Pulau Nias: Jejak Budaya Mengagumkan Di Samudera Hindia dan Surganya Peselancar Dunia
Berkunjung ke Pulau Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, waktu seakan berhenti dipagari budaya megalit yang masih lestari. Di tengah Samudera Hindia yang luas itu, pulau ini menjadi rumah bagi budaya zaman batu kuno yang mengagumkan untuk disambangi.
Pulau Nias terletak di Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera.
Pulau indah dan mengagumkan ini dikelilingi sekira 27 pulau-pulau kecil
dimana baru 11 pulau di antaranya yang sudah berpenghuni termasuk Pulau
Nias, Pulau Simeuleu, Pulau Mentawai dan Pulau Enggano. Lokasi persis Pulau Nias berada sekira 125 km dari pantai barat Sumatera.
Memiliki luas sekira 5.000 km², Pulau Nias merupakan yang terbesar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Gunungsitoli adalah ibu kota Nias dimana di sini tersedia fasilitas bagi Anda yang ingin menjelajahi kemegahan alam dan budaya Nias. Di kota ini pula ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias.
Pulau sepanjang 130 km dengan lebar 45 km ini seolah terasing keberadaannya. Hanya sedikit kapal dagang berlabuh di pulau ini karena memang dilarang. Pihak berwenang akan segera memerintahkan kapal dagang yang mendekat untuk membelok ke pelabuhan di Padang atau ke Pelabuhan di Bengkulu. Oleh karena itu, berkunjung ke Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti dengan budaya dan tradisi masih bertahan lestari.
Penduduk Pulau Nias tersebar di sekira 650 desa tetapi banyak dari desa-desa tersebut termasuk sulit dapat dijangkau melalui darat karena medannya yang berat. Upaya pembangunan infrastruktur di kawasan ini harus berhadapan dengan bentuk permukaan tanah yang labil. Jalanan yang baru dibangun biasanya hanya akan berumur pendek karena tanah selalu melesak ke bawah.
Pulau Nias dihuni masyarakat yang hidup mandiri sejak berabad-abad yang lalu. Kebudayaan mereka yang masih terjaga keasliannya dari pengaruh luar telah memikat wisatawan manapun yang menyambanginya. Dalam bahasa setempat, orang Nias menamakan diri mereka sebagai "Ono Niha", kata ono artinya anak atau keturunan, sementara kata niha memiliki arti manusia. Pulau Nias kadang disebut juga sebagai Tanö Niha , dimana kata tanö bermakna tanah.
Nias terkenal di dunia dengan budaya batu dan selancarnya. Salah satu yang tersohor dari atraksi budaya batu ini adalah lompat batu, yaitu pemuda lokal setempat melompati sebuah dinding batu setinggi 2 meter. Sebagai lokasi selancar dunia, Pulau Nias sebanding dengan Hawaii dengan kepemilikan ombak besar yang memikat penghobinya. Pulau Nias juga sempat menjadi tuan rumah Indonesian Open Surfing Championship yang berlokasi di Pantai Lagundri.
Memiliki luas sekira 5.000 km², Pulau Nias merupakan yang terbesar di antara pulau-pulau di sekitarnya. Gunungsitoli adalah ibu kota Nias dimana di sini tersedia fasilitas bagi Anda yang ingin menjelajahi kemegahan alam dan budaya Nias. Di kota ini pula ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias.
Pulau sepanjang 130 km dengan lebar 45 km ini seolah terasing keberadaannya. Hanya sedikit kapal dagang berlabuh di pulau ini karena memang dilarang. Pihak berwenang akan segera memerintahkan kapal dagang yang mendekat untuk membelok ke pelabuhan di Padang atau ke Pelabuhan di Bengkulu. Oleh karena itu, berkunjung ke Nias serasa menelusuri kehidupan masa lalu, di sana waktu seakan berhenti dengan budaya dan tradisi masih bertahan lestari.
Penduduk Pulau Nias tersebar di sekira 650 desa tetapi banyak dari desa-desa tersebut termasuk sulit dapat dijangkau melalui darat karena medannya yang berat. Upaya pembangunan infrastruktur di kawasan ini harus berhadapan dengan bentuk permukaan tanah yang labil. Jalanan yang baru dibangun biasanya hanya akan berumur pendek karena tanah selalu melesak ke bawah.
Pulau Nias dihuni masyarakat yang hidup mandiri sejak berabad-abad yang lalu. Kebudayaan mereka yang masih terjaga keasliannya dari pengaruh luar telah memikat wisatawan manapun yang menyambanginya. Dalam bahasa setempat, orang Nias menamakan diri mereka sebagai "Ono Niha", kata ono artinya anak atau keturunan, sementara kata niha memiliki arti manusia. Pulau Nias kadang disebut juga sebagai Tanö Niha , dimana kata tanö bermakna tanah.
Nias terkenal di dunia dengan budaya batu dan selancarnya. Salah satu yang tersohor dari atraksi budaya batu ini adalah lompat batu, yaitu pemuda lokal setempat melompati sebuah dinding batu setinggi 2 meter. Sebagai lokasi selancar dunia, Pulau Nias sebanding dengan Hawaii dengan kepemilikan ombak besar yang memikat penghobinya. Pulau Nias juga sempat menjadi tuan rumah Indonesian Open Surfing Championship yang berlokasi di Pantai Lagundri.
Fahombe atau tradisi lompat batu di Pulau Nias lahir dari kebiasaan berperang antardesa masyarakat Pulau Nias. Tradisi tersebut dahulu dikhususkan sebagai persiapan perang dimana setiap desa biasanya membentengi diri dengan pagar bambu setinggi dua meter sehingga para pria desa dilatih untuk bisa melompati pagar tersebut melalui latihan melompati batu. Ini juga sekaligus sebagai sarana uji keberanian dan kedewasaan seorang anak laki-laki di Pulau Nias.
Nias merupakan tanah kuno. Tidak ada
yang tahu persis sudah berapa lama masyarakat aslinya hidup di sini.
Menurut legenda setempat, kehidupan di Pulau Nias berasal dari Sungai
Gomo dimana menjadi mula keturunan 6 dewa dan peradaban manusia. Oleh
karena itu, masyarkat Nias menyebut diri mereka ono niha atau ‘anak masyarakat’.
Persebaran masyarakat dimulai dari Nias Tengah kemudian berpindah ke
Utara dan Selatan dengan mengembangkan bahasa, adat istiadat dan seninya
masing-masing. Diperkirakan manusia di Pulau Nias saudah ada sejak
30.000 tahun lampau.
Masyarakat Nias memiliki karakter keras dan kuat yang diwarisi dari budaya pejuang perang. Oleh karena itu, masyarakat dan budaya Nias sampai saat ini mampu bertahan dari serbuan budaya asing. Budaya pejuang Nias telah berlangsung selama berabad-abad ketika desa-desa di sini mendeklarasikan perang satu sama lain. Dahulu peperangan antardesa atau antar suku berlangsung karena terprovokasi oleh rasa dendam atau masalah perbudakan.
Selain lekat dengan budaya pejuang, masyarakat Nias juga sekaligus masyarakat petani. Mereka menanam ubi, jagung dan talas untuk memenui kebutuhan hidupnya. Hewan babi selain menjadi hewan ternak juga menunjukan status seseorang karena semakin banyak seseorang memiliki babi maka semakin tinggi pula kedudukannya dalam masyarakat desa.
Pulau Nias bukan tanpa catatan sejarah karena sesungguhnya pulau mengagumkan ini pernah masuk catatan pedagang China, Portugis dan Arab. Dahulu Pulau Nias dikenal sebagai asal diperolehnya para budak yang kemudian diperjualbelikan oleh Kerajaan Aceh, pedagang Portugis, dan pedagang Belanda. Bahkan, hingga abad ke-19 Nias masih dikenal dunia luar sebagai lokasi perdagangan budak.
Pemerintah Hindia Belanda menguasai Pulai Nias tahun 1825. Meskipun sebenarnya sebelum itu pulau ini telah berhubungan dengan dunia luar tetapi kebudayaan tradisional tetap utuh secara menakjubkan.
Kebudayaan masyarakat Nias yang nampak misterius justru akan menarik
untuk Anda kenali. Beragam jejak budaya megalitikum kuno dan arsitektur
tradisional di pulau ini telah memikat banyak peneliti budaya sekaligus
menjadi daya tarik pariwisata.
Persiapkan diri Anda untuk terkesima saat berkunjung ke Bawomatauo dengan melihat pertunjukan lompat batu. Atraksi ini telah menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Pulau Nias. Beranikah diri Anda untuk mencoba sendiri melompati batu dengan setinggi 2 meter. Menakjubkan bukan! Lompat batu sendiri awalnya adalah latihan perang kuno bagi para pemuda lokal di Pulau Nias.
Di Desa Bawatomataluo dan Desa Hilisimae ada juga pertunjukan tari perang tradisional dimana para penarinya mengenakan kostum tradisional dengan bulu burung berwarna cerah yang diikatkan di kepala mereka. Kedua desa ini dapat dikatakan sebagai desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan.
Cobalah berjalan-jalan di desa-desa sekitar Pulau Nias untuk melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad. Rumah ini tahan gempa dan dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar itu dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring sehingga menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit dari rumah penduduk akan membuat Anda merasa takjub. Kunjungi Desa Hilisimaetano di Selatan Nias dimana memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.
Ada alasan mengapa para peselancar mancanegara menyebut Nias sebagai ‘surga selancar di Bumi’. Hal itu karena ombak di tempat ini begitu spektakuler dibonusi pantai berpasir indah berwarna merah keputihan. Peselancar yang sudah berpengalaman akan berkerumun untuk bertarung memecah ombak besar di Pantai Lagundri. Di sini pemandangan pantainya juga begitu menakjubkan. Matahari terbenam pelan-pelan seolah jatuh ke dalam laut dengan warna merah kekuningan yang memukau.
Pilihan lain di Pulau Bawa dan Pulau Aru yang dapat diakses melalui 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri atau menyewa perahu dari Nias maka Anda dapat berselancar sepusanya di pulau ini.
Mengapa tidak Anda mencoba merasakan seperti seorang arkeolog untuk menyelidiki tempat-tempat dari zaman prasejarah atau zaman batu. Mengamati detail kecil tentang prasejarah Nias karena Nias dianggap sebagai rumahnya kebudayaan magalitikum tertua di Indonesia. Di sini ada banyak rumah adat dengan ukiran batu tua. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.
Di dataran tinggi sekitar Gomo berdiam contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses karena harus melewati hutan atau menumpang kendaraan setempat namun akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang mengesankan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada 14 titik situs batu megalit di sini dan 4 situs di antaranya telah dipugar pemerintah. Arca-arca batu berusia ratusan tahun tersebut bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk.
Di Gunungsitoli ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias. Pastor Johannes M. Hammerle, seorang warga asal Jerman sudah menetap di sini selama 36 tahun bertindak selaku direktur museum. Ia telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya Nias dari desa-desa di pedalaman. Di museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah adat asli Nias atau disebut omo hada.
Persiapkan diri Anda untuk terkesima saat berkunjung ke Bawomatauo dengan melihat pertunjukan lompat batu. Atraksi ini telah menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat Pulau Nias. Beranikah diri Anda untuk mencoba sendiri melompati batu dengan setinggi 2 meter. Menakjubkan bukan! Lompat batu sendiri awalnya adalah latihan perang kuno bagi para pemuda lokal di Pulau Nias.
Di Desa Bawatomataluo dan Desa Hilisimae ada juga pertunjukan tari perang tradisional dimana para penarinya mengenakan kostum tradisional dengan bulu burung berwarna cerah yang diikatkan di kepala mereka. Kedua desa ini dapat dikatakan sebagai desa adat yang paling fenomenal di Nias selatan.
Cobalah berjalan-jalan di desa-desa sekitar Pulau Nias untuk melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad. Rumah ini tahan gempa dan dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar itu dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring sehingga menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit dari rumah penduduk akan membuat Anda merasa takjub. Kunjungi Desa Hilisimaetano di Selatan Nias dimana memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.
Ada alasan mengapa para peselancar mancanegara menyebut Nias sebagai ‘surga selancar di Bumi’. Hal itu karena ombak di tempat ini begitu spektakuler dibonusi pantai berpasir indah berwarna merah keputihan. Peselancar yang sudah berpengalaman akan berkerumun untuk bertarung memecah ombak besar di Pantai Lagundri. Di sini pemandangan pantainya juga begitu menakjubkan. Matahari terbenam pelan-pelan seolah jatuh ke dalam laut dengan warna merah kekuningan yang memukau.
Pilihan lain di Pulau Bawa dan Pulau Aru yang dapat diakses melalui 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri atau menyewa perahu dari Nias maka Anda dapat berselancar sepusanya di pulau ini.
Mengapa tidak Anda mencoba merasakan seperti seorang arkeolog untuk menyelidiki tempat-tempat dari zaman prasejarah atau zaman batu. Mengamati detail kecil tentang prasejarah Nias karena Nias dianggap sebagai rumahnya kebudayaan magalitikum tertua di Indonesia. Di sini ada banyak rumah adat dengan ukiran batu tua. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.
Di dataran tinggi sekitar Gomo berdiam contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses karena harus melewati hutan atau menumpang kendaraan setempat namun akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang mengesankan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ada 14 titik situs batu megalit di sini dan 4 situs di antaranya telah dipugar pemerintah. Arca-arca batu berusia ratusan tahun tersebut bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk.
Di Gunungsitoli ada Museum Pusaka Nias yang menyimpan sekira 6500 koleksi benda budaya peninggalan Masyarakat Nias. Pastor Johannes M. Hammerle, seorang warga asal Jerman sudah menetap di sini selama 36 tahun bertindak selaku direktur museum. Ia telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya Nias dari desa-desa di pedalaman. Di museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah adat asli Nias atau disebut omo hada.
Pantai Lagundri dan Pantai Sorake: Salah Satu dari 10 Lokasi Surfing Terbaik di Dunia

Pantai Lagundri dan Pantai Sorake bukan hanya memiliki lanskap panorama yang indah tetapi juga tersohor sebagai lokasi selancar (surfing) bertaraf internasional. Ketenaran kedua pantai tersebut kini disandingkan dengan deburan ombak menantang di Hawaii. Jarak antara Pantai Lagundri dan Pantai Sorake hanya 2 km, berlokasi sekira 12 km dari Telukdalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.Sejak 1993, pantai ini terkuak kesempurnaanya untuk surfing oleh para penunggang papan selancar dunia. Mereka memacu adrenalin di lautan biru berselimutkan gulungan ombak dan bermandikan Matahari Tropis yang sanggup melenakan siapa pun. Tepat disebelah kanan teluknya, peselancar dunia itu berlomba-lomba memburu angin yang membingkiskan untuk mereka lipatan ombak panjang dari arah selatan dan terus memukau lagi ketika bulan purnama pun tiba.
Penggila olahraga selancar dari
mancanegara beduyun-duyun berkumpul di pantai ini pada April hingga
September setiap tahunnya. Mereka akan menjajal lipatan gelombang yang
tingginya mampu mencapai 7 hingga 10 meter dengan lima tingkatan.
Beberapa di antaranya sangat diidamkan peselancar proffesional. Selain
itu, panjang daya dorong ombak di kawasan ini nyatanya bisa mencapai 200
meter. Akan lebih menarik dan menantang ombaknya saat tiba bulan
purnama!
Salah satu yang membuat ombak di
Lagundri ini ideal bagi selancar adalah karena lokasinya berhadapan
dengan Samudera Indonesia dan juga merupakan tempat bertemunya teluk
sehingga ombak akan mengalir besar.
Pantai Lagundri sudah beberapa kali
menjadi lokasi lomba selancar baik nasional maupun internasional. Nias
Open adalah salah satu kejuaraan yang rutin diselenggarakan dimana
ratusan peselancar mancanegara terutama dari Australia begitu
mendominasi lautannya.
Selain
airnya yang jernih dan pasir putih bersih, di pantai ini terbilang sepi
terutama bila bukan musim lomba selancar. Oleh karena itu, kawasan ini
ideal bagi Anda yang tidak menyukai keramaian dan ingin menikmati
suasana pantai.
Apabila Anda belum berminat dengan
olahraga selancar maka menyaksikan peselancar beraksi akan sangat
mengasyikan. Biasanya lomba surfing digelar antara Juni hingga Juli
dimana lokasi ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.
Warga lokal setempat terutama anak
mudanya dapat menjadi pemandu dan pelatih apabila Anda ingin belajar
selancar. Mereka akan menjelaskan kepada Anda termasuk untuk memahami
jenis ombak di kawasan ini.
Waktu terbaik untuk berselancar bagi
pemula adalah pagi hari. Itu karena pagi hari ombaknya belum terlalu
tinggi sehingga Anda tidak perlu mengayuh terlalu kuat untuk mendorong
badan ke tengah laut. Apabila Anda ingin mencari ombak besar maka
melautlah saat siang atau menjelang sore mengingat saat itu angin sudah
makin kencang dan ombak pun semakin besar.
Umumnya kebanyakan wisatawan yang datang
ke sini menghabiskan waktu mereka di laut. Mereka dengan sabar
menantikan anginnya yang besar untuk membingkiskan gulungan ombak yang
tinggi dan panjang.
Bermain ombak di sini tidak cukup sehari
jadi pastinya Anda perlu bermalam di dekat pantai. Jangan takut bosan
saat malam hari karena Anda dapat berjalan-jalan di tepi pantai atau
bercengrama dengan penduduk setempat.
Langit di Pulau Nias menyuguhi ribuan
kerlip bintang saat malam. Habiskan malam Anda dengan memandangi bintang
sambil mendengar debur ombak dari kejauhan.
Museum Pusaka Nias: Wahana Kemegahan Budaya Nias
Saat mengunjungi museum ini maka secara
bersamaan Anda dapat juga menyambangi obyek wisata tepi pantai yang
tidak jauh dari museum. Dapat pula melihat koleksi binatang langka dan
tanaman khas Nias, atau menginap di rumah adat Nias yang memang dapat
disewa di tempat ini.
Ada hal menarik lainnya di museum ini
yaitu memelihara ratusan ekor binatang khas Pulau Nias dimana
keberadaannya mulai berkurang akibat perburuan. Hewan-hewan tersebut
dipelihara dalam kandang-kandang terpisah. Beberapa diantaranya adalah
nago (kijang), laosi (kancil), dan magiaodanõ (sejenis beo), buaya,
kera, musang, kura-kura, landak, burung bangau, serta beberapa jenis
burung. Binatang tersebut sebagian besar merupakan sumbangan masyarakat
Nias.
Selain hewan, di museum ini ada juga
beragam tanaman khas Nias yang kini mulai sulit untuk dijumpai. Beberapa
diantaranya adalah pohon fosi, dimana dalam kepercayaan kuno masyarakat
Nias, fosi adalah pohon yang dapat memberikan suatu tanda, misalnya
dahannya patah itu artinya ada bangsawan yang meninggal. Ada juga sinasa yaitu sejenis pandan yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tikar.
Teluk Dalam : Sejarah, Tradisi dan Selancar di Nias Selatan
Teluk Dalam yang merupakan surga bagi
peselancar adalah Ibu Kota Kabupaten Nias Selatan, kota yang juga
berfungsi sebagai kecamatan di Nias Selatan, Sumatera Utara.
Apabila Anda melihat di peta maka sangat mudah untuk menemukan posisi
kota ini karena letaknya yang berada persisi di ujung selatan Pulau
Nias, berbatasan dengan Kecamatan Amandraya dan Kecamatan Lahusa.
Teluk Dalam juga dikenal dengan
pantai-pantainya yang indah. Ombak di pantai-pantai tersebut sudah
banyak dikenal oleh peselancar dunia, sebut saja Pantai Lagundri dan Pantai Sorake. Ombak di kedua pantai ini merupakan primadona peselancar dunia. Gulungan ombak kedua pantai ini memiliki ketinggiaan sempurna.
Temukan peninggalan Megalitik di Desa Orahili,
Kecamatan Gomo. Ada batu berukuran besar berada di perbukitan dekat
dengan Sungai Gomo. Menurut sejarah perbukitan dan batu-batu megalitik
tersebut merupakan sebuah perkampungan yang berasal dari Zaman Batu Muda
(Neolithicum) sekitar 1000 – 1500 M yang dikelilingi oleh bukit-bukit
hijau. Peninggalan Megalitik di desa ini terdiri dari berbagai macam
bentuk di antaranya adalah: Batu Tegak, Batu Datar, Meja Batu, Batu
Tegak Segi Empat Pipih, Batu Tegak Segi Empat Balok, Batu Bulat
Berlumpang Dua dan Patung Manusia. Tidak hanya itu saja juga terdapat
sekumpulan menhir, dolmen, sakrofagus, dan hasil-hasil kebudayaan
Megalitik lainnya.
Pulau Mursala: Mereguk Keindahan Air Terjun nan Memukau di Tapanuli Tengah
Museum Pusaka Nias: Wahana Kemegahan Budaya Nias
Museum
Pusaka Nias merupakan satu-satunya wahana penyimpan kemegahan budaya
Nias. Berlokasi di Jalan Yos Sudarso No. 134-A Gunungsitoli, Nias,
Sumatera Utara, museum seluas 2 hektar tersebut dapat dikatakan juga
pusat rekreasi di Kota Gunungsitoli. Saat hari libur pengunjungnya bisa
mencapai 1500 orang.
Saat mengunjungi museum ini maka secara
bersamaan Anda dapat juga menyambangi obyek wisata tepi pantai yang
tidak jauh dari museum. Dapat pula melihat koleksi binatang langka dan
tanaman khas Nias, atau menginap di rumah adat Nias yang memang dapat
disewa di tempat ini.
Museum Pusaka Nias menyimpan sekira
6.500 koleksi benda bersejarah masyarakat Pulau Nias. Di sini Anda dapat
melihat langsung beragam koleksi berharga budaya Nias, diantaranya
adalah: alat rumah tangga, alat musik tradisional, perhiasan, dan
patung-patung. Benda-benda koleksi yang dipamerkan tersebut dilengkapi
keterangan (Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) untuk mengetahui
sejarah, makna, dan fungsinya. Perawatan benda koleksi museum ini
terbilang baik dan beberapa koleksi menggunakan obat pengawet khusus
agar tidak lekas rusak.
Museum Pusaka Nias yang dibangun Yayasan
Pusaka Nias tahun 1995 tidak lepas dari jasa seorang pastor bernama
Johannes M. Hammerle. Ia merupakan warga asal Jerman yang sudah menetap
di Nias selama 40 tahun dan sekarang masih menjabat sebagai direktur
museum. Pastor Johannes telah berjasa mengumpulkan benda koleksi budaya
Nias dari desa-desa di pedalaman pulau tersebut.
Museum Pusaka Nias juga telah bekerja
sama dengan International Labor Organization (ILO) untuk melakukan
rehabilitasi rumah-rumah adat yang tersebar di desa-desa adat se-Pulau
Nias. Beberapa di antaranya seperti di Kecamatan Gunungsitoli Barat
(Kota Gunungsitoli), Kecamatan Hiliserangkai (Kabupaten Nias), Kecamatan
Lahomi (Kabupaten Nias Barat) dan di Kabupaten Nias Utara dan Nias
Selatan.
Saat mengunjungi museum ini, pengunjung
harus membayar tiket masuk Rp2.500,- (dewasa) dan Rp1.000,- (anak-anak),
dan Rp20.000 (wisatawan mancanegara). Tarif tersebut sudah termasuk
parkir kendaraan.
Di
museum ini dapat Anda lihat beragam artefak alat rumah tangga,
patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisonal,
mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan, serta rumah
adat asli Nias atau disebut omo hada.
Di sini tersimpan pula replika rumah adat Nias dan kerajinan tangan khas Nias seperti bola nafo dengan berbagai motif. Salah satu yang unik adalah bola nafo
berukuran raksasa sebesar 3 meter x 3 meter dan tercatat dalam Museum
Rekor Indonesia (MURI) sebagai tepak sirih terbesar di Indonesia.
