambut pengunjung yang mendatangi kawasan ini. Kawasan TB Silalahi Center memiliki dua bangunan utama, yaitu: pertama, museum pribadi TB Silalahi yang menyimpan benda koleksi pribadi Letjen (Purn). Dr. TB Silalahi. Kedua,  adalah Museum Batak Balige.

Di museum ini Anda dapat memahami tentang bagaimana puak Batak sejak dahulu menjadi simbol perlawanan terhadap feodalisme. Di museum ini menyuguhkan peninggalan sejarah dari 6 puak Batak, yaitu: Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Angkola. Keenam puak Batak tersebut secara sosial-kultural memiliki peran penting dalam memecahkan berbagai masalah yang terjadi di wilayah desanya.

Nikmati perjalanan hidup Letjend (Purn) TB Silalahi mulai dari patungnya yang berseragam militer berdiri tegak di dampingi seekor macan, sebuah helikopter tua, dan tank perang di sebelah kirinya. Bagian dalam Museum Batak Balige juga menyajikan sejarah kehidupan masa kecil TB Silalahi hingga dewasa. Anda akan mendapatkan pesan moral tentang karakter Letjend (Purn) TB Silalahi yang berdisiplin, pekerja keras, pantang menyerah, dan pemberani.

Di bagian dalam Museum Batak Balige tersimpan beragam bentuk kebudayaan Batak termasuk jenis senjata Batak, yaitu: hujur (tombak), podang (pedang), pisau (piso), sior (panah dan busur), ultop (sumpit), dan bodil (senapan). Ada juga pakaian dari adat keenam puak Batak.

Di museum ini juga Anda dapat meresapi beberapa nasihat leluhur suku Batak, seperti: Paias Rohamu (bersihkan hatimu), Paias Pamatanganmu (bersihkan tubuhmu), Paias Peheanmu (bersihkan pakaianmu), Palas Jabumu (bersihkan rumahmu), dan Pahias Alamanmu (bersihkan halamanmu). Ada juga nasihat menarik lainnya yang mengajak masyarakat untuk bekerja keras dan bekerja cerdas, seperti Hamoraon (carilah rezeki dan keberuntungan), Hagabeon (carilah kesempurnaan hidup), dan Hasangapon (carilah kehormatan dan kemuliaan). 

Huta Siallagan : Menyimak Cerita dari Batu Parsidangan Raja Siallagan 
Kampung Siallagan terletak di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir. Perkampungan yang mirip benteng ini lokasinya berdekatan dengan Danau Toba dan cukup banyak dikunjungi wisatawan baik dari Nusantara maupun mancanegara.

Luas Huta Siallagan sekira 2.400 m² dikelilingi tembok batu tersusun rapi setinggi 1,5 hingga 2 meter. Anda akan terkagum-kagum mengamati bagaimana perkampungan ini dikelilingi batu-batu besar disusun bertingkat secara rapi. Dulunya tembok tersebut dilengkapi bambu dan benteng ini berfungsi untuk menjaga perkampungan dari gangguan binatang buas maupun serangan suku lain.

Perkampungan ini dibangun pada masa raja huta pertama yaitu Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada Raja Hendrik Siallagan dan seterusnya hingga keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan. Huta Siallagan sejak dahulu dihuni marga Siallagan, yaitu turunan Raja Naiambaton garis keturunan dari Raja Isumbaon anak kedua Raja Batak. Keturunan Raja Siallagan sekarang masih berdiam di seputaran Desa Ambarita dan beberapa makam keturunannya pun bisa ditemukan di tempat ini.

Saat Anda memasuki Huta Siallagan maka nampak tidak banyak berbeda dengan umumnya kampung lain di Tanah Batak, yaitu terdiri atas deretan ruma bolon dan sopo. Yang istimewa di sini adalah adanya deretan batu-batu berbentuk kursi tersusun melingkari meja batu. Rangkaian batu tersebut dinamakan Batu Parsidangan dan letaknya persis di tengah perkampungan di  bawah pohon hariara yang akarnya melilit ke mana-mana. Pohon suci masyarakat Batak tersebut memang biasanya ditanam di perkampungan suku Batak.

