Jumat, 21 November 2014

Wisata Sumatera Utara Bab VI (Selesai)

Pantai Pandan: Menyusuri Keindahan Panorama Pesisir Tapanuli Tengah 

Sengatan Matahari menyapa pagi di Pantai Pandan. Sebagian wisatawan berteduh di gazebo, sebagian lagi membiarkan kulit mereka bermandikan cahaya. Semuanya terhipnotis dengan pantai cantik yang sedang mereka
tatap.


Bagi masyarakat Medan, Sibolga dan sekitarnya, nama Pantai Pandan bukanlah suatu hal yang baru. Ini memang destinasi favorit keluarga untuk mengisi musim liburan. Pantai Pandan terletak di pesisir Sibolga, secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Pandan, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Sejak Tapanuli Tengah memisahkan diri dari Sibolga menjadi kabupaten mandiri, pariwisata setempat mulai digalangkan dan fokusnya dimulai dari daerah Pandan sebagai ibukota kabupaten. Kini fasilitas seperti hotel dan pusat jajanan pun mulai dibangun untuk wisatawan.
Pantai Pandan merupakan destinasi indah dengan air biru jernih dan pepohonan rindang. Pasirnya pun sangat halus, mengelilingi pantai dengan telanjang kaki bisa dijadikan opsi menarik. Saat kunjungan sedang ramai, sesekali akan terlihat rombongan bersepeda mengitari pantai.
Ombak di Pantai Pandan tidak besar, airnya tenang sepanjang tahun karena pantai ini secara geografis terletak di sebuah teluk. Gulungan ombak ganas dari Samudera Indonesia melemah ketika sampai di Pantai Pandan.
Ada cerita menarik mengenai kebudayaan setempat. Karena Letak Sibolga dan Tapanuli Tengah dekatdengan perbatasan Sumatera Barat, keseharian warga pun terpengaruh. Bahasa Batak yang dituturkan sudah tercampur dengan Bahasa Minang, menghasilkan aksen baru dan unik jika didengar pendatang. 

Pantai Pandan aman untuk anak-anak karena ombaknya tidak terlalu besar, mereka dapat berenang atau sekadar bermain air di sini. Jika ingin bersantai menikmati suasana angin sepoi maka sewalah tikar ataupun gazebo.
Selain itu, masih banyak yang bisa dieksplor dari Pantai Pandan. Nelayan di sekitar akan menghampiri dan menawarkan Anda pergi ke pulau sekitar. Ada Pulau Mursala yang memiliki air terjun cantik, juga Teluk Tapian Nauli yang menyuguhkan area menyelam.
Butuh waktu 2 jam untuk merambah ke tempat-tempat di atas, Anda pun harus menyewa kapal sekira Rp2 juta, kapasitasnya mampu menampung maksimal 25 orang.

Bila hanya memiliki waktu sedikit namun tetap ingin berperahu, nelayan bisa mengantar Anda melihat Batu Lobang atau Batu Gajah di ujung teluk. Batu tersebut sangat besar, kira-kira berukuran dua kali truk dan bentuknya mirip seperti gajah. Anda harus mengeluarkan kocek Rp 10 ribu, waktu yang diperlukan untuk pulang pergi adalah 45 menit. 

Barus: Pintu Masuk Islam di Indonesia 
Sejak berabad lamanya dan bahkan hingga saat detik ini, kapur barus dimanfaatkan oleh seluruh dunia sebagai wewangian hingga obat-obatan. Indonesia boleh berbangga hati karena salah satu wilayah di Sumatera Utara, merupakan primadona penghasil komoditi tersebut.

Daerah yang dimaksud adalah Barus, sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Meskipun tak seterkenal Medan ataupun Danau Toba, Barus begitu istimewa karena dipadati sejarah dan jejak peradaban.

Bisa jadi, Barus merupakan satu-satunya kota kecil di Tanah Air yang namanya telah disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa seperti bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa.

Kapal-kapal asing berlabuh di sana ribuan tahun yang lalu. Barus pernah diklaim sebagai kota pelabuhan terbesar se-Nusantara. Pada 627-643 Masehi, pedagang dari Timur Tengah berdatangan untuk memburu pohon kapur barus. Sejak itulah Barus dipercaya sebagai pintu masuk agama islam di Indonesia. Barus kemudian tersohor dan menggoda pedagang lain dari Srilanka, Yaman, Inggris dan Spanyol untuk datang.

Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa Dinasti Syailendra pernah menaklukan Barus. Juga yang tak kalah menarik, petualang legendaris Marcopolo dan sejarawan muslim Ibu Batutah, dikabarkan pernah singgahi Barus.

Barus merangkum masa lalu lewat situs-situs yang kini masih tertata rapi. Makam-makam tua bercorak islam seperti Makam Mahligai, situs purbakala Tuanku Pinago dan situs Makam Tuanku Kinali adalah beberapa saksi bisu yang bisa dijumpai. Pulau Karang di seberang pesisir Barus juga menyimpan sebuah situs namun Anda harus melewati semak belukar untuk mencapainya.

Dari sekian banyak situs, Makam Papan Tenggi adalah yang paling sering dikunjungi wisatawan. Makam ini begitu indah, lantaran terletak di ketinggian 153 m dpl dan dilatari perairan Samudehra Indonesia. Di sini, terdapat makam istimewa yang memiliki panjang 9 meter dengan nisan setinggi 1,5 meter.

Didukung kekayaan sejarah, alam yang subur dan keramahan penduduk lokal, pecinta sejarah dan para arkeologi Islam akan menemukan surganya di sini. Banyak hal yang bisa dinikmati dan diteliti. Berpetualang dari satu situs ke situs lain akan memperkaya wawasan Anda.

Barus pun memiliki pesisir pantai yang dipagari pohon kelapa, tepatnya di Desa Lobu Tua, Kecamatan Andam Dewi. Cobalah eksplor daerah ini, Anda akan menemukan lubang seluar 4 meter yang konon memuat banyak benda kuno seperti piring, teko dan emas. Peninggalan itu diyakini berasal dari peradaban Lobu Tua. 

Kota Sibolga: Negeri Berbilang Kaum dengan Alam yang Cantik 
Kota Sibolga merupakan salah satu kota di Sumatera Utara. Letaknya di pantai barat Pulau Sumatera dan berada di dalam kawasan Teluk Tapian Nauli. Kota mungil ini hanya memiliki luas sekira 35,36 kilometer persegi. Letaknya  350 km dari Medan, ibukota Sumatera Utara. Begitu strategisnya sehingga Kota Sibolga bisa menjadi titik sentral bagi Anda yang akan melanjutkan perjalanan ke daerah sekitarnya, seperti Pulau Mursala, Pulau Nias, Sumatera Barat, maupun Aceh.

Kota Sibolga dijuluki "Negeri Berbilang Kaum" karena menaungi beragam suku etnis, diantaranya adalah: Banjar, Jawa, India, Simalungun, Tionghoa, Bugis, Batak, Minangkabau, dan Melayu. Umumnya, setiap kelompok etnis membentuk perkumpulan demi membina kesatuan etnis.

Awalnya, kota ini merupakan dusun kecil yang kemudian berkembang menjadi kota bahari. Kini Sibolga merupakan gerbang perdagangan antarpulau dan antarnegara, serta menjadi tempat singgah para musafir dari berbagai penjuru negeri.

Kota ini memiliki pulau-pulau yang menyuguhkan alam cantik, sebut saja Pulau Pocan Gadang, Pulau Pocan Ketek, Pulau Sarudik dan Pulau Panjang. Nyiur melambai yang mengelilingi pulau-pulau itu menambah indah panoramanya.Pemandangan semakin lengkap karena lereng dan pegunungan pun menghiasinya. Tor Simarbarimbing, Puncak gunung Santeong dan Puncak pemancar TVRI adalah beberapa barisan bukit yang terkenal di sini.

Dari sisi sejarah, Kota Sibolga merekam masa lalu yang penuh perjuangan, yang paling menonjol adalah peninggalan dari masa penjajahan Belanda. Tanggo Saratus namanya, memiliki makna seratus tangga padahal jika dihitung dengan seksama, jumlah anak tangga yang dimilikinya sebanyak 293 buah.

Di sekitar Bukit Ketapang terdapat enam benteng yang menggambarkan perjuangan bangsa. Benteng lain terdapat di Kelurahan Aek Manis, masyarakat setempat menyebutnya dengan Benteng Sihopo-hopo. Ada pula Benteng Simare-Mare  yang terletak di bawah bukit. 

Kepulauan Banyak: Wajah Indah Pesisir Selatan Aceh
Satu atau dua hari berada di Kepulauan Banyak tampaknya begitu singkat. Alam nan indah dipadu dengan ketentraman yang luar biasa adalah daya pikatnya. Siapapun yang pernah menapakinya, niscaya ingin kembali lagi membawa orang-orang terdekat.

Kepulauan Banyak terdiri dari 99 gugusan pulau yang sebagian besar belum diberi nama. Ini merupakan sebuah kecamatan yang letaknya di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Wilayah laut yang luas membuat pulau-pulau di dalamnya memiliki garis pantai yang sangat panjang. Pasir putih dan lambaian daun memperindah panorama.

Ibukota kecamatan terdapat di Pulau Balai, pulau yang merupakan nadi perekonomian dari Kepulauan Banyak karena di sana terjadi transaksi ekonomi antar penduduk. Selain itu, Pulau Balai juga memiliki mempunyai fasilitas lengkap di banding pulau-pulau lain di Kepulauan Banyak.

Dari cerita Legenda Tuan Tapa yang berkembang di masyarakat setempat, konon pulau ini dahulu merupakan satu pulau besar. Namun kemudian hancur berkeping-keping karena pertempuran antara Tuan Tapa yang memiliki tinggi sekira 12 meter, dengan dua ekor naga. 

Terdapat beberapa pulau besar di Kepulauan Banyak, diantaranya  Pulau Tuangku, Pulau Bangkaru, Pulau Ujung Batu dan Pulau Palambak Besar. Sementara itu, ada empat bahasa yang berlaku di kepulauan ini: bahasa aneuk, bahasa jamee, bahasa holoban dan bahasa nias. Masing-masing bahasa digunakan oleh suku Aneuk Jamee, suku Haloban dan suku Nias.

Tidak ada komentar: