Selasa, 02 Desember 2014

Wisata Jawa Tengah Bab III

Pulau Tengah: Keindahan Pulau Kecil nan Indah di Karimunjawa

Ada satu lagi pulau yang perlu Anda sambangi ketika berkunjung ke Karimunjawa, namanya Pulau Tengah. Pulau ini ukurannya tidak terlalu luas, hanya sekira 4 hektar saja, meskipun ukurannya kecil namun keindahannya sangatlah memukau baik apa yang ada di darat maupun di bawah perairannya.

Pulau Tengah merupakan salah satu dari sekian pulau yang tehampar di Karimunjawa. Jarak Pulau Tengah dari pulau utama yaitu Karimunjawa adalah  1,5 jam perjalanan dengan kapal motor. Pulau Tengah tepat berada di tengah-tengah laut sehingga bisa jadi itu yang menjadi asal mula pulau ini diberi nama Pulau Tengah. Di pulau ini sudah dibangun dermaga kecil dari kayu sehingga kapal-kapal kecil atau kapal nelayan dapat bersandar.

Keindahan Pulau Tengah sudah dikenal para pecinta pantai, terutama mereka yang pernah berkunjung ke Karimunjawa. Ketika berada di atas kapal dari kejauhan Pulau Tengah nampak indah apalagi begitu Anda tiba di pulaunya maka decak kagum pun terlontar. Keindahan alam dan kekayaan biota lautnya di pulau ini patut untuk dinyatakan sebagai keindahan yang tersembunyi.

Suhu tertinggi di pulau ini 30°C dan terendah sekitar 27°C. Pasir, terumbu karang, dan batu karang merupakan komposisi yang membentuk pulau ini selain pohon kelapa dan cemara laut yang tumbuh subur hampir seluruh daratanya. Kondisi airnya begitu jernih sehingga memungkinkan Anda untuk menyaksikan terumbu karang dari atas kapal. Terumbu karang seperti table coral dan brain coral dapat terlihat di kedalaman 3-10 meter dengan kondisi sangat baik.

Di bawah laut Pulau Tengah ada berbagai faunan laut yang indah seperti gerombolan ikan ekor kuning atau fusilier (Caesionidae) yang berwarna biru, kuning, dan perak. Ada juga ikan snapper, fusiliers dan sweetlips di kedalaman 5-20 meter. Ikan karang seperti butterfly, cardinal, angel, grouper, damselfish, anthias, batfish, wrasse, parrot, surgeon, trigger, box, puffer, dan porcupine di kedalaman 3-17 M. Ikan Dasar seperti flounder, gobies, moray, flathead, blennies, dan scorpion berada di kedalaman 3-20 meter. Biota lain termasuk gurita, udang dan kepiting juga ikut menghuni perairan pulau ini, mereka biasanya dapat ditemukan di kedalaman antara 5-20 meter. Ada juga moluska,  ular laut, penyu, pari,  hiu dan lumba-lumba di kedalaman 5-20  meter. 

Kondisi perairan di sekitar pulau ini cocok bagi penyelam pemula karena tidak terlalu dalam. Kedalaman menyelam maksimum di perairan ini adalah 20 meter. Lokasi menyelam hampir tersebar di setiap sudut pulau. Bagi Anda yang baru pertama kali menyelam, ketika mulai menggunakan peralatan menyelam di atas kapal, perasaan takut, gugup dan senang bergabung menjadi satu menciptakan sensasi pengalaman yang tidak terlupakan. Ketika Anda sudah berada di dalam air dan mulai mengayunkan kaki dan tangan untuk berenang dan siap menjemput berbagai keindahan di dasar laut Pulau Tengah. Jangan heran jika beberapa jenis ikan seolah-olah berhenti untuk menyapa Anda atau ingin mengajak bermain. Anda juga bisa menyaksikan seekor ikan yang nampak malu-malu keluar dari terumbu karang.  Ketika Anda berenang lebih dalam, berbagai bentuk terumbu karang siap memanjakan mata. Mungkin ketika Anda melihat keindahan terumbu karang tersebut, Anda bertanya-tanya bagaimana terumbu karang bisa tercipta seindah itu. Berbagai keindahan tersebut berpadu menjadi satu harmonisasi yang sulit untuk dilupakan.

Selesai menyelam dan snorkeling ataupun berenang, Anda bisa bersantai di atas hammock yang terayun pelan sambil menikmati hebusan angin sepoi-sepoi menyentuh kulit dan menerpa rambut. Anda juga bisa berbaring di atas hamparan pasir sambil menikmati birunya langit di atas Pulau Tengah.

 Berjarak tidak terlalu jauh dari Pulau Tengah, terdapat sebuah gosong atau yang biasa dikenal dengan Gosong Tengah. Gosong Tengah ini berbentuk dataran pasir putih yang seolah-olah timbul secara alami dari dalam laut. Dataran pasir putih ini memiliki lebar sekitar 3 meter dan panjang tidak sampai 100 meter. Anda bisa berjalan Gosong Tengah ini sambil menyaksikan ikan pari berenang dengan cepat seolah-oleh menggoda Anda. Perairan sekitarnya tidak memiliki ombak jadi sangat cocok untuk aktifitas berenang. Anda juga bisa memancing dan menikmati hasil pancingan Anda langsung di tepi pantai.

Candi Pawon : Candi Tempat Menyimpan Senjata Raja
Sementara sebagian besar candi dibangun sebagai tempat pemujaan atau pun makam maka Candi Pawon ternyata memiliki fungsi yang lain yaitu dibangun sebagai tempat penyimpanan senjata. Senjata tersebut dikenal dengan nama vajranala, yaitu senjata Raja Indera dalam mitologi India yang konon bentuknya serupa halilintar. Candi Pawon yang keberadaannya disebut-sebut di dalam prasasti Karang Tengah (824 M) berlokasi di Desa Brojonalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon yang kokoh 

disebut-sebut sebagai bagian dari Candi Borobudur sebab reliefnya dipercaya sebagai permulaan relief Candi Borobudur.
Perihal nama candi ini, terdapat banyak penafsiran menyangkut asal-usulnya. J.G. de Casparis, menafsirkan nama Pawon berasal dari bahasa Jawa, yaitu 'awu' yang berarti abu. Kata tersebut kemudian mendapat awalan 'pa' dan akhiran 'an' yang menunjuk pada suatu tempat, yaitu perabuan. Sementara itu, dalam bahasa Jawa percakapan, kata 'pawon' mempunyai arti dapur. Candi Pawon juga memiliki nama lain, yaitu Candi Bajranalan, nama tersebut diduga berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu 'vajra' yang berarti halilintar dan kata 'anala' yang artinya api.

Bangunan suci Buddha ini berjarak tepat 1.750 m dari Candi Borobudur yang super megah itu dan 1.150 m dari Candi Mendut. Lokasinya berada tepat di antara kedua candi itu. Kemiripan motif pahatan atau relief pada ketiga candi tersebut dan letaknya yang berada pada satu poros garis lurus menjadi dasar asumsi bahwa jelas ada keterkaitan yang kuat di antara ketiganya. Poerbatjaraka berpendapat bahwa Candi Pawon merupakan upa angga (bagian dari) Candi Borobudur. Penelitian secara lengkap pada reliefnya menunjukkan bahwa relief pada Candi Pawon merupakan permulaan relief dari Candi Borobudur.

Berbahan batu gunung api, Candi Pawon merupakan monumen Buddha yang dibangun dengan menggabungkan seni arsitektur Hindu Jawa kuno dan India. Candi yang pernah dipugar tahun 1903 dan selesai pada 1904 ini memiliki fitur teras dan tangga yang terbilang lebar. Anda akan disuguhi beragam hiasan stupa dengan relief pada dinding bagian luarnya berupa pohon hayati (kalpataru) yang diapit dengan pundi-pundi dan kinara-kinari. Kinari adalah sebentuk makhluk setengah manusia setengah burung dimana ia berkepala manusia tapi berbadan burung.

Sumur Jalatunda : Sumur Tua Raksasa di Dataran Tinggi Dieng : Sumur Tua Raksasa di Dataran Tinggi Dieng
"Dalamnya sumur bisa dikira, dalamnya hati siapa yang bisa mengira."
Suara lantang seorang bapak separuh baya menutup kisah tentang Sumur Jalatunda yang ia ceritakan pada sekelompok anak kecil. Ada dua versi cerita asal muasal Sumur Jalatunda yang ia bagi kepada anak-anak tersebut. Sekelumit sejarah tentang Sumur Jalatundayang berada di kawasan paling Barat di kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng ini, memang menarik untuk diketahui. Tepatnya, sumur ini berada di Desa Wisata Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Versi cerita dimaksud adalah asal muasal Sumur Jalatunda versi ilmiah dan mitos. Berdasar dugaan ilmiah, sumur berwarna hijau pekat berdiameter sekira 90 meter ini adalah sebuah kepundan yang terbentuk akibat letusan gunung api jutaan tahun lalu. Kawah atau kepundan tersebut kemudian terisi air dan terbentuklah menyerupai sebuah sumur—sumur raksasa berkedalaman ratusan meter. Nama Jalatunda sendiri adalah berarti sumur yang besar atau luas dalam bahasa Jawa. Konon, fenomena terisinya kawah yang sejenis dengan proses terbentuknya Jalatunda hanya hanya ada dua saja di dunia. Kawah sejenis Jalatunda yang lain dapat ditemukan di Meksiko.

Selain menyebutkan asal usul secara ilmiah, sang Bapak juga menceritakan mitos seputar sumur raksasa berwarna hijau ini dengan gaya mendongeng yang menarik. Alkisah jaman dulu kala ada seorang putri cantik jelita yang gemar mengenakan pakaian serba putih, namun berperangai jahat. Putri cantik ini sering meminta tumbal kepada masyarakat sekitar untuk dikorbankan dan ditenggelamkan di sumur ini. Kisah lain yang juga mewarnai misteri sumur raksasa ini adalah bahwa konon di dalam sumur ini, terdapatsebuah pintu gerbang atau jalur penghubung ke kediaman ular setengah dewa.

Benar atau tidaknya kisah tersebut di atas, tidak ada yang tahu secara pasti. Hal pasti adalah bahwa untuk menikmati pesona Sumur Jalatunda, Anda harus terlebih dulu meniti sekira 257 anak tangga. Setibanya di tangga terakhir, tampak beberapa tumpuk batu kerikil yang terhampar beralaskan karung beras. Selain mitos yang sudah diceritakan sebelumnya, batu kerikil ini menambah keunikan dan daya tarik lain bagi para wisatawan. Dipercaya bahwa mereka yang mampu melempar batu kerikil ke sumur sejauh jarak tertentu akan mendapatkan keberuntungan dan terkabul niat serta keinginannya.

Adapun target lemparan antara perempuan dan laki-laki berbeda jauhnya. Bagi perempuan, cukup dengan melempar batu kerikil ke tengah sumur, maka ia dapat dikatakan berhasil. Sementara bagi lelaki, target lemparannya lebih jauh lagi, yaitu hingga ke seberang sumur yang ditandai dengan rimbun pohon bunga berwarna ungu, yang tumbuh di sela-sela batuan di sisi seberang sumur.

Perihal perlu diperhatikan juga adalah bahwa batu yang digunakan untuk melempar keberuntungan haruslah batu yang dibeli dari anak-anak Dieng di lokasi sumur ini, yaitu batu kerikil beralas karung ala kadarnya di ujung anak tangga yang tadi diceritakan. Batu tersebut dapat Anda beli seharga Rp500,00,-. Jadi, jangan berpikir untuk membawa batu sendiri dari tempat lain. Meski hal seperti ini dapat saja merupakan strategi wisata, tetap saja banyak orang yang tidak ingin menyiakan kesempatan selagi berkunjung ke sumur tersebut dan menguji keberuntungan mereka.

Melihat ke arah sumur dari atas, seolah mudah saja untuk melempar batu ke tengah sumur atau bahkan ke sisi seberang tetapi begitu batu dilempar, batu seolah lenyap di antara rimbun pepohonan sisi terdekat sumur dan bukannya ke tengah apalagi ke sisi seberang.

Menurut warga sekitar yang biasa menjadi pemandu, beberapa orang telah membuktikan kebenaran mitos tersebut. Salah seorang yang berhasil melempar ke titik yang ditargetkan mengaku keinginannya terwujud dan dengan sengaja datang kembali ke Dieng untuk menceritakan dan berbagi kebahagiaan.

Candi Arjuna: Warisan Sejarah Hindu di atas Bukit 

Di sinilah eksotisme sejarah berusia ribuan tahun telah berharmoni bersama keindahan dan sejuknya udara pegunungan. Kompleks Candi Arjuna adalah candi bercorak Hindu peninggalan abad ke-7 yang teguh menantang dinginnya cuaca di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Mengunjungi Kompleks Candi Arjuna di ketinggian sekira 2.093 m dpl, mungkin dapat jadi pilihan wisata  budaya dan wisata alam sekaligus.
Hawa dingin pegunungan sudah akan terasa menggigit kulit setibanya di pintu masuk kawasan Kompleks Candi Arjuna bahkan pukul 9 pagi. Terlebih lagi, hujan baru saja selesai mengguyur tanah tempat bersemayamnya para dewa tersebut. Tak ayal, gugusan pegunungan dan bukit-bukit yang gagah sebagai latar belakang candi pun tertutup kabut. Semakin siang, kabut kian surut dan hilang menampilkan pemandangan utuh gunung yang nampak hijau di kejauhan. Seolah tak terpengaruh segala perubahan cuaca dan musim selama ribuan tahun lamanya, beberapa candi yang berada dalam satu kompleks itu tetap kokoh  berdiri.

Dibangun pada 809 M, Kompleks Candi Arjuna merupakan candi hindu tertua di Pulau Jawa dan tempat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini didasarkan keberadaan Lingga dan Yoni di dalam candi utama. Selain itu, ditemukan pula beberapa arca, seperti Dewi Durga, Ganesha, dan Agastya yang kini tersimpan di Museum Kailasa.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 candi yaitu, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa. Secara arsitektur, Candi Arjuna mirip dengan candi di India selatan dan diduga mendapat pengaruh dari budaya India. Candi-candi yang terbuat dari batuan andesit tersebut tidak memiliki banyak relief pada dindingnya. Hanya ada relief ketiga Dewa Trimurti yaitu Siwa, Wisnu, dan Brahma yang dipahatkan di Candi Srikandi dan bukannya di candi utama.

Kompleks Candi Arjuna ini ditemukan pertama kali tahun 1814 oleh seorang tentara Inggris, yaitu van Kinsbergen. Saat ditemukan, candi-candi tersebut terendam air rawa-rawa, berbeda dari kebanyakan candi lain yang biasanya terendam tanah. Proses pengeringan air rawa baru dimulai lebih dari 40 tahun kemudian. Rumput hijau seperti karpet tampak tumbuh subur di pelataran candi, membingkai kerikil yang memenuhi pelataran terdekat dengan candi.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang memberi nama candi-candi tersebut. Akan tetapi, hal yang pasti adalah bahwa nama-nama candi tersebut diberi nama sesuai tokoh pewayangan. Candi Arjuna adalah candi utamanya yang berhadapan dengan Candi Semar dengan bentuk memanjang beratap limasan. Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra berjejer ke samping sebelah kirinya.

Dalam kompleks wisata Dataran Tinggi Dieng terdapat 19 candi tetapi hanya delapan yang masih utuh berdiri.

Kelima candi yang berada berdekatan di Kompleks Candi Arjuna memiliki perbedaan bentuk satu dengan yang lainnya. Candi Arjuna, sebagai candi utama, merupakan sebuah candi yang berdenah dasar persegi dengan luas ukuran sekitar 6 m². Atap Candi Arjuna berbentuk serupa kerucut, semakin ke atas semakin mengecil. Di dalamnya, terdapat yoni berbentuk meja yang bagian tengahnya berlubang dan dapat menampung tetesan air dari langit atap candi. Apabila lubang penampung ini penuh, air akan dialirkan ke bagian lingga dan diteruskan ke bagian depan luar candi.

Candi Semar yang berhadapan dengan Arjuna adalah sebuah candi berukuran 3,5 m x 7 m. Berbeda dengan Candi Arjuna yang atap bangunannya tinggi, Candi Semar lebih pendek dan atapnya berbentuk limasan. Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa memiliki bentuk dasar seperti kubus dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda satu dan lainnya.

Mengabadikan situs kuno bersejarah ini dari berbagai sisi adalah hal yang layaknya tidak dilewatkan. Anda dapat berfoto dan bahkan memasuki ruang di bagian dalam candi untuk menyaksikan dari dekat mahakarya warisan leluhur yang masih utuh meski terus-menerus disepuh zaman.

Tak jauh dari pelataran tempat berdirinya kelima candi, tepatnya di area terluar, tampak pula beberapa tumpukan batu yang juga menarik untuk diabadikan dan diamati.

Pantai Nampu: Keelokan Pesisir Selatan Jawa dari Wonogiri 
Jalanan turun-naik tak habis-habisnya dilewati hampir satu jam. Jantung agak berdebar karena kanan kiri jalan berupa jurang, walaupun ada sawah dan bebatuan karst yang terkadang menghiasi pemandangan. Mobil terus melaju menuju bukit yang ada di depan mata. Akan tetapi tujuan utama bukanlah bukit itu, melainkan sebuah tempat di baliknya.

Wonogiri bukanlah kabupaten yang terletak tepat di selatan Jawa. Banyak orang tidak percaya bahwa ada secuil garis pantai yang dimilikinya, karena wilayah pesisir biasanya bernaung di Yogyakarta maupun Pacitan. Pantai Nampu, inilah tempat indah di balik bukit itu sekaligus satu dari sedikit pantai yang ada di Wonoiri. Meskipun bukanlah pantai yang panjang namun pantai ini mampu menghipnotis Anda berada sepanjang hari untuk menikmatinya.

 

Pantai Nampu terletak di Desa Dringo, Kelurahan Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Perjalanan panjang akan terbayar impas setelah menapakan kaki di pantai ini. Sebelum benar-benar menyentuhnya, Anda harus terlebih dahulu menuruni puluhan anak tangga yang dipenuhi oleh para pedagang.

Tidak kalah menawan dengan Pantai Padang-Padang di Bali, Pantai Nampu juga dihiasi bukit-bukit tinggi yang hijau. Di pinggir laut terdapat batu besar yang menghempaskan air apabila diterpa ombak besar. Hal lain yang menjadi ciri khasnya adalah kumpulan pasir berwarna cokelat muda yang sangat bersih dan dalam, mata kaki Anda bisa tenggelam di sana.

Karena letaknya sangat jauh dari pusat kota, pantai ini masih tergolong sepi sehingga masih sangat asri dan memiliki air laut yang jernih. Tapi jika berkunjung pada hari raya, Anda akan berpapasan dengan pengunjung dari berbagai kota. Jangan mengharapkan sunset yang spektakuler karena Matahari tetap bersembunyi di balik bukit-bukit. Selain itu, Pantai Nampu juga bukanlah lokasi berenang yang ramah karena bebatuan dan karang berkumpul di bibir pantai. Belum lagi ombak di sini tergolong cukup tinggi.

Apabila air surut, karang-karang akan terlihat jelas mempercantik lansekap. Jika mendekat, Anda pun bisa melihat ikan-ikan kecil di balik karang tersebut. Ada fenomena unik yang terjadi beberapa kali dalam setahun di pantai ini, saat pasang airnya akan naik mendekati bukit, menenggelamkan Pantai Nampu untuk sementara.

Wisata Jawa Tengah Bab II

Candi Sukuh: Keunikan Candi Hindu Terakhir dari Masa Majapahit 

 Candi ini dijuluki sebagai The Last Temple karena hingga saat ini perkirakan sebagai candi terakhir yang dibangun sebelum kerajaan Hindu Majapahit di Jawa Tengah memudar perannya. Anda akan temukan candi ini di ketinggian 1.186 mdpl, berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, Dukuh Berjo, Desa Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar. Candi ini berjarak sekitar 20 km dari kota Karanganyar dan 36 km dari Surakarta.

Candi Sukuh merupakan salah satu candi paling menarik di Asia Tenggara. Uniknya karena di candi ini terdapat beberapa ornamen erotis simbol sex manusia. Beberapa patung dan arca menggambarkan lingga sebagai perwujudan kemaluan pria dan yoni sebagai perwujudan kemaluan wanita.

Bangunannya pun berbeda dari kebanyakan candi di Indonesia karena candi ini mirip piramid Suku Maya di Mexico atau Inca di Peru. Jika candi-candi lain  di Jawa Tengah


dibangun dengan bentuk yang menyimbolkan Gunung Meru maka Candi Sukuh memiliki tampilan sederhana berbentuk trapesium. Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan berupa batuan jenis andesit.

Candi Sukuh adalah candi agama Hindu yang dibangun akhir abad ke-15 M. Candi ini berbeda arsitekturnya dari umumnya candi Hindu di Jawa Tengah. Arsitektur Candi Sukuh tidak mengikuti ketentuan kitab pedoman pembuatan bangunan suci Hindu “Wastu Widya”. Menurut ketentuan kitab tersebut, sebuah candi harus berdenah dasar bujur sangkar dengan tempat yang paling suci terletak di tengah. Adanya penyimpangan tersebut diduga karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hindu di Jawa dan menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat dari zaman Megalitikum. Pengaruh zaman prasejarah terlihat dari bentuk bangunan Candi Sukuh yang merupakan teras berundak. Bentuk semacam itu mirip dengan bangunan punden berundak yang merupakan ciri khas bangunan suci pada masa pra-Hindu. Ciri khas lain bangunan suci dari masa pra-Hindu adalah tempat paling suci terletak di bagian paling tinggi dan paling belakang.

Teori lain tentang candi ini menyebutkan merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab “Adiparwa”, yaitu kitab pertama Mahabharata. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri dan dipergunakan untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta yang bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang meminumnya.

Candi Sukuh diperkirakan dibangun untuk tujuan pengruwatan, yaitu menangkal atau melepaskan kekuatan buruk yang mempengaruhi kehidupan seseorang akibat ciri-ciri tertentu yang dimilikinya. Dugaan tersebut didasarkan pada relief-relief yang memuat cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala dan Garudheya, serta pada arca kura-kura dan garuda yang terdapat di candinya.

Arkeolog Belanda W.F. Stutterheim pada tahun 1930 menjelaskan kemungkinan pemahat Candi Sukuh adalah bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton. Candi dibuat seakan tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Hal ini terlihat dari relief yang masih kasar dan sederhana.  Ada dugaan ini disebabkan karena keadaan politik kala itu menjelang keruntuhannya Majapahit yang terdesak pengaruh Islam dari Demak. Oleh karena itu, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. Akan tetapi, meski demikian candi ini menyimpan keunikan yang berharga sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Candi Sukuh ditemukan kembali oleh Residen Johnson yang merupakan bawahan  Sir Thomas Stamford Bingley Raffles. Ia ditugasi gubernur jenderal ini untuk menghimpun data untuk penyusunan buku “History of Java” tahun 1815.
Berikutnya tahun 1842, Van der Vlis, seorang peneliti Belanda melakukan riset dan memugar candi ini. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam bukunya “Prove Eener Beschrijten op Soekoeh en Tjeto”. Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Hoepermans tahun 1864-1867 dan dilaporkan dalam bukunya “Hindoe Oudheiden van Java”. Tahun 1889, Verbeek mengadakan inventarisasi terhadap Candi Sukuh, dilanjutkan penelitian Knebel dan WF. Stutterheim tahun 1910. Pemugaran Candi Sukuh dilakukan oleh Dinas Purbakala tahun 1917. Pada akhir tahun 1970-an. Candi Sukuh mengalami pemugaran kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Di kawasan Candi Sukuh Anda tidak hanya sekedar berjalan-jalan di lereng gunung yang sejuk sambil menikmati candi terakhir yang dibangun dari masa Majapahit ini. Anda juga dapat berkeliling menapaki jejak cerita dari masa lalu sambil coba menguak misteri sejarahnya karena ini akan menjadi salah satu pengalaman wisata yang mengasyikkan. Berbagai misteri dan pertanyaan masih menyelimuti Candi Sukuh.

Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan dan keunikan sekaligus. Anda akan mendapatkan pengalaman lain yang berbeda dibandingkan saat mengunjungi candi-candi lainnya di Jawa Tengah seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan.

Candi Sukuh berada di areal sekitar 5.500 m². Candi ini terdiri dari terdiri atas tiga teras bersusun mirip piramida Maya di Meksiko atau Inca di Peru. Saat Anda memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar maka akan melihat bentuk arsitektur khas yang tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Pada gapura pertama terdapat sebuah sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi ‘gapura buta abara wong’, artinya ‘gapura sang raksasa memangsa manusia’. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1, jika dibalik maka didapatkan angka tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Menuju ke teras kedua, Anda akan melewati gerbang kedua yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Hanya tersisa dinding gapura yang tingginya hanya sebatas tangga naik dan tidak beratap. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala namun kondisinya sudah rusak dan bentuknya tidak jelas. Pada gapura kedua terdapat sebuah candrasangkala yang dalam bahasa Jawa yang berbunyi “gajah wiku anahut buntut”, artinya “gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Di teras ketiga, gapura ketiga kondisinya sama dengan gapura kedua yang sudah tidak utuh lagi. Terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar dibuat untuk mengetes keperawanan gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.
 

Karimunjawa : Keindahan Pantai Berpadu Wisata Religi 
Anda yang cinta pantai maka wajib merasakan jernihnya air laut, langit biru, awan putih, dan hawa segar Karimunjawa. Semuanya akan menjadi milik Anda selama berada di Kepulauan yang lokasinya sekitar 45 mil laut atau sekitar 83 kilometer di barat laut kota Jepara. Setelahnya bersiaplah untuk enggan pulang karena kedamaian tempat ini memberi kesan tersendiri dan sulit digantikan tempat lain. Telah banyak wisatawan datang kembali ke pulau yang indah ini karena ketagihan.
 Karimunjawa adalah gugusan pulau yang sangat indah dengan hamparan pasir putih menawan, meliputi 27 pulau dalam 1 kecamatan dan terbagi dalam 3 desa. Luas tempat indah ini adalah 107.225 ha, sebagian besar wilayahnya berupa lautan (100.105 ha) sementara sisanya adalah daratan seluas 7.120 ha.
Ada bentangan pantai berpasir putih di sini dengan beragam fauna yang menakjubkan, juga hutan mangrove dan hutan tropis dataran rendah yang menyajikan pemandangan menyejukan mata.
Karimunjawa dijuluki Perawan Jawa, sebuah inisial yang merujuk pada perairannya begitu bening sehingga sebuah koin yang jatuh ke dalamnya akan dengan mudah Anda temukan karena kejernihannya.
Taman nasional laut ini beriklim tropis dipengaruhi angin laut yang bertiup sepanjang hari. Suhu rata-ratanya sekitar 26-30 derajat Celcius. Karimunjawa memiliki kekayaan ekosistem flora dan fauna mulai dari terumbu karang, hutan mangrove (Padang Lamun), hutan pantai, hingga hutan dataran rendah. Anda dapat ber-tracking menyusuri sejuknya hutan mangrove seluas 10,5 hektar dengan jalur tracking sepanjang 2 km yang menyuguhkan aneka macam jenis pohon mangrove langka sekaligus Anda ikut menanam dan melestarikan mangrove di sana.
Di bawah air Karimunjawa ada fauna akuatik yang terdiri atas 242 jenis ikan hias dan 133 genera akuatik.  Selain alam air, Anda juga dapat menemukan bervariasi fauna seperti rusa dan kera ekor panjang di daratnya. Karimunjawa juga menjadi rumah fauna langka yaitu elang laut dada putih di Pulau Burung dan Pulau Geleang. Hewan langka lainnya adalah dua jenis penyu, yaitu penyu sisik dan penyu hijau.
Karimunjawa dalam cerita rakyat setempat terkait Legenda Nyamplungan dan sosok Sunan Nyamplung (Syech Amir Hasan) yang merupakan putera Sunan Muria. Sedari kecil, Amir Hasan hidup dimanja sehingga cenderung nakal saat dewasa. Karena wataknya yang nakal kemudian Sunan Muria menitipkan puteranya kepada Sunan Kudus dengan harapan menjadi lebih baik. Amir Hasan memang berubah baik tetapi setelah berkumpul kembali dengan keluarganya, perilaku Amir Hasan kembali seperti semula. Akhirnya Sunan Muria memerintahkan puteranya itu untuk mengamalkan ilmu agama di pulau yang terlihat kremun-kremun (artinya tidak jelas) bila dilihat dari Gunung Muria. Amir Hasan tidak boleh kembali ke Pulau Jawa sebelum tugasnya selesai. Ia pergi ditemani 2 orang abdi dengan berbekal 2 buah biji nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut dan sebuah mustaka masjid (Anda dapat menemukannya di kompleks makam Sunan Nyamplungan). Amir Hasan menanam 2 buah biji nyamplung yang kemudian tumbuh menjadi pohon nyamplung (Temukan lokasinya yang sekarang menjadi Dukuh Nyamplung.
Penduduk Karimunjawa adalah multietnis meliputi suku Jawa, Bugis Makassar, dan Madura. Masyarakat Jawa tinggal di Dukuh Karimun, Dukuh Legon Lele, Dukuh Nyamplungan, dan Dukuh Mrican. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan industri rumah tangga membuat batu bata merah dan minyak kelapa.  Masyarakat Bugis Makassar tinggal di Pulau Kemujan, Dukuh Batu Lawang, Dukuh Legon Gede, dan Dukuh Tlogo. Orang Bugis ini berprofesi sebagai nelayan.  Sementara masyarakat Madura selain berprofesi sebagai nelayan juga memiliki keterampilan membuat ikan kering.