Batu Persidangan tersebut ada di 2 lokasi dimana yang pertama berfungsi sebagai tempat rapat dan yang kedua untuk eksekusi. Batu sidang pertama tertata rapi melingkar di bawah pohon dan berfungsi sebagai tempat rapat. Rangkaian batu kursinya meliputi kursi untuk raja dan permaisuri, kursi para tetua adat, kursi raja untuk huta tetangga dan undangan, serta kursi untuk datu (pemilik ilmu kebathinan). Rangkaian batu kedua tidak jauh berbeda dengan yang pertama hanya saja dilengkapi sebuah batu besar memanjang untuk membaringkan musuh atau terdakwa lalu kepalanya akan dipenggal di batu cekung tersebut.

Dinamakan Batu Parsidangan karena memang fungsinya untuk mengadili penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau juga untuk musuh politik dari sang raja. Raja Siallagan akan menggunakan kalender Batak untuk mencari hari baik menggelar sidang bersama para tetua adat. Para tetua adat akan memberikan usul jenis hukuman yang akan diberikan sesuai derajat kesalahannya. Raja Siallagan kemudian akan menetapkannya apakah berupa hukuman denda, hukuman pasung, atau hukuman pancung. Sebelum diadili terdakwa akan dipasung terlebih dahulu.

Apabila bersalah maka terdakwa akan akan dibawa ke belakang kampung untuk dieksekusi di rangkaian batu sidang kedua. Tubuhnya akan dibedah kemudian dipancung. Menurut penuturan masyarakat setempat, dahulu tubuh terdakwa akan disayat hingga darah keluar bila perlu ditetesi tetesan jeruk nipis sebelum dipenggal apabila si terdakwa memiliki ilmu kebal. Ada cerita bahwa potongan tubuh terdak

wa itu akan dibagikan untuk dimakan beramai-ramai dan Raja Siallagan bila sangat membenci terdakwa tersebut maka akan memakan jantungnya. Bagian kepala terdakwa akan dibungkus dan dikubur di tempat yang jauh dari Huta Siallagan. Darahnya akan ditampung dengan cawan untuk dijadikan minuman pencuci mulut serta potongan tubuh dan tulangnya dibuang ke Danau Toba. Sang Raja biasanya akan memerintahkan agar masyarakat tidak menyentuh air danau selama satu hingga dua minggu karena air danau dianggap masih berisi roh jahat.

Dimungkinkan dari kisah inilah yang kemudian sempat menjadi sebuah stereotipe bahwa masyarakat Batak melakukan praktek kanibalisme. Ritual ini perlahan hilang setelah agama Kristen tersebar di Wilayah Samosir oleh seorang pendeta asal jerman bernama Dr. Ingwer Ludwig Nommensen pada pertengahan abad ke-19. Raja Siallagan yang sebelumnya masih menganut agama asli Batak (Parmalim) kemudian memeluk Kristen dan tidak melanjutkan ritual kanibalisme itu lagi. Sekarang Huta Siallagan hanya berfungsi sebagai desa wisata saja untuk mengenang sejarah dan budaya salah satu suku di Tanah Batak. Pemandu wisata ke tempat ini pastinya akan menceritakan hal ini lebih terinci dan dimaksudkan sebagai pelajaran dari bentuk tradisi di zaman dahulu dan tidak ada maksud lainnya.

Wisata Sumatera Utara Bab III

Danau Toba
Danau Toba merupakan keajaiban alam menakjubkan di Pulau Sumatera. Sulit membayangkan ada tempat yang lebih indah untuk dikunjungi di Sumatera Utara selain danau ini. Suasana sejuk menyegarkan, hamparan air jernih membiru, dan pemandangan memesona pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari imaji danau raksasa yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu.
Danau Toba adalah danau berkawah seluas 1.145 kilometer persegi. Di tengahnya berdiam sebuah pulau dengan luas yang hampir sebanding dengan luas negara Singapura. Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau mengingat ukurannya. Oleh karena itu, Danau Toba ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Danau Toba juga termasuk danau terdalam di dunia yaitu sekira 450 meter.
Danau Toba diperkirakan para ahli terbentuk setelah letusan gunung api super sekira 73.000-75.000 tahun lalu. Saat itu 2.800 km kubik bahan vulkanik dimuntahkan Gunung Toba yang meletus hingga debu vulkanik yang ditiup angin menyebar ke separuh wilayah Bumi. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 kilometer di atas permukaan laut.
Akibat letusan gunung api super  (Gunung Toba) diperkirakan telah menyebabkan kematian massal dan kepunahan beberapa spesies mahluk hidup. Letusan Gunung Toba telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca bumi dan mulainya masuk ke zaman es sehingga mempengaruhi peradaban dunia.

Bagi masyarakat sekitar Danau Toba memiliki sejarah magis yang dipercayai sebagai tempat tinggal Namborru (tujuh dewi nenek moyang Suku Batak). Apabila suku Batak akan melakukan upacara di sekitar danau maka mereka harus berdoa dan meminta izin Namborru terlebih dahulu.
Pulau Samosir adalah pulau yang unik karena merupakan pulau vulkanik di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Meskipun telah menjadi tempat tujuan wisata sejak lama, Samosir merupakan keindahan alam yang belum terjamah. Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Di sekitar Danau Toba juga akan Anda dapati tempat pemandian air belarang.
Di Pulau Samosir Anda juga dapat menemukan pegunungan berkabut, air terjun yang jernih untuk berenang, dan masyarakat peladang. Keramahan masyarakat Batak pun akan memikat Anda karena kemanapun Anda pergi maka dengan segera dapat menemukan teman baru.
Di Kota Parapat yang merupakan semenanjung yang menonjol ke danau Anda dapat Anda nikmati pemandangan spektakuler Danau Toba. Parapat dihuni masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungan yang dikenal memiliki sifat ceria dan mudah bergaul, terkenal pula senang mendendangkan lagu bertema cinta yang riang namun penuh perasaan.  


Kini Danau Toba menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia. Tempat dimana Anda dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk menikmati keindahan alam seperti mendaki gunung, berenang, atau berperahu layar. Udaranya bersih dan sejuk harmonis dengan suasana santai masyarakatnya yang ramah.
Banyak wisatawan lebih memilih tinggal di Pulau Samosir di tengah danau. Sebagai tempat tinggal asli masyarakat Batak Toba, Pulau Samosir memiliki bekas peninggalan zaman purbakala di antaranya ialah kuburan batu dan desa-desa tradisional. Di pulau ini Anda dapat menemukan kebudayaan Toba yang unik dan kuno. Amati juga arsitektur tradisional rumah Batak Toba yang majemuk. Keindahan alam Pulau Samosir mengartikan bahwa pulau ini adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi dan menghindari kepenatan rutinitas. Samosir mudah dijangkau oleh kapal ferri dari Parapat. Di Tomok juga terdapat Makam Raja Sidabutar, yang usianya sudah 500 tahun. Juga terdapat Patung Sigale-Gale yang bisa menari.
Jika Anda merasa bersemangat di Parapat ada banyak fasilitas untuk berenang, bermain ski air, mengendarai motor boat, menaiki kano, memancing dan bermain golf. Dari Parapat Anda dapat berjalan-jalan santai di bukit Sungai Naborsahon dimana Anda akan melihat bunga bugenvil, pointetties, honey suckle yang spektakuler berbunga sepanjang tahun. Banyak pengunjung yang datang menghabiskan waktu di danau dengan berenang di air yang menyegarkan atau menyewa perahu layar mengelilingi danau yang besar tersebut. Tidak perlu khawatir tersengat sinar matahari karena iklim di sini sejuk dan kering dengan pemandangan danau yang indah, tempat ini adalah tempat yang ideal untuk bersantai. Sambil melihat Matahari terbenam di Danau Toba adalah cara yang sempurna untuk bersantai dan menghabuskan waktu bersama orang yang Anda sayangi.
Di Samosir, Anda juga dapat berjalan-jalanlah ke pedalaman dan menjelajahi dua danau yang lebih kecil  yaitu Danau Sididhoni dan Aek Natonang.  Jika Anda masih belum merasa puas dengan suasana di Samosir, jelajahi pedalaman dengan trekking ke dataran tinggi. Sebaiknya tanya hotel atau masyarakat setempat tentang rutenya karena jalannya terkadang berlumpur dan licin tergantung cuaca.
Jika Anda tertarik dengan sejarah maka kunjungi komplek pemakaman Raja Sidabutar dimana dapat melihat peninggalan budaya megalit yang unik. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan dan masyarakat Batak, kunjungilah desa tradisional Jangga penghasil kain ulos yang berjarak sekitar 24 km dari Parapat. Di tepi Danau Toba juga terlihat Wisma Soekarno, tempat Presiden pertama Indonesia diasingkan, dengan desain bangunan yang dicat warna putih nan megah.

Budaya Leluhur di Desa Jangga 

Datang dan rasakan  kehidupan suku Batak tradisional di sebuah desa yang sebagian besar wilayahnya belum tersentuh oleh dunia modern. Terletak di lereng bukit yang indah, pengunjung yang datang ke desa Jangga ingin bertemu dengan orang  Batak asli dan melihat bagaimana budaya mereka yang unik terus berkembang hingga saat ini.
Jangga terkenal dengan kain ulos yang indah yang ditenun oleh kaum wanitanya. Melihat  kaum wanita desa ini menenun kain ulos yang rumit di depan rumah mereka. Ulos memainkan peranan penting dalam masyarakat tradisional Batak dan digunakan tidak hanya sebagai pakaian tetapi juga digunakan pada acara-acara adat seperti kelahiran, kematian dan pernikahan.

Di desa Jangga Anda akan menemukan deretan rumah-rumah tradisional, atraksi budaya dan sejarah, seperti sisa-sisa peninggalan raja-raja Batak berabad-abad yang lalu termasuk Raja Tambun dan monumen raja Manurung.

Desa Jangga terletak di tepi Gunung Simanuk-Manuk, Lumban Julu, kabupeten Toba Samosir, Sumatra Utara, sekitar 24 km dari Danau Toba.  Desa ini adalah salah satu dari sejumlah desa Batak asli di wilayah Lumban Nabolon, Tonga-Tonga Sirait Uruk, Janji Matogu, hubak Sihubak, Siregar, Sigaol, Silalahi Toruan Muara dan Tomok Sihotang. 

Desa Tuktuk Siadong: Menikmati Daya Pukau Danau Toba di Di Tanjung Kecil Pulau Samosir 
Pastikan kunjungan Anda ke Danau Toba untuk menginap di Desa Wisata Tuktuk Siadong, sebuah tempat indah di sebuah tanjung kecil di Pulau Samosir. Di sini Anda dapat menikmati suasana menawan panorama pinggir danau dimana telah banyak wisatawan tersihir daya pukaunya.

Desa Tuktuk Siadong berlokasi di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Semenanjung kecil ini terletak diantara Desa Tomok dan Desa Ambarita. Kawasan tersebut merupakan daerah yang diminati wisatawan mancanegara dimana hampir sepanjang tahun dikunjungi. Bahkan, sebuah buku panduan bagi backpacker yaitu Lonely Planet menyebutkan informasi desa wisata ini dengan cukup lengkap.

Desa Tuktuk Siadong telah tersohor sebagai salah satu lokasi terbaik untuk menikmati keindahan Danau Toba. Pemandangan menghijau begitu memanjakan mata berpadu dengan bangunan corak Batak yang khas. Di sini Anda akan merasakan suasana seperti di pantai tetapi suhu udaranya begitu sejuk.

Desa Tuktuk sangat indah dan tenang suasananya cocok untuk piknik bersama keluarga atau untuk berbulan madu. Di sini riak air danau yang tenang berharmoni dengan padang rumput atau kerbau yang sedang membajak sawah. Hutan menghijau dan kampung adat tradisional Batak melahirkan impresi dan nuansa tersendiri untuk menyempurnakan liburan Anda.

Tuktuk Siadong berada di daerah tanjung peninsula yang menjadi kawasan wisata (central tourism district). Pengunjung menikmati wisata bahari di sini seperti berenang, menyelam, berlayar, canoe, memancing, dan lainnya. Di kawasan ini juga dipenuhi akomodasi, restoran, serta industri kreatif terutama ukiran.

Danau Toba sendiri menjadi reservoir air tawar terbesar di Asia Tenggara dengan pegunungan tropis membentang sekira 1.100 km dengan kedalaman maksimum sekira 450 meter. Danau ini berada di puncak vulkanik tua sekira 905 meter di atas permukaan air laut. Ada 7 kabupaten mengelilingi Danau Toba, yaitu Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi,

Karo, dan Samosir. Yang terakhir terkenal memiliki panorama alam indah dan menjadi lokasi tujuan wisata terutama Parapat di Simalungun dan Tuktuk Siadong di Pulau Samosir.

Di Tuktuk tersedia puluhan penginapan dan rumah makan yang berderet di sisi jalan. Akomodasi tersebut umumnya menyewakaan sepeda, motor, dan buku. Buku yang disewa ternyata dapat ditukar dengan buku lain yang Anda bawa.

Penginapan berupa hotel berbintang biasanya terletak persis di pinggir danau. Beberapa di antaranya memiliki kawasan yang terpisah tempat dimana wisatawan dapat menikmati suasana pinggir danau. Anda dapat menikmati keindahan panorama Danau Toba dengan ber-canoe, jetski, sepeda air, atau mengapa tidak berenang sepuasnya di pinggir danau. Memancing juga dapat menjadi alternatif kegiatan yang menghibur.

Anda juga dapat melakukan trekking ke bukit-bukit tertentu untuk berburu lokasi pandang ke arah Danau Toba yang terbentang.

Berkeliling Pulau Samosir dengan sepeda motor atau sepeda juga menarik sembari berinteraksi dengan masyarakat setempat yang ramah. Di Desa Tuktuk Siadong juga ada makam Raja Sidabutar yang sudah berumur ratusan tahun. Berkelilinglah di seputaran danau dimana Anda selain dapat menikmati keindahan danau juga dapat membayangkan bagimana dahsyatnya bencana letusan gunung api hingga kalderanya membentuk lalu terisi air hujan.

Nikmati keindahan Matahari terbit dan terbenam dari pesisir danau. Lokasi terbaik ada di dataran tinggi Karo di sebelah utara dimana keelokan danau nampak memanjang dari Sikodonkodon. Ada pula dari Tele di sisi barat yang menyediakan gardu pandang dimana pemandangan danau dan Pulau Samosir begitu sempurna diabadikan dengan kamera kesayangan Anda.

Apabila berminat menikmati keindahan Danau Toba dari udara maka jasa pemandu wisata dapat mencarikan informasi untuk kegiatan paralayang dari kawasan Bukit Siulakhosa. Anda akan ditemani instruktur berpengalaman untuk terbang mengelilingi kawasan Tomok dan Tuktuk Siadong lalu mendarat di Bukit Betha atau pantai Danau Toba. Perlu diperhatikan aktivitas ini bergantung pada kondisi cuaca dan angin.

Kawasan Bukit Betha dan Open Stage Tuktuk Siadong juga sering dimanfaatkan menjadi kawasan Ambarita untuk olah raga atletik, sepeda downhill, motor cross, dan kegiatan lintas alam lainnya.

Wisata Sumatera Utara Bab II

Kota Brastagi
Kota Brastagi yang indah di dataran tinggi Karo, 70 km dari Medan. Terletak di ketinggian 1300m, kota ini memiliki iklim yang sejuk, menjadikanya tempat yang tepat untuk bersantai dan menikmati udara segar. Udara di pagi dan sinag hari sangat menyenangkan, sementara pada malam bisa sangat dingin.

Kota ini berdiri pada tahun 1920 sebagai stasiun bukit milik Belanda dan saat ini telah menjadi tujuan akhir pekan paling populer bagi warga Medan.

Pemandangan di sini didominasi oleh gunung berapi Sinabung dan Gunung Sibayak. Di ujung barat kota, Bukit Gunaling Hill menghiasi dataran tinggi sekitarnya yang memberikan pemandangan spektakuler dari kedua gunung berapi yang menjulang tinggi.

Brastagi terkenal dengan bunga dan buah-buahannya dan pasarnya selalu ramai dengan aktivitas jual beli. Buah-buahan yang paling terkenal antara lain markisa dan jeruknya yang manis. Di sini Anda akan melihat kehidupan masyarakat Karo tradisional dan bahkan Anda akan menjumpai pedagang sepatu bekas.


Bukit Lawang
Jelajahi hutan Sumatera dan rasakan petualangan outdoor ditemani orangutan selama Anda berada di desa di dalam hutan Bukit Lawang. Secara harfiah berarti "pintu ke bukit", Bukit Lawang adalah sebuah desa kecil yang terletak di selatan Taman Nasionjal Gunung Leuseur. Terletak sekitar 90 kilometer barat laut Medan, ibu kota Sumatera Utara.

Bukit Lawang adalah pintu gerbang ke dalam hutan Sumatera yang legendaris yang memiliki medan licin dan lereng curam serta berlumpur, menjelajahi hutan di sini adalah petualangan yang menkjubkan. Perjalanan melalui hutan yang rimbun akan mendebarkan dan Anda akan masuk dalam dunia baru.
Hutan ini merupakan lebat yang menarik hati, orangutan merupakan daya tarik utama di sini. Bukit Lawang adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk menemukan primata langka dan hampir punah. Melihat makhluk anggun berayun-ayun melalui ranting-ranting pohon. Hutan ini adalah salah satu komunitas terbesar orangutan,  lebih dari 5000 orangutan tinggal di sini.
Pusat rehabilitasi orangutan adalah tempat bagi orangutan yatim piatu yang dilatih hidup di alam bebas. Pusat ini telah beroperasi sejak tahun 1973 dan hingga kini telah menarik pengunjung dari seluruh dunia  untuk melihat sekilas makhluk menakjubkan.
Jumlah orangutan di hutan ini telah menurun akibat perburuan liar, perdagangan satwa dan lingkungan yang rusak. Pusat rehabilitasi ini membantu orangutan kembali kebiasaan alami mereka dengan menempatkan mereka melalui pelatihan yang intensif sebelum dikeluarkan ke alam liar. Ketika primata ini kembali hutan, pusat rehabilitasi terus menyediakan suplemen makanan dan pemeriksaan rutin.

Di Dalam Hutan Lebat Desa Tangkahan 
Sering disebut sebagai surga tersembunyi Sumatera, hutan lebat dan topografi Tangkahan yang mengagumkan, membuat desa ini menjadi tempat wisata yang luar biasa.  Desa ini terletak di Taman Nasional Gunung Leuser yang lebat, di persimpangan dua sungai, yaitu sungai Batang Serangan dan Buluh. Taman ini adalah salah satu wilayah yang jumlah primatanya paling beragam di dunia, yang juga rumah bagi beberapa spesies bumi paling terancam punah.
Di masa lalu taman ini sering menjadi tempat pembalakan dan pemburuan liar, saat ini hutan ini telah diubah menjadi cagar alam. Orang-orang setempat telah sadar dengan fungsi dan kekayaan taman ini sehingga mereka berusaha untuk melestarikan harta mereka yang berharga ini. Datang dan temui gajah bersama-sama dengan penjaga mereka yang sedang berpatroli untuk menjaga hutan dari penebangan dan pemburuan liar.
Di sini, tentunya Anda akan melihat dan menikmati sungai yang jernih yang melintasi hutan Sumatera, menciptakan suasana yang benar-benar mistis. Datang dan temukan surga di hutan tersembunyi ini dan Anda tidak akan menyesal.

Wisata Sumatera Utara Bab I

Inilah tempat yang menampilkan kebudayaan yang berbeda dan kaleidescope menarik kehidupan masyarakat Indonesia. Sumatera Utara memiliki keajaiban yang bisa mewujudkan dambaan wisata Anda. Keindahan alam Sumatera Utara sangat menakjubkan terbentang dari Danau Toba yang indah, danau terbesar di Asia Tenggara, sampai ke sebuah hutan di Bukit Lawang yang dihuni oleh sekelompok orangutan. Keindahan alam dan kebudayaan di daerah ini menarik untuk di kunjungi sanggup menyediakan tempat untuk jiwa petualang yang menantang.
Dataran wilayah ini telah terbentuk dari aktivitas vulkanik ribuan tahun. Danau Toba  dibentuk sekitar 75.000 tahun lalu dari satu letusan gunung api paling dahsyat dunia, hingga saat ini pun masih berasap yaitu Gunung Sibayak. Di sini gunung berapi mendominasi pemandangan alam yang menakjubkan.
Kebudayaan di Sumtera Utara sangat unik, kuno dan memesona. Penduduknya yang dikenal dengan suku Batak masih memegang teguh warisan budaya dan tradisi leluhur mereka. Kebudayaan dan tradisi suku Batak dapat Anda temui di beberapa desa adat yang menawarkan wajah asli Sumatera Utara.

Di Sumatera Utara terdapat beragam satwa liar langka dan eksotis Indonesia. Anda dapat menemukan spesies luar biasa dan unik seperti orangutan, siamang bertangan putih, dan 17 jenis burung. Untuk Anda pecinta alam dan petualang maka inilah tempat yang tepat untuk melihat bagaimana ekosistem luar biasa ini.

Medan adalah ibu kotanya dan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Penduduk kota ini beragam sehingga Anda dapat menemukan beragam etnis di sini. Anda juga bisa menemukan perkampungan India di Medan yang dihuni oleh mayoritas bangsa India. Medan memegang  peranan penting dalam hubungan ekonomi, memberikan lahan bisnis seperti perusahaan minyak dan ekspor perkebunan yang beroperasi secara produktif.

Apakah Anda sudah berpetualang menjelajah hutan? Berlibur di sekitar alam yang sejuk atau merasakan langsung berinteraksi dengan budaya Batak asli? Bila belum maka persiapkanlah diri Anda untuk sebuah wisata di Sumatera Utara yang akan mengesankan hati dan tak terlupakan.

Sejarah


Sumatra Utara adalah tempat untuk segala kekayaan budaya dan tradisi yang siap memukau Anda saat ditampilkan. Ada makam kuno raja-raja Batak, tarian khas, dan upacara yang unik, serta seni dan kerajinan tangan yang indah untuk Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Masyarakat dan Budaya


Dengan populasi sekitar 12 juta jiwa, penduduk Sumatra Utara dibagi menjadi lima kelompok etnis utama dan bahasa yaitu Orang Melayu pesisir yang hidup di sepanjang Selat Malaka, orang Batak, Angkola atau Mandailing dari Tapanuli selatan, dan Nias kepulauan lepas pantai barat. Kelompok-kelompok ini masing-masing memiliki dialek bahasa, agama, seni, adat dan budaya khasnya tersendiri. Beberapa kelompok etnis lainnya juga hidup di Medan dan kota-kota lain dari Sumatera Utara, yang terbesar  yaitu orang Cina dan India.

Di Medan ada banyak suku etnis dari seluruh Indonesia yang datang ke kota ini untuk berbisnis. Kota ini juga rumah bagi warga keturunan Cina dan India yang cukup mendominasi.

Daerah yang sangat indah di Sumatera Utara adalah sekitar Danau Toba, di sini hidup masyarakat Batak yang dibagi menjadi enam budaya, masing-masing memiliki bahasa, upacara, dan tradisi berbeda. Meskipun terisolasi secara geografis tetapi orang Batak memiliki riwayat hubungan dengan dunia luar.  Hubungan perdagangan antara dataran tinggi dan daerah lain pun berjalan baik yaitu pertukaran barang seperti garam, kain, dan besi, lalu yang diimpor ke wilayah ini seperti  emas, beras dan cassia (jenis kayu manis)

Orang-orang Eropa yang pertama berdagang ke wilayah Batak adalah misionaris, mereka menjelajahi daerah pedalaman terpencil pada akhir abad ke-18. Misionaris tersebut mengabarkan bahwa masyarakat lokal wilayah ini kanibalisme.  Sebelumnya awal abad ke-9, sebuah teks Arab menyebutkan bahwa penduduk Sumatra itu memakan daging manusia. Namun, saat ini para antropologi percaya bahwa hal ini adalah bentuk hukuman yang langka dan mungkin nampak biasa saja bagi orang Batak. Banyak orang Batak yang menyimpan tulang nenek moyang mereka yang disalah artikan oleh orang luar sebagai kanibalisme mengerikan.

Kepercayaan tradisional Batak berpusat pada pemahaman spiritual bahwa alam semesta dibagi menjadi tiga, yaitu: dunia atas di mana Tuhan berada, dunia tengah dimiliki manusia, dan dunia yang lebih rendah merupakan rumah bagi makhluk halus dan iblis.
Dalam hal perawatan medis budaya Batak akan melihat lebih dalam pada kondisi jiwa. Mereka meyakini bahwa penyakit itu disebabkan ketika jiwa terlepas dari tubuh oleh karena itu dukun (penyembuh tradisional) diperlukan untuk datang dan membantu memanggil jiwa yang berkeliaran kembali ke pasien.

Di dataran tinggi Batak, Anda akan melihat rumah-rumah tradisional dengan atap lancip dan garis tinggi mendatar. Rumah-rumah ini berbentuk panggung sehingga hewan peliharaan keluarga seperti babi dan kerbau dapat hidup di bawahnya.

Di Sumatera Utara Anda akan menemukan kekayaan budaya warisan nenek moyang yang siap untuk dijelajahi. Anda dapat mengunjungi makam kuno raja-raja Batak, menonton pertunjukan tarian tradisional, atau melihat seni yang indah dan kerajinan yang diproduksi secara lokal.