Museum ini memiliki beberapa paviliun sesuai fungsinya masing-masing, yaitu: Paviliun I
menyimpan beragam artefak mulai dari kehidupan pribadi, keluarga,
masyarakat hingga sisi religius. Artefak tersebut menampilkan dimensi
kehidupan Masyarakat Nias yang agung, terhormat, dan tegas. Paviliun II
berisi peninggalan alat kehidupan seperti perhiasan, alat dapur, serta
peralatan perjamuan yang terbuat dari kayu, batu dan keramik. Di sini
tersimpan pula ragam bentuk peti jenazah dan peralatan yang dipakai
dalam ritual religi kuno. Di Paviliun III menyimpan
alat keseharian suku-suku di Pulau Nias mulai dari tempat tinggal,
peralatan dan teknologi rumah tangga, kesenian, pertanian, pertukangan,
hingga peralatan berburu. Di Paviliun IV, Anda dapat melihat serangkaian batu pilihan yang dianggap hidup dan bisa berbicara pada generasi saat ini tentang leluhurnya. Di Paviliun V menjadi ruang pameran temporer, ceramah, audio-visual, atau pun untuk ruang diskusi pendidikan.
Museum Pusaka Nias juga memiliki
perpustakaan dengan ratusan koleksi buku tentang kebudayaan Nias.
Perpustakaan ini sering dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum
bahkan dari luar Nias untuk mengenal dan mendalami masyarakat Nias dan
budayanya.
Ada hal menarik lainnya di museum ini
yaitu memelihara ratusan ekor binatang khas Pulau Nias dimana
keberadaannya mulai berkurang akibat perburuan. Hewan-hewan tersebut
dipelihara dalam kandang-kandang terpisah. Beberapa diantaranya adalah
nago (kijang), laosi (kancil), dan magiaodanõ (sejenis beo), buaya,
kera, musang, kura-kura, landak, burung bangau, serta beberapa jenis
burung. Binatang tersebut sebagian besar merupakan sumbangan masyarakat
Nias.Teluk Dalam : Sejarah, Tradisi dan Selancar di Nias Selatan
Pemandangan
alam nan indah, tradisi dan sejarah yang layak ditelusuri ada semua di
kota ini. Ya, di Teluk Dalam, perpaduan tersebut bergabung menjadi satu
dalam sebuah harmoni hidup di kota yang terkenal dengan tradisi lompat
batu-nya. Kota Teluk Dalam menjadi pintu masuk bagi peselancar dunia
datang ber-ramai-ramai pada musim tertentu untuk menjajal indah dan
ganasnya gulungan ombak di perairan kota ini.
Teluk Dalam yang merupakan surga bagi
peselancar adalah Ibu Kota Kabupaten Nias Selatan, kota yang juga
berfungsi sebagai kecamatan di Nias Selatan, Sumatera Utara.
Apabila Anda melihat di peta maka sangat mudah untuk menemukan posisi
kota ini karena letaknya yang berada persisi di ujung selatan Pulau
Nias, berbatasan dengan Kecamatan Amandraya dan Kecamatan Lahusa.
Menurut sejarahnya nama Teluk Dalam diambil dari nama sebuah teluk yang berada di bagian selatan Pulau Nias.
Berikutnya nama tersebut dijadikan nama kota. Dalam tata bahasa Nias
Selatan nama Teluk Dalam juga dikenal dengan nama Luahaziwara-wara yang
berarti tempat pertemuan seluruh penduduk Kecamatan Teluk Dalam atau
dalam tata masyarakat Jawa dikenal dengan pendopo.
Penduduk Teluk Dalam mayoritas adalah
Kristiani dan sisanya adalah Muslim. Mayoritas mata pencaharian mereka
adalah Petani dengan padi, kelapa, karet, kokoa dan buah-buahan sebagai
tanaman utama. Lainnya berkerja sebagai nelayan penangkap ikan, udang
dan kepiting adalah tangkapan utama setiap harinya dan sisanya adalah
pedagang.
Nenek moyang masyarakat Teluk Dalam
dipercaya berasal dari Gomo, sebuah daerah yang berada dibagian tengah
Pulau Nias. Sistem pembagian negeri atau yang dikenal dengan Ori
terbilang unik. Pembagian Ori di kota ini dibedakan berdasarkan
kedekatan wilayah, asal usul keturunan, persamaan marga, kesamaan logat
dan pembuatan kampung baru yang berasal dari kampung asal. Pembagian Ori
ini sudah ada sejak berdirinya peradaban di Pulau Nias. Sampai saat ini
terdapat empat Ori di Teluk Dalam antara lain: Ori Maenamolo, Ori Ono
Lalu, Ori Mazino dan Ori Toene asi.
Jika Anda sangat tertarik dengan
kehidupan masyarakat tradisional Nias maka kota ini cocok bagi Anda.
Desa-desa di Teluk Dalam masih lekat dan kental dengan tradisi dan
arsitektur Nias yang unik. Sebut saja Desa Bawomataluo yang berjarak
sekitar 15 km dari Teluk Dalam. Desa yang berada di atas bukit dengan
ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Rumah-rumah di desa ini
masih memiliki arsitektur rumah adat Nias yang dikenal dengan Omo Nifolasara
sudah berusia ratusan tahun. Uniknya rumah-rumah di desa ini dibangun
saling berhadapan sehingga menyisakan halaman luas yang digunakan
sebagai tempat pertunjukan seni tradisi Teluk Dalam seperti Lompat Batu
(Hombo Batu) dan Tari Perang. Desa tradisional lain yang patut untuk
dikunjungi adalah Desa Hilinawalo Fau, Onohondro dan Hilinawalo Mazino
Di Teluk Dalam juga terdapat peninggalan
Megalitik yang berada di Desa Orahili, Kecamatan Gomo. Batu batu
berukuran besar tersebut berada di perbukitan dekat dengan Sungai Gomo.
Menurut sejarah perbukitan dan batu-batu megalitik tersebut merupakan
sebuah perkampungan yang berasal dari Zaman Batu Muda (Neolithicum)
sekitar 1000 – 1500 M.
Teluk
Dalam merupakan sebuah kota yang terkenal dengan wisata alam, seni
tradisi dan sejarahnya. Berikut ini beberapa destinasi yang patut untuk
Anda kunjungi di Teluk Dalam.
Desa Bawomataluo yang
berjarak sekitar 15 km dari Teluk Dalam merupakan desa tradisional di
atas bukit. Desa ini merupakan desa tradisional yang paling terkenal dan
sering dikunjungi wisatawan. Arsitekur bangunan rumah tradisional Nias
atau yang dikenal dengan Omo Nifolasara masih terpelihara
dengan baik di desa ini. Rumah berukuran besar ini menjadi salah satu
rumah tradisional dari kayu yang masih bertahan di Indonesia. Setiap
rumah dibagun saling berhadapan dengan ketinggian dan bentuk yang hampir
sama. Rumah-rumah di desa ini diperkirakan sudah berumur ratusan tahun
dan merupakan warisan nenek moyang penduduk desa tersebut. Setiap
minggunya di desa ini terdapat pertunjukan Lompat Batu dan Tari Fataele
yang merupakan tari perang khas Nias Selatan. Segala keunikan yang ada
di desa ini bahkan sudah mengantarkan desa ini masuk dalam tentative list
untuk warisan dunia di Unesco. Desa ini juga merupakan desa yang paling
mudah untuk diakses dibandingkan dengan desa-desa tradisional lainnya
di Teluk Dalam dan untuk mencapai desa ini, wisatawan harus menaiki anak
tangga berjumlah 88.
Pantai Saroke terletak
di mulut Teluk Lagundari dan berhadapan lansung dengan Samudera
Indonesia. Pantai ini merupakan surga bagi para peselancar dunia. Pada
musim-musim tertentu, pantai ini ramai dikunjungi oleh mereka yang
sangat menyukai bermain di atas papan sambil meluncur di atas kencang
dan tingginya ombak Pantai Saroke. Gulungan serta tinggi ombak di pantai
ini disebut-sebut paling sempurna kedua setelah ombak yang ada di
Hawaii. Hal ini mungkin tidak perlu diragukan karena tinggi ombak di
pantai ini mencapai 15 meter dan memiliki lima tingkatan ombak yang
sulit ditemukan di pantai lain. Kepopuleran ombak di pantai ini dan
pamandangan sekitranya yang memesona telah mengantar pantai ini ke pada
mata dunia, terhitung sudah beberapa kali diadakan lomba selancar
internasional di pantai ini. Di sepanjang pantai ini juga terdapat homestay yang siap mengakomodasi pengunjung.
Pantai Lagundri
merupakan pantai berpasir putih berjarak sekitar 13 km di selatan Kota
Teluk Dalam. Pantai ini bersebelahan langsung dengan Pantai Sorake.
Selain Pantai Sorake, pantai ini juga merupakan destinasi favorit
peselancar dunia walaupun ombaknya tidak setinggi dan seindah ombak di
Pantai Sorake. Pantai ini juga cocok utuk kegiatan menyelam karena di
pantai ini kaya akan ikan hias. Berjalan-jalan di pesisir pantai sambil
menikmati indahnya pemandangan batu karang yang menghiasi pesisir sambil
merupakan kegiatan yang menyegarkan. Karena ombaknya yang tidak terlalu
tinggi, kegiatan berenang lebih cocok dilakukan di pantai ini, berjemur
di atas halusnya pasir putih sambil bermandikan sinar Matahari dan
menikmati semilir angin laut membelai kulit Anda merupakan pengalaman
yang tidak akan terlupakan.
Ketika Anda berangkat dari Teluk Dalam untuk menuju Pantai Saroke dan Lagundri, singgahlah di Genasi Hill dan Hilisataro.
Genasi Hill memiliki panorama laut yang luar biasa memesona,
pemandangan perbukitan menawarkan landscape laut yang luas membentuk
sebuah cakrawala dikejauhan. Biasanya mereka yang menggunakan kendaraan
akan menghentikan kendaraanya untuk menikmati panorama langka ini sambil
besantai menikmati secangkir the dan kopi yang ditawarkan oleh warung
atau kedai yang ada dipinggir jalan.
Ketika Anda selesai bersantai menikmati keindahan Genasi Hill, bergegaslah menuju Hilisataro.