Hampir seluruh bagian pantai di kepulauan Karimunjawa memiliki pasir putih dengan garis pantai yang panjang. Ini jelas lokasi sempurna untuk mandi sinar Matahari atau menyaksikan keindahan terbit atau terbenamnya Sang Surya di tepi horizon.
Di sini tema wisata Anda pastinya wisata bahari yang menawarkan berbagai kegiatan wisata dan olahraga air.  Setidaknya cobalah meminta bantuan atau petunjuk pemandu wisata Anda untuk mencicipi salah satu kegiatan seperti menyelam, snorkeling, memancing, berenang, berjemur, atau menjelajahi lautnya yang jernih.
Di Karimunjawa Anda dapat menikmati panorama alam pantai berpasir putih dengan cakrawala biru membentang. Jangan lewatkan juga terjun ke bawah airnya untuk memandangi terumbu karang, rumput laut, dan beragam biota laut.
Apabila Anda ingin berenang maka cobalah di sebelah timur dan selatan pulau ini, bagian selatan, bagian barat pulau Tengah, juga barat pulau Menjangan Kecil, atau sekitar Pulau Parang, Pulau Kembar, dan Pulau Kumbang.
Untuk Anda yang hobi memancing maka dapat melakukannya di sekitar pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, ada juga di Pulau Menyawakan, Pulau Kemujan, Pulau Parang,  Pulau Tengah, sekitar Pulau Kembar, dan sebelah barat Pulau Bengkoang.
Tempat terbaik untuk menyelam dapat Anda lakukan di sebelah utara dan barat pulau Karimunjawa, sebelah selatan dan barat pulau Geleang, sebelah timur pulau Menjangan Besar, sekitar pulau Menjangan Kecil, sebelah barat pulau Bengkoang, sebelah barat pulau parang, sebelah timur pulau Kembar, sekitar pulau Katang, sebelah utara dan timur pulau Krakal Kecil, dan sebelah barat pulau Kumbang.
Anda yang hobi snorkeling dapat menjajalnya di pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, sebelah barat pulau Bengkoang, sebelah utara dan timur pulau Krakal Kecil, atau di sekitar pulau Kembar.

Apabila Anda tidak dapat berenang dan hanya ingin menjelajah laut maka tersedia kapal yang dilengkapi dengan kaca pada bagian bawahnya (glass bottom boat) untuk menyaksikan keindahan bawah laut Karimunjawa. Hal serupa dapat dinikmati yaitu melihat akuarium air laut di pulau Menjangan Besar. Di sini  terdapat fasilitas akuarium air laut dimana Anda dapat menikmati keindahan ikan hias termasuk ikan hiu dan ikan lainnya.
Anda juga dapat melakukan wisata selam bangkai kapal (wreck dive) di Pulau Kemojan. Akan terasa suasana sunyi bercampur misteri dari pilar besi kapal yang berkarat. Bangkai kapal ini selain menyuguhkan tantangan juga memberi Anda pengetahuan sejarah. Kapal tersebut adalah pengangkut batu bara milik pemerintah Hindia Belanda yang karam 60 tahun silam karena sang nahkoda menyangka Kepulauan Karimunjawa adalah pesisir pantai. Dasar pantai di Karimunjawa relatif rendah sehingga membuat kapal tersebut kandas dan akhirnya karam.
Selain alam yang indah, penduduk Karimunjawa yang multietnik akan menarik untuk dijadikan objek interaksi sosial Anda. Ada berbagai keunikan budaya dan tradisi penduduknya termasuk wisata budaya dan ziarah. Legenda Nyamplungan telah membuat kawasan ini menarik untuk dikunjungi peziarah yang ingin mendatangi makam Sunan Nyamplungan dan peninggalannya. Saat yang tepat adalah saat perayaan Khoul Sunan Nyamplungan pada 1 Suro.
Temukan juga berbagai atraksi budaya di sini seperti pencak silat, rebana, gamelan jawa, dan reog (kuda lumping). Ada juga atraksi rutin masyarakat setempat seperti pelepasan penyu dan upacara pelepasan perahu.  

Pulau Cemara Besar: Keindahan Pulau dan Perairan Dangkal di Karimunjawa
Ketika Anda membayangkan Karimunjawa sebenarnya bukan hanya pulau ini saja yang indah untuk dinikmati. Tahukah Anda bahwa di sekitar Karimunjawa terdapat pulau yang begitu memesona mata dan menyejukkan hati. Pulau tersebut bernama Pulau Cemara Besar dan berada di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara, Provinsi Jawa Tenggah. Jaraknya sekira satu jam dari Pulau Karimunjawa.

Bagi Anda pecinta pantai maka Pulau Cemara Besar bisa menjadi pilihan tepat untuk melarikan diri dari kepenatan sehari-hari atau ibarat obat penghilang stress. Pulau ini dinaungi langit biru membentang, beralaskan pasir putih dengan pepohonan cemara lebat berwarna hijau, serta dikelilingi jernihnya air laut berwarna biru muda yang saling berpadu menjadi sebuah harmoniasi alam nan memukau. Di kejauhan juga nampak perahu nelayan nampak cantik berlayar seperti gambar dalam sebuah lukisan.

Dinamakan Pulau Cemara Besar karena di pulau sekira 3,5 hektar ini banyak ditumbuhi pohon cemara. Pemandangan pohonan cemara nampak indah dari kejauhan, terlihat kontras dengan pemandangan di sekitarnya. Karena perairan di sekitar pulau ini dangkal sehingga perahu nelayan tidak memungkinkan untuk mencapai daratannya, jadi Anda harus berjalan beberapa meter untuk sampai ke daratan.

Perairan di sekitar pulau ini memiliki beraneka ragam biota laut yang patut untuk dilihat. Beragam jenis ikan berenang di air yang bening bahkan Anda bisa menyaksikannya langsung dari atas kapal. Terumbu karang di sini sangat beragam, diantaranya adalah table coral yang bentuknya seperti jamur raksasa, brain coral, staghorn coral, dan terumbu karang berukuran kecil dengan warna-warni yang indah. Tidak hanya itu saja, alga hijau juga menjadi penghuni perairan tropis ini.

Ketika kaki Anda berjalan di atas hamparan pasir putih maka berikutnya mata Anda akan disuguhi berbagai keindahan di pulau ini yang mungkin tidak bisa dibayar dengan apapun. Suara kicauan burung sayu-sayu juga akan terdengar merdunya membuai Anda.

Menyelam dan snorkeling menjadi kegiatan utama dan paling digemari di pulau tidak berpenghuni ini. Perlengkapan snorkeling dapat diperoleh di Pulau Karimunjawa. Sebelum melakukan kegiatan menyelam biasanya Anda akan diberikan arahan untuk keselamatan.

Beberapa titik menyelam dan snorkeling tersebar hampir di seluruh sudut pulau. Menyaksikan kekayaan biota laut di sekitar perairan pulau ini menjadi pengalaman tersendiri yang berkesan. Berbagai jenis ikan dengan variasi ukuran dan warna berseliweran seperti sibuk mencari mangsa. Koleksi terumbu karang di perairan sekitar pulau ini akan membuat Anda takjud dan betah untuk berlama-lama. Anda akan melihat beberapa jenis terumbu karang seperti table coral yang berbentuk seperti jamur raksasa, brain coral yang berbentuk bulat dan berwarna kuning mirip otak, serta staghorn coral yang mirip seperti cabang pohon yang mengering. 

Pulau Cemara Besar yang hampir seluruh daratannya ditumbuhi pohon cemara laut memiliki pasir berwarna putih dan batu karang di setiap sudutnya. Berkelana di lebatnya pepohonan cemara menjadi pilihan aktivitas menarik. Karena pulau ini tidak begitu luas maka Anda bisa mencoba untuk mengelilingi pulau, siapa tahu Anda menemukan hal-hal menarik lainnya di pulau ini. Anda juga bisa bersantai sambil berjemur di atas pasir yang berkilau diterpa sinar Matahari.

Pesisir pulau ini termasuk dangkal sehingga Anda yang lebih memilih aktivitas berenang bisa mencobanya. Anda juga dapat meminta nelayan setempat untuk mengantarkan ke pulau-pulau di sekitar seperti Pulau Menjangan Besar, Pulau Cemara Kecil dan Pulau Merica. Semua pulau ini memiliki pesonanya sendiri yang patut untuk disambangi. 

Candi Mendut: Mengunjungi Candi Bertuah dan Lebih Tua dari Candi Borobudur 
Candi ini memang tidak sebesar dan semegah Candi Borobudur tetapi Candi Mendut jelas berumur lebih tua dan dianggap bertuah oleh sebagian orang. Berlokasi di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, candi bercorak Buddha ini dibangun oleh Raja Indra dari wangsa Syailendra dan lokasinya berada di posisi paling timur garis lurus utara ke selatan dari tiga rangkaian percandian di kawasan Mungkid, yaitu Borobudur, Pawon, dan Mendut. Candi yang berada di pinggir jalan ini memang mengisahkan beberapa relief cerita personifikasi hewan dengan pesan moral tertentu. Anda perlu menyimaknya secara langsung di candi ini!
Berbeda dengan candi-candi di Jawa bahkan di Indonesia yang menghadap ke arah Matahari terbit maka pintu masuk Candi Mendut menghadap ke arah barat laut. Hiasan yang terdapat pada Candi Mendut cukup unik yaitu terukir berselang-seling berupa makhluk-makhluk kahyangan, yaitu dewata Gandarwa dan Apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan Jataka.
 Sampai saat ini para ahli belum dapat memastikan kapan waktu persis pendirian Candi Mendut (catatan sementara pada tahun 824 Masehi). Candi ini awalnya diketemukan seorang arkeolog Belanda bernama J.G. de Casparis tahun 1836. Berikutnya pada 1897 hingga 1904 dilakukan perbaikan pada bagian kaki dan tubuh candi. Tahun 1908 hingga 1925 kembali diperbaiki oleh Theodoor van Erp hingga puncak candi ini dapat disusun kembali bersama sejumlah stupa.
Bangunan candi ini terbuat dari batu andesit dengan luas keseluruhan 13,7x13,7 dan menjulang setinggi 26,4 meter dengan stupa kecil sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. Akan tetapi, puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya. Atap candinya sendiri terdiri dari tiga kubus yang disusun mengkerucut mirip atap candi-candi di Dieng dan Gedongsanga. 
Candi Mendut mempunyai banyak ragam hias atau relief yang masih jelas terlihat, mulai dari kaki, tubuh, hingga atapnya. Relief bagian belakang candi merupakan relief terbesar pada candi ini yang menggambarkan Buddha Avalokitesvara.
Prasasti Kayumwungan yang ditemukan di Karangtengah memberikan sedikit informasi bahwa Candi Mendut ini dibangun oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Bangunan suci tersebut diberi nama Venunava atau yang artinya hutan bambu.
Beberapa relief lainnya mengandung cerita moral dengan tokoh-tokoh binatang sebagai pemerannya seperti cerita "Brahmana dan Kepiting", "Angsa dan Kura-kura", "Dua Burung Betet yang Berbeda", dan "Dharmabuddhi dan Dustabuddhi". Dalam relief "Brahmana dan Kepeting", menceritakan kisah seorang brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting dan kemudian kepiting itu membalas budi dengan menyelamatkan brahmana dari gangguan gagak dan ular. Dalam relief "Angsa dan Kura-kura", menceritakan seekor kura-kura yang diterbangkan dua ekor angsa ke danau. Karena emosi dalam menangapi ejekan orang maka kura-kura melepaskan gigitannya sehingga jatuh ke tanah dan akhirnya mati. Dalam relief "Dua Burung Betet yang Berbeda", menceritakan dua burung betet yang sangat berbeda karakter karena yang satu dibesarkan oleh seorang brahmana dan satunya lagi oleh seorang penyamun. Dalam relief "Dharmabuddhi dan Dustabuddhi", menceritakan dua orang sahabat yang berbeda tabiat, yaitu Dustabuddhi dan Dharmabuddhi. Dustabuddhi menuduh Dharmabuddhi melakukan perbuatan tercela namun akhirnya Dustabudhi yang jahat dijatuhi hukuman.
Candi Mendut disebut juga candi bertuah, karena banyak pasangan yang belum dikaruniai anak datang ke sini memohon kepada Dewi Kesuburan. Hal ini dikaitkan dengan adanya relief Hariti. Di Candi Mendut, Hariti digambarkan sedang duduk sambil memangku anak dan di sekelilingnya beberapa anak sedang bermain. Menurut cerita, Hariti adalah raksasa yang gemar memakan anak kecil tetapi kemudian bertemu Sang Buddha dan ia pun bertobat serta berubah manjadi pelindung anak-anak. Berikutnya bahkan Hariti dikenal sebagai Dewi Kesuburan.
 Saat ini selain menjadi tujuan wisata, Candi Mendut juga dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei saat pada malam bulan purnama. Candi ini banyak dikunjungi para peziarah dari Indonesia dan bahkan mancanegara. Kesehariannya candi ini terbuka untuk pengunjung pada Senin - Minggu, pukul 07:00 - 18:00 WIB.
Saat Anda memasuki kawasan candi yang dipagari ini maka akan melihat kaki candi yang dihiasi sebuah relief kahyangan  yang menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dikelilingi bunga dan daun-daunan yang distilir. Ada juga relief seekor kera sedang duduk di atas punggung buaya yang dihiasi bunga-bunga di sekitarnya. Apabila diperhatikan lebih dekat pada dinding candi ini di sebelah luarnya terdapat relief Dewi Tara yang sedang duduk bersemedi di bawah pohon kalpataru dan relief Sang Budha yang sedang berdiri di antara pilar-pilar dan berlindung di bawah payung. Di sudut selatan candi ini, tepat di halaman sampingnya bongkahan reruntuhan candi ini yang sedang diidentifikasi untuk direkonstruksi.
Pintu masuk candi ini dihiasi relief kalpataru, sebuah pohon pengharapan dengan enam unsurnya yang meliputi hewan pengapit, jambangan bunga, untaian manik-manik, payung, dan burung. Apabila Anda memasuki dalam ruangan candi maka akan melihat relief Hariti, yaitu raksasa yang sering memangsa anak kecil tetapi telah disadarkan kebaikan dari Resi Gautama (Buddha) sehingga menjadi raksasa yang baik bahkan berikutnya Hariti sering mendapat sebutan sebagai Dewi Kesuburan.
Perhatikan juga dinding bagian selatan dimana akan Anda temukan relief Yaksa Atavaka, yaitu mirip Hariti tetapi raksasa ini suka memakan orang. Dalam ceritnaya ia juga disadarkan menjadi pengikut Budha dan menjadi raksasa yang baik. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. Selain itu, relief Yaksa Atavaka di candi ini digambarkan sedang duduk di atas singgasana dan di bawahnya terdapat pundi-pundi berisi uang dikelilingi anak-anak. Berikutnya Yaksa ini sering disebut dengan Kuvera atau Dewa Kekayaan.
Apabila Anda mengarahkan perhatian pada sayap tangga candi maka akan ditemukan relief unik berupa kura-kura yang sedang diterbangkan oleh dua ekor angsa dengan menggunakan tongkat yang dicengkram pada bagian ujungnya dan kura-kura menggigit bagian tengah tongkat tersebut. Diceritakan dalam runut gambarnya bahwa saat terbang banyak orang yang melihat mencemoohnya sehingga kura-kura pun melepaskan gigitannya lalu jatuh ke tanah dan mati. Ada cerita menarik lainnya dari relief yang terukir di sayap tangga yaitu kisah seorang Brahmana yang menyelamatkan seekor ketam dari gangguan burung dan ular.
Di bagian dalam bangunan candi sendiri terdapat ruangan yang berisi altar dengan tiga arca Buddha yang masih dalam kondisi baik. Ketiga arca tersebut adalah Bodhisattva Vajravani, Budha Sakyamuni dalam posisi duduk bersila dengan tangan memutar roda dharma, dan Bodhisattva Avalokitesvara dalam posisi sedang memegang bunga teratai yang diletakkan di atas telapak tangannya. Di depan arca-arca tersebut dipasang pagar besi untuk menghindari interaksi pengunjung secara langsung.
Di Candi Mendut sering dilakukan ritual meditasi dengan cara mendengarkan alunan musik serta nyanyian. Pesertanya tidak harus beragama Buddha, siapa pun dipersilakan mengikuti ritual ini yang rutin digelar setiap malam pukul 19.00 - 20.00 WIB.
Candi Mendut juga rutin dipergunakan untuk perayaan upacara Waisak setiap Mei (pada malam bulan purnama). Biasanya para biksu melakukan persembahyangan penyucian air berkah di depan altar Candi Mendut. Air berkah tersebut dibawa dengan 70 kendi dari Umbul Jumprit Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, dan diangkut menggunakan mobil hias hingga tiba di pelataran Candi Mendut. Air berkah itu merupakan simbol ketenteraman kehidupan manusia dan dianggap pemeluk Buddha memiliki banyak berkah. Mereka akan membawa pulang air tersebut ke rumah masing-masing setelah selesai menjalani rangkaian perayaan Trisuci Waisak. Selain air berkah, para biksu dan umat juga membawa api dharma dari sumber api alam dari Gunung Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Telaga Warna Dieng: Keindahan Fenomena Alam di Dataran Tinggi Dieng 

Dataran tinggi Dieng memiliki sejuta keindahan yang memukau. Kawasan ini selain dihiasi hijaunya pepohonan dan candi bercorak Hindu yang indah, juga berdiam sebuah bingkisan alam nan indah bernama Telaga Warna Dieng. Berlokasi di Kecamatan Kejajar Wonosobo, telaga ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk mencapainya dari Wonosobo Anda dapat berkendara sekira 25 km.
Harmonisasi alam dengan udara yang sejuk dan bersih membuat suasana Telaga Warna Dieng begitu memikat. Anda juga akan merasakan suasana mistis yang hening disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang melingkupinya. Tidaklah lengkap menyambangi Dieng tanpa melihat langsung keindahan Telaga Warna Dieng. Selain itu dari sini Anda dapat melanjutkan mengunjungi Telaga Pengilon, Goa Sumur, Goa Semar, Goa Jaran, dan Kawah Sikendang ini.

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).

Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini.
Anda dapat menyusuri tepian telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya. Lokasi paling tepat untuk menikmati keindahan telaga ini selain berada tepat di hadapannya adalah Anda juga bisa mendaki ke puncak bukit yang memagari telaga. Kondisi menuju bukit ini cukup sempit dan licin dan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Di sini, di antara rimbunnya pepohonan, Anda bisa menyaksikan keindahan telaga berwarna-warni ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga. Dieng Plateau Theater menyediakan informasi lengkap mengenai kejadian alam di sekitar Dieng, jadi sempatkan untuk menyambanginya.

Tidak jauh dari bukit itu terdapat telaga cantik lainnya yatiu Telaga Pengilon. Telaga ini dapat digunakan untuk bercermin karena airnya yang jernih. Penduduk setempat menyebutkan bahwa danau ini bisa mengetahui isi hati manusia. Anda mungkin penasaran, mengapa tidak mencoba datang dan lihat rupa wajah Anda di air telaga ini.

Di sekitar Telaga Warna Dieng tedapat beberapa gua yang juga patut untuk dikunjungi seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua ini terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.  Gua-gua di sekitar kawasan ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi.

Selasa, 25 November 2014

Wisata Jawa Tengah Bab I


Jawa Tengah
Sejarah telah meninggalkan jejaknya di Jawa Tengah, sebuah wilayah yang kaya akan kebudayaan dan tradisi yang merupakan warisan agama Hindu dan Budha yang berkuasa pada masa lalu serta pengaruh Islam yang terakhir. Dengan sejarah yang penuh warna, Jawa Tengah kini telah menjadi kota indah yang nyaman dan modern, namun masih mempertahankan ketenangan dan kedamaiannya.

Sejarah

Di bawah kekuasaan Syailendra dan Raja-Raja Mataram Kuno abad ke-8 dan ke-10, kebudayaan Jawa mulai berkembang dan candi Borobudur dibangun pada masa ini. Pada abad ke-10, Kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur mulai mendominasi bahkan menguasai seluruh Nusantara. Setelah runtuhnya Majapahit pada abad ke-15, Demak dan kerajaan Islam lainnya mulai mengambil perannya dalam sejarah.
Kerajaan Mataram Islam muncul pada abad ke-16. Namun kemudian Belanda datang ke wilayah ini dan berhasil menjajahnya. Bahkan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Belanda masih berusaha mengambil alih namun berakhir dengan sia-sia.
Jawa Tengah menjadi sebuah provinsi di Indonesia pada tanggal 4 Juli 1950.

Kantor Pariwisata


Jl. Madukoro Blok BB/1D Semarang 50144
Telp.(024) 7608570-2, 7613180, 7613181
Fax. (024) 7608573

Website : http://www.central-java-tourism.com


Borobudur: Keajaiban Warisan Sejarah Indonesia

Inilah candi Buddha terbesar di dunia yang berdiri megah ibarat puzzle raksasa. Tersusun dari 2 juta balok batu vulkanik, dipahat sedemikian rupa sehingga saling mengunci satu dengan yang lain. Candi Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir, bedanya, Borobudur memiliki pola kepunden berundak.

Candi Borobodur adalah monumen Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824. Candi Borobudur dibangun 300 tahun sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 400 tahun sebelum katedral-katedral agung di Eropa.

Candi Borobudur memiliki luas 123x123 m² dengan 504 patung Buddha, 72 stupa terawang dan 1 stupa induk. Bentuk candi ini beraksitektur Gupta yang mencerminkan pengaruh India. Setelah berkunjung ke sini Anda akan memahami mengapa Borobudur memiliki daya tarik bagi pengunjung dan merupakan ikon warisan budaya Indonesia.

Lembaga internasional dari PBB yaitu UNESCO mengakui sekaligus memuji Candi Borobudur sebagai salah satu monumen Budha terbesar di dunia. Di Candi ini ada 2672 panel relief yang apabila disusun berjajar maka panjangnya mencapai 6 km. Ansambel reliefnya merupakan yang paling lengkap di dunia dan tak tertandingi nilai seninya serta setiap adegannya adalah mahakarya yang utuh.

Sejak pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11, Candi Borobudur menjadi tempat peziarah umat Budha dari China, India, Tibet, dan Kamboja. Candi Borobudur menjadi salah satu jejak sejarah paling penting dalam perkembangan peradaban manusia. Kemegahan dan keagungan arsitektur Candi Borobudur merupakan harta karun dunia yang mengagumkan dan tak ternilai harganya.

Borobudur terdiri dari 1460 panel relief dan 504 stupa namun sebenarnya masih ada 160 panel yang sengaja ditimbun di bagian paling bawah, berisi adegan Sutra Karmawibhangga (hukum sebab-akibat). Ada pula yang menyatakan bahwa penimbunan bagian bawah tersebut untuk menguatkan bagian pondasi yang sejak awal ditemukan sudah sangat rusak.

Candi Borobudur dibangun selama 75 tahun di bawah pimpinan arsitek Gunadarma dengan 60.000 meter kubik batuan vulkanik dari Sungai Elo dan Progo yang terletak sekitar 2 km sebelah timur candi. Saat itu sistem metrik belum dikenal dan satuan panjang yang digunakan untuk membangun Candi Borobudur adalah tala yang dihitung dengan cara merentangkan ibu jari dan jari tengah atau mengukur panjang rambut dari dahi hingga dasar dagu.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, sejarawan J.G. de Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram kuno dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga, dan membangunan candi ini sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Pada awalnya, candi ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan. J.G. de Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur. Sebagian sejarawan juga ada yang menyatakan bahwa nama Borobudur ini berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Vihara Buddha Uhr” yang artinya  “Biara Buddha di Bukit”.

Candi ini berada di Jawa Tengah, di puncak bukit menghadap ke sawah yang subur di antara bukit-bukit yang renggang. Cakupan wilayahnya sangat besar, yakni berukuran 123 x 123 meter. Candi Borobudur ternyata dibangun di atas sebuah danau purba. Dulu, kawasan tersebut merupakan muara dari berbagai aliran sungai. Karena tertimbun endapan lahar kemudian menjadi dataran. Pada akhir abad ke VIII, Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra lantas membangun Candi Borobudur yang dipimpin arsitek bernama Gunadharma hinggga selesainya tahun 746 Saka atau 824 Masehi.
  
Luas bangunan Candi Borobudur ialah 15.129 m²  yang tersusun dari 55.000 m³ batu, terdiri dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 x 10 x 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya mencapai 3 km. Candi ini memiliki 10 tingkat, dimana tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Bagian paling atas di tingkat ke-10 terdapat stupa besar berdiameter 9,90 m, dengan tinggi 7 m.
  

Arsitektur dan bangunan batu candi ini sungguh tiada bandingannya. Candi ini dibangun tanpa menggunakan semen. Strukturnya seperti sebuah kesatuan deretan lego yang saling mengukuhkan dan  dibuat bersamaan tanpa lem sedikitpun.

Sir Thomas Stanford Raffles menemukan Borobudur pada tahun 1814 dalam kondisi rusak dan memerintahkan supaya situs tersebut dibersihkan dan dipelajari secara menyeluruh. Keberadaan Borobudur sebenarnya telah diketahui penduduk lokal di abad ke-18 dimana sebelumnya tertimbun material Gunung Merapi.

Proyek restorasi Borobudur secara besar-besaran kemudian dimulai dari tahun 1905 sampai tahun 1910. Dengan bantuan dari UNESCO, restorasi kedua untuk menyelamatkan Borobudur dilaksanakan dari bulan Agustus 1913 sampai tahun 1983. Candi ini tetap kuat meski selama sepuluh abad tak terpelihara. 

Tahun 1970-an Pemerintah Indonesia dan UNESCO bekerja sama untuk mengembalikan keagungan Borobudur. Perbaikan yang dilakukan memakan waktu delapan tahun sampai dengan selesai dan saat ini Borobudur adalah salah satu keajaiban dan harta Indonesia dan dunia yang berharga.

Berbagai disiplin ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp tahun 1911,  Prof. Dr. C. Coremans tahun 1956, dan Prof.Ir. Roosseno tahun 1971. Kita patut menghargai usaha mereka memimpin pemugaran candi mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi tidaklah mudah. Tahun 1991 akhirnya Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.

Candi Borobudur dihiasi dengan ukiran-ukiran batu pada reliefnya yang mewakili gambaran dari kehidupan Budha. Para arkeolog menyatakan bahwa candi Borobudur memiliki 1.460 rangkaian  relief di sepanjang tembok dan anjungan. Relief ini terlengkap dan terbesar di dunia sehingga nilai seninya tak tertandingi.  Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya. Cerita dimulai dari sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbangnya.

Monumen ini adalah tempat suci dan tempat berziarah kaum Budha. Tingkat sepuluh candi melambangkan tiga divisi sistem kosmik agama Budha. Ketika Anda memulai perjalanan mereka melewati dasar candi untuk menuju ke atas, mereka akan melewati tiga tingkatan dari kosmologi  Budhis dan hakekatnya merupakan “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaran Budha terdiri atas 3 bagian besar, yaitu: (1) Kamadhatu atau dunia keinginan; (2) Rupadhatu atau dunia berbentuk; dan (3) Arupadhatu atau dunia tak berbentuk.

Seluruh monumen itu sendiri menyerupai stupa raksasa, namun dilihat dari atas membentuk sebuah mandala. Stupa besar di puncak candi berada 40 meter di atas tanah. Kubah utama ini dikelilingi oleh 72 patung Budha yang berada di dalam stupa yang berlubang. 
 Untuk lebih memahami tentang Candi Borobudur dan tampilan batunya secara lebih terperinci maka Anda dapat mengikuti tur atau menyewa pemandu wisata resmi.
Jelajahilah keseluruhan relief di Borobudur yang mencerminkan ajaran Budha Mahayana dimana semakin ke atas semakin menyimbolkan tingkat kesempurnaan. Bagian paling bawah atau Kamadhatu menggambarkan perilaku penuh angkara murka dan hawa nafsu yang menyebabkan seseorang masuk neraka jahanam. Bagian tengah meliputi empat tingkat dinamakan Rapadhatu, tempat manusia dibebaskan dari nafsu dan hal-hal duniawi. Sementara bagian teratas termasuk tiga teras melingkar yang mengarah ke pusat kubah disebut Arupadhatu atau tempat para dewa bersemayam (nirwana).

Sebenarnya ada relief Karmawibhangga yang tertimbun di tanah dan menggambarkan perbuatan mansia yang mengikuti hawa nafsunya, seperti bergosip, membunuh, menyiksa, dan memerkosa. Bahkan ada juga adegan-adegan seks dalam berbagai posisi. Sejumlah pendapat menyebutkan bahwa relief tersebut ditimbun karena dianggap kurang pantas dipertontonkan tetapi ada pula yang berpendapat penutupan ini semata-mata demi kestabilan posisi candi agar tidak amblas.

Tahun 1885, arkeolog JW Yzerman sempat mendokumentasikan dan merekam relief ini kemudian dibukukan tahun 1931. Buku aslinya kini ada di Museum Nasional, Jakarta. Sedangkan klise aslinya disimpan di Museum Tropen, Amsterdam mengingat statusnya milik Pemerintah Belanda sementara Pemerintah Indonesia memiliki replika seluruh foto tersebut.

Sekitar tahun 1890-1891, bagian yang tertutup itu dibuka seluruhnya oleh fotografer Kasiyan Chepas untuk dipotret satu per satu. Batu bervolume 13000 meter kubik ini diangkat, lalu dikembalikan lagi ke posisi semula.  Hingga hari ini, bagian itu ditimbun tanah sehingga tidak bisa dilihat. Ada tiga panel di bagian tenggara candi yang terbuka diduga karena proses penutupan kembali yang tak sempurna.

Bila Anda telah mencapai puncak candi maka beristirahatlah dan nikmati pemandangan indahnya. Di bagian atas Borobudur Anda akan menemukan ruang kosong yang merupakan simbol  kesempurnaan. Selama Anda di bagian puncaknya, nikmatilah pemandangan gunung yang hijau dan lebat di sekitarnya, dan rasakanlah hembusan angin yang lembut. Anda bebas untuk mengambil sebanyak mungkin objek foto indah yang Anda inginkan.

Kepercayaan masyarakat lokal menyebutkan bahwa jika Anda telah berada di puncak candi dan memiliki satu keinginan sungguh-sungguh, lalu tangan Anda menjangkau dan menyentuh sosok Sang Buddha di dalamnya, maka permintaan Anda akan terwujud.

Anda dapat mencatat beberapa cerita menarik dari ukiran dari relief candi ini karena ada banyak cerita menarik di dalamnya. Pastikan pemandu wisata Anda menceritakan rentetan cerita yang terdapat dalam ukiran  batu. Jika Anda seorang penulis atau penyair mungkin ada cerita yang dapat menginspirasi Anda.

Hal menarik lainnya dari Borobudur adalah bukit Manoreh di selatan. Jika Anda melihatnya dengan seksama nampak garis kontur bukit-bukit berbentuk seperti orang tidur seolah Borobudur tampak berdiri tegak di samping "orang tidur".

Candi Borobudur memiliki 100 talang air berbentuk makara (patung ikan berkepala gajah) sebagai saluran air sekaligus untuk menambah keindahan candi. Dahulu, air hujan yang mengalir melalui makara akan terlihat seperti air mancur.

Museum Samudera Raksa akan memberitahu Anda tentang sejarah perdagangan Indonesia dan Afrika di zaman kuno dan bagaimana upaya modern untuk menciptakan kembali rute perjalanan ini. 

Prambanan: Candi Hindu yang Eksotik 

Inilah candi dengan bentuk penuh keanggunan dan dikenal sebagai salah satu ikon budaya Indonesia. Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Asia Tenggara.
Letaknya yang tidak jauh dari Candi Borobudur seperti ingin menunjukan kepada Anda tentang  keharmonisan antara umat Budha dan Hindu di Pulau Jawa tidak hanya di masa lalu tapi juga saat ini.
Candi yang oleh masyarakat lokal ini dikenal dengan nama Roro Jonggrang, memiliki cerita legenda. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang sangat sakti dan kuat yang ingin menikahi putri yang cantik bernama Roro Jonggrang. Sang raja yang juga merupakan ayah dari sang putri pun memaksanya untuk menikah dengan Bandung Bondowoso, Roro jonggrang tidak mencintainya tapi tidak pula bisa menolaknya. Setelah melalui petimbangan yang panjang, akhirnya dia memberikan satu syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 buah candi dan berjanji akan menikah dengannya jika syarat itu bisa diselesaikan sebelum fajar menyingsing.
Roro jonggrang meminta agar pekerjaan tersebut selesai sebelum ayam berkokok yang dia pikir sebagai sesuatu yang mustahil. Tapi Bandung Bondowoso yang sakti hampir dapat menyelesaikan 999 candi dengan bantuan jin dan kekuatannya. Roro jonggrang pun meminta para wanita di kampung untuk mulai memukul padi agar para ayam terbangun dan mulai berkokok. Bondowoso sangat kecewa dengan perlakuan Roro Jonggrang, lalu mengubah Roro Jonggrang menjadi batu yang kini dikenal sebagai Candi Prambanan, sedangkan candi di sekitarnya dinamakan Candi Sewu atau Seribu candi.
Candi Prambanan dibangun abad ke-9, dipersembahkan untuk dewa Syiwa, sang penghancur, dan dua yang ada di sampingnya dipersembahkan masing-masing untuk dewa Brahma, dewa pencipta serta dewa Wisnu, dewa pemelihara. Candi yang tertinggi menjulang setinggi 47 meter diantara candi-candi lain di sekitarnya.
Prambanan ditemukan kembali oleh seorang warga Belanda bernama CA Lons tahun 1733 setelah terabaikan selama ratusan tahun. Candi ini telah mengalami pemugaran dan kini Candi Prambanan dikenal sebagai Candi Hindu paling indah di Indonesia.
Keindahan serta kerumitan arsitektur Candi Prambanan sebagai bangunan yang sangat menawan menobatkannya sebagai situs warisan dunia tahun 1991 oleh UNESCO.


Relief yang terdapat di dalam  candi menuturkan cerita epik Ramayana. Di dalamnya terdapat barang-barang bersejarah seperti batu Lingga Batara Syiwa sebagai simbol kesuburan.
Cerita Ramayana menuturkan kisah Pangeran Rama dan istrinya, Sinta yang sedang berjalan-jalan di  hutan. Rama melihat rusa emas di hutan lalu Dia berniat memburunya, namun sebelum itu ia membuat lingkaran yang mengelilingi Sinta. Rama berkata padanya untuk tidak keluar dari lingkaran ini agar tetap aman. Akan tetapi, raja para raksasa, Rahwana membujuk Sinta untuk keluar dari lingkaran, lalu menculik dan membawa Sinta keistananya Alengka.
Rama yang bersedih ditemani raja kera, Hanoman akhirnya menemukan Sinta di istana Rahwana. Lalu Rama menghancurkan Alengka dan Sinta berhasil diselamatkan dan kembali  ke pelukan suami tercintanya.
Selama Anda di sini sebaiknya Anda mengambil sebanyak mungkin foto yang Anda inginkan karena pemandangan yang indah dari candi yang berdiri kokoh dan reruntuhan candi-candi. Tiket masuk yang Anda beli berlaku untuk satu hari penuh, artinya Anda dapat masuk dan keluar area Prambanan sesuka hati. Artinya bagi para photographer, Anda dapat mengambil foto pada waktu yang berbeda-beda dalam sehari, menarik bukan!  

Sangiran: Situs dan Museum Manusia Purba di Lembah Bengawan Solo


Sangiran merupakan situs arkeologi manusia purba terlengkap di Asia. Areanya seluas 56 km² berada di kaki Gunung Lawu, Jawa Tengah, atau sekitar 15 km utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo. Sangiran memberi informasi lengkap sejarah kehidupan manusia purba meliputi habitat, pola kehidupannya, binatang yang hidup bersamanya, hingga proses terjadinya bentang alam dalam kurun waktu tidak kurang dari 2 juta tahun (Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah).

Sementara itu, Museum Sangiran masih berlokasi di sekitaran situs arkeologi  ini. Di sini Anda dapat melihat sekitar 13.809 koleksi fosil manusia purba dan merupakan terlengkap di Asia. Ada juga fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut, alat-alat batu, dan beberapa jenis hewan seperti badak, sapi, rusa, banteng, dan kerbau. Tersedia juga ruang audio visual untuk menyaksikan fosil tinggalan kehidupan masa prasejarah di Sangiran. Museum Sangiran saat ini menjadi sebuah museum megah dengan arsitektur modern. Di isni Anda dapat melihat dari dekat koleksi fosil manusia purba, binatang yang hidup pada masa itu, hingga peralatan yang digunakannya.

Situs Sangiran merupakan obyek wisata ilmiah yang menarik. Tempat ini memiliki nilai tinggi bagi ilmu pengetahuan dan merupakan aset Indonesia. Sejak tahun 1977 situs Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Tahun 1996 Sangiran terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai World Heritage (No. 593, dokumen WHC-96/Conf.201/21).

Sejak ditetapkannya sebagai World Heritage oleh UNESCO, Sangiran memberi sumbangannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di dunia khususnya ilmu arkeologi, geologi, paleoanthropologi, dan biologi. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia.

Situs Sangiran mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen yaitu Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Gondangrejo di Kabupaten Karanganyar.  Awalnya Situs Sangiran adalah sebuah kubah penelitian yang dinamakan Kubah Sangiran kemudian tererosi bagian puncaknya sehingga membentuk sebuah depresi akibat pergerakan dari aliran sungai. Pada depresi itu ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.

Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya dari hasil penggalian ditemukan fosil Pithecanthropus erectus atau Manusia Jawa. Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus yang ditemukan di situs ini.

Kawasan Sangiran menyimpan misteri yang sangat menarik untuk diungkap. Manusia purba jenis Homo erectus yang ditemukan di wilayah Sangiran ada sekitar lebih dari 100 individu yang mengalami masa evolusi tidak kurang dari 1 juta tahun. Jumlah ini mewakili 65% dari seluruh fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia dan merupakan 50% dari jumlah fosil sejenis yang ditemukan di  dunia. Jenis Homo erectus yang ditemukan adalah dari masa Pleistosen Awal dan Pleistosen Tengah, dan mungkin juga pada Pelistosen Akhir. Manusia jenis ini mempunyai ciri-ciri tinggi badan kurang lebih 165-180 cm dengan postur yang tegap, tetapi tidak setegap Meganthropus. Mereka memiliki geraham yang masih besar, rahang kuat, tonjolan kening tebal serta melintang pada dahi dari pelipis ke pelipis dan tonjolan belakang kepalanya nyata, dagu belum ada dan hidung lebar. Perkembangan otaknya baru memiliki volume sekitar 800-1100 cc dan  manusia ini digolongkan dalam Homo erectus arkaik.

Selain fosil manusia purba, di Sangiran ada juga fosil hewan bertulang belakang  hingga cangkang molusca. Fosil vertebrata ditemukan di semua lapisan (Kalibeng, Kabuh, dan Notopuro). Ditemukan juga fosil  gajah purba, badak, banteng, sapi, kerbau, dan rusa. Diperkirakan hewan-hewan tersebut hidup sezaman dengan Homo erectus dan menjadi binatang buruan mereka.

Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini sebanyak 13.809 buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di gudang penyimpanan. Beberapa fosil manusia purba disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboratorium Paleoanthropologi Yogyakarta.

Ladang fosil di situs Sangiran sangat khas, Anda dapat melihat jelas pada bagian yang bertebing curam yaitu stratigrafi yang menunjukkan empat formasi (lapisan tanah). Stratigrafi merupakan studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi.

Keberadaan Kawasan Sangiran sangatlah penting dan menarik, secara nyata Anda dapat melihat lokasi temuan dan lapisan stratigrafi yang sudah berumur jutaan tahun. Saat ini arealnya seluas 56 km² tersebut masih dihuni oleh masyarakat sekitar Sangiran. Sangiran merupakan aset yang sangat penting secara nasional maupun internasional. 

Mengapa Terjadi Plasenta Berkapur?

Selama janin di dalam kandungan organ yang sangat penting yang membantu dalam tumbuh-kembang janin. Ya, plasenta adalah suatu organ di dalam kandungan yang berfungsi dalam pertukaran produk-produk metabolisme dan peredaran darah ibu dan janin.
Menjaga kesehatan plasenta sangat penting mengingat selama di dalam kandungan bayi sangat tergantung pula pada plasenta. Pada kali ini kami akan membahas mengenai kelainan plasenta yaitu plasenta berkapur. Tujuannya agar anda waspada selama menjelang atau kehamilan berlangsung sehingga janin anda tetap memiliki plasenta yang sehat.

Apa itu plasenta berkapur?

Plasenta atau dikenal dengan istilah ari-ari merupakan organ kehamilan yang dapat memberikan manfaat untuk asupan nutrisi dan oksigen dari ibu hamil ke janin bahkan dapat memproduksi hormon yang dibutuhkan selama kehamilan. Perkapuran yang terjadi di plasenta tidak berhubungan dengan penyakit ataupun proses degeneratif melainkan suatu hal yang normal apabila terjadi pada akhir minggu ke 38 kehamilan. Plasenta berkapur akan berbahaya apabila terjadi akibat adanya gumpalan darah beku yang dapat menyumbat pembuluh darah dan menggangu aliran darah dari rahim ke plasenta tersebut.

Penyebab Plasenta Berkapur

Plasenta berkapur dapat disebabkan karena gangguan kesehatan ibu hamil. Beberapa gangguan kesehatan yang memicu meningkatkan risiko plasenta berkapur diantaranya adalah preeklamsia berat, infeksi, hipertensi atau adanya antibodi abnormal. Sedangkan beberapa penelitian menyatakan bahwa gaya hidup tidak sehat wanita sebelum hamil atau ketika hamil akan memicu risiko yang tinggi terjadinya plasenta berkapur. Sangat disarankan bagi anda untuk mulai hidup sehat, menghindari merokok, minuman beralkohol ataupun junk food saat perencaan kehamilan.

Dampak Bagi ibu dan janin

Plasenta berkapur tidak akan memberikan dampak serius bagi ibu hamil. Meskipun pada beberapa kondisi ibu hamil disarankan melahirkan secara sesar karena induksi pemantauan ketat kondisi janin yang dikhawatirkan membahayakan ketika persalinan. Pertimbangan dokter melihat kondisi janin apakah dalam keadaan sehat atau stress sehingga operasi sesar akan diberlakukan pada kondisi stress janin.
Sedangkan pada janin akan berdampak penumpukan kalsium yang menyebabkan plasenta mati dan digantikan jaringan ikat. Hal ini tergantung pada perkapuran yang terjadi apabila semakin banyak maka akan mengganggu suplai nutrisi dan oksigen pada janin. Plasenta berkapur akan menyumbat pembuluh darah ke janin dan dapat memicu persalinan prematur apabila perkembangan janin terganggu.

Bagaimana Mengatasinya?

Untuk mengatasi plasenta berkapur tindakan dokter sangat diperlukan. Hal ini untuk memastikan kecukupan oksigen dan nutrisi pada janin. Dokter akan mengukur pertumbuhan janin, cairan ketuban dan juga arus aliran darah pada janin. Tindakan selanjutnya dokter akan memberikan obat untuk pengencer darah sehingga aliran darah akan tetap berfungsi memberikan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin.

Apa yang harus dilakukan ibu hamil dalam mencegah Plasenta Berkapur ?

Ibu hamil dapat menerapkan hidup sehat sebelum perencanaan kehamilan dan selama kehamilan dengan pola makan yang sehat, menjaga kebugaran dan menjauhi gaya hidup tidak sehat. Selain itu hindari pula stress dan selalu periksakan kesehatan anda ke dokter untuk memantau kandungan anda. Semua itu dilakukan untuk mencegah terjadinya plasenta berakapur. Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dalam menjaga kondisi kesehatan selama kehamilan.

Sumber : http://bidanku.com/mengapa-terjadi-plasenta-berkapur

Tanda-tanda Bahaya Infeksi Nifas

Suka cita anda rasakan ketika selesai menjalani proses persalinan, perjuangan dalam merawat tumbuh kembang kehamilan anda dibayar dengan kegembiraan melalui tangisan si kecil ke dunia. Kehadiran bayi anda menjadi pelengkap keluarga anda, masa masa selanjutnya anda akan terus mengikuti perkembangan bayi anda dan tentu saja menjaga kesehatan bayi anda. Selain itu kesehatan anda pasca persalinan sangat penting untuk diperhatikan, mengingat masalah masalah pasca persalinan mungkin saja terjadi. Pasca persalinan anda memasuki masa nifas yang dimulai setelah persalinan hingga saluran produksi kembali seperti anda sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6-8 minggu. Dalam menjalani masa nifas, anda mungkin mengalami beberapa gangguan kondisi kesehatan seperti demam dan pendarahan, normalkah kejadian tersebut selama nifas?
Beberapa saat setelah melahirkan organ reproduksi pada ibu hamil akan pulih dengan keadaan yang bertahap. Setelah melahirkan kondisi tubuh akan naik mencapai 0,5 cm dari keadaan normal. Meskipun demikian suhu tubuh tidak melebihi 38 derajat celcius. Bila lebih dari 38 derajat celcius diperkirakan terjadi infeksi. Pada saat persalinan luka yang terjadi pada area kewanitaan memungkinan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh akan menyebabkan infeksi pada masa nifas. Adapun beberapa jalan masuk kuman ke dalam alat kandungan terdiri dari kuman yang beradal dari luar tubuh sehingga dikatakan eksogen, kuman yang masuk dari dalam tubuh ibu sendiri atau dikenal dengan istilah autogen sedangkan yang terakhir adalah secara endogen yaitu dari jalan lahir.
Infeksi nifas dapat terjadi disebabkan melalui kuman di vagina ke dalam rahim akibat kebersihan yang tidak terjaga pada area kewanitaan atau kemungkinan alat alat yang tidak steril pada persalinan selain itu persalinan yang tidak bersih seperti plasenta yang tertinggal di rahim akan mengakibatkan pembusukan dan pertumbuhan di dalam rahim. Ditandai dengan demam yang tinggi, rasa nyeri pada bagian perut terutama pada daerah rahim, timbulnya bau busuk pada lokia dan berwarna darah kekuning-kuningan karena campuran nanah dan terjadinya kelumpuhan pada otot rahim.
Adapun faktor resiko terjadinya infeksi nifas dikarenakan adanya penurunan daya tahan tubuh seperti kelelahan, kurangnya asupan nutrisi, adanya infeksi lain yang dimiliki ibu seperti TBC paru dll. Setelah itu resiko tinggi pada ibu yang megalami persalinan yang lama sehingga ketuban pecah lama. Faktor resiko selanjutnya adalah ibu yang mengalami operasi dan adanya sisa persalinan yang tertinggal seperti ketuban, bekuaan darah dan juga sisa ari-ari. Infeksi nifas tidak saja dengan menjaga kebersihan setelah persalinan akan tetapi ada beberapa langkah pencegahan yang dapat anda lakukan untuk menghindari infeksi nifas.
Berikut adalah cara yang dapat anda lakukan untuk menghindari infeksi nifas :
1. Memperhatikan kondisi kesehatan selama kehamilan, lakukan pemeriksaan secara rutin kepada bidan atau dokter kandungan.
2. Anda dapat mengkonsumsi makanan yang menggandung zat besi untuk menghindari anemia. Konsultasikan keluhan anda pada ahli medis, apabila dibutuhkan akan diberikan tablet yang mengandung zat besi.
3. Pilihan tenaga medis yang profesional akan membantu anda dalam menjaga kesterilan proses persalinan anda.
4. Perhatikan asupan cairan anada, cukupi kebutuhan dengan mengkonsumsi delapan gelas dalam satu hari.
5. Menjaga kebersihan jalan lahir setelah persalinan untuk menghindari infeksi yang berasal dari luar. 

Sumber : http://bidanku.com/tanda-tanda-bahaya-infeksi-nifas