Medan, ibu kota Sumatera Utara, merupakan kota pusat ekonomi dan komersial terbesar di Sumatera. Kota ini terus bertumbuh menjadi pusat bisnis dan menjadi pintu gerbang ke Sumatera Utara, tempat dimana wisatawan datang untuk berpetualang di dataran tinggi Danau Toba atau memasuki liarnya hutan lebat Sumatera.
Dahulu, Medan merupakan rumah bagi para pedagang dan pelaut. Mereka bernaung di bawah kekuasaan Kerajaan Melayu Islam hingga akhirnya Kesultanan Aceh Darussalam berhasil menaklukkannya. Selama masa konflik, lokasi daratan digunakan sebagai medan perang antara dua kerajaan sehingga ada asumsi kata “medan” diterjemahkan secara harfiah dari kata lapangan atau medan.
Sejarah modern Medan telah dimulai pada 1860an ketika para pendagang menyadari potensi tanah vulkanik yang kaya untuk perkebunan. Tahun 1865 seorang pengusaha Belanda memperkenalkan tembakau di daerah tersebut sehingga mengantarkan Medan pada masa kemakmuranya. Alasan ini menyebabkan masuknya investasi asing dan aliran kapitalis Eropa. Tanaman tembakau, karet, kelapa sawit dan teh ditanam hapir di semua area di Medan. Dari sebuah desa kecil berikutnya Medan tumbuh menjadi sebuah kota kolonial yang makmur. Tahun 1886 Belanda menjadikan Medan sebagai ibu kota Sumatera Utara hingga membuat penduduk Medan membengkak menjadi sekitar 80.000. Kini populasi warga Medan beragam, hampir setiap etnis ada di sini, seperti Batak, Melayu, Jawa, Minang, Aceh, India dan Cina.
Sekarang menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia. Pengaruh masa lalunya yang gemilang sebagai penghasil perkebunan meninggalkan jejak arsitektur Eropa di berbagai bangunan kota. Alhasil, saat ini Medan menjadi sebuah kota dengan perpaduan gaya hidup modern dan warisan kolonial.
setiap kota biasanya memiliki ikon yang menjadi penanda sekaligus kebanggaan masyarakatnya. Nah, di Medan Istana Maimun atau yang juga dikenal Istana Maimun adalah ikon sekaligus kebanggaan kota dan warga Medan. Istana ini berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan.
Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan ini merupakan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Kota Medan, Sumatera Utara. Arsitektur bangunannya didominasi warna kuning yang merupakan warna khas Melayu.
Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.
Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Di bagian depan sekitar 100 meter berdiri Masjid Al-Maksum yang dikenal sebagai Masjid Raya Medan.
Istana Maimun merupakan salah satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia. Istana ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam, Spanyol, India dan Itali. Perpaduan ini menyuguhkan keunikan inilah yang memberikan karakter khas bangunannya.
Pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, jendela sampai pintu dorong. Pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari arsitektur istana ini. Anda dapat pula melihat pola arsitektur Belanda dari bentuk pintu dan jendelanya yang lebar dan tinggi. Ada pula prasasti marmer di depan tangga ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda.
Pengaruh Islam terlihat dari bentuk lengkung (arcade) di bagian atap yang bentuknya menyerupai perahu terbalik (lengkung persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan di kawasan Timur Tenggah.
Istana Maimun merupakan salah satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia.


Di ruang tamu terdapat tahta yang didominasi warna kuning. Ruangan seluas 412 m persegi ini digunakan untuk acara penobatan Sultan Deli atau agenda tradisional lainnya. Ruang tersebut juga digunakan sebagai tempat  sultan menerima kunjungan sanak saudara dan keluarga di hari libur Islam.
Kemewahan interior dan bangunan fisik istana ini dimungkinkan karena sejak 2 abad silam wilayah Deli berada dibawah Kesultanan Deli yang mengelola hasil perkebunan, minyak, dan rempah-rempah yang melimpah. Hasil bumi yang luar biasa tersebut memberikan penghasilan sangat besar kepada Kesultanan Deli dengan bukti kehadiran Istana Maimun yang megah.
Bangunan bersejarah ini terbuka untuk umum setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Tarif masuknya Rp3.000,- untuk anak-anak dan Rp5.000,- untuk dewasa.

Kantor Pariwisata

Jl. Jend. A. Yani No. 107, Medan. 20111
Telp. (061) 4538101, 4520559, 4524908 Fax. (061) 4528436
www.northsumatratourism.info