Hilisataro merupakan pantai berpasir landai. Ketika Anda mulai memasuki
kawasan pantai ini, disepanjang jalan, Anda akan disungguhkan
pemandangan pepohonan kelapa, pisang dan cocoa berbaris manis ditepi
jalan, seolah-olah sedang menyambut kedatangan Anda. Walaupun ombakya
tidak terlalu keras namun masih bisa dijajal oleh peselancar pemula.
Biasanya para peselancar pemula berlatih disini sebelum dapat
berselancar ke Sorake. Di sini Anda juga bisa melakukan kegiatan
berenang.
Pulau Mursala: Mereguk Keindahan Air Terjun nan Memukau di Tapanuli Tengah
Kapal cepat berlayar mengarungi Teluk Tapanuli menuju salah satu pulau di dekatnya. Hutan lebat membungkus pulau tersebut, mengisyaratkan pulau yang cukup besar itu seakan terisolasi dan tidak berpenghuni. Bersiaplah mereguk pengalaman istimewa menyaksikan salah satu keindahan dan kealamian alam Tapanuli Tengah karena di sini ada air terjun yang langsung jatuh ke laut.
Inilah Pulau Mursala atau sering juga
disebut sebagai Mansalaar Island. Pulau dengan luas 8000 ha tersebut
dihuni oleh puluhan kepala keluarga. Selain menikmati panorama alam,
kehidupan penduduk setempat juga menarik untuk diselami. Pesona Pulau
Mursala pernah diangkat ke film layar lebar “King Kong” tahun 1933 dan film nasional berjudul "Mursala" pada 2013.
Keunikan air terjun di sini adalah air
dari ketinggian 35 m itu langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan
laut. Air terjun di Pulau Mursala memang berada pada bagian pulau yang
menghadap langsung ke Samudera Hindia. Air mengalir dari sungai hanya
sepanjang 700 meter (terpendek di Indonesia) kemudian mengaliri batuan
granit kemerahan di tebing pulau. Berikutnya, air tercurah jatuh dalam
volume yang besar ke permukaan laut dengan bunyi keras, apalagi saat
musim penghujan.
Secara administratif, Pulau Mursala
bernaung di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di
sebelah Barat Daya Kota Sibolga. Jika menelaah keberadaannya di dalam
peta, Pulau Mursala terletak di antara Kota Sibolga dan Pulau Nias.
Nama “Mursala” tidak lahir begitu saja,
ada serangkaian cerita yang bergulir di belakangnya. Pada abad VII,
banyak bangsa Arab datang ke Pantai Barus untuk singgah dan melakukan
pertukaran komoditi. Sebelum memasuki Barus, mereka kerap melakukan
ibadah di ujung sebuah pulau besar. Kebiasaan ini berlangsung lama,
sehingga nelayan setempat menamai pulau tersebut dengan rangkaian dari
kata Mur dan shalat, yaitu “Mursala”. Mur merupakan sebutan lain untuk
orang Arab.
Sekeliling pulau ini dihiasi oleh
belasan pulau kecil yang mayoritas tak berpenduduk, diantaranya adalah:
Pulau Pulau Puti, Pulau Silabu Na Godang, Pulau Kalimantung, Pulau
Silabu Na Menek, dan Pulau Jambe. Hadirnya pulau-pulau kecil itu
mendukung Pulau Mursala menjadi destinasi yang apik. Selain kaya ikan
hias dan terumbu karang, Anda juga dapat mengunjungi laguna yang menyatu
antara Pulau Silabu Na Godang dan Pulau Kalimantung.
Disamping itu, Pulau Silabu Na Menek
juga akan menyita perhatian lewat tanaman bonsai yang tumbuh di atas
bebatuan curam. Begitu banyak yang bisa dinikmati di Pulau Mursala,
namun primadona yang harus Anda jumpai adalah Air Terjun Mursala
tentunya.
Di
sekitar Pulau Mursala terdapat beberapa titik yang cocok untuk kegiatan
menyelam dan snorkeling, salah satunya adalah Teluk Labuah Hunik. Jika
ingin berenang dengan pemandangan bawah laut yang menarik, raihlah
daerah sekitar Pulau Jambe yang memiliki perairan dangkal dan ikan laut
yang cantik.
Bagi yang gemar memancing, di sinilah
surganya. Para petualang pun bisa membawa peralatan kemah dan membangun
tenda di pesisir pulau ini. Rasakan tenangnya bermalam di pinggir pantai
sambil ditemani suara desiran ombak.
Di pulau ini ada beberapa tempat menarik
untuk disambangi, seperti Batu Garuda, berupa batu yang menjorok
berbentuk burung di ketinggian 70 m di pantai curam Pulau Silabu Na
Menek, gugusan komposisi batu curam di sekitar Pulau Silabu-labu Na
Godang, dan Bonsai Pinang Merah alam di atas bebatuan curam sekitar
Pulau Silabu Na Menek. Ada pula laguna dengan hamparan pantai pasir
putih yang menyatu antara Pulau Silabulabu Na Godang dengan Pulau
Kalimantung Na Menek, serta hamparan pantai pasir putih di Pulau Puti
yang berdekatan dengan Pulau Mursala. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar